A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 61 PAGI PERTAMA



Rara sudah mandi dan sudah wangi. Ia melihat Iqbal masih tertidur di atas ranjang. Rara tersenyum sendiri saat mengingat apa yang baru saja terjadi di pagi buta tadi. Bibirnya menyunggingkan senyum.


"Aku telah kalah! Aku kalah mas! Aku kalah!" gumamnya lirih disela-sela kesibukannya membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Hm...? Apanya yang kalah. Kau menang! Aku juga! Karena aku tahu jika sebenarnya kita sama sama menginginkan ini kembali! Jadi kita telah sama sama memenangkan pertarungan dengan ego kita."


Iqbal bangkit dari tidurnya dan mendudukkan istrinya di atas pangkuannya. Mereka saling bertatap mata. Mereka saling menikmati keindahan mata masing-masing.


Kemudian tanpa disadari oleh Rara, Iqbal telah membawanya ke dalam gendongannya. Seperti seorang pengantin, Iqbal membawa istrinya masuk ke dalam apartemen milik mereka sendiri. Rara bahkan masih dalam mode terkejut saat Iqbal sudah meletakkan tubuhnya di atas ranjang.


Kamar utama yang pernah ia tinggali dulu. Kamar ini masih tetap sama. Tidak ada yang berubah. Hanya beberapa bunga yang menghiasi meja nakas yang nampak baru saja diganti. Wewangian ruangan juga masih sama. Sesuai dengan wewangian yang selalu ia suka. Aroma parfum beraroma laut yang segar. Matanya menatap kesana kemari mencoba lagi mengamati keadaan kamar.


Sebuah pelukan dari belakang mengejutkannya. Ia semakin terkesiap saat Iqbal sudah menciumi leher dan rambutnya di belakang. Rara bahkan tidak lagi dapat berpikir jernih. Ia mendesah semakin menikmati sentuhan lembut suaminya. Tangannya meraih sprei dan meremasnya.


Hanya dalam hitungan detik kini posisinya telah berada tepat di bawah tubuh suaminya. Dan Rara membiarkan dirinya menikmati perasaan yang sudah memuncak. Bahkan matanya terpejam merasakan getaran hebat itu. Dan semua telah terjadi sebagaimana mestinya. Semua terjadi karena memang harus terjadi. Sebuah pembuktian jika mereka benar-benar adalah sepasang suami istri yang sah dan masih sah hingga saat ini.


"Aku minta maaf! Seharusnya aku tidak melakukan hal ini saat situasi masih seperti ini. Maaf!" kata Iqbal sambil mengelus rambut Rara yang kini semakin rapat dalam pelukannya.


"Aku tidak menyesal. Aku bahkan kini merasa lebih bahagia. Aku yang seharusnya minta maaf, mas. Aku terlalu keras kepala. Dan aku terlalu membohongi diriku sendiri. Aku hanya memikirkan diriku sendiri dan tidak pernah sedikitpun memikirkan tentang mas Iqbal. Aku minta maaf sekali lagi mas!"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan!" Iqbal mengecup puncak kepala istrinya.


"Aku harap semua yang sudah aku lakukan sekarang adalah benar."


"Sudah! Jangan membahas tentang itu lagi! Kita bicarakan nanti. Sepertinya aku mau tidur lagi. Gara gara kamu tuh! Ganggu orang tidur aja. Jadi bukan salahku kan kalau aku makan kamu pagi pagi begini."


Rara mendongak dan menatap suaminya yang tengah tersenyum nakal padanya.


"Ih...genit!"


Iqbal meraih pinggang istrinya dan menggelitiknya yang spontan membuat Rara tertawa kecil. Ia meronta meminta suaminya melepaskan tangannya. Namun Iqbal malah semakin intens melakukannya. Dan semua berakhir dengan sebuah ciuman yang entah mengapa malah membuat keduanya semakin ketagihan.


Dan pagi ini matahari bersinar dengan cerah hingga cahayanya masuk ke kamar melalui celah gorden. Rara duduk di tepian ranjang menatap dalam ke arah Iqbal. Dipandanginya wajah itu dengan seksama. Wajah lembut yang telah mengalahkan segalanya. Ia tersenyum kecil seraya membelai lembut pipi laki-laki di depannya.


Tanpa diduga kini justru Rara yang dibuat terkejut saat Iqbal meraih tangannya. Matanya sudah terbuka entah sejak kapan. Suaminya itu memberikan senyuman manis di pagi yang semakin membuat cerah suasana.


"Kenapa? Pagi pagi sudah menggodaku!" Iqbal menarik tangan istrinya hingga membuatnya terjatuh ke dalam pelukannya.


Mereka saling bertatap mata untuk kesekian kalinya. Dan debaran itu masih selalu sama, tidak pernah berubah. Beberapa detik tatapan mata mereka menjadi semakin dalam.


"Ayo bangun mas! Sudah siang!"


"Ternyata emang enak ya, kalau punya istri. Pagi pagi sudah ada yang bangunin. Kenapa sih nggak dari dulu-dulu kamu seperti ini. Dan ternyata perjuangan untuk mendapatkan kamu lebih sulit dari perjuangan sun go kong mendapatkan kitab suci." ujarnya kemudian.


Rara tertawa dan tawa itulah yang selalu dirindukan oleh suaminya. Tawa lepas yang membuat Iqbal selalu bisa terhibur dan menyadari jika hanya tawa itulah yang mampu membuat hari-harinya lebih berwarna.


"Sudah ah mas! Bercanda melulu. Ayo buruan mandi! Ntar terlambat loh!"


"Aku malas ke tempat kerja!"


"Jangan begitu dong mas! Semangat dong!"


"Habis kamu ngangenin sih!"


"Aku kembali ke Jogja deh kalau begitu!"


"E... jangan!"


Iqbal buru-buru bangkit dari tidurnya.


"Besok saja aku antar. Aku besok libur kok! Jangan sekarang ya! Sekarang kamu di rumah saja. Kamu istirahat. Persiapan buat ntar malem!"


Rara mengernyitkan dahinya dan Iqbal segera berlari ke kamar mandi karena Rara yang baru tersadar dengan ucapan suaminya mulai mencoba mengejarnya dan hendak mencubit pinggangnya. Iqbal tertawa terbahak-bahak.


Pagi yang cerah dan bersinar seperti cerahnya sinar matahari.


***


"Selamat siang Tante Wina! om Yuda!" sapa Rara menghampiri Tante Wina dan om Yuda di sebuah tempat makan. Ia datang sendiri setelah Dira memintanya datang atas suruhan mama dan papanya.


"Apa kabar kamu Ra?" sapa om Yuda.


Rara merasa ada yang aneh dengan dua orang ini. Wajah mereka tidak lagi menampakkan raut kebencian seperti yang selama ini ia dapatkan. Wajah mereka kini lebih hangat dari sebelumnya. Tapi dalam hati ia merasa lebih bahagia.


"Baik om!"


Rara mencium punggung tangan kedua orang tua itu. Sama persis seperti yang dulu ia sering lakukan. Mereka berdua menyambutnya dengan senang hati.


Sedetik setelah Rara duduk seorang pelayan datang membawa nampan.


"Maaf! Tante memesan makanan dan minuman buat kamu tanpa bertanya terlebih dulu. Karena Tante pikir kamu akan bilang terserah seperti biasanya."


"Iya Tante tidak apa-apa. Apa saja saya pasti mau kok Tante." jawab Rara.


"Ayo dimakan dulu!"


Rara hanya menatap makanan di depannya. Ia merasa heran karena ada dua piring berisi steak daging dan dua gelas berisi minuman berwarna merah muda, entah apa namanya.


Yang seporsi sudah pasti untuknya sedang yang seporsi ia tidak tahu untuk siapa.


"Itu dia yang kita tunggu!" pekik Tante Wina girang seraya menatap seseorang yang baru saja datang.


"Mas?" sahut Rara terkejut dengan kedatangan suaminya.


Tanpa dikomando Iqbal mendekati istrinya dan mendaratkan kecupan di keningnya. Rara terbelalak karena merasa hal itu sengaja dilakukannya karena ada dua orang di depan mereka. Dan benar saja, kedua orang tua itu saling berpandangan seperti ada yang aneh.


"Siang Om, Tante!" sapanya kemudian seraya menyunggingkan senyum.


Iqbal mencium punggung tangan kedua orang tua itu dan mereka tersenyum melihat tingkah Iqbal yang begitu berubah. Mereka duduk berhadapan dengan om dan Tante mereka. Iqbal menatap istrinya lekat seperti memberi dukungan bahwa semua akan baik-baik saja.


Mereka sama sama menikmati makan siang mereka. Tidak ada percakapan berarti. Hanya om Yuda dan Iqbal yang lebih banyak bicara. Apalagi kalau tidak membicarakan masalah pekerjaan.


"Ra! Sebenarnya om dan Tante mengundang kamu makan siang ini karena ada yang ingin kami bicarakan." kata Tante Wina memulai percakapan setelah acara makan siang selesai.


"Hm...Ada apa ya Tante?" tanya Rara gugup seperti ada yang mengusik pikirannya.


"Om dan Tante ingin membicarakan perihal hubungan antara kamu dan Iqbal!" lanjut om Yuda.


Rara terkejut meskipun sebenarnya ia tahu jika hal inilah yang akan dibahas dalam pertemuan ini. Ia menatap dalam mata laki-laki di sampingnya. Dan Iqbal menggenggam tangan istrinya kemudian mengangguk perlahan.


"Tante sayang sama kamu Ra! Maafkan Tante ya!" kata Tante Wina seraya menyentuh tangan kanannya yang berada di atas meja.


Kata kata Tante Wina baru saja mampu merontokkan semua rasa khawatir yang sejak tadi mengganjal dalam hatinya. Rara merasa begitu lega setelah mendengarnya. Tanpa ia sadari terbitlah seutas senyum di sudut bibirnya.


"Tante tidak bisa sedikit pun menaruh rasa benci Tante padamu, Ra. Tante hanya kecewa dengan semua yang sudah kamu lakukan waktu itu. Tante juga sadar jika Tante sebenarnya sudah termakan hasutan dari mamanya Iqbal. Tante semakin sadar jika dia bukan wanita yang baik."


"Om juga minta maaf atas semua yang sudah om lakukan padamu.!" lanjut om Yuda.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan om , Tante! Saya tidak apa-apa. Saya juga salah. Say telah membohongi om dan Tante yang sebenarnya begitu baik kepada saya. Saya tahu saya dan mas Iqbal sudah mengecewakan om dan Tante. Saya yang seharusnya minta maaf!"


"Kamu sudah terlalu sering meminta maaf pada kami. Cuma kami tidak pernah menyadari bahwa sebenarnya kamulah yang begitu dicintai oleh Iqbal." kata Tante Wina


"Bahkan Iqbal hampir gila karena kehilangan kamu!" lanjut om Yuda.


Rara melirik suaminya sekilas. Laki-laki itu hanya diam.


"Bukan hampir om, tapi sudah!" sahut Iqbal tanpa menoleh pada om Yuda tapi matanya masih mengunci pada mata istrinya.


"Sekarang om dan Tante tidak peduli lagi siapa kamu, dari mana kamu berasal, bahkan siapapun orang tua kamu. Om dan Tante tidak peduli lagi dengan semua itu. Yang terpenting adalah kebahagiaan Iqbal!" kata om Yuda.


"Tante harap kamu mau memaafkan Tante dan om, dan segera kembali pada Iqbal. Jadilah istri yang baik untuknya. Bahagiakan dia dan jadilah menantu idaman untuk Tante dan Om!"


Rara meneteskan air mata karena rasa bahagia yang sudah memuncak dalam hatinya. Ia hanya ingin memastikan jika semua yang sudah didengarnya bukan sebuah mimpi. Air matanya terus terjatuh tanpa bisa ia tahan.


Maaf lama update nya.


Salam manis 😘