A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 49 RARA POV



Jika ada yang bertanya padaku saat ini apakah aku masih mencintainya? Maka tidak akan pernah ada jawaban lain selamanya kecuali benar. Benar jika aku masih dan akan selalu mengagumi, mencintai dan juga mengenangnya.


Karena tidak mungkin ada yang bisa membuat hidupku berwarna seperti dulu lagi kecuali dia. Dia yang tidak akan pernah keluar dari dalam hatiku. Selamanya tersimpan dengan baik jauh di sudut hatiku. Mungkin ada yang bilang aku berusaha tapi tidak berniat. Karena itulah kenyataannya. Aku selalu ingin melupakannya tapi aku memang tidak pernah berniat melupakannya. Aku sendiri tidak mengerti dengan semua yang telah terjadi padaku.


Yang jelas tidak pernah ada sedikitpun keinginan dalam hatiku untuk melupakannya. Karena dia hadir dalam hidupku untuk aku kenang bukan untuk dilupakan. Bahkan jika seandainya saja aku bisa aku ingin kembali melihat dia.


Tapi semua itu mustahil. Aku terikat sebuah janji dengan diriku sendiri. Bahwa aku akan pergi dari kehidupannya. Semua itu karena keadaan yang berperan. Jika saja Tuhan menciptakan aku sebagai seorang perempuan yang terhormat mungkin aku masih bisa menjadi miliknya. Namun kenyataannya aku hanya seorang gadis sederhana yang bahkan tidak punya apapun untuk aku banggakan.


Jika sebuah argumen menyatakan jika cinta itu tidaklah memandang derajat manusia. Mungkin itu hanyalah sebuah argumen yang seharusnya benar adanya. Namun argumen itu tidak sesuai dengan ekspektasi yang ada. Semua itu hanya berlaku di dunia Cinderella. Dan aku bukan Cinderella. Semua itu tidak akan pernah terjadi di dalam duniaku. Cinta di duniaku masih melihat status dan derajat manusia.


Dan inilah aku dengan sejuta kisahku. Inilah aku seorang perempuan yang pernah jatuh cinta pada orang yang salah. Inilah aku seorang gadis miskin dan tidak punya apapun untuk dibanggakan yang telah salah menganggap cintanya akan terbalas.


Aku yakin jika orang yang selalu kucintai dan kukagumi itu akan melupakan semua kenangan indah bersamaku. Dia akan begitu mudah menemukan cinta lain yang lebih baik dari cintaku. Karena itulah kenyataannya, aku bukan siapa-siapa yang pantas untuk diperjuangkan.


"Pagi Ra!" sapa seseorang yang membuatku terbangun dari lamunanku.


Aku menoleh melihat seorang wanita yang berpakaian rapi menenteng sebuah tas. Dialah mbak Dita, pemilik toko bunga tempatku bekerja saat ini.


"Pagi mbak!" jawabku sambil bangkit dari duduk karena sedari tadi aku memang duduk di depan toko yang belum dibuka itu.


"Pagi pagi sudah ngelamun aja! Awas gagal move on loh!" sahut seseorang lagi dan saat aku menoleh ada Sita , teman kerjaku yang baru turun dari motornya.


"Apaan sih!" jawabku.


"Apanya yang apaan! Iya apa ngga? Cukup jawab iya aja lama amat sih Bu!"


"Kok panggil gitu lagi!" kataku makin kesal karena Sita selalu meledekku dengan memanggilku dengan sebutan 'bu'


"Ya kan emang bener Bu....!"


Sita menghentikan kata-katanya setelah aku mencubit pinggangnya dan dia mengadu kesakitan.


"Maaf... maaf! Habis kamu suka ngelamun mulu! Ayo dong bangun! Masih banyak cowok kece di dunia ini. Mau aku cariin?"


"Kamu aja belum punya, sok sokan mau nyariin!" kataku kemudian dan kami tertawa bersama.


Kami melangkah masuk ke dalam toko bersama sama. Di dalam sudah ada mbak Dita yang siap memberikan kami perintah untuk mengurus toko bunganya yang sudah punya banyak cabang. Biasanya mbak Dita akan keluar menuju tempat usahanya yang lain setelah mengintruksikan kepada kami, apa yang akan kami kerjakan hari ini.


Mbak Dita wanita karir yang sudah memiliki dua orang anak. Selain memiliki usaha toko bunga mbak Dita juga memiliki sebuah butik besar yang ia rintis bersama sahabatnya. Suaminya seorang pilot pesawat terbang. Dulunya mbak Dita adalah seorang pramugari. Itulah sebabnya dia begitu cantik dan tinggi semampai meskipun sudah dua kali melahirkan.


Dan aku senang bisa bekerja pada dia. Dia begitu baik dan tidak pernah membedakan para karyawannya.


Sementara Sita adalah teman yang baru saja aku kenal saat aku bekerja di sini. Dia juga baik. Dia tempat aku mencurahkan segala sesuatu yang ada dalam hidupku. Aku percaya padanya karena selama ini ia tidak pernah membuatku sendiri. Ia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia juga yang memberikan tempat tinggal sementara padaku saat baru datang ke kota ini.


Inilah Jogjakarta. Kota yang tidak pernah aku rencanakan untuk aku tinggali setelah semua peristiwa yang sudah aku alami akhir-akhir ini. Saat aku membutuhkan tempat untuk pergi dari masa laluku, aku mendapat tawaran pekerjaan dari seorang teman di Semarang saat itu. Disinilah tempat yang ia tawarkan dan tanpa berpikir panjang aku menerima tawaran itu.


"Habis ini ada yang kirim bunga. Kalian rangkai seperti biasa karena nanti siang bunga-bunga itu akan diambil. Jadi sebelum siang semua harus sudah siap!" kata mbak Dita mengintruksikan pekerjaan yang harus kami lakukan.


"Oh ya Ra! Kemarin ada seseorang datang kemari mencari kamu! Pas kamu sudah pulang. Seorang laki-laki, dan dia bilang akan kembali hari ini."


Aku merasa heran. Siapa yang dimaksud mbak Dita itu. Aku tidak merasa mengenal siapapun di kota ini. Atau mungkin itu orang yang salah mencari seseorang.


"Ra! Kamu nggak apa-apa kan?" sahut Sita yang sedari tadi sudah merapikan bunga-bunga yang bertumpuk-tumpuk untuk ia letakkan di depan toko.


"Nanti sore juga ada tiga bunga yang harus kalian kirim. Alamatnya sudah ada di meja. Kalian bisa melihat sendiri nanti!"


"Apa mbak Dita akan kembali nanti sore atau tidak? Kalau tidak biar saya yang bawa kuncinya" tanya Sita.


"Sepertinya tidak Sit! Aku ada janji dengan seseorang setelah makan siang dan sorenya aku ada undangan pernikahan temanku. Jadi seperti biasa kamu yang bawa kuncinya ya?"


"Baik mbak!"


"Aku pergi sekarang ya!"


Mbak Dita pergi lagi dengan mobilnya. Begitulah dia yang selalu memberikan kepercayaan penuh pada kami. Dan tentu saja kami tidak akan memanfaatkan kepercayaan itu.


Biasanya Sita selalu ada di depan toko untuk melayani setiap pelanggan yang datang. Namun pagi ini entah ada apa dengan perutnya hingga ia terlalu sering keluar masuk kamar mandi. Jadilah aku yang menggantikan tugasnya melayani setiap pelanggan yang datang.


Satu per satu pelanggan datang ke toko kami. Tempat ini memang strategis karena berada di pinggir jalan raya. Tempatnya juga mudah dijangkau dan memiliki area parkir yang luas. Bunga-bunga yang dijual pun selalu segar dan cantik. Karena setiap hari selalu ada pengiriman datang. Dan aku selalu senang bisa melihat bunga-bunga itu.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tidak ada orang yang datang, jadi aku masuk sebentar untuk mengambil air minum. Belum selesai aku meneguk air putih yang kuminum, aku dikejutkan oleh suara Sita yang sedang asyik merangkai bunga memanggilku.


"Ra! Sepertinya ada orang di luar!"


Tanpa menjawab aku meletakkan gelas yang sudah kosong lalu segera keluar untuk melihat siapa yang ada di sana.


Belum lagi aku melihat orangnya, aroma parfumnya sudah menyeruak kemana-mana. Dan betapa aku terkesiap ketika aku mencium aroma parfum yang selalu membuatku terbang melayang. Aku selalu ingat parfum siapa yang mampu melakukannya. Aku ingat dan aku tidak akan pernah lupa.


Tapi tentu saja aku mencoba menepis perasaan itu dengan mengatakan pada diriku sendiri jika parfum jenis itu tentu pemiliknya bukan hanya satu orang saja. Lalu aku melanjutkan langkah menemui pelanggan yang sudah tampak olehku.


Seorang laki-laki menghadap keluar dari toko. Ia berdiri membelakangiku. Ia terlihat rapi dengan kaos santai berwarna hitam dan celana jeans juga sepatu berwarna coklat. Melihatnya dari belakang aku seolah pernah melihatnya. Tapi lagi-lagi kutepis rasa itu karena tidak mungkin itu terjadi.


"Selamat pagi mas, ada yang bisa dibantu?" sapaku padanya dan kulihat dia tersentak lalu segera menoleh ke arahku.


Bagaikan disambar petir tubuhku tidak sanggup menyaksikan siapa yang ada di depan mataku. Kakiku seolah menopang tubuhku yang terasa semakin berat. Mataku penuh dengan air mata. Waktu seperti berhenti berputar. Semua yang ada di hadapanku seolah berhenti bergerak.


Aku tidak bisa lagi menahan perasaan yang aku sendiri tidak pernah merasakannya. Entah apa yang seharusnya aku lakukan. Apa aku harus bahagia atau sebaliknya. Semua yang selama ini aku lakukan seolah tidak ada artinya. Apa yang sudah kulakukan untuk mengenangnya nyatanya menjadi bumerang bagiku.


Ternyata pilihanku untuk tetap menaruhnya di dasar hatiku tidak sebaik yang kuharap. Aku terjebak dalam keputusan yang sudah kuambil. Hingga apa yang seharusnya sudah pergi dari hidupku nyatanya kembali untuk membuka pintu hati yang sudah kukunci rapat. Aku menangis, menyesali semua yang telah kuputuskan


Salam manis 😘