A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 41 MAKAN MALAM ROMANTIS



Cinta sesungguhnya adalah sebuah bentuk rasa syukur seseorang atas hadirnya seorang yang begitu berharga dalam hidupnya.


Ada kalanya cinta begitu indah dan mengagumkan. Ada kalanya cinta begitu saja menyakiti perasaan kita. Namun sesungguhnya cinta tidak pernah salah. Cinta tidak pernah memberikan hal buruk bagi kita. Hanya saja kita tidak pernah bisa mengartikan apa yang ingin disampaikan oleh cinta.


"Kita kemana lagi mas? Kok mataku pake ditutup segala?" tanya Rara begitu mereka keluar dari mobil dan suaminya menutup kedua matanya dengan selembar kain. Jadilah Rara berjalan dengan berpegangan pada lengan suaminya.


" Tenang saja...kita akan makan malam romantis ala ala kamu...!"


" Kok ala ala aku?"


" Ya jelas lah! Tempat seperti ini yang selalu kamu impikan kan ?"


Terdengar suara ramai bunyi penggorengan. Ada juga suara Abang penjualnya dengan suaminya. Mereka tampak membicarakan tentang sesuatu yang Rara tidak mengerti.


Beberapa saat kemudian tercium aroma yang sangat menggugah selera makan.


"Ayo" Iqbal membawa istrinya duduk di lantai, dengan mata masih tertutup.


Beberapa saat kemudian Iqbal membuka ikatan yang membungkus mata istrinya. Rara terkejut karena ternyata mereka berdua telah berada di sebuah warung yang menjual aneka ikan goreng dengan sambal dan lalapan. Sementara yang lebih mengejutkan lagi sepertinya antara suaminya dan Abang penjual sudah ada sebuah kesepakatan.


Hingga tanpa dipesan si Abang sudah menyajikan aneka menu ke hadapan mereka berdua.


"Yang lain gimana pak?" tanya si Abang yang membuat Rara tak mengerti.


"Kalau sudah siap ya silahkan dibagikan! Ingat ya bang semuanya! Jangan sampai Abang sisakan!" jawab Iqbal.


"Dibagikan? Apa yang dibagikan mas?"


"Semua yang dijual Abang itu. Aku suruh bagikan sama semua orang yang ada di sekitar sini, aku sudah membayar semuanya!"


" Semuanya?"


"Anggap saja itu traktiran buat mereka di hari jadi kita."


"Mas Iqbal tuh sempurna ya? Udah cakep, tajir, baik hati pula! Gimana aku nggak sering sering terbang kalau dekat dekat kamu mas!"


Iqbal tertawa. Kemudian ia mengintruksikan pad istrinya agar segera menikmati makanan mereka. Itu adalah makan malam yang selalu membuat Rara merasa ingin mengulang kembali. Tentu saja setelah beberapa waktu lalu ia mengajak suaminya makan di tempat yang serupa. Ia ingat saat itu suaminya enggan makan di tempat seperti itu. Iqbal yang tidak suka sambal tentu saja mereka aneh harus makan di tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya.


"E.. tunggu! Kamu jangan makan sendiri!" kata Iqbal mencegah istrinya yang hendak menyentuh makanannya.


Kemudian tanpa diminta Iqbal mengambil ikan dari piring istrinya. Mengambil duri durinya. Sama persis seperti yang pernah istrinya lakukan padanya dulu. Ia menaruh daging ikan itu di tepi piring istrinya. Ada perasaan aneh yang menjalar di sekujur tubuh Rara. Perasaan yang sungguh membuatnya merasa seperti orang paling bahagia di dunia. Tidak ada lagi yang bisa mencegah perasaan indah itu. Semua terjadi dengan amat sangat jelas. Jelas sekali hingga ia tidak mau sedetik pun melewatkan setiap apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Mas...!" Iqbal yang masih asyik menikmati ikan gorengnya, menoleh sekilas pada istrinya.


"Apa aku pantas untuk mas Iqbal?"


Pertanyaan yang sontak membuat Iqbal menghentikan setiap tindakannya. Ia mencuci tangannya, mengelapnya dengan kain kemudian ia meneguk minumannya. Kemudian ia menghela nafas panjang.


"Apa yang kamu tanyakan? Pertanyaan macam apa itu?"


Iqbal tersenyum dan menatap wajah istrinya lama. Sementara gadis itu hanya diam.


Memangnya kamu mau padaku karena hartaku atau karena ketampananku? Hmmm?" Iqbal meledek istrinya yang nampak tersenyum malu malu.


"Kenapa akhir-akhir ini mas Iqbal sangat puitis dan romantis sekali?"


" Aku tidak hanya puitis dan romantis, aku bisa lebih dari itu jika kamu mau!"


Sementara keduanya tengah asyik menikmati cinta yang baru saja mereka urai. Di tempat lain seseorang justru merasa sedang mendapat dukungan dari pihak lain akan kecurigaan yang selama ini ia pendam.


Seorang laki-laki sedang berbicara dengan serius dengan seorang perempuan. Kinan tampak bahagia dengan apa yang baru saja ia dengar dari laki-laki yang sedang duduk di depannya itu.


"Aku sebenarnya sudah curiga dengan perempuan itu. Bagaimana mungkin mereka berdua bisa menikah sedang aku sendiri tahu Iqbal tidak semudah itu move on dari aku. Lagian dia kan cuma perempuan miskin yang tidak berpendidikan! Apa yang bisa dia banggakan?"


"Kamu jangan bilang dia miskin dan tidak berpendidikan! Seharusnya kita bisa bekerja sama dengan tidak saling menyudutkan! " kata laki-laki itu yang tampak marah saat Kinan membicarakan seseorang.


"Oh iya...! Aku lupa siapa dia. Maaf! Aku tidak ingat jika dia adalah perempuan yang diam-diam kau kagumi. Dan aku juga tidak ingat jika kau begitu menginginkannya sama seperti aku menginginkan Iqbal."


"Kalau begitu sebaiknya kita bekerja sama dengan baik! "


"Baiklah! Terimakasih atas semua yang telah kau beritahu padaku. Aku akan pergi ke Semarang dan mengungkapkan semua tentang Rara. Bahwa pernikahan mereka hanya sandiwara. Bahwa sebenarnya tidak ada cinta diantara mereka! Aku bersumpah akan membuat Iqbal kembali padaku dan kamu akan mendapatkan Rara!"


"Aku tunggu di Semarang!"


"Oke Bayu! Besok aku pasti sudah ada di sana!" jawab Kinan


Laki-laki itu pergi setela keduanya berjabat tangan tanda sebuah kesepakatan telah mereka setujui.


Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di hari esok. Sebuah bencana mungkin tiba tiba saja akan muncul.


Dan masih di warung makan yang sama di simpang lima Semarang. Sebuah kejadian mengagetkan semua orang. Di sana sini banyak orang berteriak meminta tolong. Naluri Iqbal sebagai seorang polisi bangkit mendengar teriakan teriakan tersebut. Ia dan istrinya keluar dari dalam warung. Tak terkecuali pemilik warung yang juga sudah berlari terlebih dahulu.


"Ada apa pak?" tanya Iqbal pada salah seorang yang lewat.


"Itu pak...ada orang gila yang menodongkan senjata api! Ngamuk ngamuk pak di jalan!"


"Oke! Jangan takut! Saya polisi!"


Iqbal segera berlari sambil menggandeng istrinya menuju ke arah tempat kejadian.


" Kamu tunggu di sini! Jangan mendekat! Aku akan melihat ke sana."


Tampak seorang laki-laki berusia sekitar lima puluhan sedang menodongkan pistol ke segala arah secara bergantian. Matanya menatap tajam ke arah orang-orang yang ada di sana. Semua orang tampak panik luar biasa. Tak seorang pun bisa membantu. Tidak ada korban jiwa memang, tapi tetap saja rasa takut itu terus menghantui. Tak terkecuali Rara yang meskipun ia berjarak cukup jauh dari tempat kejadian, ia bisa merasakan ketakutan itu.


Setelah menelpon bantuan , Iqbal mendekati orang yang tampak sedang stres dan kacau itu. Ia mencoba membujuk orang itu untuk meletakkan senjatanya. Namun hal tak terduga justru ia lakukan. Laki laki itu berlari menjauh. Dan yang terburuk adalah ia berlari ke arah dimana Rara tengah berdiri dengan rasa takutnya di sana.


Alangkah terkejutnya Rara saat lelaki itu meraih tangannya dan kemudian mengalungkan pistol ke arah kepalanya. Rara hanya bisa pasrah dan tak hentinya mengeluarkan air mata. Matanya terus menatap orang orang dan mencari keberadaan suaminya yang ternyata sudah berdiri di belakang lelaki itu. Dan hal itu tentu saja tidak diketahui olehnya.


Tunggu kelanjutannya ya...


Salam manis 😘