
'Ra... hari ini aku sudah mengirimkan bunga ke 29. Itu artinya besok hari terakhir untukku mengirimkan bunga mawar itu. Asal kamu tahu ya Ra, bunga-bunga itu masih tertata dengan rapi di atas meja suamimu'
Begitulah bunyi pesan yang ditulis oleh Sita pada Rara malam itu. Rara tengah duduk di atas ranjang kamar tidur milik Dira. Ia menginap di apartemen Dira yang ternyata berada di apartemen yang sama milik Iqbal.
Entah Iqbal tahu atau tidak yang jelas ia terperanjat saat Dira membawanya ke tempat ini. Apalagi saat tahu jika apartemen yang dulu ia tempati berada tepat di depan apartemen milik Dira.
"Ya karena dulu belinya barengan kak! Kenapa sih? Kak Rara tidak mau tidur di sini?" kata Dira seraya merapikan tempat tidur yang akan ditiduri Rara.
"Apa dia tahu?"
"Tenang kak! Kak Iqbal tidak bakalan tahu!"
Rara merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya mengingat kejadian siang tadi dimana ia merasa telah menyakiti hati suaminya. Sekali lagi ia melihat ponselnya dan membaca pesan dari Sita.
Ia membuang nafas dalam mencoba berpikir jernih. Ada semacam rasa bimbang menyelimuti hatinya. Antara rasa cinta yang sebenarnya masih ada dan tetap sama dan rasa cinta yang harus ia korbankan untuk kebaikan semua.
Ia tersentak saat Dira masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf kak! Mama menelfonku, dia mau bicara sesuatu denganku."
"Tante Wina akan ke sini? Apa aku harus pergi!?" jawab Rara bangkit dari ranjang.
"Tidak kak...! Mama masih di hotel kok! Aku akan ke sana sebentar. Kakak di rumah sendiri nggak apa-apa kan?"
Rara mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Dira kemudian keluar dan segera pergi menemui mamanya.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh tapi di luar sepertinya hujan mulai turun. Rara duduk di atas sofa di ruang tamu. Karena merasa bosan ,ia merebahkan tubuhnya di atas sofa dan memandangi langit-langit. Matanya nanar mengingat semua yang sudah ia lalui dalam hidupnya akhir-akhir ini.
Ia ingat saat pertama berjumpa dengan Iqbal. Seorang polisi ganteng dan keren yang mampu membawanya terbang melayang hanya karena aroma parfum maskulin miliknya. Rara tersenyum sendiri jika mengingat hal itu. Ia juga mengingat saat pernikahan sandiwara itu terjadi. Ia merasa seperti seorang putri saat itu. Ia bahkan disambut dengan baik oleh semua anggota keluarga Iqbal. Dan sekali lagi ia tersenyum.
Suara hujan terdengar semakin deras. Rara masih asyik bermain dengan memorinya. Saat bulan madu ke pulau Bali, dan saat mereka menghabiskan waktu bersama setiap hari. Semua itu menimbulkan rasa cinta yang setiap hari semakin bertambah. Hingga saat Iqbal menyatakan cintanya di malam itu. Malam yang juga merupakan malam terakhir mereka bersama. Karena Rara sadar sejak malam itu, hanya air mata yang selalu menemani hidupnya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka. Rara terbangun dari lamunannya dan segera menatap siapa yang masuk ke dalam.
Seorang laki-laki yang baru saja ia lamunkan telah berdiri dan mematung di depan pintu utama. Mereka saling berpandangan. Meskipun akhir akhir ini mereka sudah sering bertemu namun debar debar itu seakan tak mau pergi. Keduanya mematung saling mengeja perasaan masing-masing.
"Mas!" sapa Rara.
"Kamu...di sini?"
Rara mengangguk dan Iqbal melangkahkan kakinya mendekati Rara. Ia tersenyum kecil dengan mata masih tetap pada wajah istrinya. Rara menjadi salah tingkah melihat Iqbal tak henti menatapnya intens disertai senyuman manisnya.
"Mana tikusnya?" tanyanya kemudian dan Rara mengernyitkan keningnya.
"Tikus? Tidak ada!"
Iqbal mengusap rambutnya kasar dan kembali melebarkan senyumnya.
"Ini pasti kerjaan gadis ingusan itu!"
"Apa mas?"
"Dira tuh baru saja telfon jika di kamarnya ada tikus. Dia takut minta aku segera kemari. Mana dia sekarang?"
"Dira tuh dari tadi pergi mas!" jawab Rara.
"Berarti benar! Dasar gadis ingusan! Awas nanti!"
Rara tersenyum kecil. Tapi jujur dalam hati gadis itu merasa diuntungkan dengan kedatangan Iqbal. Ia semakin kuat mengingat kenangan indah saat mereka bersama dulu. Dan kini seakan kenangan itu memberikan jalan dengan menghadirkan sosok utama dalam kenangan itu. Rara kembali menahan senyum di sudut bibirnya.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"
Rara terlonjak kaget.
"Ehm... nggak apa-apa mas! Mas Iqbal mau minum sesuatu?" tanyanya dengan berani dan hal itu membuat Iqbal kembali tersenyum dan tanpa menjawab ia mendudukkan dirinya di atas sofa tentu saja dengan mata masih mengunci istrinya.
"Kamu masih ingat ya apa yang aku suka!"
Iqbal kembali melempar senyum.
"Aku akan selalu ingat apa yang mas Iqbal suka."
"Makasih ya!"
Rara mengangguk perlahan sambil melihat suaminya menyecap kopi dari cangkir di depannya.
"Kamu ingat tidak Yunita, istri temanku?"
Yunita , tentu saja Rara ingat siapa dia. Wanita baik yang selalu memberikan tumpangan padanya saat ada acara di Bayangkari. Ah, mengingat Yunita Rara jadi ingat dengan wanita wanita baik lainnya di Bayangkari.
"Kenapa dengan Yunita?" tanya Rara begitu penasaran.
"Dia selalu menanyakan kamu!"
Rara terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa. Iqbal mengetahui jika ada yang berbeda dari raut wajah istrinya itu saat Iqbal mengatakannya.
"Aku memang kehilangan banyak kontak dengan teman-teman mas. Maaf. Tolong jika ketemu Yunita lagi katakan aku baik-baik saja.
Aku sebenarnya sudah lama ingin bertemu dengan dia. Mudah mudahan nanti aku bisa ketemu dia lagi."
"Aku sudah bilang padanya jika kamu akan kembali! Pasti!" ada penekanan dari kata terakhir Iqbal.
Rara kembali terdiam. Sementara kopi dalam cangkir masih tersisa namun Iqbal memilih segera pergi dari sana dengan hati yang masih sama.
Iqbal menghentikan langkahnya di ambang pintu. Ia menoleh pada Rara yang sudah berdiri melihat kepergiannya.
"Waktuku tinggal hari esok. Dan keyakinan ku tetap sama. Aku pasti membawamu kembali pulang ke rumah kita. Aku berjanji."
Iqbal berlalu dengan cepat. Sementara itu Rara masih terdiam dalam keadaan masih berdiri. Ia terus menatap ke arah pintu tanpa tahu apa yang ingin dilakukan olehnya. Pikirannya kacau.
***
Pagi ini Rara terbangun seperti biasa. Di pagi buta bahkan saat belum terdengar suara adzan subuh. Matanya masih sama seperti dulu selalu terbuka ketika orang lain belum ada yang bangun. Ia keluar dari kamar dan mencari Dira di kamarnya. Tapi ia tidak menemukan Dira di sana. Ini aneh. Rara mengernyitkan dahinya.
Kemudian ia menuju ruang tengah, di sana juga tidak ada tanda-tanda keberadaan Dira. Hingga kini kakinya menuju ruang tamu. Dari kejauhan ia melihat sepasang kaki di atas sofa. Ia yakin itu kaki Dira. Tapi ia heran kenapa Dira tidur di sana. Ia mendekat. Namun ia merasa aneh karena samar-samar yang terlihat bukan kaki seorang perempuan melainkan kaki seorang laki-laki dengan banyak bulu-bulu di sana.
Rara beringsut mundur karena ketakutan. Ia melangkah dan segera masuk ke dapur guna mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk memukul jika benar itu adalah orang yang berniat jahat padanya. Akhirnya tangannya meraih sebuah penggorengan karena memang cuma itu yang ia temukan di sana.
Ia kembali ke ruang tamu dan tangannya segera menyalakan saklar lampu. Dan lap... ruangan itu berubah menjadi terang benderang. Kakinya melangkah mendekati laki-laki yang tertidur pulas itu. Tapi ketika telah tepat berada di samping laki-laki itu, kakinya terlilit karpet yang seketika membuatnya terjatuh. Yang lebih mengejutkan lagi, ia terjatuh tepat di atas tubuh laki-laki itu hingga membuatnya membuka mata.
"Ah.....!"teriak Rara sambil matanya terpejam karena ketakutan. Sementara tangannya mencoba memukulkan penggorengan yang ia bawa ke arah laki-laki itu namun gagal karena penggorengan itu keburu jatuh.
Laki-laki itu membuka matanya dan melihat ada wajah seorang gadis tepat di atas wajahnya. Ia tersenyum. Tangannya menangkup pipi gadis yang masih berteriak ketakutan itu. Karena wajah takut itulah yang pada akhirnya membuat dia mendaratkan sebuah ciuman untuk gadis itu.
Rara tersentak saat bibirnya tiba-tiba disentuh oleh seseorang. Tapi entah kenapa ia begitu familiar dengan ciuman itu. Seakan akan ia pernah merasakan itu sebelumnya. Ia membuka matanya perlahan dan ia mendapati seorang laki-laki yang memang pernah memberikan ciuman yang sama beberapa waktu lalu. Ya... Iqbal ada di depan matanya dan tengah membawa dirinya terbang melayang menikmati ciuman di pagi buta seperti ini.
Rara tidak menolak ciuman itu dan malah menikmatinya. Hal itu berlangsung cukup lama. Baik Rara maupun Iqbal merasa bahwa itu adalah sebuah anugerah. Mereka berdua sama-sama melayang.
Ciuman itu terlepas saat keduanya mulai sadar dan segera membuka mata masing-masing. Wajah Rara memerah menahan malu. Ia segera memalingkan wajahnya dan beranjak dari atas tubuh suaminya. Namun Iqbal menahannya.
Karena Iqbal menarik lengannya, Rara kembali menoleh ke arahnya. Ia melihat Iqbal tengah tersenyum bahagia.
"Mau kemana?"
Rara tidak menjawab. Ia masih menahan malu.
"Ini masih pagi buta. Tidak mau tidur lagi?" kata Iqbal lagi seraya tangannya menunjuk ke atas dadanya. Menawarkan dadanya itu ditiduri oleh istrinya.
Rara tersenyum masih malu. Sementara tangan Iqbal meraih punggungnya dan segera ia benamkan istrinya itu ke dalam pelukannya. Rara tidak menolak. Ia malah semakin merapatkan pelukannya. Ia tidak ingin berpikir apa-apa lagi sekarang. Ia hanya ingin menikmati saat indah itu.