
Iqbal berjalan dengan cepat setelah keluar lift. Rara mengikutinya di belakang. Ia tidak lagi menggandeng tangan istrinya seperti saat mereka memasuki lift tadi. Disana tak lagi ada orang. Jadi mereka bebas tak perlu bersandiwara lagi. Tapi Rara merasa langkah kaki suaminya begitu lebar hingga ia kesulitan mengikuti. Apalagi ia masih memakai kain batik jadi langkah kakinya tak selebar dua minta. Hingga kemudian high heels yang dipakai olehnya mendadak slip lalu membuatnya hampir terjatuh.
" aduh...aw..sakit!" keluhnya menahan sakit. Sementara tangannya berpegangan pada tembok.
Entah karena tak mendengar atau terlalu tidak peduli Iqbal bahkan sudah masuk ke dalam salah satu kamar. Untung saja kakinya tak apa apa, hanya sedikit sakit. Ia melanjutkan berjalan dengan tertatih menuju kamar yang tinggal beberapa langkah lagi. Sebelum membuka gagang pintu ia melepas high heels itu dan menentengnya kalu meletakkannya sembarangan begitu ia sampai di dalam kamar.
Didalam kamar suasana begitu sunyi. Kamar ini berbeda dengan kamar yang ia tempati tadi siang ketika sedang merias diri. Kamar ini terkesan lebih indah baik dekorasi maupun warna cat dindingnya. Bukey bunga bertebaran dimana mana. Aroma pengharum ruangan menyeruak begitu menusuk hidung. Rara memejamkan mata menikmatinya. Dan yang lebih membuatnya tercengang adalah kelopak kelopak bunga mawar merah yang bertebaran di atas ranjang.
Rara bahwa tsk lagi merasakan kakinya yang nyeri. Ia melangkah mendekati tempat tidur. Hatinya terkagum kagum kalu ia naik ke atas ranjang. Disentuhnya kelopak kelopak mawar itu. Diciumnya aroma wanginya dalam dalam. Matanya kembali terpejam dan senyum di bibirnya tak pernah hilang. Tanpa ia sadari ia telah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya kemana mana. Yang lebih gila lagi ia membayangkan tengah berbaring bersama Iqbal. Sungguh perasaan yang tidak lagi dapat ia cegah.
" kamu ngapain?" tiba tiba suara Iqbal nembuyarkan lamunsnnya. Ua lalu babgkit dari tidurnya dan bergegas merapikan diri dan menata ulang kelopak mawar itu.
" nggak mas...aku nggak apa apa kok..cuma caoek saja mas...!"
" kalau capek ya mandi dulu sana...habis itu baru istirahat..!" kata Iqbal yang sudah mengganti pakaian formalnya tadi dengan sebuah ksos oblong berwarna hitam dan celana pendek selutut.
"Tanpa menjawab Rara lantas bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke meja nakas untuk mengambil ranselnya yang berisi pakaiannya. Kalinya masih terpincang pincang saat berjalan. Dan melihat itu Iqbal begitu panik. Dengan terburu buru ia mendekat ke arah istrinya.
" Kenapa kaki Kamu? "
" nggak apa apa kok mas...cuma gara gara high heels itu tadi...aku hampir terjatuh di depan!" jawabnya seraya menunjuk sepasang high heels Yang tergeletak begitu saja di lantai.
" kapan? kok aku nggak tahu..."
" ya tadi pas mau masuk ke sini. Mas kan jalan nya suka terburu buru, sampai nggak lihat yang di belakang masih ada apa nggak!" jawab Rara sedikit kesal dan hal itu membuat suaminya tertawa geli.
"maafin aku ya....habis aku capek banget...!"
" iya mas nggak papa kok"
" ya udah aku pijitin ya...!" tawar Iqbal.
" nggak usah mas...!"
"Biar bentar musti dipijitin itu ...biar ntar nggak bengkak! ayo duduk sini!" ujar Iqbal seraya berjongkok dan menepuk kursi rias di sebelah meja nakas.
Entah apa yang merasuki Rara hingga ia dengan santainya mendudukkan dirinya di atas kursi yang ditunjuk Iqbal. Lalu kaki kski itu dengan telaten memijit kaki janannya perlahan. Lagi lagi ada getar aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Kenapa Kamu begitu mempesona sih mas...
Sebenarnya aku tidak mau pakai hati dalam permainanmu ini .Tapi perhatianmu seolah menambah kadar kekagumanku setiap harinya...
Rara membatin dalam hati.
Rara tertawa kecil.
"makasih mas...mas Iqbal sudah sangat baik padaku. Mas Iqbal sudah menjadikanku seperti putri dari negeri dongeng. Sudah memberikan pesta pernikahan yang begitu indah. Paling tidak aku jadi pernah merasakan pernikahan seperti yang banyak diimpikan perempuan perempuan lain di luar sana. Jadi Mas Iqbal tidak usah khawatir kalau nenek akan marah. Nenek bukan orang ysng seperti itu mas...!"
" Memang kamu bahagia?! '
Rara diam mendengar pertanyaan yang entah harus ia jawab apa. Karena Sebenarnya ia sendiri pun tak tahu apa yang dirasakannya kini. Iqbal melirik ke arah nya. Lalu ia tersenyum kecil, mengakhiri pijatannya pada kaki istrinya lalu bangkit.
Iqbal berlalu menuju ke arah meja rias, mengambil ponsel dan duduk di atas sofa.
Sementara Rara bergegas menuju ke kamar mandi.
Ketika ia keluar dari kamar mandi,ia mendapati Iqbal sudah merebahkan diri di atas sofa dan matanya sudah terpejam.
Rara melangkah pelan tak ingin membuat suara. Ia membersihkan kelopak mawar itu dan membuangnya ke tempat sampah. Sebenarnya ia merasa sayang jika harus membuangnya begitu saja. Tapi tanpa berpikir apapun lagi ia bergegas naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya.
Dilihatnya suaminya yang belum tertidur. Matanya teroejam tapi tubuhnya masih bergerak mencari posisi yang nyaman.
"Mas...!"
"hmm...ada apa?!"
" Kenapa mas tidur di situ?"
Iqbal membuka matanya menatap Rara dengan tanda tanya.
" maksud aku...bukan begitu! " jawab Rara terbata menyadari jika suaminya berpikir yang tidak sama dengannya.
" makdudku Kenapa tidak tidur di Kamar lain saja? "
" disini CCTV ada dimana mana... kamu mau sandiwara kita terbongkar."
" kalau begitu mas tidur di sini saja! " katanya lagi menepuk tempat di sebelshnya yang masih kosong. Iqbal mengernyitkan dahinya lagi.
" maksudku biar aku saja yang tidur di sofa mas Iqbal tidur di sini.!"
" kamu ada ada saja"
Iqbal tersenyum kecil dan menggelengkan kepala pelan. Lalu tanpa bicara lagi ia kembali mencoba memejamkan matanya.
jangan lupa like ya....