A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 39 KAFE SERUNI



Bangunan kafe yang sederhana. Memiliki arsitektur bergaya minimalis modern. Setiap tamu yang datang akan diberikan sekuntum bunga mawar merah. Ketika Rara menanyakannya, salah seorang karyawan mengatakan jika kafe ini baru seminggu yang lalu dibuka dan selama seminggu ini setiap tamu perempuan yang datang akan diberikan sekuntum mawar. Tentu saja ini sesuai dengan tema kafe yang romantis.


Ketika masuk ke dalam kafe pengunjung akan disuguhi dengan alunan musik romantis. Bunga bunga bertebaran dimana mana. Foto foto tokoh dunia menghiasi dindingnya. Sementara seluruh perabotan yang ada di dalamnya bertema futuristik. Sungguh perpaduan yang segar dipandang.


"Selamat sore! Mau pesan apa mbak?" sapa seorang pelayan perempuan begitu Rara duduk di salah satu kursi, sambil menyodorkan sebuah buku menu.


"Apa yang spesial di sini?"


"Latte mbak! ada coffe latte, vanilla latte atau mau matcha latte juga ada!"


" Saya mau coffe latte aja!"


"Sudah itu saja?"


"Iya! saya lagi nunggu seseorang, nanti kalau dia sudah datang saya panggil lagi"


Belum juga pelayan itu beranjak, seseorang memanggilnya. Pelayan bernama Amel itu menoleh. Seseorang mendekati meja Rara.


" Mel! Jangan lupa beri dia pelayanan yang terbaik. Dia ini istri temanku."


" Baik pak!"


Alangkah terkejutnya Rara saat laki laki itu menyebut jika dirinya adalah istri dari temannya. Ia berdiri menatap laki laki yang tersenyum ramah padanya itu.


"Maaf sebelumnya, kenalkan saya Rahman. Saya temannya Iqbal." laki laki itu mengulurkan tangannya.


" Oh begitu! Saya..."


" Rara kan? Iqbal sudah banyak bercerita tentang kamu. Silahkan duduk!"


Laki laki bernama Rahman itu duduk bersama dengan Rara. Rara merasa tersanjung karena ternyata Rahman sangat sopan dan memperlakukan dia dengan sangat baik.


"Kafe ini milik saya. Dan saya ini sebenarnya teman SMA Iqbal. Kemarin saya undang dia ke kafe. Tapi dia bilang masih ada di Bali bersama kamu. Saya kaget soalnya dia nggak undang saya pas kalian menikah. Tahu tahu sudah bulan madu saja. Kemudian dia berjanji akan mengunjungi kafe jika ada kesempatan."


"Tapi gimana kamu bisa tahu kalau saya isterinya mas Iqbal, kan kita belum pernah bertemu sebelumnya?"


Rahman tidak langsung menjawab, ia meraih ponselnya yang sebelumnya ada di atas meja. Tak lama kemudian ia menunjukkan sebuah foto dari layar ponselnya. Tampak sebuah foto dirinya bersama dengan Iqbal. Rara terkejut, ia tidak menyangka jika suaminya mengirimkan foto mereka berdua kepada temannya.


Setelah itu seorang pelayan datang membawa pesanan Rara. Rahman mempersilahkan dirinya untuk segera menikmati pesanannya.


"Ngomong ngomong, kamu tuh beruntung bisa mendapatkan Iqbal. Tidak mudah membuatnya move on dari masa lalu."


Raut wajah Rara tiba tiba saja berubah ketika Rahman mengatakan tentang masa lalu. Menyadari ada yang salah, ia tidak melanjutkan kata katanya.


" Maaf. Bukan maksudku menyinggung tentang masa lalu Iqbal."


"Tidak apa apa mas Rahman. Sepertinya semua tentang Kinan sudah menjadi sesuatu yang penting untuk dikenang. Aku tidak masalah. Bagiku itu semua adalah bagian dari sebuah masa lalu yang harus aku hormati. Sekarang yang harus aku jaga adalah masa depan kami. Bukan begitu?"


"Iya! Kamu benar. Tapi jangan terlalu dipikirkan ya. Iqbal itu laki laki yang tidak akan pernah bisa membuat seorang wanita terluka. Dan aku yakin dia akan selalu membuat kamu bahagia. Bahkan lebih dari ini."


"Terimakasih mas!"


" Kamu tahu tidak jika Iqbal itu pandai menyanyi?"


" Oh ya? Aku kok baru dengar!"


"Jadi dulu di SMA kita punya band. Iqbal itu vokalisnya. Selain itu dia pinter metik gitar juga loh! Nanti aku suruh dia nyanyi buat kamu deh!"


Tak disangka orang yang sedang mereka bicarakan sudah ada di samping mereka. Dia masih berdiri dan Rara tertawa kecil melihat kedatangan suaminya.


"Kalian menertawakan apa?"


"Ini dia vokalis kita sudah datang. Come on guys... sepertinya istri kamu belum tahu kalau kamu itu memiliki suara yang indah. Ayo dong nyanyi!" Rahman bangkit dari duduknya dan mendorong tubuh Iqbal untuk maju ke depan.


" Apa apaan ini! Nggak.. nggak.. nggak..gue nggak bisa! Gue nggak bisa!" jawab Iqbal seraya melihat ke arah Rara yang masih tersenyum kecil.


Iqbal berusaha menolak namun ia tidak ingin mengecewakan istrinya yang tersenyum kecil seraya mengacungkan jempol padanya.


Apa yang dilakukan oleh Iqbal tak lepas dari pengamatan mata istrinya. Setiap apa yang diperbuatnya selalu mempesona bagi Rara. Hingga ketika bait lagu mulai terdengar, matanya membuka dan satu orang yang ada dalam pandangannya adalah Rara, istrinya.


Aku jatuh cinta


Tuk kesekian kali


Baru kali ini kurasakan


Cinta sesungguhnya


Tak seperti dulu


Kali ini ada perbedaan


Cinta bukan sekedar kata-kata indah


Cinta bukan sekedar buaian belaian peraduan


Mata itu mengunci Rara. Membuatnya tak bisa lepas dari pengaruh tatapan yang tajam. Lagu terus mengalun indah. Lagu tentang cinta yang seolah menggambarkan perasaan penyanyinya. Sementara keduanya tengah berbicara antara hati ke hati yang membuat suasana menjadi semakin syahdu.


Riuhnya tepuk tangan pengunjung kafe yang lain tak membuat keduanya tersadar. Bahkan ketika lagu telah selesai, apa yang dilakukan oleh Rara masih sama. Mereka masih asyik menghitung detik demi detik dan mengukir kata lewat suara hati.


Hingga suara Rahman membangunkan Rara dari imajinasinya. Rara tersadar dan segera menata kembali letak duduknya. Iqbal telah kembali ke mejanya setelah menerima tepuk tangan dari para pengunjung kafe yang membuat dia merasa seperti seorang penyanyi beneran.


"Tuh kan gimana Ra? Bagus kan suara Iqbal?" tanya Rahman meledek.


" Iya mas Rahman, aku nggak pernah nyangka jika mas Iqbal memiliki suara yang seindah itu. Opah opah Korea favorit aku!"


Mereka tertawa bersama.


Selanjutnya mereka berbincang bincang. Kemudian Rahman meninggalkan keduanya karena ada urusan di luar.


"Kamu nunggu lama ya tadi? Gimana Rahman baik kan sama kamu?"


"Iya mas! Semua teman mas Iqbal selalu baik padaku. Ngomong ngomong mas Iqbal punya banyak teman ya? Semuanya baik lagi!"


" Emang apa bedanya? Kamu saja yang nggak pernah ngasih tahu teman kamu padaku."


"Aku nggak punya teman sebaik teman mas Iqbal. Dulu teman temanku pada suka ngebully aku. Dibilang anak napi lah, anak penjahat. Aku sudah hapal dengan hinaan mereka mas.!"


" Tapi masih ada kan yang rela bantu kamu bersihin kamar mandi waktu dihukum guru BP gegara telat?, terus ada juga kan ngumpetin kamu di kantin waktu ada musuh bapakmu yang nyari kamu di sekolah? Ada juga yang ngasih duit tambahan buat kamu karena kamu paling rajin ngerjain tugas mereka!"


"Mas Iqbal tahu semua itu dari mana?"


" Tentu saja dari teman kamu yang paling baik itu!"


" Angga?"


Air mata istrinya mengalir lembut di pipinya. Ia mengingat saat saat yang diceritakan oleh suaminya. Ia ingat semua dengan jelas. Ia tak mampu menahan perasaannya. Dan tentu saja hal itu membuat Rara menjadi lebih mudah untuk mengeluarkan air matanya.


"Mas Iqbal tahu tidak , aku tidak mungkin melupakan semua kenangan itu mas! Aku ingat semua dengan amat sangat jelas. Tapi meskipun sebenarnya semua itu bukan kenangan indah, aku bahagia sekali waktu itu. Aku punya Angga dan ibunya yang sering membantuku di sekolah. Ya... mereka baik mas! Hanya mereka yang seperti itu padaku.!"


"Tuh kan! Apa apa selalu saja nangis! Katanya kenangan indah kok masih saja ditangisi!"


Tangan itu begitu saja menyentuh pipi istrinya dan berusaha menghapus sisa sisa air mata. Lagi lagi Rara merasa memiliki tempat bersandar. Dan setiap kali ia membutuhkan, selalu saja orang yang sama yang memberikan sandaran untuknya.


"Terimakasih mas! Mas Iqbal sudah terlalu baik. Aku tidak tahu harus bilang apa lagi untuk membalas semua kebaikan mas Iqbal!"


Iqbal hanya diam.


Seandainya saja kau tahu apa yang ingin kudengar dari mulutmu. Aku berjanji akan membuat kita saling mengungkapkan isi hati kita (Iqbal)


Song: Lagu Cinta by Dewa19