A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 53 MALAM YANG PANJANG



Jangankan untuk menghindari pertemuan dengan suaminya, menghindar dari tatapan matanya saja membutuhkan tenaga yang luar biasa. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kehadirannya yang seolah olah bagaikan petir yang tiba-tiba muncul. Seperti sore ini saat jam pulang kerja, Iqbal sudah siap di depan toko bunga tempat Rara bekerja.


Tidak mau terlihat malu di depan mbak Dita dan sahabatnya Sita, Rara masuk ke dalam mobil tanpa berpikir panjang. Sementara Iqbal tampak tersenyum bahagia sore itu.


Iqbal membelokkan mobilnya ke arah sebuah warung makan di pinggir jalan. Ia sengaja ingin makan di tempat yang sama seperti dulu saat mereka bersama. Tempat makan favorit istrinya, warung aneka sambal.


Sementara Rara tentu saja menyadari hal itu. Ia tahu jika suaminya sengaja melakukan itu untuk membuka kembali kenangan-kenangan manis yang dulu pernah mereka lalui bersama. Dan semua yang telah ia lakukan nyatanya berhasil membuat Rara merasa mengulang kembali kenangan indah itu.


"Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang! Mas Iqbal kembali saja ke hotel. Aku tidak mau mas Iqbal ikut masuk bersamaku!" kata Rara ketika mobil telah sampai di depan tempat kostnya.


Iqbal yang hampir membuka pintu mobilnya mendadak berhenti. Senyum yang sedari tadi tersungging di bibirnya pun mendadak hilang.


"Aku kan sudah minta ijin ibu siapa tadi punya tempat kost... Kenapa? Ibu itu masih marah-marah?"


"Mas Iqbal minta ijin pada orang yang salah. Seharusnya aku yang dimintai ijin, karena aku yang tinggal di tempat itu dan aku juga yang sudah membayar. Sekarang mas Iqbal pulang saja ke hotel. Aku tidak peduli!" jawab Rara dengan kasar kemudian segera turun dari mobil karena tidak mau mendengar jawaban dari Iqbal.


Tanpa menoleh Rara berlari kecil dan segera masuk ke dalam kamar kostnya. Sementara suara petir sudah menyambar kemana mana, pertanda sebentar lagi akan turun hujan.


Iqbal tidak bergerak dari tempatnya.


Rara membersihkan diri di kamar mandi lalu segera meraih selimut dan merebahkan diri di dalam kamarnya. Suasana di luar tampak riuh oleh suara rintikan hujan yang semakin deras. Angin malam yang berhembus membuat rasa dingin semakin terasa.


Rara tidak bisa memejamkan matanya. Ia kembali teringat akan suaminya yang sudah ia usir pergi tadi. Namun tiba-tiba ia menyadari jika ia belum mendengar suara mobil suaminya. Kemudian ia bangun dari tempat tidurnya dan segera berlari ke arah jendela.


Betapa terkejutnya ia mendapati mobil berwarna putih itu masih ada di sana. Tidak bergerak kemana-mana dan begitu saja terguyur derasnya hujan.


"Mas Iqbal ngapain sih masih di sana!" gumamnya lirih.


Hujan semakin deras dan Rara kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mencoba untuk tidak peduli dengan apapun yang dilakukan suaminya. Meskipun dalam hati ia merasa tidak ingin melakukannya.


Satu menit, sepuluh menit hingga hampir satu jam ia masih belum bisa memejamkan mata. Ia kembali teringat akan suaminya yang masih berada di luar. Sementara hujan sudah reda dan tentu saja rasa dingin semakin menusuk ke dalam tulang. Rara kembali bangun untuk melihat apakah mobil suaminya masih ada di sana atau tidak.


Dan benar saja dugaannya. Mobil itu masih ada di sana. Tidak ada seorangpun yang lewat karena cuaca masih sangat dingin. Apalagi ini memang sudah malam.


Rara kembali membuang perasaan ibanya pada Iqbal. Namun sekuat apapun ia mencoba ia tidak bisa. Ada ribuan rasa khawatir yang memenuhi pikirannya. Dan perasaan itu telah mengalahkan egonya. Tanpa pikir panjang Rara segera berlari keluar menuju mobil suaminya.


Ia mengetuk pintu mobil. Namun tidak ada jawaban. Kemudian ia memberanikan diri melihat ke dalam mobil dan ia mendapati suaminya yang tengah tertidur di dalam. Hatinya tiba-tiba merasa campur aduk antara rasa kesal dan rasa khawatir yang amat sangat. Kemudian tanpa menunggu lebih lama ia mengetuk kaca mobil lebih keras. Dan usahanya itu tidak sia-sia. Ia melihat Iqbal membuka matanya.


Iqbal tampak mengerjapkan matanya dan sesaat kemudian ia meraih pintu mobil.


"Sudah pagi ya sayang?" tanyanya sambil mengusap usap matanya dan menguap.


"Dasar keras kepala! Kenapa sih ada orang seperti mas Iqbal di dunia ini?"


"Baru juga dibangunin, sudah dimarah-marahin lagi!"


Rara tidak menjawab. Ia hanya mendengus kesal dan membuang muka meski sebenarnya dia tidak menginginkannya.


"Ayo masuk!" ajaknya kemudian.


Tiba-tiba terbitlah senyum dari wajah suaminya. Iqbal merasa telah mendapatkan kesempatan untuk kesekian kalinya. Dan ia berjanji dalam hati, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Rara sudah melangkah terlebih dulu saat Iqbal mengikuti langkahnya. Bibirnya terus menyunggingkan senyum kebahagiaan.


Rara menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. Ia juga membuatkan secangkir teh hangat dan menyiapkan selimut. Semua itu diterima oleh Iqbal dengan hati yang berbunga-bunga. Semua perhatian yang selalu ia rindukan dan baru hari ini ia kembali dapat merasakannya.


"Terimakasih ya Ra! Aku selalu merindukan semua yang selalu kamu lakukan untukku dulu! Dan sekarang aku bisa merasakan semua perhatianmu lagi!"


"Baik!" jawab Iqbal dengan nada kecewa.


"Mas Iqbal tidur saja di kamar, biar aku tidur di bawah! Selamat malam!"


Tanpa menunggu jawaban dari Iqbal Rara segera merebahkan dirinya di atas lantai beralaskan karpet di ruang tamu. Namun Iqbal tidak bergerak dari duduknya.


"Kenapa masih di sini?"


"Kamu saja yang tidur di kamar! Aku yang di sini! Cepat bangun!"


"Tidak! Mas Iqbal tamu di sini. Jadi biar aku yang tidur di sini."


"Baiklah!"


Iqbal segera merebahkan dirinya di sebelah Rara dan hal itu sontak membuat Rara terkejut. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.


"Apa yang mas Iqbal lakukan?" teriaknya seraya bangkit dari tidurnya.


"Katanya tidak mau tidur di kamar. Jadi kita tidur saja berdua di sini.!"


Jawaban yang sangat membuatnya kesal hingga ia dengan terburu-buru beranjak dari tempat duduknya. Dan tanpa ia sadari kakinya terlilit oleh selimut yang ia gunakan. Hal itu membuatnya terjatuh. Yang sangat membuatnya menjadi semakin gugup adalah tubuhnya yang begitu saja terjatuh di atas tubuh Iqbal.


Sekali lagi mata keduanya bertemu dan seolah tidak pernah ada kata berhenti untuk keduanya merasakan getaran. Rasa yang sudah lama hilang namun akhir-akhir ini datang kembali. Hati keduanya kembali merajut cinta yang sesungguhnya. Cinta yang sebenarnya tidak pernah padam. Cinta yang sama sekali tidak pernah mati dan cinta yang membuat keduanya sama-sama terjebak dalam ketidakpastian.


Denyar denyar halus itu terangkai kembali membentuk sebuah ikatan. Semua kenangan indah terputar untuk kesekian kalinya. Ada sesuatu yang terasa lebih indah saat memori itu terputar.


Dan mata mereka masih tetap berada dalam satu titik. Rara menyadari bahwa sebenarnya dia sudah terjebak kembali dalam dunia yang ingin ia lupakan. Namun seolah tidak ada kekuatan, ia akhirnya pasrah meskipun setelah itu ia mencoba menyadarkan dirinya.


"Maaf mas!" kata Rara begitu sadar dan ia segera memalingkan pandangannya ke arah lain. Kemudian ia bangkit.


Namun tiba-tiba Iqbal yang masih terbaring meraih tangannya. Ia terkejut dan jantungnya kembali berdegup kencang.


"Jangan membuat jarak, aku mohon! Semua ini adalah cinta kita yang sebenarnya. Jangan pernah menghindariku! Kamu tahu Ra! Kamu tahu semua yang aku rasakan sama seperti yang kamu rasakan. Jadi aku mohon biarkan semua ini! Jangan pernah menghentikan apa yang sudah terjadi! Beri aku kesempatan!"


Perlahan Rara menoleh ke arah Iqbal.


"Bagaimana aku bisa lupa dengan semua perasaan ini mas! Akulah orang pertama yang merasakan semua ini. Akulah yang pertama kali menyadari rasa cinta ini. Bagaimana aku melupakan ikatan ini? Katakan!"


Air matanya semakin deras mengalir dan ia tertunduk mencoba menahannya.


"Maafkan aku!"


Iqbal meraih istrinya dan hendak menarik ke dalam dadanya. Namun Rara menolaknya.


"Jangan buat aku semakin terjebak, mas! Aku mohon berhentilah merayuku agar aku kembali. Karena aku tidak akan pernah kembali!"


Rara berdiri dan segera masuk ke dalam kamar. Ia tidak lagi mempedulikan Iqbal yang terdiam mendengar permintaannya.


Malam semakin larut. Dan air mata itu membuat malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.


Terimakasih telah membaca


Salam manis 😘