
Sejak peristiwa yang menyeramkan itu Iqbal memilih untuk menitipkan istrinya di rumah nenek jika ia sedang bertugas. Maka setiap pagi mereka pergi bersama dan Iqbal menurunkan Rara di tempat nenek. Meskipun sebenarnya Rara sudah merasa lega karena ia tak lagi melihat pria itu di apartemen. Apalagi saat pengelola apartemen mengatakan jika sebenarnya pria itu tidak tinggal di sana. Ia hanya orang asing yang ingin berbuat ulah.
Sudah seminggu Rara berada di rumah nenek saat siang hari. Sebentar lagi natal akan tiba dan di minggu terakhir bulan Desember ini kesibukan Iqbal mencapai puncaknya hingga malam pergantian tahun baru nanti.
Sore ini di dalam mobil saat ia menjemput istrinya. Sebelum pulang mereka mencari tempat makan seperti sore sore sebelumnya.
"Mas...aku besok tidak usah diantar ke rumah nenek ya...sepertinya semua sudah baik baik saja. Lagipula mas Iqbal pasti akan sibuk banget kan akhir akhir ini."
" Yakin kamu sudah nggak apa apa?"
"Iya Mas...! Aku nggak akan kemana mana. Aku akan di rumah nunggu mas Iqbal pulang. Lagi pula pihak pengelola apartemen kemarin sudah menghubungi aku dan memastikan pria itu tidak akan muncul lagi." kata Rara lagi meyakinkan.
"Ya sudah terserah kamu! Tapi mungkin aku juga akan pulang terlambat setiap hari. Kamu nggak apa apa?"
"Nggak apa apa Mas...!"
"Oke pokoknya kamu jangan sembarangan buka pintu. Kalau aku pulang, aku pasti buka pintu sendiri karena aku tahu kode masuk pintu utama. Dan kalau aku akan pulang cepat atau terlambat aku pasti kirim pesan ke kamu terlebih dulu."
Rara mengangguk mencermati setiap arahan dari suaminya. Kemudian mobil berbelok ke sebuah pasar malam. Rara kaget karenal Iqbal tidak merencanakan akan mencari makan di tempat seperti ini. Tapi dalam hati ia tersenyum bahagia.
" Mas mau nyari makan di sini?"
"Kenapa?"
"Aku jelas yang paling bahagia kalau diajak makan di sini. Aku pikir mas Iqbal nggak akan suka makan di tempat seperti ini. Jadi meskipun aku ingin, aku tidak akan berani mengajak makan di tempat seperti ini."
"Aku ini polisi, makan di tempat lebih buruk dai ini pun aku pernah. Yang jelas jangan sering sering aja. Lebih baik banyakin makan sehat. Itu saja.!"
Iqbal memarkir mobilnya. Kemudian mereka turun. Rara ingat masa kecilnya begitu melihat suasana di luar. Ada banyak permainan disana. Ada bianglala, komedi putar, bahkan ada rumah hantu. Rasanya ia ingin mengulang masa itu. Bibirnya terus menyunggingkan senyum. Hingga membuat lelaki di sampingnya ikut tersenyum kecil.
"Mas Iqbal pinter banget milih tempat. Aku merasa seperti kembali ke masa kecil mas."
" Kamu mau makan apa?"
"hm....apa ya? Aku mau ke situ aja mas...!" jawabnya menunjuk ke sebuah warung sederhana yang spanduknya bertulis sambel weder.
"Emang enak?"
"Mas Iqbal nggak pernah makan sambel ya?"
Iqbal menggeleng. Ia memang tidak begitu suka dengan yang namanya sambel. Tapi karena istrinya sudah menarik tangannya, bisa apa lagi dia. Mereka masuk ke warung yang tidak begitu ramai itu.
" Bang dua porsi ya...sama teh anget dua!" kata Rara pada Abang penjual nya.
Suasana sangat ramai. Banyak anak kecil berkeliaran dimana mana. Tak lama pesanan mereka datang. Dua piring nasi, dua buah cobek berisi ikan ikan kecil dan lalapan serta dua gelas teh hangat. Iqbal seperti takut melihat menu malam itu sedang istrinya merasa sebaliknya. Tanpa basa basi ia melahap makanannya.
" Ayo mas dimakan...! ini nggak pedas kok !" katanya membujuk suaminya yang hanya diam memandang makanannya.
"sini aku pilihin durinya!" katanya lagi tanpa sungkan, lalu meraih salah satu ikan wader dari cobek suaminya, memisahkan durinya lalu meletakkan dagingnya di piring suaminya.
Iqbal hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu. Ia melihat matanya yang dipenuhi rasa bahagia. Lalu ia mengambil ikan yang telah dibersihkan dari durinya oleh Rara dan memakannya dengan sedikit sambal. Ia nampak merasa kepedasan. Ia mengipas ngipas mulutnya dengan tangan. Hal itu membuat istrinya tertawa lebar. Iqbal bahkan belum pernah melihat Rara tertawa selebar itu. Iqbal merasa tawa itu mampu menghipnotisnya hingga ia lupa jika mulutnya terasa begitu panas.
Lagi lagi ia ingin terus menikmati tawa gadis itu. Ia seperti ingin selalu melihat istrinya tertawa seperti itu. Dan melihat sorot mata suaminya yang tajam ke arahnya, Rara merasa jika ia sedang diperhatikan. Ia merasa ada yang berbeda dari mata itu. Rara menghentikan tawanya. Mata mereka masih bertemu di satu titik. Hal itu berlangsung selama beberapa detik. Hingga suara gitar seorang pengamen membuat keduanya kembali ke dunia nyata.
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu...
Lagu romantis itu mengalun dengan indah merasuki jiwa dua insan itu. Rara tersenyum bahagia dan menyerahkan selembar uang kecil pada pengamen itu. Seolah tahu jika penikmat lagunya adalah sepasang kekasih, pengamen itu lantas mengucapkan terimakasih dan memberikan doa untuk kebahagiaan mereka. Keduanya kembali saling tatap.
Usai makan Rara kembali menarik tangan suaminya. Ia mendekati penjual gula kapas yang banyak dikerumuni anak anak kecil. Seperti anak kecil lainnya ia tampak gembira menunggu antrian.
Lagi lagi Iqbal hanya tertawa kecil. Sedang istrinya sudah asyik menikmati gula kapas berwarna pink itu.
"Kita duduk di sana mas...!" ajaknya menunjuk sebuah kursi panjang di salah satu sudut tempat itu. Tanpa menunggu jawaban suaminya, ia menarik kembali tangannya. Iqbal hanya pasrah dengan tingkah istrinya.
Mereka duduk di kursi sambil menikmati sisa gula kapas. Mereka menatap orang orang yang lalu lalang. Tiba tiba raut wajah Rara berubah. Ia terdiam seolah mengenang sesuatu.
" Mas...terimakasih untuk hari ini. Aku bahagia sekali. Waktu kecil aku selalu ingin pergi ke tempat seperti ini bersama ayahku. Tapi ayah tak pernah membawaku kemana mana. Aku selalu pergi sendiri dengan ibu. Ibuku dulu penjual es di tempat tempat seperti ini. Jadi sebenarnya tempat ini tak asing bagiku. Aku jadi sering bermain di tempat seperti ini. Bahkan aku masih ingat dulu ibu tidak akan membelikan aku gula kapas, kalau tidak ketika mendekati akhir acara. Karena dengan jumlah uang yang sama aku akan dapat dua bahkan lebih. Dan aku pasti merasa senang!"Rara menitikkan air mata namun ia bergegas mengusap pipinya.
"Di dunia ini tidak ada wanita yang lebih tangguh dari ibu. Ibu berjuang sendiri membesarkan aku. Ibu selalu mengutamakan kebahagiaanku meskipun hidup kami serba kekurangan. Aku bahkan belum bisa membuatnya bahagia. Ibu pergi meninggalkan aku. Sendirian. Iya...aku sendirian mas. Sekarang aku harus berjuang sendirian. Aku tahu aku harus kuat."
Iqbal membiarkan istrinya menumpahkan semua beban dalam hatinya. Ia menggenggam tangan kiri gadis itu. Memberi kekuatan hingga pemiliknya menoleh dan tersenyum manis. Iqbal membalas senyuman istrinya.
" Sudah ...lebih baik kita berdoa saja untuk mereka yang telah mendahului kita. Kamu Nggak sendiri. Dan aku yakin kamu perempuan kuat!"
Mereka saling menguatkan satu sama lain. Meskipun Iqbal tak pernah menceritakan tentang orsng tuanya , tapi istrinya itu tahu jika ada beban di dalam dirinya.