A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 26 PERASAAN



Laki laki itu memaksa masuk meski Rara sudah menolaknya. Ia ketakutan karena berulang kali ia mengatakan jika dirinya sangat cantik dan Iqbal tidak pantas untuknya.


"Apa maksud kamu? Kamu jangan macam macam sama saya! Sebentar lagi mas Iqbal akan pulang. Jadi saya harap kamu segera pergi dari sini.!" kata Rara dengan nada kasar.


"Saya tahu kamu dari sebelum Iqbal menikah dengan kamu. Dan saya pasti akan mendapatkan kamu. Kamu tenang saja, saya tidak akan menyakiti kamu kalau kamu mau nurut sama saya. Saya jamin kamu tidak akan terluka sedikitpun. " jawab pria itu mrndekst dan ingin menyentuh wajah Rara. Namun Rara bergerak cepat.


Rara mundur satu langkah dan pria itu tetap memajukan langkahnya mendekati Rara yang mulai menitikkan air mata.


" Ksmu jangan mendekat! pegi dari sini!"


Pria bertubuh kekar itu tertawa seakan ingin membuat Rara semakin ketakutan. Rara teru berdos dalam hati agar keadaan ini cepat selesai. Bahkan ia tak henti menyebut nama suaminya.


"Apa maumu? cepat katakan apa maumu?!"


" Aku tidak mau apa apa. Aku cuma mau kamu. Karena aku tahu Iqbal tidak mencintai kamu. Tidak mungkin dalam waktu dua minggu seseorang bisa jatuh cinta lalu menikah. Pasti ada yang kalian sembunyikan. Sedang aku...aku tahu semua tentang kamu. Dan aku jatuh cinta sama kamu meski kamu tidak tahu keberadaanku." kata pria itu dan tentu saja sontak membuat Rara seperti lepas dari raganya. Ia sama sekali tak pernah menyangka akan ada pria seperti dia dalam hidupnya.


Pria itu mendekat lagi, semakin dekat hingga


Rara tak bisa bergerak karena di belakangnya ada sofa ruang tamu. Ia semakin ketakutan.Ia mencoba meraih vas bunga yang ada di atas meja hendak ia pukulkan kepada pria itu. Namun disaat bersamaan sebuah suara membuatnya urung melakukannya.


"Hei...! Apa yang kamu lakukan hah?"


Iqbal mendekati pria itu. Tapi ia sama sekali tidak menyentuhnya. Pria itu juga tidak melawan. Ia hanya tersenyum menyeringai. Tidak ada perkelahian karena bagi Iqbal hal itu justru akan memperpanjang masalah. Hanya tatapan mata Iqbal yang mengisyaratkan sebuah kebencian.


"Oh...pak polisi sudah datang rupanya.! Kanapa? Kau marah aku menyentuh istrimu !"


Kata pria itu seolah ingin mengejek Iqbal.


"Siapa kau berani menyentuh istriku? Kau pikir aku bodoh hah? hm.. Kau pikir kau lebih pintar dariku!Aku tidak akan melepasmu! Ingat itu baik baik.! " ucap iqbal tidak kalah berani dari pria itu.


Sementara Rara mendekati suaminya masih denga deraian air mata. Ia menyembunyikan dirinya di belakang suaminya. Nafasnya masih terengah engah menahan rasa takut.


Selang beberapa detik kemudian beberapa petugas keamanan apartemen masuk ke dalam.


"Aku pasti akan membuat istrimu pergi meninggalkanmu! Karena kau hanya mempermainkannya. Kau tidak pernah mencintai dia!"


"Siapa bilang?! Bahkan aku bisa saja mencintainya hanya dalam hitungan detik.!"


Tanpa menghiraukan perkataan pria itu para petugas keamanan membawanya pergi dari sana. Rara menumpahkan tangisnya di dada suaminya. Ia begitu ketakutan hingga ia tak lagi peduli di dada siapa ia meletakkan kepalanya. Ia menangis sejadinya.


Iqbal mendudukkan istrinya di sofa. Perlahan ia melepas pelukan itu saat dirasa tangis istrinya mulai mereda. Iqbal lalu menghapus sisa air matanya. Menatap mata istrinya dalam mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rara mulai menceritakan apa yang baru ia alami. Ia menceritakan semua tanpa ada yang ia sembunyikan.


" Aku benar benar tidak tahu mas siapa dia. Aku tidak menyangka jika selama ini ada pria yang diam diam mengawasiku. Aku ini kan cuma gadis penjual gorengan mas...mana mungkin ada yang tertarik padaku. Coba mas pikir...apa dia hanya bercanda!"


"Kalau cinta sudah datang, jangankan kepada gadis penjual gorengan , pada orang gila saja seseorang pasti akan tunduk."


Rara mulai bisa menguasai dirinya. Ia mulai tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia ingat pada dirinya sendiri yang juga jatuh cinta pada orang yang salah.


"Mas Iqbal benar. Bahkan kalau cinta sudah melanda, seseorang tidak akan peduli siapa yang ia cinta. Ia tak kan peduli cintanya pada orang yang tepat atau salah tempat. Iya kan?"


"Tapi tidak ada cinta yang salah Ra, Semua cinta akan hadir di tempat yang tepat. Tinggal bagaimana sikap kamu menempatkan cinta itu. " Iqbal menatap mata Rara dalam dan gadis itu tak sanggup menerima tatapan yang mampu merontokkan jantungnya itu . Ia menunduk menghindari sorot mata tajam suaminya.


Suasana kembali reda dan mereka bergegas beranjak dari tempat itu. Iqbal menuju ke kamar istrinya untuk mengambil pakaian. Sementara Rara pergi ke dapur menyiapkan makan malam. Mereka makan malam bersama di meja makan.


" Mas...aku minta maaf ya tadi sudah sembarangan peluk peluk kamu terus nangis nangis di dada kamu!" ucap Rara sudah dengan nada cerianya lagi.


"Memang siapa lagi yang mau kamu jadikan sandaran selain aku. Mau kamu nangis di dada petugas keamanan itu?"


" he he...ya nggak lah mas...mending aku naruh kepalaku di dada orang yang kucinta dari pada di dada pak petugas itu."


Iqbal mengernyitkan dahinya. Rara merasa jika ia telah salah bicara.


"Maksudku...kalau seandainya nggak ada kamu disitu tadi..."


"Emangnya ada...orang yang kamu cinta?"


Duh mas Iqbal ngapain nanyanya gitu...aku harus jawab apa coba. Gila saja kalau aku harus jawab dialah laki laki itu. Pasti detik ini juga dia akan mengakhiri pernikahan ini.


"kok bengong"


" hm...ya ada dong mas....aku kan perempuan normal "


"Aku boleh tahu nggak siapa?"


Rara menghela nafas dalam. Entah kenapa ia berani mengatakan tentang perasaannya. Perasaan pada laki laki di depannya yang akan tetap menjadi cerita terpendam.


" Aku mengagumi dia mas...dan menyimpan rasa ini jauh di dasar hatiku. Aku tidak akan pernah memberi tahu kepada siapa pun tentang rasa ini. Cukup aku dan Tuhan yang tahu. Karena sampai mati pun aku tidak akan bisa memiliki dia. Biarkan dia menjadi cerita indah untuk aku kenang."


" Setahu aku kamu itu cewek yang tangguh kenapa jadi patah semangat seperti ini. Harusnya kamu berjuang dong...jalan cinta seseorang itu nggak akan ada yang tahu."


"Apa yang akan mas Iqbal lakukan seandainya mas Iqbal jatuh cinta pada seseorang yang sama sekali tidak pernah melihat ke arah mas Iqbal? Mau dimulai dari mana coba perjuangannya.? Dilihat aja nggak pernah!"


"Tahu dari mana kamu dia nggak pernah lihat kamu!?"


Rara diam tak mampu menjawab pertanyaan suaminya. Ia harus bilang apa lagi. Semua yang harus suaminya tahu telah dia ceritakan. Kecuali satu, siapa laki laki yang sedari tadi ia bicarakan. Karena tidak akan mungkin ia memberitahukan siapa dia kepada suaminya. Meskipun laki laki yang dimaksud itu adalah suaminya sendiri.