
Rara memilih menjaga jarak dengan Iqbal. Setiap Iqbal menelfon atau mengirim pesan, ia hanya menjawab seperlunya. Ia sadar ia harus melakukannya. Ia tidak mau larut dalam perasaan yang akan membuat dirinya jatuh dan merasakan sakit yang mendalam. Ia juga tak mau berpikir jauh akan berseminya bunga bunga cinta itu. Ia mencoba mencabut setiap tunas yang tumbuh di hatinya. Satu per satu ia cabuti hingga ia berharap tak akan ada lagi tunas yang tersisa.
Selama beberapa hari ini Rara memilih menanyakan perihal pernikahan mereka kepada Lukman.Ia tidak akan menelfon atau mengirim pesan kepada Iqbal jika Iqbal tidak melakukannya terlebih dahulu. Ia sadar diri jika Iqbal menelfon dirinya. Sesegera mungkin ia mengakhiri panggilan itu jika dirasa cukup. Ia hanya tidak mau terus menerus membiarkan dirinya terbawa oleh arus.
Dan Iqbal? Tentu saja ia merasa ada yang aneh dengan calon istrinya itu. Ia pun Sebenarnya tahu jika hal itu disebabkan kejadian tempo hari. Setiap ia menelfon Rara dan ingin menjelaskan masalah itu, Rara memilih mengatakan jika semua baik baik saja dan tak ada yang perlu dijelaskan lalu mematikan ponselnya.
Hal itu berlangsung selama beberapa hari hingga hari ini tiba. Hari pernikahan mereka.
Pagi ini Iqbal mengirim dua orang wanita yang ditugaskan untuk merias Rara. Dua wanita itu merias dirinya dengan sempurna. Ia menggunakan gaun putih yang tempo hari ia ambil dari sebuah butik. Dan dalam waktu tak kurang dari dua jam riasan itupun selesai.
Dua wanita itu pamit dan mengatakan akan menemui dirinya kembali di hotel untuk persiapan resepsi nanti sore. Rara mengucapkan banyak terimakasih.
Beberapa menit kemudian seorang supir beserta mobilnya datang menjemput keluarga Rara. Rara tahu itu mobil Iqbal. Nenek, bang Soleh dan mbak Dewi serta anak anaknya segera bersiap menuju sebuah masjid yang telah ditunjuk oleh Iqbal.
Sebelum ia masuk ke dalam mobil, ia menghubungi Lukman.
" Kenapa Ra? "
" aku sudah siap mas...! ini sudah mau berangkat! "
"ya sudah buruan... tunggu apa lagi!"
" Tapi mas..?"
"Tapi apa lagi Ra...?!" Lukman mengeluarkan nada tinggi hingga orang yang berdiri di sampingnya terkejut kemudian ia mengambil paksa ponsel milik sahabatnya itu.
"Tolong mas...tanyakan sekali lagi pada mas Iqbal, apa keputusan ini sudah tidak bisa diubah lagi! Mumpung pernikahan ini belum benar benar terjadi. Mas Iqbal masih bisa memikirkan lagi. Mungkin saja ada...."
" Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu katakan barusan! Pernikahan kita tinggal nunggu jam. Kamu pikir semudah itu membatalkannya! "
"Mas....mas..Iqbal" Rara gemetaran mengetahui jika ponsel itu kini berada di tangan Iqbal.
"Kita akan tetap menikah! Sekarang buruan berangkat! Aku nggak mau dengar apa apa lagi!"
Iqbal menutup telfon dengan sedikit kesal. Lalu mengembalikannya pada pemiliknya.
Kemudian Ia beranjak keluar apartemen dan Lukman mengikuti dari belakang.
Di sebuah masjid yang sederhana di salah satu sudut kota Semarang, Iqbal tampak sudah rapi dengan mengenakan sebuah kemeja putih dibalut dengan jas warna hitam.
Begitu sampai, ia mendekat ke arah seorang laki laki parubaya. Ia adalah om Yuda, seorang pengacara keluarga Iqbal yang juga merupakan anak angkat dari kakeknya. Disampingnya ada seorang wanita, istri om Yuda. Sementara disampingnya lagi ada kedua orang tua Lukman. Keempat orang itu sudah menganggap Iqbal seperti putra mereka sendiri.
Dilain sudut ada sekitar empat orang berseragam kepolisian. Mereka atasan dan juga teman temannya di kepolisian. Semua menysmbut kedatangan Iqbal dengan gembira.
Beberapa menit kemudian rombongan Rara datang bersamaaan dengan datangnya bapak penghulu dan seorang asistennya.
Mata Iqbal terbelalak melihat perempuan yang berpenampilan lain dari biasanya itu. Rara tampak anggun dengan riasan sederhana. Ia menjelma menjadi gadis cantik yang mempesona.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinara Dewi Pramesti binti Sophian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Iqbal mampu mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan nafas.
Rara teringat almarhumah ibunya. Ia hampir meneteskan air mata jika mbak Dewi tak segera memanggil namanya. Ia buru buru menghapusnya begitu mendengar kata "sah" dari para saksi dan orang orang yang hadir di sana. Kini ia telah sah menjadi istri seorang perwira kepolisian bernama Muhammad Iqbal Bagaskara. Ia mengangkat dan mencium tangan suaminya. Tangan itu begitu hangat dan lembut.Kemudian ia mengangkat kepalanya dan tiba tiba Iqbal menahan bahunya lalu mencium keningnya. Ada getar yang entah bersumber dari mana. Yang jelas dalam hatinya seolah sedang ada parade drum band yang sedang dimainkan. Iqbal tersenyum begitu menawan. Lalu mengusap air mata Rara yang menetes begitu saja.Rara kembali tertegun merasa bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Iqbal menggandeng tangan Rara menuju sebuah mobil yang terparkir di depan masjid. Mobil itu begitu mewah dengan warna hitam mengkilap. Mobil itu terbuka bagian atasnya. Itu adalah mobil bermerk mahal yang sering ia dengar dari televisi.
Semua yang ada di sana bersorak begitu sepasang pengantin baru itu masuk ke dalam mobil. Iqbal tersenyum begitu pula dengan Rara. Mereka memerankan peran mereka dengan bagus.
" ya mobilku lah...!" jawab Iqbal enteng. Ia tidak menoleh dan masih fokus menyetir.
Sementara Rara terperangah melihat laki laki yang kini telah menjadi suaminya itu sudah berkacamata hitam. Ia tidak tahu sejak kapan ia memakainya. Yang jelas hal itu membuat jantungnya kembali berdetak kencang hingga ia lupa jika sedang menjaga jarak dengan Iqbal.
" kenapa? " Iqbal kembali bertanya," Semua ini Lukman yang ngatur. Ini mobilku yang di Jakarta. Aku nggak ngerti tiba tiba mobil ini udah ada di sini. "
"wah...satu orang bisa punya mobil lebih dari satu ya...?"
" Aku punya tiga!"
"apa? tiga? membayangkan saja aku nggak pernah mas...!"
" sekarang mobil ini dan dua mobil lainnya punya kamu juga. Semua yang aku punya secara otomatis juga menjadi milik kamu !" Iqbal menoleh ke arah Rara.
Rara diam merasa jika iqbal hanya bercanda lalu ia tertawa kecil.
"Semua barang yang ada di apartemen ku akan menjadi milikmu juga. Kamu boleh menggunakannya semau kamu! karena kamu istriku sekarang!"
Rara masih tertawa kecil.
"iya mas tapi kan cuma pura pura!"
" ya anggap saja kamu memilikinya juga dengan pura pura!"
" terus kalau ada yang rusak apa aku harus ganti?"
" hmm...ya harusnya seperti itu. "
" Kalau begitu mending...."
" mending apa? heh?...lagian kamu tuh ya...belum juga disentuh udah bilang rusak rusak...kalau rusak ntar kita beli lagi yang baru!"
" he he..." Rara tertawa.
" kamu itu aneh ...sebentar begini sebentar begitu...! "
" maksudnya? "
" Kamu tuh sadar nggak beberapa hari ini kamu nyuekin aku mulu...masak yang mau nikah siapa yang diajak berunding siapa... "
Rara terdiam. Ia ingat jika akhir akhir ini ia memang berniat menjaga jarak dengan Iqbal. Tapi Rara memilih diam yidsk menjawab pertanyaan suaminya itu.
" kamu ...marah ya karena aku bohong soal yang kemarin? "
Mata mereka bertemu.Entah kenapa Rara justru lupa jika ia akan menghindari Iqbal. Kenapa Ia justru berharap Iqbal akan menjelaskan semua yang tak seharusnya dia jelaskan.
" aku minta maaf ya...kemarin itu aku bertemu dengannya karena aku ingin menjelaskan jika aku tidak bisa kembali padanya lagi. Aku sudah membuat semuanya jelas. Aku bilang aku akan menikah dan aku tidak mau menyakitimu. Jadi untuk ke depannya aku harap dia tidak akan mengganggu kita lagi!"
kita? apa aku tidak salsh dengar...
Semua yang ia dengar dari mulut Iqbal membawanya kembali melayang jauh.