
"Terimakasih mas...Aku tidak menyangka kalau mas Iqbal tahu jika hari ini ulang tahunku. Mas tahu dari mana? Aku tidak pernah cerita jika hari ini aku berulang tahun. " kata Rara mendekat kepada suaminya.
" Kamu lupa siapa Lukman? Apa yang tidak diketahui oleh Lukman. Jangankan ulang tahun kamu ulang tahun ketua rt kamu saja dia tahu!"
Rara tertawa.
" Iya mas aku ingat siapa mas Lukman. Semua tentang aku pasti dia tahu. Tapi terlepas dari semua itu aku mengucapkan terimakasih sekali lagi sama Mas Iqbal. Terimakasih ....dan aku bahagia mas mengucapkan selamat ulang tahun padaku."
" Yakin kamu sudah bahagia cuma dengan ucapan selamat doang.!"
"Memang apa lagi yang harus aku harapkan. Aku yakin dibalik ucapan selamat dari mas Iqbal pasti terselip doa untukku. iya kan?"
Iqbal hanya tersenyum dan Rara kembali melangkah ke dapur. Ia menghangatkan makanan untuk suaminya. Entah mengapa bibirnya tak lepas dari senyuman yang terus tertanam tak mau lepas. Bahkan dari mulut mungilnya mengalun senandung kecil. Ia senang bukan main mengingat suaminya memberinya ucapan selamat ulang tahun.
Ia kembali ke kamar iqbal untuk memanggilnya agar lekas makan. Sementara Iqbal asyik dengan ponselnya. Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang. Ketika Rara masuk ia segera menutup telponnya.
Di meja makan Rara duduk di samping suaminya. Ia menemani suaminya makan.
"Sebenarnya nggak baik malam malam makan seperti ini. Tapi aku tuh suka sama masakan kamu makanya aku makan aja. Besok kan udah normal lagi jam makannya."
"Memang besok sudah tidak bertugas lagi?" tanya Rara.
"Yang bertugas sih masih terus ada. Cuma jadwalku sudah selesai. Aku dapat cuti seminggu sebagai ganti cuti pernikahan kita kemarin. Kamu sudah ada ide mau pergi kemana?" Iqbal masih menikmati makanannya.
"Serius mas? Aku pikir waktu itu mas Iqbal hanya bercanda."
"ya serius dong. Kamu nggak suka?"
"Kalau diajak jalan jalan siapa yang bakalan nolak mas...! Cuma orang bodoh kali."
" Ya sudah kamu segera tentuin kita pergi kemana, biar aku lekas beli tiketnya."
"Terserah mas Iqbal deh aku ngikut aja. Kemana pun aku mau kok. Lagian aku nggak tahu apa apa soal begituan. Mas Iqbal lebih pintar kayaknya."
"Ya udah kalau gitu...kita ke Bali gimana?"
Rara hanya mengangguk dan tersenyum. Mau kemana juga sudah pasti hatinya akan bahagia. Selama yang membawanya pergi adalah sang pujaan. Saat suasana kembali hening, tiba tiba terdengar suara kembang api di udara.
Mereka saling memandang dan tersenyum antusias. Kemudian tampak wajah Rara yang terkejut ketika Iqbal mulai menarik tangannya.
"Ayo...aku tahu dimana tempat paling indah melihat kembang api!" ajaknya dan tanpa menunggu jawaban istrinya Iqbal segera membawa istrinya berlari kecil masuk ke dalam kamar istrinya.
Iqbal membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Rara sebenarnya sudah tahu tempat itu, karena ia sering membuka pintu itu untuk membersihkannya.
Tapi kali ini tempat itu tampak sedikit berbeda karena dari sana ia dengan jelas dapat melihat kembang api yang indah. Ada bayak kembang api yang menyala di sana sini.
Sebuah perasaan yang tidak atau lebih tepatnya belum bisa ia artikan. Jantungnya berdebar setiap melihat gadis di sampingnya tertawa lepas. Ada yang menarik dari gadis itu yang ia sendiri tak tahu apa itu. Jika kemarin kemarin perasaan itu coba ia artikan lain, kini hatinya mencoba mencari cara lain untuk mengartikannya. Ia mencoba menikmati perasaan itu hingga saat yang tepat.
Rara... ternyata kamu berbeda dari gadis lain
Aku bahagia melihat tawamu itu dan aku bersumpah akan selalu membuat tawa itu selalu ada agar aku bisa menikmatinya
" Mas...kenapa lihat aku , kembang apinya kan ada diatas..." ujar Rara membuat lamunan suaminya berantakan.
"Hm...o...aku lihat kamu? Habis ekspresi kamu lucu banget!" Iqbal tampak mencari alasan agar istrinya tak tahu apa yang baru saja ia nikmati.
"Mas Iqbal hobi banget ngetawain aku!"
"Bentar ya Ra...kamu tunggu sini, lihat lagi tuh belum kelar kan kembang apinya!" kata Iqbal kemudian seraya menunjuk ke atas dan ia segera berlalu.
Rara kembali menikmati kembang api yang semakin banyak. Suara yanv ditimbulkan begitu keras namun warna warna cantiknya membuat Rara semakin betah menikmatinya.
"Ra..."
Rara terkejut saat Iqbal sudah herdiri di belakangnya. Rara memutar tubuhnya dan mendapati laki laki itu membawa sebuah buket bunga di tangannya.
"Aku nggak ada waktu menyiapkan kado apapun buat kamu. Jadi cuma ini yang bisa aku kasih ke kamu. Kamh jangan marah ya...?"
Iqbal menyerahkan buket bunga mawar itu oada Rara. Dan tentu saja gadis itu tak bisa berkata kata lagi. Matanya menatap dalam ke arah suaminya. Sementara tangannya menerima buket bunga itu dengan gemetar. Lagi kagi ia tak percaya dengan apa yang telah suaminya lakukan.
" Selamat ulang tahun dan selamat tahun baru...Senorita... "
Rara semakin tak bisa menguasai dirinya. Jantungnya berdebar membuat mulutnya masih terkunci. Sementara bibirnya tak henti memamerkan senyum kebahagiaan.
"Semoga apa yang kamu impikan akan segera terwujud. Terus semangat dan jangan pernah menyerah karena kamu bukan gadis seperti itu. Perjuangkan apa yang ingin kamu perjuangkan. Jadilah dirimu sendiri. Karena itu adalah senjata yang paling ampuh untuk menakhlukkan dunia."
"Sekali lagi terimakasih mas ..aku bahagia sekali..Aku tidak tahu harus mengatakan apa...aku tidak pernah menyangka mas Iqbal akan melakukan ini. Ini adalah kado terindah untukku mas. . sekali kagi terimakasih." Rara mulai menitikkan air mata.
"Sudah dong kok malah nangis sih....seharusnya kamu traktir aku sekarang bukannya malah nangis gitu. " goda Iqbal dan nendengar itu Rara kembali tersenyum.
Malam itu adalah malam penuh dengan segala keindahan. Akhir lah n yang membawa sebuah keadaan yang tak pernah Rara bayangkan sebelumnya. Dalam hitungan hari semua berubah. Nasibnya, perasaannya dan bahkan statusnya. Ua berdoa dalam hati supaya semya ini akan terus ia rasakan. Meskipun ia tahu semua ajan berakhir oada waktunya.
Happy new year ya....
Jangan lupa like dan komen...
Salam manis ..