
Pagi ini sudah dipastikan jalanan akan lengang. Orang orang sudah puas dengan perayaan tahun baru semalam. Meskipun hujan turun di sore hari. Namun ketika tepat jam dua belas malam keadaan sudah lebih baik meski di sebagian tempat masih sedikit gerimis. Hal itu tidak membuat orang orang putus asa lantas kembali ke rumah. Terutama para kawula muda yang sudah mempersiapkan diri sejak hari sebelumnya.
Iqbal telah rapi dengan celana jins dan kaos berkerah dan berkancing depan. Sepatu berwarna putih merah tampak serasi dengan kaosnya yang berwarna senada. Ia telah duduk di meja makan ketika Rara keluar dari dapur dan membawa hasil masakannya. Ia masih tampak kusut dengan daster bemotif wayang yang ia kenakan.
"Mas mau keluar? Aku pikir hari ini mas Iqbal mau istirahat di rumah."
"Kamu mau ikut nggak? Aku jamin kamu akan suka kalau mau ikut denganku."
"Boleh?"
"Iya boleh lah...buruan mandi sana!"
Rara begitu senang dengan ajakan suaminya. Dengan cepat ia membersihkan diri dan memakai pakaiannya. Ia berhias secara natural, tidak berlebihan. Ia memakai celana jins dan blus warna merah bata. Ia menguncir rambutnya di atas. Penampilan sederhana namun begitu pas untuknya.
Kemudian ia keluar kamar dan segera sarapan pagi bersama dengan Iqbal. Omelet telur menjadi pilihan pagi itu.
Usai sarapan mereka bergegas pergi. Rara tidak menanyakan kemana ia akan diajak. Ia yakin jika tempat yang akan mereka tuju pasti menyenangkan. Apalagi yang mengajaknya bepenampilan seperti biasanya. Sungguh mempesona dengan kacamata hitamnya.
Mobil berhenti di sebuah toko mainan. Rara bertanya dalam hati, untuk apa suaminya mengajaknya kemari. Rara tidak bertanya apapun, ia hanya mengikuti kemana Iqbal pergi.
" Kamu bisa ngasih referensi mainan yang aman nggak buat anak anak?"
" mainan? anak anak?" Rara mengerutkan alisnya.
"Kenapa? Jangan berpikir yang nggak nggak! bukan buat anakku. Lagian anak dari mana coba! nikah aja belum ada sebulan..."
"Terus?"
"Sudah deh...nanti kamu juga akan tahu..."
Tanpa bertanya lebih jauh Rara mulai memilihkan aneka mainan untuk anak anak. Entah anak siapa Rara sudah tidak peduli lagi meski sebenarnya dalam hati ia masih ingin tahu. Mereka membeli aneka mainan untuk anak laki laki dan perempuan. Semua masuk ke dalam dua buah kantong plastik besar. Kemudian mainan mainan itu mereka masukkan ke dalam bagasi mobil dan mereka bergegas melanjutkan perjalanan.
Iqbal menghentikan mobilnya kembali di sebuah ATM di depan sebuah kantor cabang bank swasta yang saat itu sedang tutup.
Ia menyuruh istrinya menunggu di dalam mobil sementara dirinya masuk ke dalamnya. Beberapa saat kemudian ia kembali membawa setumpuk uang dan memasukkannya ke dalam amplop berwarna coklat. Rara hanya diam tak menanyakan apa pun. Mobil kembali melaju.
Kira kira setengah jam kemudian mobil berhenti di sebuah rumah sederhana. Rumah yang terlihat seperti rumah model lama. Begitu masuk ke dalam pintu gerbang, mereka disambut anak anak yang jumlahnya sekitar dua puluhan. Mereka memiliki umur yang beragam., ada yang laki laki ada yang perempuan. Mereka berebut ingin menyalami Iqbal. Mereka tampaknya sudah lama saling mengenal.
Setelah menyalami anak anak itu, Iqbal memperkenalkan Rara pada semuanya.
"Kalian mau tahu tidak siapa tante cantik ini?"
"Mau..u. u. u..." jawab mereka serentak.
"Tante cantik ini namanya tante Rara. Dia ini istrinya om... ayo kasih salam!"
Satu per satu mereka menyalami tangan Rara. Ada perasaan haru ketika anak anak itu menatap matanya satu per satu.
" Istrinya om Iqbal cantik... !" kata salah seorang anak perempuan pada Iqbal. Pipi Rara tampak merona.
"Apaan sih mas...!"
Anak anak itu tampak tertawa dan begitu bahagia. Kemudian Rara menyerahkan dua kantong plastik mainan yang tadi mereka beli. Iqbal tidak menyuruhnya tapi ia yakin sekarang jika mainan mainan itu untuk mereka. Mereka tampak begitu bahagia menerima mainan mainan itu.
Dari pintu utama muncul dua orang wanita. Satu masih muda sedang yang satunya lagi berusia parubaya. Iqbal menyalami mereka berdua. Dan Rara mekakukan hal yang sama tanpa diminta. Wanita itu mempersilakan mereka masuk. Mereka nertiga duduk di ruang tamu, sedang wanita muda itu masuk ke dalam.
"Nak Iqbal kapan menikah? kok ibu tidak tahu" kata ibu itu yang tadi memperkenalkan diri sebagai ibu Astuti pengurus senior di panti asuhan ini.
" Maaf bu..baru satu bulan saya menikah. Saya memang tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarga dekat saja bu..."
"Iya ibu mengerti. Tapi ngomong ngomong, anak anak tadi ada benarnya. Istri kamu memang cantik . Kamu pinter nyari istri."
Mereka tertawa dan untuk kedua kalinya Rara dibuat salah tingkah di tempat ini. Mereka ngobrol dengan santai. Hingga pada akhirnya, Iqbal menyerahkan uang yang tadi ia masukkan dalam amplop coklat. Ibu pengasuh panti asuhan itu mengucapkan begitu banyak ucapan terimakasih. Kemudian ia pamit ke dalam sebentar hendak menyimpan uang itu.
Rara dan Iqbal berdua di ruang tamu.
" Mas... " panggil Rara.
" hm...! ada apa? " jawab Iqbal tanpa menoleh karena ia tengah mengetik sebuah pesan di ponselnya .
"Aku nggak nyangka mas, jika selama sebulan ini aku hidup bersama seorang malaikat.!"
Iqbal menoleh. Ia melihat senyum mengembang di bibir istrinya. Ia pun tersenyum melihatnya.
"Aku dipindah tugaskan di sini kira kira empat bulan lalu. Sejak saat itu aku meminta seseorang mencari rekomendasi sebuah panti asuhan yang bisa menerima bantuan dariku. Akhirnya aku menemukan panti ini. Semua gajiku dari kepolisian aku donasikan kesini dan sebagian kecil aku berikan warga yang kurang mampu."
"Seperti nenek dan Bang Trisno yang waktu itu pernah mendapat sembako dari mas Iqbal kan?"
"Iya...!"
"Waktu itu baik nenek maupun bang Trisno tak berhenti mengucapkan syukur karena ada orang berhati malaikat seperti pak Iqbal."
"Pak Iqbal?"
"Iya... waktu itu aku belum mengenal mas Iqbal. Yang kutahu cuma pak Iqbal, seorang polisi ganteng yang jutek dan dingin. Tapi sebenarnya memiliki hati yang sangat baik...."
Mereka saling menatap. Tanpa ada yang menghalangi. Mereka saling mengeja perasaan masing masing. Dan detik berikutnya suara bu Astuti membawa mereka ke alam nyata.
Setelah berbicara sedikit basa basi, mereka pamit kepada bu Astuti dan anak anak panti. Anak anak itu tampak sudah akrab dengan Rara. Mereka mengatakan agar tante barunya itu segera datang kembali membawakan mereka mainan lagi. Dan Rara menjanjikan hal itu pada mereka.
Mereka pulang dengan raut wajah bahagia karena telah memberikan apa yang sudah seharusnya mereka berikan untuk sesama. Apalagi Rara yang tampak semakin memuja suaminya begitu sadar jika selama ini ia mengagumi seorang malaikat. Ternyata ia menemukan lagi satu sisi lain dari suaminya.
**Jangan lupa vote dan like ya...
Salam manis**....