
Gaun itu berwarna putih. Berupa kebaya modern dengan banyak hiasan sederhana di setiap bagiannya. Amat sangat sederhana sesuai dengan impian Rara. Ada detail berupa bunga bunga kecil di pinggiran gaun itu. Dan Rara semakin terpukau ketika pemilik butik menmintanya untuk mencoba.
Rara mencoba gaun indah itu, tapi betapa kecewanya ia ketika laki laki yang seharusnya ia tunjukkan ternyata tak ada di tempatnya. Ia tengah berbicara lewat telfon di luar butik dengan seseorang. Rara mencoba menunggunya sebentar namun Sepertinya Iqbal masih asyik bicara. Apalagi mbak yang membantunya tadi sudah memanggilnya dan hendak menunjukkan gaun kedua. Rara bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah mbak mbak itu.
Rara melihat gaun kedua, gaun untuk pesta resepsi di sore harinya. Gaun yang lebih indah dari gaun pertama. Modelnya masih sama sebuah kebaya modern. Warnanya coklat tua. Lengannya hanya sampai di bawah siku , sementara bentuk lehernya sedikit terbuka, namun masih sopan.
Rara mengganti gaun pertama dengan gaun kedua. Tampak bagus dipakai Rara dengan warna kulitnya yang putih. Dan Rara merasa pas dengan keduanya baik ukuran maupun modelnya.
Lagi lagi Iqbal masih sibuk dengan ponselnya. Sebenarnya Rara ingin tahu dengan siapa ia bicara namun ia tepis keinginan untuk memanggilnya. Akhirnya ia kembali berlalu dengan hati kecewa. Ia melepas pakaian itu lagi. Lalu menggantinya dengan pakaian miliknya sendiri. Semua pakaian itu dimasukkan oleh mbak mbak itu ke dalam paperbag. Termasuk sebuah pakaian pengantin pria milik Iqbal.
Beberapa saat kemudian Iqbal masuk ke dalam butik sementara Rara masih sibuk bicara dengan mbak mbak penjaga butik.
" Ra... maaf ya ...sepertinya aku tidak bisa mengantar kamu pulang, aku ada sedikit urusan jadi kamu pulang sendiri ya..." kata Iqbal begitu mendekat ke arah Rara.
" iya mas ...nggak apa apa kok...aku ntar pake ojek online aja...!"
" sekali lagi aku minta maaf ya..." kata Iqbal lagi, " ya sudah aku duluan ya...kamu hati hati... "
" iya mas...! mas Iqbal juga hati hati! "
Rara menatap punggung laki laki yang masih berseragam kepolisian itu. Tapi entah kenapa ia merasa ada yang disembunyikan oleh calon suaminya. Ia mencoba menepis perasaan yang seharusnya tidak ada di dalam hatinya itu. Lagi pula siapa dirinya bagi Iqbal. Namun sekali lagi perasaan yang aneh itu mendominasi pikiran nya. Lalu ia berpikir sekali lagi, apa salah jika rasa itu tumbuh diantara mereka walau hanya tumbuh di satu hati saja? Dan apa salah juga jika ia merasa curiga meski jelas jelas rasa itu adalah sebuah kesalahan.
" bang tolong berhenti sebentar ya...di minimarket depan itu..saya mau membeli sesuatu sebentar!" kata Rara pada abang tukang ojek yang datang beberapa saat setelah Iqbal pergi.
" iya mbak..." jawab abang ojol seraya membelokkan motor matiknya ka arah sebuah minimarket yang ditunjuk Rara.
Rara turun dari motor melepas helm dan menyerahkan pada Abang ojol. Begitu sampai di depan pintu masuk ia dikejutkan oleh seseorang yang ia tahu itu siapa. Perempuan cantik yang tempo hari bertemu dengannya di sebuah restoran bersama Iqbal. Ya...Kinan, tidak salah lagi itu adalah Kinan. Tapi ia tak mengetahui keberadaan Rara jadi Rara memilih bersembunyi diantara barisan barang barang di minimarket itu. Tak lama kemudian Kinan menuju meja kasir lalu melangkah keluar. Rara terus mengamati perempuan itu dari dalam melalui kaca minimarket.
Betapa terkejutnya ia ketika tahu ada sebuah mobil yang menjemput perempuan itu dan itu adalah mobil Iqbal.
Iqbal keluar dari mobil dan menyapa perempuan itu. Sementara Rara masih diam membatu di dalam minimarket. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk nusuk hatinya.
Entah situasi apa ini, Rara bagaikan orang bodoh yang terus merutuki nasibnya.
Sesuatu yang lebih mengejutkan kembali terjadi ketika tanpa sadar mata Iqbal mengarah ke dalam minimarket. Ia melihat Rara yang tengah mengamati dirinya dan Kinan. Iqbal benar benar yakin itu adalah Rara. Tapi Rara buru buru memutar tubuhnya agar Iqbal tidak melihat dirinya. Dan ternyata ia terlambat, Iqbal telah mengetahui bahwa ia berada di dalam minimarket itu.
Iqbal tidak menghampirinya. Ia memilih masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Kinan. Ada rasa bersalah di matanya tapi ia tetap berlalu karena ia ingin menyelesaikan masalah yang jauh lebih penting. Meski dalam hatinya ia masih kepikiran dengan kejadian tadi.
Sementara Rara mengambil sebotol minuman dingin, membayarnya lalu keluar dan kembali ke abang ojol yang sudah menunggunya.
Sementara pikiran pikiran aneh itu tak mau pergi.Dan air matanya menggenang di pelupuk matanya. Ia buru buru menghapusnya.Tapi air mata itu terlanjur menetes meluncur begitu saja. Air matanya jatuh membasahi gaun dalam paperbag yang sedari tadi ia letakkan di pangkuannya.
Ia meminta Abang ojol menurunkannya di sebuah taman dekat dengan rumahnya. Ia tak mau pulang dengan hati yang belum membaik. Ia memilih menjernihkan pikirannya di kursi taman sambil memangku paperbag berisi gaun pengantinnya itu.
Diselah ia memberi semangat untuk dirinya sendiri, ia dikagetkan oleh bunyi pesan masuk di ponselnya.
Rara
Aku minta maaf
Aku tidak bermaksud membohongi kamu. Aku hanya tidak mau kamu salah paham ,aku menemui Kinan untuk menyelesaikan masalah kami. Sekali lagi aku minta maaf.
Rara membaca pesan itu dan ia masih bingung harus menjawab apa. Bagaimana mungkin dia akan menjawab jika ia marah pada Iqbal.Itu sama saja dengan membuka perasaannya pada Iqbal selama ini. Akhirnya is mengetik jawaban yang tidak sesuai dengan isi hatinya.
Kenapa harus minta maaf mas...
aku nggak apa apa kok...
(emoticon senyum)
Dan air mata itu meluncur lagi lebih deras dari sebelumnya. Kembali membasahi gaun dalam paperbag itu.
Jangan lupa likenya....
Salam manis...