
Sayup sayup terdengar suara orang orang yang sedang menikmati keindahan sunset. Semakin malam tak membuat orang orang itu meninggalkan tempat tersebut. Ada yang pergi untuk makan malam lalu kembali, ada yang membawa makanan mereka ke tempat itu. Bahkan ada yang sama sekali tidak bergerak dari tempat itu.
Mereka semua adalah wisatawan yang datang dari berbagai belahan dunia. Ada orang Eropa, Jepang, Australia juga ada orang Afrika. Tak jarang pula orang pribumi. Seperti seseorang yang baru Rara kenal beberapa saat lalu ketika Iqbal berpamitan padanya untuk membeli makan malam mereka.
Mereka adalah sepasang suami istri dengan seorang anak mereka berusia sekitar dua tahun. Mereka duduk bersebelahan di atas pasir pantai saat itu.
"Hai... kenalkan aku Citra! Boleh kita berkenalan!" sapa perempuan itu. Ia mengulurkan tangannya dan matanya menatap Rara dalam seperti ada sesuatu di sana.
"Iya...aku Rara!" Rara menjabat tangan Citra. Kemudian laki laki di sebelahnya, yang merupakan suami Citra.
"Kami dari Surabaya. Kamu?"
"Kami dari Semarang. Maksudku aku dan suamiku. Dia sedang membeli sesuatu."
Perempuan itu terus saja menatap Rara. Dan hal itu tentu saja membuat Rara merasa tidak nyaman.
"Kenapa? Apa kita pernah bertemu?"
"Tidak! Kita tidak pernah bertemu sebelumnya!" jawab Citra, "Aku minta maaf. Aku tidak tahu kenapa aku ingin sekali melihat ke mata kamu. Aku melihat masa depan yang indah di sana. "
"Sebelumnya kami minta maaf Rara...,Istriku ini memang memiliki Indra ke enam yang membuatnya dapat melihat masa depan seseorang. Ya... katakanlah dia bisa meramal. Jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya, ia akan memberitahukan pada yang bersangkutan. Tak peduli mereka akan terima atau tidak." Kata Abhi suami Citra.
Entah kenapa Rara tiba tiba saja mulai antusias dengan Citra dan suaminya itu.
"Suami kamu mencintai kamu kan?"
Pertanyaan Citra yang membuat Rara terdiam. Entah apa yang harus di katakan. Tapi bukankah itu hal pribadi yang tidak harus ia bagi dengan orang lain. Jadi ia biarkan saja pertanyaan itu tak terjawab.
"Kamu jangan khawatir! Cinta tak butuh kata untuk merasakannya. Aku melihatnya di mata kamu. Ada cinta yang butuh waktu untuk memperjuangkannya. Sekarang belum saatnya, tapi suatu saat akan ada kebahagiaan yang menunggu kamu. " Citra mengatakan hal itu dengan serius sambil matanya tak lepas dari Rara.
Rara masih menunggu apa yang akan dikatakan lagi oleh Citra. Sementara Citra sendiri masih asyik menelusuri lebih dalam apa yang dilihatnya di mata Rara.
"Kamu ini tipe perempuan yang jujur, pandai menyembunyikan perasaan. Kamu adalah sinar matahari bagi orang yang benar-benar mencintai kamu. Kamu juga perempuan yang kuat dan setegar batu karang. Aku yakin apa yang menimpamu saat ini akan mendapat balasan yang indah suatu saat nanti."
Rara meresapi setiap apa yang dikatakan oleh Citra. Ia membisu tak bisa mengatakan apa apa. Seakan semua yang ia katakan harus ia percayai atau tidak.
"Kamu boleh percaya boleh tidak. Semua ini adalah prediksi dariku. Aku hanya ingin mengungkap semua yang aku rasakan dan aku lihat dari dirimu. Maafkan aku ya...Tapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa."
Tiba tiba si kecil yang sedari tadi diam di gendongan sang ayah mendadak rewel mencari cari ibunya. Citra bergegas memintanya dari sang suami. Kemudian mereka berpamitan tanpa menunggu Iqbal yang saat itu sudah berjalan menuju ke arah mereka.
"Terimakasih atas semua yang kamu katakan. Aku harap semua bukan cuma ramalan melainkan akan menjadi sebuah kenyataan." kata Rara
Citra dan suaminya tersenyum kemudian berlalu sebelum Iqbal sampai di tempat mereka tadi.
"Siapa mereka? kalian terlihat akrab." tanya Iqbal begitu sampai di tempat istrinya.
" Mereka dari Surabaya. Kami baru saja berkenalan."
"Di sini memang banyak orang Jawa. Apalagi ini masih musim liburan."
Ketika malam semakin larut mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Mereka kembali menaiki motor matik yang sedari tadi mereka gunakan. Suasana malam menjadi lebih indah dari biasanya. Rara tercekat saat Iqbal tiba tiba meraih tangannya dan mengaitkan di pinggangnya.
Seakan malam yang tanpa bintang ini berubah seketika menjadi malam yang begitu indah. Ada jutaan kupu kupu yang terbang mengitari Rara. Meski itu hanya ada dalam imajinasinya. Sekali lagi ia melayang.
Tiba di hotel mereka kemudian membersihkan diri. Mereka tidur di satu kamar yang sama. Tentu saja mereka tidak mau semua karyawan hotel yang juga sebagian besar mengetahui siapa Iqbal menjadi curiga. Jadi mereka tetap tinggal di satu kamar yang sama.
Rara buru buru masuk ke kamar mandi begitu Iqbal keluar dari sana. Bahkan saking kebeletnya ia lupa membawa baju ganti. Jadi ia memilih menunggu suaminya pergi keluar agar ia bisa keluar tanpa diketahui suaminya.
Namun hampir lima belas menit ia di dalam, Iqbal tak juga beranjak dari atas ranjang. Ia malah asyik memainkan ponselnya. Kemudian menyadari jika istrinya belum keluar dari kamar mandi, Iqbal menjadi khawatir lalu mencoba mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup.
"Ra...kamu masih di dalam kan? Kamu nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa mas... Mas jangan khawatir kalau mas Iqbal mau keluar silahkan. Aku baik baik saja kok"
"Ya udah aku barusan ditelpon manajer hotel, ada yang harus aku urus sebentar. Aku tinggal ya...!"
" Iya mas...!"
Tanpa banyak bicara lagi Rara membuka pintu kamar mandi lalu menoleh kesamping kanan kiri mencari keberadaan suaminya yang ternyata sudah tidak ada di dalam. Ia bernafas lega lalu segera keluar dari kamar mandi.
Namun belum juga ia mengganti pakaiannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Dengan cepat ia menoleh dan alangkah terkejutnya ia saat tahu ternyata Iqbal sudah berdiri di depan pintu. Iqbal pun terkejut bukan main melihat tubuh istrinya yang hanya berbalut selembar handuk yang melilit hanya sebatas lutut.
Iqbal dapat melihat sebagian tubuh istrinya yang tampak putih bersih. Naluri laki lakinya muncul begitu melihat pemandangan indah itu. Ia menelan ludahnya dengan susah payah
Sementara matanya masih sulit untuk dikedipkan. Akan tetapi ia mencoba menguasai diri dan segera menyadarkan dirinya. Sementara Rara yang juga masih terkejut hanya bisa diam karena tidak mungkin ia menjerit.
Mereka sama-sama membalikkan tubuh masing-masing. Iqbal menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia hanya gugup dan bingung harus melakukan apa lagi.
"Maafkan aku Ra... Ponselku ketinggalan.!" kata Iqbal sembari kakinya melangkah mundur menuju meja yang terletak dekat pintu kamar. Tangannya meraih ponsel itu dan ia segera beranjak keluar. Namun tiba-tiba Rara memanggilnya.
" Mas...!" Iqbal berhenti melangkah namun ia tak berani menoleh.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Mas Iqbal berhak atas semua ini. Aku mungkin belum terbiasa saja....Jadi aku yang salah "
Entah apa yang membuat Iqbal berani memutar tubuhnya. Ia melihat istrinya tidak lagi membelakangi dia, melainkan menatap lurus ke arah dirinya masih dengan selembar handuk yang membalut tubuhnya. Iqbal lalu mendekati istrinya.
Sementara Rara dibuat menjadi tidak berdaya dengan langkah suaminya yang perlahan tapi pasti melangkah ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya naik turun tidak karuan. Iqbal meraih selimut di atas ranjang dan menutupi istrinya dengan itu. Ia tersenyum manis sekali.
"Kamu pasti nunggu aku lama kan di kamar mandi tadi? Kenapa? baju gantinya ketinggalan? Seharusnya kamu minta aku buat ambilin tadi, kenapa musti malu. Kan kamu sendiri yang bilang aku berhak atas kamu."
Rara terpaku diam seribu bahasa. Mata mereka bertemu namun malam itu tidak terjadi apa-apa. Iqbal bergegas pergi setelah istrinya kembali ke dunia nyata setelah berperang melawan rasa gugupnya.
**Jangan lupa vote dan likenya
Salam manis...😘😘**