
Laki-laki itu tersenyum dengan begitu banyak kebahagiaan terpancar di matanya. Namun hal sebaliknya terjadi pada Rara yang tampak begitu terkejut. Gadis itu masih diam mematung menatap ke arah laki-laki itu.
Mata mereka bertemu dan hal itu membuat Rara menjadi semakin hilang keseimbangan. Entah apa yang tengah terjadi. Sepertinya Rara berada dalam situasi yang membuatnya merasa begitu bimbang. Ia bimbang apakah harus bahagia bertemu kembali dengan pujaan hati. Atau ia harus menyesali pertemuan ini. Namun jauh di dalam hatinya, ia begitu bahagia dengan pertemuan ini.
Rara masih mematung ketika Iqbal mendekati dirinya. Matanya memancarkan cahaya kebahagiaan. Seolah telah menemukan permata yang telah lama menghilang dari hidupnya. Iqbal segera berlari memeluk istrinya.
Seperti tidak ada kekuatan Rara begitu saja menerima pelukan dari suaminya. Ia justru merasa sedang berada di dunia yang begitu indah ketika hidungnya mencium aroma wangi dari parfum milik suaminya. Aroma yang selalu bisa menjadi obat dari segala luka lara di hidupnya. Entah mengapa hal itu mampu menghipnotis dirinya hingga ia tak sanggup berbuat apa apa lagi. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukan itu. Dan pada akhirnya air matanya mengalir meski sudah susah paya ia menahannya.
"Berhenti menangis! Semua sudah baik-baik saja!" kata Iqbal kemudian tangannya meraih pipi istrinya untuk ia menghapus air mata istrinya yang mendongak ke atas dan mata mereka bertemu kembali.
Suasana menjadi begitu romantis ketika aroma wangi bunga bunga di sekitar mereka menyebar hingga dapat mereka nikmati. Seperti seorang anak kecil yang begitu memendam rindu, Rara kembali membenamkan wajahnya ke dada suaminya.
Ia kembali menangis. Iqbal hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
Sita khawatir karena tidak mendengar suara sahabatnya itu. Ia buru-buru keluar dari toko untuk memastikan tidak terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu. Namun ia terkejut saat mendapati Rara sedang berpelukan dengan seorang laki-laki. Ia tidak tahu siapa laki-laki itu.
Ketika Iqbal melihat ke arah Sita tanpa diketahui Rara, ia tersenyum dan mengisyaratkan Sita untuk diam. Sejurus kemudian Sita mengerti apa yang terjadi dan siapa laki-laki itu. Ia memilih kembali ke dalam dan melihat dari jauh romansa cinta sahabatnya.
Suasana kembali seperti semula setelah beberapa menit kedua insan itu melepas rindu. Rara kembali tersadar dan segera melepaskan pelukan dari suaminya.
"Mari duduk dulu mas!" katanya sedikit canggung.
Iqbal tersenyum lalu segera duduk di kursi yang sudah ditunjuk oleh istrinya.
Rara diam dan membuat suasana saat itu terasa semakin canggung. Tidak ada yang berani memulai obrolan meskipun keduanya sangat menginginkan. Kemudian Sita datang dan membawa minuman kaleng untuk tamu sahabatnya itu.
"Sit!" panggil Rara, "Kenalkan ini....mas Iqbal" imbuhnya sedikit ragu-ragu.
"Saya Sita, teman kerja Rara! Saya sudah menduga, siapa lagi yang berani peluk-peluk Rara selain suaminya!" jawab Sita seraya menyodorkan tangannya.
Iqbal menjabat tangan Sita.
"Oh ya! Apalagi yang Rara ceritakan tentang suaminya?" tanya Iqbal kemudian.
"Banyak kali mas! Rara bilang mas Iqbal itu..."
"Sit!"
Belum selesai Sita bercerita Rara sudah memotong ucapannya dengan kesal.
Sementara menyadari hal itu Iqbal tertawa kecil karena tahu jika istrinya itu tentu sangat merindukan dirinya dan selalu mengharapkan pertemuan ini. Kira-kira itulah yang akan diceritakan oleh Sita menurutnya.
"oh ya! Saya bisa minta nomor atasan kamu kan? "tanya Iqbal pada Sita yang masih berdiri di sebelah mereka.
"Untuk apa mas?" tanya Rara merasa jika ada sesuatu yang akan dilakukan suaminya.
"Aku kan sudah jauh-jauh datang dari Semarang, masa iya kamu nggak mau minta ijin terus nemenin aku! Kalau aku suruh kamu minta ijin pasti kamu nggak akan mau kan?!"
Rara hanya diam menyaksikan suaminya menyalin nomor yang disebut oleh Sita.
Kemudian ia menghubungi nomor tersebut dan tampak berbicara dengan seseorang yang ia tahu itu pasti mbak Dita, atasannya.
"Ayo!" ajaknya setelah menutup panggilan tersebut.
"Kemana?"
"Bukankah ada banyak hal yang harus kita bicarakan? Aku sudah mendapatkan ijin dari atasanmu dan kita harus pergi sekarang!"
"Aku tidak mau!"
"Kenapa? Kamu bilang rindu padaku, kenapa tidak mau aku ajak pergi? Nanti nyesel!"
Kata kata itu sontak membuat Rara kesal. Namun sebaliknya dengan Iqbal yang tampak senang melihat istrinya itu.
Sita mengangguk sambil tertawa. Ia menghentikan tawanya saat melihat Rara yang tampak kesal tengah melirik ke arahnya.
Kemudian mereka segera pergi. Namun Rara masih diam mematung di sebelah mobil putih yang tidak asing baginya itu. Ia tidak menduga akan kembali menaiki mobil itu lagi. Dan ada perasaan aneh saat masuk ke dalamnya.
Semua kenangan indah yang tercipta saat berada di mobil itu bersama suaminya dulu terputar kembali. Ia ingat semua yang pernah mereka lalui bersama. Tanpa terasa air matanya kembali mengalir. Namun ia buru-buru menghapusnya. Ia tidak mau suaminya itu tahu jika masih menyimpan semua kenangan indah itu.
"Aku minta maaf! Saat nenek pergi aku tidak bisa menemani kamu. Aku tahu kamu pasti sangat kehilangan nenek. Seharusnya aku ada untuk kamu saat itu."
"Nggak apa-apa mas! Mas Iqbal kan juga sedang tidak baik saat itu. Bagaimana keadaan mas Iqbal sekarang?"
"Aku baik. Bahkan setelah berhasil menemukan kamu aku merasa lebih baik lagi!"
Rara menoleh pada suaminya yang tampak tersenyum kecil.
"Seharusnya aku yang minta maaf! Aku tidak bisa menemani mas Iqbal saat mas Iqbal membutuhkan aku. Mas Iqbal pasti marah padaku kan?"
Iqbal menggeleng dan tersenyum. Kemudian mobil sampai di depan sebuah restoran. Mereka turun dari mobil dan segera masuk ke dalamnya. Restoran itu tampak begitu mewah. Dan Rara seperti biasa selalu berada di belakang suaminya. Namun sesuatu membuatnya terkejut saat Iqbal tiba-tiba meraih tangan istrinya dan menggandengnya.
Ada denyar yang tiba-tiba muncul begitu saja. Perasaan aneh yang pernah ia rasakan dulu kini terulang kembali. Ia merasa ada sesuatu yang terus menerus bermunculan di benaknya. Sebuah kenyataan bahwa sebenarnya dia masih menginginkan semua ini terulang kembali.
Mereka duduk di sebuah bangku saling berhadapan. Tanpa bertanya pada istrinya, Iqbal memanggil seorang pelayan dan memesan makanan. Ia tahu istrinya itu pasti akan menjawab terserah jika ditanya ingin makan apa. Karena ia tahu begitulah istrinya.
"Sekarang katakan, kenapa kamu membuatku hampir gila karena kepergian mu itu?" tanya Iqbal dan sontak saja pertanyaan itu mampu menghentikan seluruh aktivitas yang Rara lakukan saat itu.
Rara tidak menjawab karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa diam?"
Mata Iqbal masih menatap tajam ke arah istrinya. Sepertinya ia tahu jika istrinya itu tidak mungkin memiliki jawaban atas pertanyaan itu.
"Kau tahu apa saja yang sudah aku lakukan saat aku tidak bisa menghubungi dirimu. Aku seperti orang gila yang tidak punya lagi semangat hidup. Aku mencari keberadaan dirimu di setiap tempat yang kutahu. Dalam keadaan sakit aku terbang dari Jakarta ke Semarang hanya untuk menemukan keberadaanmu. Aku menyewa orang bahkan setiap hari aku marah-marah pada Lukman yang tidak kuperbolehkan kembali ke Jakarta sebelum kamu ketemu."
Rara mendengar setiap cerita yang disampaikan oleh suaminya. Meskipun ia percaya dengan semua cerita itu, ia masih mencoba untuk tidak terlalu peduli dengan semua yang sudah suaminya itu katakan.
"Dan ketika ada kabar mengatakan jika kamu ada di Jogjakarta, aku seperti melihat sebuah harapan yang begitu indah. Aku percaya aku pasti akan menemukan dirimu kembali."
Rara masih diam. Ia masih takut jika ucapan yang ingin dia sampaikan akan berujung pada rasa dalam hatinya yang tidak akan mungkin ia tahan. Ia terlalu takut jika hatinya tidak akan pernah mengikuti setiap apa yang ingin disampaikan oleh bibirnya.
Iqbal menyadari apa yang terjadi pada istrinya. Ia paham karena ia tahu bahwa sebenarnya istrinya itu akan sulit menjawab semua pertanyaan itu. Ia sudah hapal dengan siapa ia bicara saat ini. Jika ia memaksa mungkin hanya air mata yang ia dapat nanti. Oleh karenanya ia hanya diam dan terus melanjutkan ceritanya.
"Semua keyakinan yang aku punya pada akhirnya terjawab sudah. Aku berhasil menemukan dirimu sekarang!"
Iqbal tersenyum dan menatap dalam ke mata istrinya. Sementara itu tangannya meraih tangan istrinya.
Namun seperti tersadar dari mimpi, Rara lantas menarik kembali tangannya agar tidak semakin larut dalam genggaman suaminya. Menyadari hal itu, Iqbal merasa kebingungan.
"Mas...!" panggil Rara begitu dalam, "Aku minta maaf! Aku tidak bisa mas!" lanjutnya dan tentu saja dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.
Iqbal masih bertanya tanya dalam hatinya.
"Aku tidak bisa lagi kembali seperti dulu! Aku...aku... ingin mengakhiri semua ini,mas!"
Sebuah jawaban yang tidak pernah Iqbal bayangkan akan keluar dari bibir istrinya. Ia tidak percaya dengan semua yang ia dengar. Ia tersenyum kecil seolah menganggap bahwa jawaban itu hanya gurauan istrinya. Dan menyadari hal itu Rara bangkit dari duduknya.
"Semua yang kukatakan bukan gurauan mas! Aku benar-benar tidak ingin kembali padamu!"
Rara memalingkan wajahnya yang penuh air mata dan hendak melangkah pergi. Namun suaminya itu meraih tangannya dan menahannya. Rara berhenti. Ada getaran yang merambat ke dalam hatinya.