A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 12 AKTING YANG BAGUS



Perempuan bernama Kinanti itu memang cantik.Usianya mungkin tiga atau empat tahun lebih tua dari Rara. Ia adalah dokter muda di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Parasnya yang cantik tentu seharusnya begitu serasi jika ia menjadi pasangan Iqbal. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Gadis itu terlalu berambisi untuk menjadi seorang dokter hingga ia rela meninggalkan orang yang ia sayangi lalu memanfaatkan orang lain.


Lalu pada akhirnya ia harus kehilangan Iqbal.


Dan sekarang setelah semua ia dapatkan ia menginginkan Iqbal kembali. Ketika rasa sakit di hati Iqbal mulai mengering ia datang kembali memulai kisahnya kembali. Setelah hampir 4 tahun Iqbal mencoba bangkit, ia tak mau mengulang kesalahan yang sama. Ia ingin melupakan perempuan itu. Ia tidak bisa lagi membuka pintu hatinya untuk perempuan itu. Dan itulah sebabnya kini dirinya dan kinan berada di satu tempat yang sama. Di sebuah restoran yang sudah ditunjuk Kinan. Tapi ketika Kinan datang hanya Iqbal yang berada di sana.Tidak ada orang lain seperti yang dijanjikan Iqbal.


Kinan yang begitu penasaran dengan perempuan yang dapat menakhlukkan hati Iqbal dibuat bertanya tanya dalam hati.


Kinan masih intens menatap Iqbal. Ia tak melihat perubahan dari diri Iqbal. Sementara Iqbal pun juga tak bisa begitu saja melepas pandanngannya pada Kinan.Untuk beberapa detik mata mereka saling beradu. Tapi Iqbal tak terlihat terpukau oleh pandangan Kinan. Ia hanya mencoba mancari sepenggal kenangan di sana. Kenangan yang telah hilang dari hidupnya.


" seharusnya kau tak perlu seperti ini..." ungkap iqbal.


"maksudmu?"


" kamu tidak perlu mencari cari masa depanmu padaku. Aku sudah bilang jika aku telah memiliki masa depanku sendiri. Lihatlah dirimu ...kamu sudah memiliki segala yang kamu inginkan...masa depan yang cerah sudah ada di depan mata.Kamu tinggal mencari laki laki yang sesuai keinginanmu


Lupa kan aku dan bahagialah dengan pilihanmu."


" Tapi Iqbal... aku masih mencintaimu dan aku tak bisa mencintai orang lain.Aku ingin kita kembali seperti dulu..." Kinan mulai meneteskan air mata," aku mohon Iqbal...jangan memaksaku melupakan kamu.."


"Tapi aku sudah mencintai orang lain..."


Rara muncul dari pintu utama.Ia menuju meja Iqbal tanpa melihat ada perempuan di depan Iqbal. Jangan anggap itu terjadi secara natural.Nyatanya semua sudah disusun layaknya skenario sebuah sinetron. Semua sesuai dengan interuksi dari Iqbal.


Sebelum bertemu Rara, Iqbal meminta untuk bicara sebentar dengan Kinan. Itulah sebabnya Rara tak ada di sampingnya saat Kinan datang.


" maaf mas ...lama ya...!"


" iya..nggak apa... kenalin ini Kinan...." jawab Iqbal lalu memperkenalkan Kinan pada Rara.


"Rara...!"


Rara tersenyum semanis mungkin. Ia menjabat tangan perempuan yang cantik dengan celana panjang hitam dan atasan blus berwarna hijau tua. Rambutnya lurus dengan sentuhan warna coklat tipis. Perempuan itu mencoba tersenyum meski Rara tahu ia terpaksa melakukannya.


Ia tahu bahwa Kinan orang berpendidikan sedang dia... Dia hanya gadis lulusan SMA yang tak punya pekerjaan tetap. Ia malu.Tapi inilah peran yang ia mainkan.Ia harus bisa.Ia harus memerankan perannya dengan sempurna.Lalu ia duduk di samping Iqbal.


Semua terdiam beberapa saat.Seolah olah kehadirannya merupakan hal yang ditunggu, Rara mencoba mencairkan suasana dengan menunjukkan sebuah contoh undangan pada Iqbal. Semua ini juga intruksi dari Iqbal. Entah dari mana ia mendapat contoh undangan itu.


Wajah Kinan tampak pucat.


" Maaf ya Kinan... mas Iqbal sudah menceritakan semua tentang kamu. Sebenarnya dalam waktu dekat kami akan menikah. Nanti kami pasti akan kirim undangan ke kamu..." ujar Rara seolah semua yang dia ucapkan adalah kenyataan.


" iya...aku tahu...Iqbal ...juga sudah bercerita" jawab Kinan terbata.


" Terimakasih banyak...kamu jauh jauh datang ke sini untuk bertemu denganku. Maaf kalau sambutan kami mengecewakanmu.!"


" iya nggak apa apa... " jawab Kinan dengan nada suara berat.


Mereka berbicara seperlunya.Bahkan kesannya seolah Rara lah yang paling banyak bercerita tentang dirinys dan Iqbal. Ia sesekali menggenggam tangan iqbal lalu memanggilnya dengan mesrah. Dan hsl itu tentu saja membuat kinan ingin segera pergi dari sana.


" Sepertinya aku harus pergi...aku ada keperluan sedikit di sini, nanti sore aku akan kembali ke Jakarta. Mungkin kita bisa bertemu lagi lain waktu."


Kinan bangkit dari duduknya. Ia tersenyum tapi baik Rara maupun Iqbal tahu jika senyuman Kinan itu adalah sebuah keterpaksaan. Iqbal melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Kinan. Jika ia terlambat sedikit saja air mata itu akan tumpah di depan mereka.


Kinan bergegas pergi setelah bersalaman dengan keduanya. Mereka melihat Kinan pergi dengan terburu buru.


Rara duduk kembali sementara Iqbal meminta izin ke toilet. Rara tahu ada yang salah dengan Iqbal. Dan entah kenapa jauh di sudut hatinya ada rasa sakit yang coba ia tutupi.


Ia merasa pertemuan yang cuma sebentar itu membuka banyak hal. Seolah ia tahu jika dalam hati Iqbal masih tersimpan sebuah perasaan untuk perempuan itu.


Jangan lupa like ya...


Terimakasih atas dukungannya. .


Salam manis