A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 18 PEDANG PORA



"Elu sudah ngomong kan ke Kinan kan? Gue harap lu nggak bikin cewek auto mewek.! Kalau emang hati lu udah nggak ada buat dia jangan kasih harapan palsu!" kata Lukman kepada Iqbal di sebuah ruangan lain. Iqbal tampak merapikan kemejanya.


" maksud lu apa?"


"Jangan pura pura deh loe! Loe tuh juga harus mikir perasaan Rara! Biar gimana juga dia sekarang istri loe! Jangan pernah bikin dia nangis atau lu akan berhadapan sama gue!"


" Apaan sih? kok lu sekarang jadi belain dia !"


" Bukan belain tapi gue cuma nggak mau lu kenapa napa. Secara nih ya...gue tahu elu masih cinta sma Kinan tapi perasaan itu udah ketutup sama sakit hati lu dan gue harap elu Jangan jadiin Rara pelarian. Elu harus membuka diri untuk cinta yang lain!"


Mata Iqbal tajam menatap Lukman lewat pantulan cermin. Sahabatnya itu kini telah berdiri di belakangnya dan tengah tersenyum kecil.


" Gue nggak ngomong harus Rara ya?!" kata Lukman seraya mendekat lalu menepuk bahu sahabatnya itu.


"Terus kalau ternyata emang dia gimana?"


Mata Lukman terbelalak. Tapi sejurus kemudian senyumnya mengembang.


"itu lebih baik!"


Iqbal kembali merapikan dirinya. Ia memasang topi pet di kepalanya. Seragam PDU telah ia kenakan lengkap dengan barisan lencana dan atribut. Sebuah seragam kebesaran berwarna coklat tua sedang di dalamnya sebuah kemeja putih lengkap dengan dasinya. Seragam itu begitu istimewa hingga membuatnya semakin terlihat gagah.


Begitu siap ia lantas mengajak Lukman keluar dari ruangan itu. Sebelum menuju ke aula tempat berlangsungnya acara ia menghampiri Rara di ruangannya.Sementara Lukman memilih pergi terlebih dulu.


Tanpa mengetuk Iqbal langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu.


Ia disambut oleh seorang gadis berpakaian kebaya berwarna coklat tua. Ia berdiri didepan cermin dan tengah menatap dirinya yang masuk secara tiba tiba. Iqbal terdiam dan membatu seolah ia sedang melihat bidadari yang begitu cantik. Matanya tertuju hanya kepada gadis itu. Dan Rara pun juga melihat hal yang sama. Ia melihat iqbal yang berpenampilan berbeda. Ia juga mencium aroma maskulin lelaki itu.Mata mereka saling mengunci mencari sebuah kenyamanan.


" ehem ..ehem..." Mia yang baru keluar dari kamar mandi berdehem melihat keduanya asyik di dunia yang sama.


"Matanya dijaga ya..." sahut Mia lagi seraya melangkah mendekat ke arah Iqbal, "Aku tinggal dulu ya...kamu bawa sendiri pengantin kamu..awas..jangan pake lama!"


Pipi Rara memerah menahan malu. Iqbal mendekatinya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Apalagi ketika Iqbal mengulurkan tangannya dan mengajaknya melangkah bersama. Sungguh tidak ada kata yang mampu mengungkapkan kebahagiaan itu.


" Mia sudah ngasih tahu kan kalau akan ada acar pedang pora?"


Rara hanya mengangguk pelan.


" Kamu Jangan khawatir... kamu ikuti saja! nggak ada prosesi yang aneh aneh kok..."


Iqbal tahu pasti jika Rara kesulitan melangkah dikarenakan ia memakai rok batik. Itu sebabnya ia kesulitan melangkah. Dan Iqbal mengarahkan tangan Rara untuk menggamit lengannya. Lagi lagi pipi Rara merona.


Ketika memasuki lift secara refleks Iqbal membantunya seksli lagi memegangi gaunnya yang menjuntai ke bawah.


" hati hati...!" ucap Iqbal sembari tersenyum. Bahkan Rara tahu senyum itu lebih manis dari biasanya.


Mereka turun ke lantai dasar tempat acara berlangsung.


Mereka disambut barisan perempuan perempuan cantik berpakaian sama. Entah siapa mereka yang pasti Lukman dan Mia adalah dalang dibalik seluruh rangkaian acara. Sementara seluruh keluarga juga berbaris di sana. Baik keluarga Iqbal maupun keluarga Rara. Ia sempat melirik sesaat ke arah nenek yang tampak tersenyum bahagia.


Pedang pora adalah suatu tradisi pernikahan di kalangan perwira militer yang dilaksanakan dalam melepas masa lajang. Acara tersebut diiringi dengan rangkaian pedang yang membentuk sebuah gapura oleh rekan rekan atau adik adik angkatan. Pedang pora melambangkan solidaritas, persaudareaan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Protokoler mengintruksikan kedua mempelai untuk melangkah di bawah rangkaian pedang yang membentik seperti gapura. Suasana sungguh khidmat. Rara melangkah bersama Iqbal perlahan. Matanya penuh dengan air mata karena terharu namunia menahannya. Ia melirik ke arah suaminya yang ternyata juga tengah menatapnya. Iqbal tersenyum.


Kemudian protokoler mengintruksikan acara penyematan cincin. Rara bhkan tidak menyangka jika akan ada acara semacam ini.


Iqbal menyematkan sebush cincin di jari manisnya. Jari yang sebelumnya juga sudah melingkar sebuah cincin di sana. Kini jari itu kembali kosong dan Iqbal mengisinya kembali dengan sebuah cincin bermata putih yang sama sederhananya dengan cincin pertunangannya dulu. Hal yang sama Rara lakukan pada Iqbal. Mereka saling bertukar cincin. Hatinya mendadak berbunga dan memberi harapan baru. Ia merasa bagaikan seorang putri di negeri dongeng.


Acara selanjutnya adalah pengalungan bunga dan pemberian seragam Bayangkari oleh atasan iqbal selaku inspektur upacara beserta istrinya. Iqbal menerima bunga yang dikalungkan di lehernya. Kemudian Rara menerima seragam berwarna pink di atas sebuah nampan. Kedua orang itu menyalami kedua mempelai seraya mengucapkan selsmat.Dan acara dilanjutkan dengan sesi foto. Dan acara pedang pora selesai. Acara selanjutnya adalah sungkeman kepada kedua orang tua. Rara ingat ibunya. Kali ini ia tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis


.


Tamu yang diundang memang tidak banyak. Iqbal hanya mengundang tak lebih dari seratus orang. Namun meski begitu suasana tampak ramai. Rara bisa dengan jelas melihat Iqbal tak berhenti menyunggingkan senyum manisnya. Bahkan dengan bangga ia memperkenalkan istrinya kepada teman temannya dari kepolisian yang kebanyakan datang bersama pasangan masing masing.


Ia juga meminta istri salah satu temannya, untuk membantu Rara yang masih baru di Bayangkari, sebuah organisasi istri istri anggota kepolisian.


Diantara para tamu ada sosok yang datang mendekat mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Kinan datang sendirian ke pesta itu. Tidak ada obrolan yang serius di antara mereka. Namun Rara berusaha tersenyum ramah seolah tak terjadi apa apa dengan hatinya. Begitu pula dengan Kinan yang memilih berlalu begitu tamu tamu yang lain datang mengantri ingin memberi ucapan selamat kepada mempelai berdua.


Seorang pembawa acara memberi tahu jika ada seorang yang ingin mempersembahjsn sebuah kado spesial untuk kedua mempelai. Tak lama kemudian di atas panggung yang notabene juga bagian dari pelaminan naiklah sepasang suami istri yang tak lain adalah sahabat mereka, Lukman dan Mia.


" Terimakasih sebelumnya, di sini saya cuma ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk sahabat saya. Semoga ini pernikahan pertama dan terakhir buat kalian berdua. Ini kafo spesial buat kalian dari kami berdua... "


"saya sebenarnya baru mengerti jika lagu ini memiliki arti buat kalian...Meskipun ini bukan lagu romantis tapi saya harap lagu ini mewakili pertemuan pertama kalian..." lanjut Mia dan Rara masih dibuat bingung dengan teka teki ini. Ia dan Iqbal saling berpandangan.


Tiba tiba intro lagu mulai terdengar. Rara tertawa begitu menyadari lagu apa yang akan mereka nyanyikan. Disudut tempat itu Bang Trisno tampak tertawa bersama anggota keluarga Rara yang lain.


I love it when you call me Senorita...


I wish i could pretend i didn't need ya...


But every touch is ooh la la la...


it's true la la la...


ooh i should be running...


ooh you keep me coming for you**...


Lagu pun mengalun hingga selesai. Semua orang bertepuk tangan . Dan yang lebih membuat Rara semakin terkejut adalah Iqbal yang tiba tiba mendekat lalu merangkul pinggangnya dengan lembut. Rara menoleh dan mendapati suaminya itu tersenyum maniss.....sekali.


Ayo kita nyanyi dulu....


salam manis...


Mohon maaf jika prosesi yang saya ceritakan tidak sesuai , saya sudah berupaya sebaik mungkin dengan mencari sumber lewat google.