
Seorang pria parubaya tengah terduduk lesu di sudut sebuah ruang sempit. Pakaiannya lusuh, rambutnya mulai memutih namun ada segaris raut ketampanan di sudut wajahnya. Matanya bulat namun ada setitik raut kekejaman yang masih tersisa menunjukkan bahwa ia pernah melakukan berbagai macam kesalahan beberapa waktu yang lalu.
Sebuah tempat pengurungan bagi para pelaku kejahatan menjadi tempat istirahat baginya selama setahun belakangan. Ini adalah sebuah hukuman bagi orang seperti dirinya. Berada di balik jeruji besi telah menyadarkan akan arti sebuah keluarga baginya. Terlebih usianya yang mulai menua membuatnya kembali mengingat bahwa ia memiliki seorang putri.
Pria itu tersentak saat ada seorang petugas sipir menyebutkan namanya. Ia terheran, karena selain polisi muda yang sempat menemui dirinya beberapa waktu lalu, tidak ada seorangpun yang sudi menemuinya baik sebelum atau sesudahnya. Polisi itu mengaku sebagai menantunya. Hal itu sempat membuatnya tidak percaya. Namun polisi yang juga merupakan orang yang membuatnya masuk ke dalam sel ini meyakinkannya. Dan sejak itulah, ia semakin mengingat keberadaan putri semata wayangnya yang sejak dulu selalu ia sia-sia.
"Ada yang mau bertemu denganmu pak Sophian!"
Pria bernama Sophian itu segera bangkit dan menuju pintu besi. Kakinya segera melangkah keluar saat seorang petugas membukanya.
"Terimakasih pak!" jawab pria itu.
"Iya! Dia sudah menunggumu di sana! " jawab petugas itu seraya menunjuk sebuah sudut.
Sophian melihat punggung seorang perempuan. Ia tidak tahu siapa perempuan yang ingin menemuinya itu. Kaki tuanya melangkah perlahan mendekati gadis itu.
Saat mendengar suara langkah kaki, gadis itu menoleh seketika. Matanya beradu dengan mata pria tua itu. Ia bangkit dari duduknya dan memandang lekat ke arah pria yang sudah berdiri menghadap ke arahnya.
"Rara...!" ucap pria itu begitu lirih sambil memegangi kedua pipi gadis itu dengan sedikit ragu-ragu.
Rara hanya bisa menahan perasaannya. Ia juga dengan sekuat tenaga menahan air matanya. Namun air mata itu meluncur begitu saja tanpa bisa ia tahan. Tubuhnya begitu lunglai seperti tidak ada lagi tenaga untuk sekedar berdiri.
Ada guratan keriput yang terlihat jelas di wajah pria itu dan Rara dapat melihatnya dengan jelas karena posisi mereka yang begitu dekat. Ada wajah yang sudah hampir tujuh tahun tidak pernah ia lihat. Wajah seorang ayah yang sebenarnya begitu ia rindukan. Tapi ketika rasa rindu itu telah terobati, Rara bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih diam membisu mengamati wajah ayahnya yang begitu mirip dengannya. Ia seolah sedang bercermin ketika melihat wajah itu.
Rara tersentak saat ayahnya tidak dapat menahan dirinya untuk bersimpuh. Pria tua itu seolah tidak sanggup menahan berat badannya hingga tanpa sadar kakinya telah lemas tak berdaya. Matanya semakin deras mengeluarkan air mata. Ia mengusap wajahnya kasar sambil tergugu menahan tangisnya. Pria itu merasa ada begitu banyak hal yang ia sesali.
Rara segera menundukkan badannya dan menyentuh lengan ayahnya. Bibirnya masih terkunci rapat meskipun ia sebenarnya ingin mengatakan banyak hal.
"Maafkan ayah nak! Maafkan! Ayah begitu banyak berbuat dosa padamu dan ibumu!" kata pak Sophian dengan tangisnya yang semakin menjadi.
Rara menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk mengatakan sesuatu.
"Tidak! Tidak ayah! Ayah tidak perlu minta maaf padaku! Aku sudah memaafkan ayah sejak dulu."
"Kau cantik seperti ibumu nak! Hatimu juga begitu baik seperti seorang bidadari. Aku yang terlalu bodoh karena meninggalkan seorang anak sebaik dirimu.!"
"Ayo bangun ayah, kita duduk di atas." ajak Rara seraya membangunkan ayahnya untuk duduk di atas kursi.
Pria itu hanya menurut kemauan anak perempuannya. Dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya, ia susah payah mengangkat tubuh tuanya dan segera duduk di atas kursi berhadapan dengan anaknya.
"Maafkan ayah sekali lagi nak! Ayah berjanji tidak akan pernah menganggu hidupmu lagi, sudah terlalu banyak kesalahan yang ayah lakukan selama ini. Baik padamu maupun ibumu."
"Jangan bilang begitu yah! Aku tidak ingin mengingat yang sudah sudah. Aku rindu ayah!" jawab Rara seraya menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah bahkan tidak pernah sedikitpun mempedulikan keadaanmu. Ayah tidak pantas untuk kau rindukan. Ayah sangat hina!"
"Tidak ayah! Meskipun ayah banyak berbuat salah, namun ibu tidak pernah mengajarkan padaku untuk membenci ayah. Aku ingin ayah kembali menjadi ayah untukku. Aku ingin kita tinggal bersama lagi setelah ayah keluar dari sini nanti. Ayah mau kan?" terbit senyum di wajah anak gadisnya yang seketika membuat pak Sophian begitu bahagia.
Pria itu hanya mengangguk. Sementara tangan halus putrinya masih membelai tangannya yang mulai berkeriput. Ada perasaan lega karena ia telah mendapatkan kesempatan untuk memperoleh kebahagiaan di sisa usianya. Dan dalam hati pria itu berjanji untuk selalu menjaga putrinya karena itu tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Dan kini saatnya ia menggunakan kesempatan itu.
"Bagaimana kabar laki-laki itu?" tanya sang ayah membuat Rara mengernyitkan dahinya.
"Maksud ayah laki-laki yang pernah kemari menemui ayah, dan menanyakan keberadaan kamu! Apa benar semua yang dikatakannya?"
"Maksud ayah...? Apa yang sudah dia katakan pada ayah?"
"Sebenarnya ayah sempat tidak percaya saat dia bilang jika kamu adalah istrinya. Tapi dia berhasil meyakinkan ayah."
Ayahnya memilih diam tidak melanjutkan kata-katanya saat Rara memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tahu ada yang disembunyikan oleh putrinya itu.
"Aku menikah dengannya cuma demi uang ayah. Cuma demi mendapatkan tempat tinggal. Sekarang kami akan segera berpisah."
"Kamu mencintainya?!"
"Keluarga kita memang bukan keluarga terpandang. Tapi kamu berhak mendapatkan cinta, nak. Ayah tidak akan mengganggumu lagi jika hubungan kalian terhalang karena ayah." kata pak Sophian kemudian.
"Tidak ayah!" Rara menggeleng, " Meskipun aku tidak bisa lagi bersama dengan ayah, aku akan tetap memilih berpisah darinya. Aku tidak pantas untuknya, ayah. Bukan karena ayah, tapi memang seperti itulah seharusnya."
"Pak Sophian! Waktu anda sudah habis!"
"Iya pak!"
Pria itu segera bangkit dan memeluk putrinya. Ada rasa yang begitu indah ketika dipeluk oleh seorang ayah. Dan Rara menikmati rasa indah itu.
"Nanti kita bicara lagi! Jaga diri ayah!"
Setelah itu seorang petugas menghampiri pak Sophian dan segera membawanya kembali ke dalam sel. Rara sempat melemparkan sebuah senyuman untuk sang ayah.
***
"Mau aku antar kemana lagi kak? Ke apartemen mungkin?" tawar Dira di balik kemudinya.
"Apa?!" Rara tersentak.
"Ya... siapa tahu kangen kak Iqbal. Dia sudah bertugas lagi loh hari ini." godanya lagi.
"Apaan sih! Gimana aku bisa move on kalau begini. Mending aku nggak pake ngajak kamu kalau tahu begini.!"
"Iya deh maaf! Jadi kemana kita sekarang?"
"Katanya ada urusan? Aku diantar ke taman dekat rumah nenek aja! Nanti aku akan mampir ke rumah nenek.!"
"Ok! Ntar sore aku jemput!"
Rara tersenyum dan segera memberi tahu arah menuju ke taman dekat dengan rumah neneknya dulu.
Sesekali matanya menatap ke arah Dira. Ia tidak menyangka jika gadis itu begitu baik padanya. Ia menawarkan diri mengantarkan dirinya ke Semarang menemui ayahnya. Bahkan ia juga menawarkan tempat menginap untuknya. Sekarang karena gadis itu sedang ada urusan, jadi ia minta diturunkan dekat rumah neneknya. Di sebuah taman yang menyimpan sejuta kenangan.
Rara duduk di kursi taman. Ia duduk tepat di sebuah kursi panjang dan memandangi aneka bunga yang ada di sana. Matanya menatap orang-orang yang lalu lalang di sekitar taman. Entah kenapa ia selalu rindu dengan taman ini. Meskipun taman ini tidak terlalu luas namun baginya tempat itu adalah tempat yang paling bisa mengerti keadaan.
Ia selalu datang ke taman ini sejak ia kecil. Selain karena ibunya pernah menjadi pedagang kaki lima di taman ini, ia juga suka dengan rindangnya pohon pohon dan bunga-bunga di sini. Ia menjadi begitu familiar dengan taman kota yang sudah ada sejak ia belum lahir.
Rara masih memandang orang-orang di sekitar taman. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok anak kecil tengah menangis di salah satu sudut taman. Tanpa pikir panjang ia segera mendekati gadis kecil yang menangis sendirian sambil memanggil manggil nama ibunya.
Suasana taman memang sedikit ramai, dan itulah yang sepertinya membuat gadis itu kehilangan ibunya.
"Sayang. ... kamu kenapa?"
"Ibu...hu...hu... hu...!" gadis kecil itu memanggil nama ibunya terus menerus.
Rara mengedarkan pandangannya berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Hingga matanya menangkap sebuah mobil patroli polisi yang ada di pinggir jalan raya.
Rara mengingat seseorang saat menatap barisan polisi yang sedang bertugas di tempat itu. Tapi ia buru-buru menghapus semua memori tentang polisi dalam ingatannya. Ia segera menggandeng tangan gadis kecil itu.
"Kita tanya pak polisi ya.. dimana ibu kamu? Kamu jangan takut nanti psk polisi itu akan membantu kita menemukan ibu kamu. Sekarang berhenti menangis ya!" bujuk Rara pada gadis itu.
Gadis kecil itu hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah Rara menuju pada sekelompok polisi di tepi jalan raya yang sedang bertugas. Rara segera melebarkan langkahnya setelah semakin dekat dengan mereka. Rara mendekati polisi polisi yang berdiri membelakangi dirinya itu.
"Permisi pak!"
Salah satu polisi menoleh dengan cepat saat mendengar suaranya.
Mata mereka bertemu di satu titik dan itu terjadi selama beberapa detik. Rara merasa ada ribuan kelopak bunga yang beterbangan di udara. Hatinya tiba-tiba menghangat. Sorot mata teduh yang ia rindukan kini ada di depan mata.