
Iqbal tidak banyak bicara di dalam mobil. Mereka pulang dari restoran itu tepat jam 2 siang. Rara sebenarnya ingin menanyakan banyak hal tapi ia takut melakukannya.
Lalu pada akhirnya ia hanya ikut membisu menatap jalanan. Ia sendiri merasa heran dengan dirinya, akhir akhir ini ia jadi sering melamun tiap kali berada dalam mobil ini.
Ia masih merutuki nasibnya. Hingga kini ia belum pernah merasakan kebahagiaan. Bahkan sekarang saja ia hidup sebatang kara.Ibunya sudah tiada dan ayahnya entah ada di mana, masih hidup atau sudah meninggal. Ayahnya sudah tak peduli lagi dengannya.
Ia merasa seperti manusia yang hina. Bagaimana tidak, rumah pun ia tak punya. Selama ini hidupnya hanya menumpang. Tapi ia punya sejuta mimpi yang harus ia raih. Ia ingin memiliki sebuah rumah meski tidak sekarang. Ia berharap ia dapat mewujudkan mimpinya itu.
Matanya kini penuh dengan cairan bening, lalu ia mencoba memejamkan matanya. Tapi air mata itu tetap jatuh .Ia merasa sesak. Ia mencoba meredam sendiri tangisnya, agar orang di sampingnya tak mendengar. Matanya nanar menatap jalanan. Mobil berhenti di lampu merah. Buru buru ia menghapus air matanya.Tapi terlambat.
" kamu kenapa?" tanya Iqbal sepertinya ia khawatir pada gadis itu.
"enggak mas...! saya sedih saja sebentar lagi akan meninggalkan nenek..."
" bohong! "
Rara menoleh. Iqbal sudah menatapnya dari tadi. Mata itu indah sekali. Mata seorang laki laki yang kali ini begitu berbeda. Mata itu menatap dalam meminta penjelasan. Karena pemiliknya tahu gadis di sampingnya itu tengah berbohong.
Lampu di depan masih merah. Tangan kirinya meraih tangan Rara secara refleks. Rara terkejut. Iqbal mengenggamnya erat seolah menunjukkan sebuah kekuatan.
" Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu jangan nangis lagi. Aku paling benci melihat perempuan menangis. Aku kan sudah bilang pada nenek kalau aku akan menjagamu. Aku tadi juga sudah bilang aku akan jadi orang pertama yang akan maju kalau kamu tersakiti. Kamu pikir aku bohong. Sekarang apa lagi yang kamu mau? hmm?!"
kenapa kata kata indah itu lagi, kenapa ia selalu bisa membuatku terbang ...kenapa?
Air mata itu meluncur begitu saja.Ia buru buru menghapusnya lagi. Lampu di depan sudah berganti hijau. Iqbal menarik tangannya dan kembali mengemudi. Sesekali ia melirik perempuan di sampingnya. Rasa khawatir itu masih tampak jelas di matanya.
"sudah jangan dipikirkan lagi...!"
Rara meresapi setiap perhatian yang diberikan Iqbal. Ia menikmatinya. Ia tak peduli lagi meski itu hanya pura pura. Ia tahu rasa itu makin berkembang di hatinya. Ia harus menyimpannya rapi jauh di sudut hatinya. Rasa kagum pada seorang lelaki sejak pertama berjumpa. Akankah rasa ini akan bersemi suatu hari nanti, atau akan segera layu begitu saja. Karena ia sadar ia hanya akan sementara menikmati rasa ini. Cepat atau lambat semua ini akan berakhir. Tapi sekarang ia hanya mau menikmatinya. Menikmati indahnya mengagumi seseorang.
" Kenapa? habis nangis kok senyum srnyum sendiri !"
Rara tersentak dari lamunannya.
" Enggak apa apa kok mas.."
" kalau begitu cepat bilang kamu mau apa lagi dariku? Kamu sudah berakting bagus sekali hari ini, sudah seharusnya kamu mendapat imbalan dariku!"
Rara tertawa bahagia. Begitu pula dengan Iqbal. Senyum di bibirnya terus mengembang. Iqbal merasa bahagia dapat menikmati tawa gadis itu lagi. Tawa indah seorang gadis yang mampu menyita perhatiannya.
Nggak ngomong ,nggak ngelirik...! huh..."
"oh ya? Aku nggak ngerasa nolong siapa pun. Aku cuma menjalankan tugasku saja. Dan kayaknya memberantas pemalakan adalah bagian dari tugas seorang polisi. Jadi...kalau ada yang merasa aku tolong terus menganggap aku pahlawan ya...makasih...! itu suatu kehormatan buatku...!"
" Apa? pahlawan? pahlawan kesiangan? mas Iqbal nggak peka banget! kayak nggak pernah jatuh cinta aja!"
Iqbal spontan menoleh ke arah Rara.
" emang tahu dari mana aku pernah jatuh cinta? "
"emang pernah?" canda Rara lagi.
" menurut kamu?"
" ya itu tadi...mas Iqbal itu orangnya nggak peka. Mas Iqbal kan cakep ,keren, cool...pokoknya idaman banget deh! Kalau ada cewek jangan sok jual mahal dong...disapa dikit gitu kan adem hati jadinya..."
" Jadi waktu itu kamu mengharap lebih sama aku. Habis disapa mau disayang...terus dibawa pulang gitu...mau?"
" ya nggak gitu juga kali mas...?"
"terus...?"
" terus ya....pokoknya mas Iqbal itu kurang peka. Udah deh mas kan jadi panjang ....kayak rel..." kata Rara dan Mereka tertawa bersama.
Rara diam memikirkan bagaimana orang ini dapat bisa seakrab ini. Sementara Iqbal melihat Rara dengan lembut. Mereka sama sama tak pernah menyangka akan bisa sedekat ini.
Apalagi Rara, ia sama sekali tak pernah memimpikan akan bisa bersenda gurau dengan polisi ganteng ini. Baginya dulu ia lelaki yang angkuh dan sombong. Tapi hari ini semua terjawab. Iqbal bukan orang yang sempat dipikirkan nya dulu. Hal ini adalah sebuah kejutan untuknya.
" Rara... sebentar lagi kita akan menikah...aku tidak mau melihatmu menangis lagi..."
ucap iqbal kali ini ia nampak lebih serius.
Rara kembali melayang. Melayang jauh membawa benih benih yang mulai tumbuh. Ia genggam erat benih itu agar tidak pernah terjatuh.
Salam manis....