A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 14 HADIAH



Rara berada di dapur bersama mbak Dewi ketika nenek mencarinya.


" Rara... apa sebaiknya kamu tidak ke rumah bu Mei dan pak Iksan sekarang. Mulai hari ini kamu harus berhenti bekerja. Kamu akan menjadi istri seorang perwira polisi apa pantas jika istri seorang polisi berjualan dan menunggu sebuah minimarket." kata nenek yang duduk di kursi dekat dapur.


Rara berpikir sejenak.


" kemarin ada seorang laki laki datang ke sini bersama Trisno. Dia bilang namanya Lukman ,teman Iqbal katanya. Selain meminta dokumen kamu dia juga banyak bercerita tentang Iqbal pada nenek. Dia menceritakan semua tentang Iqbal. Dari situ akhirnya nenek tahu siapa Iqbal Sebenarnya. Ternyata dia bukan orang sembarangan."


" jadi pak Lukman sudah menceritakan semuanya.kenapa nek? nenek tidak suka lagi ya dengan mas Iqbal?"


" bukan begitu Ra.. aku yakin ibu tidak pernah tidak suka pada Iqbal. Justru karena itu ibu meminta kamu berhenti bekerja. " sahut mbak Dewi.


"benar Ra..." jawab nenek, " kemarin si Lukman juga memberi nenek sejumlah uang.Dia bilang buat biatz pernikahan kamu di sini. Dia juga bilang kalau Iqbal akan mengadakan resepsi pernikahannya di hotel miliknya dengan pesta sederhana dan tidak mengundang banyak tamu."


Rara madih berpikir.


" Jadi alangka lebih baik jika kamu berhenti bekerja nak!, uang dari Iqbal sudah lebih dari cukup kalau cuma untuk membuat acar syukuran buat kamu di rumah ini."


" iya nek! nenek benar...kalau begitu sekarang Rara mau ke rumah bu Mei dan pak Iksan. "


jawab Rara diikuti langkahnya mengambil sepedanya di samping rumah. Namun baru beberapa langkah ia dikejutkan oleh sebuah mobil pick up yang berhenti di depan rumah dan membawa barang barang.


Seseorang turun dari dalam mobil mendekati Rara dan menanyakan alamatnya. Setelah merasa benar satu orang lainnya menurunkan benerapa barang. Ada sebuahTv, sebuah tempat tidur dan sebuah sepeda untuk anak anak. Rara bingung karena ia tak pernah merasa membelinya.


Belum juga rasa bingungnya hilang ia kembali dikejutkan datangnya seorang kurir dari sebuah ekspedisi. Ia mengirim atas nama Rara. Sebuah kotak yang segera ia buka dan ternyata berisi sebuah ponsel baru bermerk terkemuka dengan model terbaru.


Ia tahu dengan pasti siapa yang mengirim barang barang ini. Segera ia mengambil ponselnya yang memang sudah retak disana sini. Ia menghubungi seseorang. Tapi belum juga ia menemukan namanya di kontak, ponselnya sudah terlebih dulu berdering.


" halo mas...ada apa mas?"


" iya halo Ra... hari ini kamu ada acara nggak? " tanya Iqbal


"nggak ada sih mas...,cuma habis ini nenek nyuruh aku ke rumah bu Mei dan pak Iksan, aku disuruh nenek berhenti kerja. Emang mad ada perlu..."


" nggak kok mas aku bisa ...aku cuma sebentar kok ntar siang juga sudah di rumah."


" ya udah ntar siang aku jemput...! sampai jumpa nanti siang ya...."


"eh ..mas tunggu dulu...!"


"ada apa lagi?"


" itu barusan ada orang ngirim barang barang...pasti dari mas Iqbal ya...?"


"iya...buat nenek tapi ya...bukan buat kamu...yang buat kamu cuma ponselnya aja..."


" iya mas ...tahu..buat nenek bukan buat aku...! Nenek seneng banget tahu nggak mas!" jawab Rara seraya melirik seluruh anggita keluarga nya yang sedang mengerumuni barang barang baru tersebut.


"syukur deh kalau nenek seneng...!"


" Terimakasih banyak ya mas...."


" iya...sama sama "


" ya sudah sana mas lanjutkan aktifitas mas....Jangan telfonan mulu...ntar ada maling lewat mas Iqbal nggak tahu... he he..."


" kamu tuh ya..."


" bercanda mas...da...sampai nanti mas...!"


Ada ribuan kupu kupu terbang di atas kepala Rara. Entah kenapa Rara merasa obrolan itu seperti obrolan sepasang kekasih.Ia merasa senang mendengar suara oray yang ia kagumi itu.Bahkan kini ia tak segan mengganti nama di konraknya yang semula bernama ' mas Iqbal' menjadi 'my husband' .Malaikat benar benar telah memanah hatinya. Benih benih itu kini tumbuh makin subur menjadi bunga bunga indah di dasar hatinya.


ya Allah jika rasa ini telah cukup untukku maka segeralah hapus rasa ini dari hatiku Karena aku tak mau jatuh dan merasakan sakit ...


Ia bergegas bersiap siap hendak ke rumah bu Mei dan pak Iksan. Lalu setelah itu bersiap untuk nanti siang.