A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 33 PENOLAKAN



Pagi ini Rara masih kesal dengan suaminya. Ketika Iqbal bangun tidur ia mencarinya ke dapur dan berusaha memulai obrolan dengannya. Namun Rara hanya diam ,tapi tetap melakukan apa yang suaminya mau. Padahal apa yang diinginkan suaminya adalah akal akalan agar ia mau bicara. Pagi itu Iqbal ingin minum teh padahal biasanya kopi, ia ingin istrinya menyiapkan pakaiannya padahal biasanya juga ngambil sendiri.


Dan yang membuat Rara semakin naik darah adalah pesan dari suaminya yang padahal saat itu ia berada di rumah.


Ra...


Tolong bawakan handuk ke ruang treadmill aku lupa bawa tadi


cepet ga pake lama


Mau tidak mau ia segera menyelesaikan nasi gorengnya yang tinggal membawa ke meja makan. Ia masuk ke kamar, mencari handuk kecil yang biasa dibawa suaminya saat olah raga. Ia menemukannya dan bergegas membawa ke ruang treadmill tempat suaminya itu biasa melakukan aktivitas sportnya.


Rara membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Alangkah terkejutnya ia begitu pintu terbuka. Ia melihat suaminya yang masih asyik di atas alat treadmill sambil bertelanjang dada. Keringatnya jatuh di sekujur tubuhnya. Matanya lurus ke depan. Nafasnya ngos ngosan tapi terdengar begitu seksi di telinga Rara. Seakan tidak melihat keberadaan Rara, laki laki itu terus melakukan aktivitasnya.


Rara mendadak membatu di depan pintu yang kembali tertutup. Bibirnya seakan terkunci begitu melihat pemandangan yang membuat matanya terbelalak. Ia berdiri dengan mata tak berkedip. Ia menikmati tubuh indah suaminya yang bahkan tak pernah ia lihat selama sebulan menjadi istrinya.


Mas...mas...kalau pemandangan yang mas Iqbal berikan setiap hari selalu seindah ini, bagaimana aku bisa dengan mudah melepaskan dirimu jika suatu hari nanti aku melupakanmu. Aku tidak ingin semakin terjebak tapi apalah dayaku, apa aku harus tetap menikmatinya tanpa setahu dirimu atau aku harus bagaimana lagi untuk bisa membuatku tak menggunakan hati ketika melihat segala kebaikanmu.


"Kamu ngapain di situ?! Kamu pikir aku tontonan yang perlu dilihat sampai segitunya...!"


Tiba tiba suara itu membuyarkan lamunannya. Tanpa disadarinya ,laki laki yang masih berkeringat dan bertelanjang dada itu telah berada tepat di depannya. Kakinya melangkah maju. Entah kenapa jantung Rara tiba tiba jadi berdebar tidak karuan. Mata tajam suaminya tertuju padanya. Rara merasa laki laki yang ada di depannya ini berubah. Ia merasa dia bukanlah Iqbal yang selama ini ia kenal. Ada yang berbeda dari tatapannya yang mampu merobek hati, menjatuhkan jantung bahkan mampu menghabiskan segala kekuatan yang ia miliki. Laki laki itu semakin maju ke depan. Sebentar kaki Rara demakin ke belakang.


Kini tubuh indah lelaki itu sudah tak berjarak lagi dengannya, karena kini tubuh Rara telah menyentuh pintu dan tak bisa kemana mana lagi. Iqbal mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Kini bahkan dengan amat sangat jelas Rara mampu mendengar dan merasakan nafas suaminya.


Yang terjadi selanjutnya adalah tangan Iqbal yang menahan di tembok. Ia mengunci pergerakan istrinya. Sehingga Rara hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya. Antara takut Iqbal akan melakukan yang tidak tidak dan rasa aneh yang semakin ia nikmati. Ia tidak lagi bisa berpikir jernih. Pikirannya melayang ke mana mana.


Nafas Iqbal semakin jelas terasa di telinganya. Iqbal membisikkan sesuatu di telinganya.


"Kamu takut?" bisik Iqbal begitu lirih tepat di telinga Rara, "Kenapa musti takut, bukankah ini yang kamu inginkan. hmm?"


Rara membuka matanya perlahan, ingin memastikan apa yang yang tengah dilakukan suaminya. Jantungnya masih berdebar. Sekali lagi yang ia lihat sama, tatapan tajam suaminya.


"Sekali lagi aku bisa mendengar detak jantung kamu! Kamu cantik! Dan semakin cantik saat kamu panik!"


Rara tersenyum dalam hati begitu mendengar pujian Iqbal. Tapi meski begitu, hal itu tak mampu menormalkan kembali detak jantungnya. Ia mernarik nafasnya dalam dan mencoba menyadarkan dirinya sendiri. Ia mencoba kembali dari dunia bawah sadar yang menariknya masuk. Ia mengingat kembali siapa dirinya. Ia bukan siapa siapa bagi Iqbal. Ia ingin berdiri dan menemukan jalan kembali.


Ia ingat posisinya yang hanya sebagai istri pura pura dari laki laki di depannya ini. Ia mencoba bangkit sekali lagi. Hingga pada akhirnya ia mampu mendorong tubuh suaminya lalu tangan yang menguncinya itu perlahan terlepas dan menangkap handuk yang ia lempar begitu saja.


Rara mulai menata nafasnya perlahan. Ia membalikkan tubuhnya dan membuka pintu lalu segera berlari keluar dari ruangan itu. Namun meski begitu jantungnya masih sulit diajak berkompromi.


Ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan diri dan menjernihkan lagi pikirannya. Ia keluar ke meja makan. Suasana menjadi canggung. Kedua insan itu saling berdiam satu sama lain.


Iqbal memakai kacamata hitamnya dan segera beranjak dari tempat makan.


"Aku tunggu di tempat parkir. Kamu selesaikan makan kamu.! Biar kopernya aku yang bawa!" Iqbal masuk ke kamar istrinya dan keluar lagi dengan membawa koper berisi pakaian mereka berdua. Ia melangkah keluar apartemen dan menuju tempat parkir.


Rara jadi merasa ada yang aneh. Ia benci dengan suasana seperti ini. Tapi ia tetap harus melewatinya karena inilah satu satunya jalan agar ia tak terlalu berharap pada perasaannya sendiri.


Meski sudah berulang kali ia menghibur dirinya, namun ia masih tetap merasa jika hal ini tidaklah benar. Ia berpikir jika ia tak seharusnya bersikap seperti tadi pada suaminya.


Pikiran pikiran itu terus melayang layang di kepalanya. Entah mengapa ia jadi merasa bersalah.


Rara begegas keluar apartemen setelah menyadari bahwa ia harus minta maaf pada suaminya. Ia berlari kecil menuju parkiran. Kemudian ia mencari sosok suaminya yang ternyata tengah berdiri di dekat mobil ysng sudah menyala.


Rara mendekat dan ketika langkahnya hampir sampai , tanoa sengaja kakinya tersandung dan hampir membuatnya terjatuh. Seseorang dengsn sigap menamgkap tubuhnya. Ia kini berada di rangkulan laki laki yang belum bisa keluar dari pikirannya. Sekali lagi pandangan mereka bertemu di satu titik. Dan sekali lagi debaran aneh itu muncul lagi.


"Kamu nggak apa apa kan?"


Rara hanya menggeleng seraya merapikan pakaiannya.


"Hati hati kalau jalan...ayo berangkat."


"Iya terimakasih mas.."


Mereka masuk ke dalam mobil lalu oergi menuju bandara. Pulau Bali telah menunggu mereka.


Di dalam mobil yang menjemput mereka di bandara, Rara tertidur pulas. Ia tak ingat apapun. Bahkan ketika Iqbal menggendongnya menuju ke kamar hotel yang notabene adalah hotel keluarga Iqbal itu, Rara tetap tak bergerak sedikitpun.


Ketika menggendongnya, Iqbal menatap wajah istrinya dalam. Ada sesuatu yang membuat ia tak bisa begitu saja berpaling dari wajah itu. Ada getar yang diam diam merayapi setiap bagian tubuhnya tatkala wajah itu menampakkan keteduhan. Iqbal seolah mendapat tempat berteduh dari setiap kepedihan yang ia rasa. Dunia seakan memberi dukungan dengan tetap melelapkan tidur gadis itu , bahkan hingga mereka sampai di kamar dan Iqbal membaringkannya di atas ranjang.


Iqbal duduk di atas ranjang di samping Rara yang madih asyik bermimpi. Ia pandangi lagi istrinya. Ia temukan lagi kedamaian. Detik berganti menit ,tak terasa sudah hampir tiga puluh menit ia duduk menunggu istrinya terbangun. Hingga sesaat kemudian mata gadis itu mulai mengerjap.


"Mas...aku ketiduran ya tadi...! Tapi ngapain mas Iqbal ada di sini. " katanya tiba tiba seraya bangun dari tidurnya dan menepikan tubuhnya menjauhi suaminya. Ia ingat kejadian tadi pagi lalu pikirannya seolah olah Iqbal telah melakukan hal yang tidak tidak.


" Kamu kenapa? Kamu pikir apa yang aku lakukan?" Iqbal menjawab dengan kesal.


Rara hanya diam menatap suaminya yang masih duduk dekat dengan dirinya. Namun pandangan mata Rara yang tajam membuatnya semakin kesal. Lalu ia berdiri hendak beranjak dari duduknya.


Tiba tiba Rara menarik tangan suaminya. Iqbal terkejut. Ia menoleh ke arah Rara.


"Aku minta maaf mas....!"


Iqbal hanya diam menunggu istrinya melanjutkan kalimatnya.


"Aku tahu aku salah. Aku ini istrimu mas. Jadi sudah seharusnya aku memberikan apa yang menjadi hakmu. Meski kita hanya pura pura menikah, aku mungkin akan lebih berdosa lagi jika tak memenuhi hakmu."


Iqbal duduk di samping istrinya. Ia menggenggam erat tangan gadis itu.


" Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang salah. Seharusnya kita tidak seperti ini. Seharusnya kita bisa menjadi yang kita harakan di awal perjanjian sandiwara ini. Aku minta maaf. !"


Kata kata itu sebenarnya bukan yang Rara harapkan dari suaminya. Namun ia sadar jika keputusan itu mungkin yang terbaik. Supaya ua tidak oerlu lagi menggunakan perasaan dalam sandiwara ini.


" Ayo jalan jalan. Kamu mau di kamar terus. Sudah tidur lama juga...apa nggak pingin lihat jeluar. Ayo...!" Iqbal menarik tangan istrinya seraya tersenyum manis. Rara membalas senyuman itu.


Jangan lupa like


Salam manis