
"ini tante Wina, istrinya om Yuda dan itu tante Yulia, mamanya Lukman dan Mia istrinya." kata Iqbal memperkenalkan tiga orang wanita yang masuk bersamaan ke dalam sebuah kamar hotel.
Rara menjabat tangan mereka satu per satu. Kemudian mereka saling mencium pipi kiri dan kanan. Satu hal yang mengejutkannya adalah perempuan muda yang sepertinya tengah hamil muda. Iqbal memperkenalkan dia sebagai istri Lukman. Selama ini Rara tidsk pernah tahu jika Lukman sudah beristri bahkan sebentar lagi akan memiliki anak.
" istri kamu cantik Bal...kamu itu ya..diam diam pinter cari istri!" tukas seorang wanita yang tadi disebut Iqbal sebagai tante Yulia mama Lukman.
" iya nih...Iqbal, tahu begini tante nggak perlu susah susah mencarikan jodoh buat kamu! selama ini tante itu kepikiran kamu loh! Lukman saja sudah mau punya anak, e...kamu kok nggak pernah ngenalin seorang wanita pun kepada tante...!tahunya diam diam udah punya calon!" kata tante Wina.
Mereka tertawa bersama.
" Iqbal kan memang begitu tante, suka ngasih kejutan. Saya saja yang temannya baru tau akhir akhir ini...!" ucap Mia seraya melirik ke arah Iqbal.
Iqbal hanya tersenyum sedikit. Sementara Rara merasa jika ketiga wanita ini benar benar baik. Mereka duduk dan berbicara dengan baik kepada Rara. Rara dianggap sebagai seorang menantu yang sesungguhnya. Ua ditanya ini dan itu. Bahkan mereka mengucapkan maaf ketika tahu Rara sudah tidak memiliki ibu lagi.
" Kalian sama sama sudah tidak memiliki ibu lagi, jadi tante harap kalian bisa saling menjaga. Dan tante harap kalian tetap menganggap tante sebagai ibu kalian sendiri.
Terutama Rara, tante ini sudah menganggap Iqbal sebagai anak tante sendiri jadi tante harap kamu juga jangan sungkan jika membutuhkan bantuan tante. Tante siap kapan saja jika kamu ada perlu dengan tante... " kata tante Wina seraya menggenggam tangan Rara.
Rara seperti mendapat kasih sayang seorang ibu. Ia tersenyum bahagia.
" iya tante... terimakasih banyak. Saya sangat senang sekali kalian semua mau menerima saya dengan baik. Saya berjanji akan selalu menjaga nama baik keluarga mas Iqbal. Dan jika saya butuh sesuatu, saya pasti akan menghubungi kalian!"
Semuanya tampak gembira. Setelah ngobrol cukup lama di kamar itu, mereka pamit menuju ke lantai dasar, tempat resepsi akan berlangsung. Mereka bilang akan memeriksa persiapan pesta. Dan belum juga mereka beranjak ada dua orang perias masuk ke kamar itu.
Rara segera dirias ulang. Sebenarnya tidak ada yang perlu diganti. Hanya di bagian bagian tertentu yang memerlukan sentuhan ulang. Pakaiannya diganti dengan pakaian berwarna coklat tua yang pernah ia coba beberapa hari lalu. Kira kira dua jam kemudian Rara sudah tampil dengan memukau.
Mia masuk ke dalam kamar setelah dua orang perias itu pergi. Ia membawa nampan berisi makanan.
" ini Ra.. kamu makan dulu. Acara masih sejam lagi, Iqbal nanti marah kalau aku nggak ngasih kamu makan!"
"apaan sih...!" sahut Rara kemudian ia mengambil makanan itu dan memakannya pelan agar riasannya tidak rusak.
" Mia...aku boleh panggil Mia kan? "
Mia mengangguk dan tersenyum manis.
" Aku tidak pernah tahu kalau mas Lukman sudah beristri. Maaf ya...selama ini aku sering menelfon dia untuk menanyakan banyak hal." ujar Rara.
" iya nggak papa kok! aku sudah tahu semua."
"iya...semua. Apa yang Lukman tahu itu juga yang aku tahu..."
"termasuk pernikahan ini?" Rara mengarahkan pandangannya ke arah Mia. Ia menatap Mia dalam dalam. Mia mengangguk pelan.
"Dan apapun yang akan Lukman lakukan itu pula yang akan aku lakukan. Kamu jangan khawatir... kamu cukup mengikuti permainan ini. Waktu yang akan menjawab semuanya."
" aku tahu... !" Rara kembali menatap Mia seolah ia menunggu Mia mengatakan sesuatu lagi. Dan seperti sudah mengerti dengan situasi, Mia duduk di sampingnya di atas ranjang.
" Apa yang mau Kamu tanyakan?!"
Rara hanya diam.
"Apa tentang perempuan itu?"
Rasa mengangkat kepalanya, " dari mana kamu tahu aku mau bertanya tentang dia. Maksudku bukannya aku tidak suka dengan dia. Aku cuma ingin tahu kenapa mas Iqbal tidak menikah dengannya saja jika memang ia masih mencintainya."
" namanya Kinanti. Kami teman satu SMA. Dia pacaran dengan Iqbal beberapa bulan setelah aku resmi menjadi pacar Lukman. Waktu itu mereka cuma mak comblang yang akhirnya jatuh cinta beneran." Mia memulai ceritanya dan Rara membenarkan letak duduknya.
" Kinan sahabat ku,kami bertetangga dari kecil. Tapi dia berubah ketika lulus SMA dan masuk ke perguruan tinggi. Mungkin dia sudah mendapat teman baru atau apalah yang pasti hubungan kami semakin merenggang. Demikian juga hubungan dengan Iqbal. Iqbal selalu takut jika Kinan hanya mempermainkannya saja. Dan semua ternyata benar. Ia memutuskan hubungan dengan Iqbal lalu ke luar negeri untuk menjadi dokter atas bantuan Rio, teman kami yang belakangan kami tahu setelah itu mereka menjalin hubungan. Waktu itu Iqbal baru jadi polisi dan ditugaskan di pulau Kalimantan. Kisah merasa berakhir."
"mas Iqbal pasti masih mencintainya. Aku bisa melihat dari matanya." Rara mengatakan dengan nada sedih tapi bibirnya tetap ia paksa tersenyum. Tapi Mia tahu ada ketidakrelaan di sorot matanya. Ada sesuatu yang disembunyikan Rara dari tatapannya.
" Dia kembali setelah empat tahun dan ingin kembali pada Iqbal setelah tidak lagi berhubungan dengan Rio. Dia bilang hanya Iqbal yang paling mengerti dirinya.Dan apa yang kamu pikir tentang Iqbal memang benar. Iqbal masih mencintai Kinan."
Rara menatap jendela.Ia ingin meloncat dan lari keluar. Entah kenapa rasa sakit itu muncul lagi. Ia bahkan sudah mencoba banyak cara agar ia tak merasa seperti itu lagi.
" Tapi aku tahu jika Iqbal tidak akan semudah itu percaya dengan Kinan lagi. Rasa sakit itu sudah mendominasi hatinya . Jadi tidak mungkin Kinan akan kembali ke ke hidupan Iqbal lagi. Dan justru itu ia akhirnya ia memilih kamu sebagai istrinya.! "
Rara masih terdiam. Ia tahu jika Mia hanya menghiburnya sampai Mia bangun dari duduknya dan menyentuh pundak Rara.
"Rara... buat Iqbal jatuh cinta padamu...!"
Mia menatap Rara dalam. Ia lalu tersenyum dan wajah Rara seketika memerah.
Jangan lupa likenya....