
Pagi yang cerah di langit Jogjakarta. Pagi yang seakan datang lebih cepat karena Rara bangun kesiangan. Ia terburu-buru setelah tahu jika pagi sudah datang meskipun matahari belum muncul. Tapi keindahan langit pagi menggambarkan betapa akan cerah langit hari ini.
Semalam Rara tidak bisa memejamkan matanya dengan nyaman. Ia terus memikirkan kejadian yang ia alami seharian kemarin. Dan pagi inipun segala yang ia lewati kemarin masih segar dalam ingatannya. Ia terpekur di depan kompor di sudut tempat kostnya yang sempit.
Kemarin setelah berhasil melarikan diri dari suaminya, ia tidak kembali ke tempat ia bekerja. Ia lebih memilih untuk menghabiskan siang di taman tempat ia biasa merenungi nasibnya. Di taman itulah ia selalu mencurahkan segala isi hatinya. Ia bicara pada pohon pohon, pada bunga-bunga bahkan pada burung-burung yang beterbangan.
"Kenapa mas...? Kenapa mas Iqbal harus kembali. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melihat mas Iqbal kembali. Aku tidak mungkin menerima semua begitu saja..!" katanya yang duduk di bangku taman dengan air mata berderai derai.
Suasana taman tampak sepi karena siang itu mendung tampak menggantung dan sebentar lagi pasti hujan akan turun. Namun tak ada sedikitpun niat dalam hatinya untuk mencari tempat berteduh. Hingga pada akhirnya titik-titik air hujan mulai turun. Rara masih asyik dengan rasa sedihnya.
"Aku harus apa mas?! Katakan apa yang harus ku perbuat?! Aku tidak pantas untukmu! Kamu terlalu baik buatku! " katanya sedikit teriak disela-sela tangisnya yang kini sudah menjadi satu dengan derasnya air hujan.
"Jawab mas Iqbal! jawab aku! katakan aku harus apa?"
Sebuah payung tiba-tiba berada di atas kepalanya. Air hujan yang membasahi tubuhnya tiba-tiba lenyap. Kemudian seseorang tampak berlutut di depan dirinya yang masih duduk di atas bangku taman. Laki-laki itulah yang membuatnya terhindar dari derasnya air hujan.
"Kamu harus kembali padaku!"
Rara menunduk dan mendapati suaminya, Iqbal tengah berlutut dan membawa sekuntum mawar merah layu yang terbungkus plastik bening.
Rara semakin menangis tersedu karena tahu jika itu adalah bunga pemberian suaminya yang pernah ia kembalikan ke atas meja nakas di kamar suaminya. Ia ingat dengan jelas jika saat itu ia berniat mengembalikan semua yang telah Iqbal berikan padanya termasuk sekuntum mawar merah itu.
"Aku tidak peduli siapapun kamu! Bagiku kamu adalah bidadari yang akan selalu ada dalam hatiku. Dan tidak ada yang bisa menggantikan posisimu, meskipun ia adalah bidadari yang sesungguhnya!"
"Semua itu mustahil mas! Mas Iqbal akan menyesali semua ini."
"Aku tidak akan pernah menyesali apapun!"
"Carilah orang lain mas! Pergilah dari hidupku! Jangan pernah peduli lagi padaku! Lupakan aku!"
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Aku ini suamimu! Apa kamu lupa jika kamu selalu memujaku dan kamu selalu terbang melayang setiap bertemu denganku! Apa kamu juga lupa jika kita sudah saling terikat dengan perasaan yang sama. Kita ini suami istri dan tidak ada yang bisa merubahnya!" kata Iqbal dengan nada sedikit lebih tinggi.
"Itu semua bohong mas! Bohong jika aku selalu memujamu! Bohong jika aku melayang karena dirimu! Bohong!" Rara mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan isi hatinya, air matanya mengalir semakin deras.
"Bohong? Justru apa yang kamu katakan saat inilah yang bohong! Kamu bukan orang yang pandai berbohong, Ra! "
"Apa maksud mas Iqbal?"
"Makanya jadi orang itu jangan mudah menangis! Lihat sekarang, kamu bilang semua yang pernah kamu katakan itu bohong tapi air matamu mengalir kemana-mana saat mengatakannya! Apa itu tidak bohong namanya!"
"Mas Iqbal jangan mencoba merayuku. Karena aku tidak akan merubah semua keputusan yang sudah kubuat!"
Tiba-tiba Iqbal bangkit dari tempat dia berlutut di hadapan istrinya. Ia berdiri lalu membuang begitu saja payung yang sedari tadi ia bawa. Tubuh mereka berdua kini basah kuyup. Rara juga bangkit dari duduknya menyadari jika suaminya itu mulai melakukan hal yang tidak-tidak.
Kini mereka saling berhadapan berdiri di tengah derasnya hujan.
"Baiklah! Aku tidak akan memaksamu sekarang. Tapi beri aku waktu untuk membuktikan jika kita harus kembali bersama. Beri aku 30 hari untuk membuktikannya! Dan aku berjanji dalam waktu 30 hari aku akan membuatmu kembali padaku!"
Petir yang sedari tadi menyambar disana sini seolah menunjukkan eksistensinya jika ia akan menjadi saksi atas janji suci yang telah terucap dari mulut Iqbal. Janji yang dengan senang hati membuat Rara tak dapat berkata apa-apa lagi.
"Anggap saja hari ini hari pertama untukku! Dan kamu lihat saja aku bisa melakukan apa saja untuk membuktikan janji itu!"
Tanpa peduli lagi dengan Rara Iqbal begitu saja pergi meninggalkan tempat itu.
Suara ketukan pintu membangunkan Rara dari lamunannya. Air dalam panci di depannya sudah mendidih. Sebelum membuka pintu , ia menyeduh teh yang sudah dia siapkan di atas meja di sebelah kompor.
"Iya sebentar!" jawabnya seraya berjalan menuju ke arah pintu sembari membawa cangkir berisi teh yang baru saja ia buat.
Rara membuka pintu. Satu pemandangan yang pagi-pagi begini sudah hampir merontokkan jantungnya. Bagaimana ia tidak terkejut, di depan pintu telah berdiri Bu Yanti pemilik kost dengan seseorang yang baru saja ia lamunkan.
"Pagi sayang! Ini pasti buatku kan?" kata Iqbal seraya meraih cangkir teh yang dipegang oleh Rara.
Rara terkejut begitupun dengan Bu Yanti. Sementara Iqbal tampak tersenyum puas dan meneguk teh yang masih mengeluarkan asap itu. Ia semakin tersenyum bahagia.
"Jadi benar Ra, dia ini suami kamu?" tanya Bu Yanti masih dengan nada tidak percaya.
Rara masih bingung harus menjawab apa.
"Maaf Bu! Saya bisa menjelaskan semua."
"Semua sudah jelas ya Ra! Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Ibu minta maaf tadi sudah kasar sama suami kamu. Ibu bahkan tidak percaya dengan semua surat-surat yang dibawanya, termasuk surat nikah kalian berdua. Ibu pikir dia bohong!"
Rara masih bingung dengan semua yang telah terjadi.
"Jadi ibu sudah percaya kan dengan saya! Saya ini beneran polisi loh Bu! Cuman saya bertugas di Semarang. Terimakasih atas bantuannya. Terimakasih juga selama ini sudah memberi tempat tinggal untuk istri saya. Mulai sekarang saya juga akan tinggal di sini. Jadi ibu jangan berpikir yang tidak-tidak lagi.!"
"Iya... siapa namanya tadi?"
"Saya Iqbal Bu!"
"Ya sudah! Ibu tinggal dulu ya .. kalau ada perlu jangan sungkan panggil ibu.!"
Entah apa yang membuat Rara tidak dapat berkata apa-apa lagi meskipun ada hal ganjil yang tidak seharusnya terjadi. Apalagi ketika tanpa permisi Iqbal masuk ke dalam rumahnya, lebih tepatnya ke dalam kamar kostnya yang terlalu sempit.
Rara hanya diam menyaksikan suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi lalu keluar lagi beberapa menit kemudian. Laki-laki itu juga tidak mengatakan sepatah katapun. Ia lantas masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar mandi.
"Sayang! Apa kita tidak pindah ke tempat yang lebih luas mungkin?" katanya kemudian dan tentu saja hal itu membuat Rara tersadar dari lamunannya.
Rara duduk di lantai beralaskan karpet yang bisa disebut sebagai ruang tamu. Ia tidak menjawab. Kemudian ia bangkit dari duduknya saat terdengar suara dentingan mangkuk yang dipukul dan disertai teriakan 'bubur ayam' dari penjualnya.
Rara lantas berlari keluar dari kamar kostnya. Ia mendapati seorang penjual bubur ayam keliling sudah berdiri di depan kamar kostnya dan dikerumuni warga penghuni kost yang lain.
"Hari ini aku yang bayar semua yang mereka pesan bang!"
Suara seseorang yang sontak membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara. Iqbal sudah berdiri di samping istrinya.
"Siapa Ra?" tanya salah seorang pembeli yang sudah mengenalnya karena merasa aneh ada seorang laki-laki yang memeluk pinggang gadis itu dari belakang.
"Saya suaminya!" jawab Iqbal spontan yang membuat Rara semakin merasa malu pada semua orang.
"Kapan nikahnya, kok udah punya suami aja!" tanya yang lain.
Rara masih belum bisa menjawab.
"Kami menikah sudah lama di Semarang. Karena ada sesuatu yang salah jadinya Rara ngambek terus pergi dari rumah. Saya lagi membujuk dia buat pulang. Jadi anggap saja traktiran saya ini sebagai hadiah untuk kalian supaya dia nggak ngambek lagi! Terus mau pulang kembali!"
"O...gitu ceritanya!"
Melihat mereka tersenyum ramah pada Iqbal justru membuat
Rara semakin kesal. Kemudian dia masuk ke dalam kamar kostnya sambil mendengus tanpa henti. Iqbal mengikuti dari belakang.
"Kok ngambeknya nggak selesai-selesai sih sayang! Ayo dong jangan marah melulu!"
"Mas Iqbal sudah terlalu membuatku kesal hari ini. Sebenarnya apa mau mas Iqbal? Mas Iqbal seenaknya masuk kamar kostku, terus bilang yang nggak-nggak ke semua orang! Mereka tuh tahunya aku belum bersuami, kenapa mas Iqbal mengatakan hal itu!"
"Aku kan nggak salah! Aku itu suami kamu. Dan kamu istri aku! Apa yang salah coba!"
Dan pagi itu menjadi pagi yang sangat menyebalkan buat Rara. Pagi dimana Iqbal telah mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitar tempat tinggal Rara. Dan secara otomatis pagi itu menjadi pagi pertama sepasang suami istri itu pergi bersama.
Te****rimakasih telah membaca
Salam manis 😘