
Pantai Tanah Lot adalah satu dari banyaknya pantai di Bali selatan. Di pantai ini selain terdapat pura di bibir pantainya, di tempat ini juga merupakan salah satu spot terindah ketika kita hendak menikmati sunset atau matahari terbenam. Sama ketika berada di pantai Kuta.
Menjelang sore para wisatawan berkumpul di pantai. Mereka telah siap dengan kamera masing masing. Ada yang membawa kamera digital, bahkan tak jarang yang cuma mengandalkan kamera ponsel. Mereka bersiap siap untuk mengabadikan momen.
Dan benar saja, ketika matahari semakin hilang ditelan bumi, cahaya pendar kemerahan nampak begitu indah di langit sebelah barat. Lama kelamaan suasana menjadi semakin gelap. Namun itu tak membuat orang orang meninggalkan tempat itu. Mereka justru semakin asyik menikmati keindahan langit.
Di salah satu sudut seorang gadis tengah duduk bersama seseorang. Ia memandang dengan mata yang tak lepas dari rasa kagum. Bibirnya terus menyunggingkan senyum manisnya. Ia juga tak berhenti memotret ke sana kemari. Memotret dirinya sendiri, bahkan mencuri curi gambar orang di sampingnya.
Sementara laki laki itu hanya bisa pasrah ketika tangannya meraih ponsel istrinya namun tak berhasil. Berkali kali Rara mengambil gambar suaminya. Tak jarang pula gambar yang ia ambil adalah foto Selfi mereka berdua. Entah kekuatan apa yang membuatnya begitu saja melakukan semuanya. Ia merasa tak ada jarak antara mereka yang membuat keduanya canggung. Begitu pula dengan Iqbal yang senantiasa menerima setiap apa yang terjadi. Seperti air mengalir, mereka sudah bisa saling menerima setiap apa yang terjadi diantara mereka.
Langit semakin gelap. Perut mereka pun sudah meronta minta diisi. Apalagi ketika perut Rara mengeluarkan bunyi. Hal itu membuat keduanya tertawa bersama.
Mereka menikmati makan malam di tempat yang dekat dengan pantai tempat mereka menghabiskan sore yang indah itu. Setelah selesai mereka segera pergi dari sana dan kembali ke hotel.
Dalam perjalanan, Rara ternyata tampak begitu kelelahan hingga ia tertidur di dalam mobil. Sementara ketika sampai di depan lobi hotel, seorang petugas keamanan mengambil alih mobilnya. Karena tidak tega membangunkan istrinya yang tampak masih tertidur pulas, Iqbal memilih untuk menggendongnya menuju ke kamar.
Semua mata termasuk para pegawai hotel melihat apa yang dia lakukan pada istrinya. Semua tampak tersenyum kecil dan menganggap apa yang dilakukan olehnya adalah sebuah bentuk rasa sayang seorang suami. Ketika mata Iqbal menatap sekumpulan pegawai perempuan, ia tersenyum. Dan perempuan perempuan itu juga tersenyum kecil seraya berbisik mengatakan sesuatu.
" Pak Iqbal so sweet banget!" kata salah seorang diantaranya.
Lagi lagi Iqbal hanya tersenyum kecil kemudian segera berlalu.
Iqbal meletakkan istrinya di atas ranjang, membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian segera pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah itu ia merebahkan diri di atas sofa. Matanya masih fokus menatap istrinya yang tertidur begitu pulas. Ia melihat istrinya dengan wajah naturalnya. Ia mengingat apa yang baru saja mereka lewati sore tadi. Ia ingat tawa lepas istrinya. Ia ingat momen saat mereka mengambil foto bersama. Dan secara otomatis hal itu membuatnya tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian ponselnya berdering, ternyata Lukman yang sedang menelepon. Ia mengangkat panggilan itu. Kemudian untuk beberapa saat mereka ngobrol bersama.
Pagi harinya Rara juga terlambat bangun. Ketika ia membuka matanya, Iqbal sudah tidak ada di sofa yang biasa ia gunakan tidur. Sebelum masuk ke kamar mandi, ponselnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Ternyata itu dari suaminya.
'Sarapan kamu ada di meja. Setelah itu cepat turun, aku tunggu kamu di lobi'
Setelah membaca pesan tersebut, Rara bergegas menuju kamar mandi, mengganti pakaiannya dan kemudian turun menuju lobi. Di sana sudah ada suaminya yang duduk di sebuah sofa. Tapi ternyata ia tidak sendiri. Ada orang lain yang duduk di depannya. Yang membuat Rara buru buru mendekati suaminya adalah karena ternyata ia sedang berbicara dengan orang yang tidak asing. Iqbal tengah berbicara dengan Angga, temannya yang kemarin baru saja ia temui di hotel ini.
"Mas .. ngapain sih? Aku kan sudah bilang aku nggak akan nemuin Angga, kalau mas nggak suka. Terus apa yang mas Iqbal lakukan sama dia? Aku mohon mas...!"
Rara berbicara dengan nada penuh kekhawatiran. Namun anehnya, kedua orang yang ia ajak bicara justru tengah asyik menertawakan sesuatu. Iqbal menatap dirinya dengan tenang. Namun tidak dengan Angga yang seketika langsung berdiri menyambut kedatangan Rara.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Ra!" tukas Angga masih dengan posisi berdiri.
"Iya Ra..., sini duduk dulu dong!" pinta Iqbal seraya menunjuk sofa di sampingnya yang kosong.
Dengan penuh tanda tanya Rara duduk di samping suaminya. Demikian pula dengan Angga, ia duduk kembali setelah Rara yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya itu duduk.
"Kalian sebenarnya nggak sedang berantem kan?" tanya Rara kemudian setelah melihat tatapan dan senyuman aneh suaminya.
"Aku? Ini ada apa sih mas?" tanya Rara penuh tanda tanya.
"Apa aku kelihatan seperti orang jahat ya?" jawab Iqbal.
"Semua tidak seperti yang kamu pikirkan, Ra! Tadi pagi pak Iqbal mencari aku. Awalnya aku takut, tapi ternyata ia tidak seperti yang aku takutkan. Bahkan pak Iqbal, meminta maaf karena sempat tidak suka sama aku." jawab Angga dan ketika Rara melihat ke arah Iqbal, suaminya itu tersenyum mengiyakan.
Kemudian ketiga orang itu mulai menampakkan keakraban. Ternyata ketika menunggu Rara bangun tidur tadi, Iqbal mencari Angga di lobi tempat dia bekerja. Bukan untuk mengatakan hal hal yang ditakutkan Rara, tapi justru ia mau meminta maaf pada Angga karena sempat tidak menyukai dia ketika pertama bertemu.
"Hari ini hari terakhir kita di sini. Jadi aku mau mengajak kamu membeli sesuatu untuk kita bawa pulang!" kata Iqbal pada istrinya setelah Angga mohon diri untuk kembali bekerja.
" Terserah mas Iqbal deh! Aku ngikutin aja!"
"Ya sudah ayo!"
Mereka berdiri kemudian melangkah menuju mobil yang sudah disiapkan di depan hotel.
Mobil yang sama saat mereka pergi kemarin.
Iqbal membawa istrinya membeli apapun yang diinginkan oleh istrinya itu di Bali. Tentu saja semua akan diberikan untuk orang orang yang di rumah. Tapi meskipun Iqbal sudah membawa dan menyuruhnya belanja sepuasnya, Rara justru tidak mau melakukannya. Ia hanya membeli beberapa barang dan makanan yang sekiranya cukup sebagai buah tangan ketika ia kembali pulang nanti.
Usai belanja, mereka makan siang di sebuah tempat makan sederhana. Mereka kembali ke hotel setelah makan siang dan bergegas merapikan barang barang mereka.
Dan setelah dirasa siap mereka akhirnya meninggalkan Bali. Pesawat yang mereka naiki akan terbang jam tiga sore.
"Mas...!" panggil Rara disela ia merapikan barang barangnya.
"Ya ada apa?"
"Terimakasih ya mas untuk semua ini. Mungkin jika tidak diajak mas Iqbal aku nggak akan pernah bisa pergi ke Bali. Semoga suatu saat nanti aku bisa kembali lagi ke sini."
" Iya! Anggap saja ini kado ulang tahun kamu dariku. Soalnya pas kamu ulang tahun kemarin aku nggak sempat ngasih kado apa apa kan? Jadi ya ini kado ulang tahun buat kamu."
"Sekali lagi terimakasih mas...!"
Iqbal tersenyum melihat cahaya yang begitu terang di mata istrinya. Ia senang bisa memberikan hal akan selalu diingat oleh istrinya itu. Dan lagi lagi tanpa sadar senyum manisnya semakin mengembang.
Maaf baru up.
Lagi sibuk soalnya.
Salam manis.😘