
Namaku Muhammad Iqbal Bagaskara. Aku terlahir dari keluarga berada. Keluargaku memiliki sejumlah hotel dan kafe yang tersebar hampir di seluruh kota besar di Indonesia. Tapi aku tidak pernah berminat pada dunia bisnis. Dan itulah sebabnya aku lebih memilih menjadi seorang polisi dari pada menjadi seorang pengusaha.
Ibuku meninggal saat usiaku 10 tahun. Beliau sakit dan aku masih belum bisa mengerti apa-apa saat itu. Tapi aku masih ingat dengan jelas bagaimana ibu mencintai dan menyayangi aku. Kasih sayangnya kepadaku tidak akan pernah bisa tergantikan. Bahkan oleh seorang ibu tiri sekalipun.
Ayahku menikah lagi setahun setelah kepergian ibu. Tapi aku tidak pernah dekat dengan ayahku. Aku lebih dekat dengan kakek dan pamanku, meskipun beliau hanya saudara angkat ayahku.
Ibu tiriku tidak sebaik yang orang lain pikir. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Yang pasti aku tidak pernah suka dengan apa yang ia lakukan. Aku tahu ia membenci ibuku meskipun ibu sudah tidak ada. Yang pasti satu hal yang membuatku senang belakangan ini adalah ketidakhadiran seorang anak dari pernikahan kedua ayahku. Bukan apa apa, tapi tentu saja hal itu akan membuat wanita itu semakin semena mena pada keluargaku seandainya saja aku memiliki saudara.
Usia 17 tahun ayahku juga pergi. Aku kehilangan lagi satu orang yang kucintai meskipun ayah tak pernah tahu itu. Aku hanya tinggal dengan kakek dan pamanku saat itu.
Dan saat itulah aku memberanikan diri mengatakan pada kakek bahwa aku mau menjadi seorang polisi. Awalnya kakek tidak pernah menyetujui hal itu. Tapi pada akhirnya beliau setuju dengan syarat bahwa aku tetap harus mengenyam pendidikan bisnis setelah cita-citaku tercapai. Dan aku bisa menuruti semua keinginan kakekku itu setelah aku resmi menjadi perwira polisi.
Tapi takdir berkata lain. Setelah aku mendapat gelar dari kuliahku di dunia bisnis, kakek justru pergi meninggalkan aku. Aku sebatang kara di dunia ini. Satu hal yang membuatku merasa semakin sedih adalah pesan terakhir kakekku. Beliau ingin aku segera menikah karena beliau tahu jika aku akan hidup sendiri di dunia ini. Beliau ingin ada yang mengurusku setelah kepergian beliau.
Tapi semua rasa sedih dan sakit yang kurasakan tiba-tiba saja mereda saat aku mengenal seorang gadis sederhana bernama Rara. Dialah yang pada akhirnya menjadi istriku. Meskipun pernikahan kami tidak pernah kami rencanakan karena sebenarnya dia hanyalah seorang perempuan yang kusewa untuk berpura-pura menjadi istriku.
Aku yang saat itu kebingungan karena tiba-tiba mama Henny, mama tiriku hendak menjodohkan aku dengan anak dari temannya. Tanpa berpikir panjang aku langsung menjawab jika aku sudah punya kekasih. Padahal aku tengah berbohong karena aku tidak punya kekasih atau hanya sekedar teman dekat. Aku belum bisa melupakan semua yang pernah mantan pacarku lakukan padaku.
Setelah aku meminta bantuan seseorang aku dipertemukan dengan gadis yang sebelumnya pernah aku temui dan aku tolong dari pemalakan. Aku tidak pernah menyangka jika gadis itulah yang akan membantuku keluar dari masalah ini. Ia tampak terkejut saat melihatku. Namun aku senang pada akhirnya dia mau menjadi kekasih pura-pura ku dan bertemu dengan mama Henny yang jauh-jauh datang dari Amerika hanya untuk membuktikan bahwa semua yang aku katakan memang benar.
Namun masalah lain datang sebelum kami bertemu dengan mama Henny. Kinan, mantan kekasihku datang kembali. Dan lagi lagi aku mengatakan jika aku sudah punya penggantinya.
Di sisi lain ternyata Rara tidak memiliki tempat tinggal karena saudaranya pulang dari perantauan. Ia sebenarnya tinggal dengan seorang nenek yang bukan siapa-siapanya. Rara hidup sebatang kara dan seorang nenek menyelamatkan dirinya dan mengajaknya tinggal dengannya. Aku merasa kasian padanya. Jadi aku memintanya untuk menjadi istriku meski hanya bersandiwara. Kami sama-sama diuntungkan saat itu karena aku menjanjikan dia sebuah rumah dan dia menyetujui hal itu.
Awal pernikahan kami tidak ada yang istimewa darinya. Karena pada dasarnya ia memang bukan gadis yang istimewa. Ia hanya gadis biasa. Namun semua yang ada padanya perlahan membuka mataku. Aku menemukan sisi lain dari hatinya. Aku menemukan ketulusan di setiap perhatiannya padaku. Dan perlahan namun pasti aku selalu ingin melihat dia selalu tersenyum bahkan tertawa.
Dia telah mengambil hatiku. Dan aku tahu jika dia juga mengagumiku jauh sebelumnya. Aku melihat cinta di matanya.
Dan ketika rasa itu telah terungkap, sesuatu membuat kami harus terpisah. Selama berhari-hari aku tak bisa bertemu dengan istri yang amat sangat kucintai. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi padanya hingga saat aku membuka mataku bukan dia yang pertama kali kulihat, tapi orang lain.
"Kamu tidak akan pernah melihat istri yang telah pergi meninggalkan kamu Iqbal! Rara tidak ada di sini!" kata perempuan yang aku sendiri tidak tahu kenapa dia ada di sana.
Aku yang masih lemah tidak sanggup mengatakan apa-apa. Aku hanya menggeleng perlahan karena aku sama sekali tidak percaya dengan semua yang Kinan katakan. Dan akhirnya Kinan terus menerus mengatakan yang tidak-tidak tentang Rara. Tapi aku masih tidak percaya.
Kemudian Lukman datang dan mengatakan padaku jika Rara kehilangan neneknya. Nenek yang sebenarnya bukan siapa-siapa baginya namun sungguh berarti dalam hidupnya. Rasanya aku ingin pergi ke Semarang saat itu dan memeluk dia yang pasti sedang sedih karena kepergian neneknya.
Tapi begitu sulit aku menghubungi dia. Meskipun pada akhirnya kami bisa berbicara lewat panggilan video, tapi aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan. Ia selalu menangis karena dari dulu aku tahu ia memang mudah sekali menangis. Setiap ada sesuatu yang membuat hatinya tersentuh dia akan menangis. Bahkan aku ingat saat aku menyatakan cinta padanya, ia juga menangis dan aku paling benci melihat dia menangis.
Setelah berbicara dengannya saat itu, entah kenapa selanjutnya aku tidak bisa lagi menghubunginya. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku harus ke Semarang sekarang!"
"Iqbal kamu jangan bercanda! kesehatanmu belum benar-benar pulih! Kamu jangan memaksakan diri!" jawab Kinan yang selalu ada di kamarku, di rumah sakit ini, setiap hari meski aku tidak memintanya.
"Aku sudah bilang kan kalau dia tidak akan pernah bisa menjaga kamu! Buktinya, saat kamu seperti ini dia sama sekali tidak menemanimu kan? Seharusnya kamu sadar akan hal itu!"
"Kau tidak mengenal istriku!" bentakku sekali lagi dan kulihat Kinan tidak menjawab apa apa.
"Dia tidak akan melakukan hal yang mustahil jika tidak ada yang membuat dia mau melakukannya. Dan aku yakin telah terjadi sesuatu padanya! Jawab pertanyaanku Kinan! Katakan apa yang terjadi padanya!"
Kinan hanya diam tapi aku tahu bahwa ada seseorang yang sudah mengatakan sesuatu pada Rara.
"Kamu benar Iqbal!" seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Tante Wina! mama Henny!"
"Kami pergi ke Semarang dan menemui perempuan itu!" jawab mama Henny.
"Apa yang sudah mama Henny katakan pada Rara?!" tanyaku sedikit geram dan kesal.
"Kami semua sudah tahu semuanya Iqbal!"
Betapa terkejutnya aku mendengar semua pengakuan yang telah mereka katakan. Dan aku sama sekali tidak percaya jika apa yang selama ini tersimpan sudah diketahui oleh mereka. Mereka mengetahui jika pernikahan kami hanya pura-pura.
Tapi mereka semua tidak tahu jika saat ini aku telah memiliki perasaan kepada Rara. Dan tentunya aku tidak mau melepaskan dia dan mengakhiri pernikahan ini. Aku ingin menjadikan dia istriku yang sebenarnya.
"Lalu untuk apa Tante Wina dan mama Henny datang menemui Rara?" tanyaku sedikit mereda.
"Tentu saja untuk mengakhiri semua ini!" jawab mama Henny kasar.
"Tidak ada yang perlu diakhiri ma! Semua akan berjalan sebagaimana mestinya! Rara akan tetap menjadi istriku! Sampai kapanpun!" jawabku tegas karena aku tahu apa yang sudah mereka lakukan pada Rara.
Mereka diam tidak ada yang berani melawan semua yang sudah aku putuskan. Lalu tanpa menunggu lama aku mengambil ponselku dan menghubungi Lukman. Karena saat ini tidak ada orang lain yang bisa membantuku kecuali Lukman. Bahan Tante Wina yang sudah kuanggap berada di pihakku nyatanya juga tidak percaya padaku.
Beberapa saat kemudian Lukman datang. Mereka bertiga masih ada di sana. Tentu saja tidak ada seorangpun yang bertanya saat aku meminta Iqbal mencari keberadaan Rara.
"Iqbal! Aku minta maaf! Aku sudah menyuruh orang mencari Rara di rumahnya tapi tak ada seorangpun di rumah itu. Aku tidak bisa menemukan Rara!" kata Lukman yang seketika membuat nyawaku bagai lepas dari ragaku. Aku merasa tak berdaya mendengar ia tak bisa menemukan keberadaan istriku.
"Carikan aku tiket pesawat sekarang juga! Aku mau pulang ke Semarang!"
Terimakasih telah membaca
Salam manis 😘