
Rara masih menunggu dokter memberikan kabar terbaru dari suaminya. Setelah beberapa saat lalu Lukman mengatakan jika kemungkinan besar Iqbal akan dibawa ke Jakarta untuk mendapat perawatan medis yang lebih baik.
Rara duduk jauh dari semuanya. Di sudut ruang tunggu masih ada mama Henny dan Kinan yang tentu saja masih memandang dirinya dengan tatapan penuh kebencian. Sementara om Yuda dan tante Wina sudah kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perawatan Iqbal.
Lukman mendekatinya. Ia masih berdiri. Ia tersenyum dan mencoba menghibur Rara.
"Ra... kamu nggak perlu khawatir, kamu juga akan ikut ke Jakarta kok! Biar gimana juga kamu itu istrinya!"
"Dia tidak akan pergi kemana mana!" sahut mama Henny yang tiba tiba saja sudah ada di sebelah Lukman yang masih berdiri.
Rara mendongak ke atas. Ia melihat tatapan kebencian dari mertua tirinya itu.
"Tidak ada yang memperbolehkan kamu ikut ke Jakarta! Iqbal akan mengakhiri semua ini ketika ia sadar nanti. Dan kamu akan kembali ke tempat asalmu! Jangan harap kamu bisa menipu Iqbal lagi! Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini!"
Tidak ada lagi kata yang ia ucapkan. Hanya mata gadis itu yang mengatakan segala isi hatinya. Rasa sakit yang amat sangat ketika orang lain mencoba memisahkan dirinya dari orang yang sudah menjadi separuh jiwanya. Dan itu ia tunjukkan dengan menguraikan air matanya dengan segala luka dalam hatinya.
Ia menangis dan tetap menelan semua yang dikatakan wanita itu.
Sesaat kemudian dokter keluar dari ruangan. Rara menjadi orang pertama yang menatap kehadiran dokter itu.
"Bagaimana Dok? Apa suami saya tetap akan dibawa ke Jakarta?"
"Tentu saja! Bukankah dokter Kinan sudah mengurus semuanya?" jawab dokter itu melihat ke arah Kinan.
Rara merasa heran mendengar nama Kinan disebut oleh dokter. Bagaimana ia bisa tidak tahu jika Kinan adalah orang pertama yang memberi ide agar suaminya dipindahkan ke Jakarta. Dan kenapa juga tidak ada yang memberi tahunya.
"Benar Dok! Saya yang mengurus semuanya. Saya sudah mendapatkan tempat di rumah sakit di Jakarta, tempat saya bekerja! Dan semua juga sudah beres! Pesawat pribadi kami juga sudah siap di bandara!" jawab Kinan seraya melirik sinis ke arah Rara.
"Pasien sudah siap! Sebaiknya anda semua bersiap juga!"
"Baik dok! Terimakasih!" Kinan menjabat tangan dokter itu.
Rara masih dibuat bingung. Namun ia mencoba tegar dan berusaha agar tidak terjadi perdebatan antara dirinya dan Kinan juga mama Henny. Oleh sebab itu ia memilih diam meskipun berulang kali mereka berkata kasar padanya.
Dua orang suster mendorong sebuah tempat tidur pasien keluar dari ruang gawat darurat. Ia tahu jika yang sedang terbaring itu tak lain adalah suaminya. Ia berlari mendekati suaminya yang masih memejamkan mata dengan alat bantu terpasang hampir di sekujur tubuhnya.
Ia tak sanggup berkata apapun. Lagi lagi hanya air mata yang ia coba tunjukkan. Ia mencoba menguasai diri. Ia tak ingin berlama lama memendam rasa duka. Ia harus bangkit dan menemani kemanapun suaminya akan pergi. Ia mencoba mengusap air matanya. Tangannya meraih tangan kanan suaminya. Sementara kedua suster itu masih mendorong ranjang tempat suaminya terbaring. Ia mengikuti langkah kedua suster itu.
Namun tiba-tiba mama Henny menarik tangannya. Rara merasa kesakitan dan berusaha melepaskan pegangan tangan mama Henny. Namun wanita itu terlalu erat menarik tangannya.
"Mama ..aku mohon ma..! Ijinkan aku ikut ke Jakarta. Setelah mas Iqbal sadar aku akan pergi ma! Aku mohon!" kata Rara dengan air mata yang berlinang.
"Kamu pikir siapa kamu! Dasar perempuan tidak tahu diri! Pergi kamu dari sini! Pergi! Kamu tidak usah bermimpi terlalu tinggi! Cepat atau lambat Iqbal akan melupakan kamu! Jadi lebih baik segera kamu pergi dari sini!"
"Sudah Ra...lebih baik kamu tetap di sini! Aku minta maaf. Aku tidak bisa berbuat banyak!"
"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan mas Iqbal, mas...! Aku tidak bisa!"
Rara bangkit dan berdiri. Kemudian ia berlari mendekati suaminya yang sudah semakin jauh karena mereka sudah masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah sakit. Ia melihat suaminya dimasukkan ke dalam mobil ambulans dari rumah sakit.
Sementara Kinan dan mama Henny berada di luar dan hendak menyusul dengan mobil yang sudah siap di belakang ambulans tersebut. Namun sebelum masuk ke dalam mobil, mama Henny menarik tangan Rara sekali lagi agar gadis itu tidak mendekat ke arah suaminya. Rara berontak dan berusaha melepaskan tangannya. Dan sekali lagi mama Henny mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh.
Rara merasakan perih pada kedua lututnya, namun ia tetap berusaha bangkit dan mengejar ambulans yang sudah mulai bergerak. Ia terus berteriak agar ambulans berhenti. Mungkin sebelumnya di sopir sudah diberi tahu agar tidak menghiraukan dirinya. Jadi pada akhirnya ambulans itu tidak berhenti bergerak. Bahkan telah melaju kencang ketika sampai di jalan raya. Sementara mobil yang ditumpangi Kinan dan mama Henny sudah mengikuti di belakangnya.
Rara hanya bisa pasrah menangisi kepergian suaminya. Ia masih ingat dengan jelas wajah suaminya di saat saat terakhir ia melihat suaminya yang terbaring tak berdaya. Ia tak lagi peduli ketika Lukman memapah dirinya dan membawanya ke tepian jalan. Ia melangkah dengan gontai. Air matanya mengalir ke mana mana.
"Aku tidak bisa membantu kamu Ra! Maafkan aku! Sebaiknya kamu pulang sekarang. Nanti aku akan mencari cara agar kamu bisa ke Jakarta dan menemui Iqbal!"
Rara mengingat semua yang telah diucapkan mama Henny padanya. Ia ingat wanita itu menyebut jika dirinya adalah perempuan tidak tahu diri. Ia juga mengatakan jika . Iqbal akan segera melupakannya dam mengembalikan dirinya ke tempat asalnya. Dan ia kembali menangis. Kali ini ia tidak menangisi kepergian suaminya. Tapi kali ini ia menangisi nasibnya. Ia menyadari jika ia tidak seharusnya seperti ini.
Mungkin mama Henny memang benar jika aku seharusnya bisa tahu diri. Dan mungkin juga mas Iqbal memang seharusnya melupakan aku. Aku tidak pantas untuk mas Iqbal. Apa kata orang-orang jika aku benar benar menjadi istrinya yang sesungguhnya. Aku bukan perempuan yang tepat untuknya. Aku harus pergi dari kehidupan mas Iqbal mulai dari sekarang. Ya Allah tolong bantu hambamu ini ...
"Ra...! Kamu baik baik saja kan?" suara Lukman membuyarkan lamunan Rara.
"Iya mas...! A...aku baik baik saja kok!" jawab Rara terbata .
"Aku antar pulang ya?"
"Tidak perlu mas! Aku mohon tolong jaga mas Iqbal untukku. Aku akan tetap di sini. Sekarang lebih baik mas Lukman segera kembali ke Jakarta. Dan tolong kabari aku jika terjadi sesuatu pada mas Iqbal!"
"Yakin kamu nggak apa-apa!".
Rara hanya mengangguk perlahan. Kemudian ia mencoba mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya. Setelah itu Lukman segera pergi meninggalkan Rara.
Kini ia benar benar sendiri. Tidak ada lagi tempat bersandar untuk meringankan beban dalam hatinya. Jika dulu ada Iqbal yang selalu memberikan bahunya untuk ia sandari. Kini bahkan pemilik bahu itu sendiri yang membawa air mata dalam hidupnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Air mata itu terus mengalir deras sederas air hujan yang mulai membasahi bumi. Ia membiarkan tubuhnya yang menahan beban itu terguyur derasnya hujan. Ia melangkah mencoba mencari celah untuk ia lewati.
Dan air hujan turun semakin deras seperti tengah membasahi luka dalam relung hatinya.
Terimakasih telah membaca
Salam manis 😘