
Rara hendak bangkit dari duduknya, ketika Iqbal mengajaknya pulang karena hari sudah malam. Suasana sekitar masih ramai. Namun tiba tiba ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia meletakkan kembali tubuhnya di atas kursi.
"Kenapa? Ayo pulang! "
" Iya mas ..tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi...aku..."
"Kenapa sih? Ada yang sakit?"
"Aku nggak bisa mas...aku...." Rara terbata sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
" Kamu sebenarnya kenapa sih?"
"Mas Iqbal sini deh !"
Iqbal yang sudah berdiri kembali menuju kursi dan duduk kembali di samping istrinya.
"Cepat bilang kamu kenapa?"
"Mas...sebenarnya aku tuh...lagi dapat mas..terus aku nggak pake...!"
Iqbal tertawa mengusap kepalanya.
"Perempuan! Ada aja...huh!" Katanya lirih bahkan Rara tak mendengarnya sambil melepas jaket yang sedari tadi ia pakai. Kini tampak seragam kepolisian yang melekat di tubuhnya.
"Ayo bangun!"
Nggak mau mas...!"
"Sudah ayo...buruan!"
Rara bangun dengan ragu. Ia sebenarnya juga malu. Karena jelas saja Iqbal akan melihatnya. Ia hanya memakai blus selutut berwarna kuning gading yang jelas saja akan terlihat sangat jelas jika ia berdiri. Ia masih malu malu. Tapi dengan cepat Iqbal mengaitkan lengan jaket itu ke perutnya, hingga menutup bagian pantatnya.
Sebenarnya ia tak menduga suaminya itu akan melakukan hal itu. Tapi ia sungguh bahagia dengan tindakan suaminya itu. Apalagi saat ia mengenggam jemarinya lalu mengajaknya melangkah bersama, sungguh perasaan yang tiada duanya. Semua mata memandangi mereka.
Hujan gerimis membuat keduanya berlari kecil. Iqbal melepas jemari istrinya dan menggantinya dengan merangkul pinggangnya. Ada debar yang semakin menjalar di tubuhnya. Rara seperti melayang ketika mata indah suaminya menatap dirinya. Hujan membasahi tubuh mereka. Perasaan yang menggelora merasuki jiwa dua insan yang sebenarnya sama sama menikmatinya. Suara rintik hujan terdengar bagai nyanyian merdu.Keduanya terbuai di dalam nyanyian cinta. Alam seakan memberi restu akan cinta yang hanya bisa dirasa. Dan entah kapan akan berbicara.
Mereka sampai di mobil dengan sedikit basah kuyup. Iqbal mengemudikan mobilnya begitu Rara masuk ke dalamnya.
"Kamu nggak apa apa kan?"
Rara hanya menggeleng. Hatinya masih belum bisa ia kuasai. Di dadanya masih terdengar suara parade drum yang sepertinya sudah usai namun masih dimainkan. Ia belum bisa mengucapkan sepatah kata pun. Suasana hening hingga mereka sampai di apartemen.
Mereka bergegas membersihkan diri. Lalu setelah selesai Rara menuju dapur dan membuat teh panas untuk menghangatkan tubuh. Iqbal keluar dari kamar dan menuju meja makan yang sudah istrinya di sana.
Rara masih ingat kejadian sore tadi. Meskipun matanya mengantuk namun pikirannya masih asyik melayang layang. Hingga jam menunjuk angka sepuluh baru ia bisa tidur.Tentu saja dengan membawa nama kekasihnya dalam mimpi.
Subuh menjelang. Seperti biasa Rara sudah siap dengan segala aktivitasnya. Mulai dari mencuci baju memasak hingga membersihkan rumah. Ia benar benar sudah terbiasa dengan semua pekerjaan itu. Ketika matahari mulai malu malu menampakkan dirinya, ia menuju pintu kamar suaminya hendak membangunkannya. Namun baru ssja tangannya hendak mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dan tampakla wajah gagah suaminya yang sudah siap dengan seragamnya. Rara tersenyum.
"Kenapa sepagi ini mas?" tanya Rara mengikuti langkah suaminya menuju meja makan.
"Iya...hari ini ada pengamanan perayaan natal di sebuah gereja. Sebenarnya pengamanan itu sudah dimulai dari kemarin. Pagi ini tugas aku. Mungkin aku akan berangkat pagi setiap hari. Setidaknya selama seminggu ini. Aku juga nggak ada waktu libur , jadi kamu nggak boleh kemana mana."
"Iya mas..." jawab Rara kemudian mereka duduk bersama di meja makan.
"Tapi aku punya kabar baik. Aku dapat cuti awal tahun nanti. Sekarang kamu boleh berpikir kamu mau minta liburan kemana?"
"oh ya? Aku sih terserah mas Iqbal saja. Tapi kalau boleh kita ke Bali atau ke Malang atau ke..."
" Itu sih namanya Nggak terserah! "
Rara tertawa dan menikmati setiap keindahan yang Tuhan berikan padanya akhir akhir ini.
"Ra," panggil Iqbal sambil meminum kopinya sedikit demi sedikit, "kamu ingat Yunita nggak, istri temanku yang datang ke pernikahan kita. Aku sempat nitip kamu ke dia soal keikut sertaan kamu di Bayangkari. Semalam dia minta nomor kamu. Jadi mungkin dalam waktu dekat dia akan menghubungi kamu. Soalnya ada pertemuan di Bayangkari dalam menyambut natal dan tahun baru. Biasanya sih ada kegiatan sosial."
" oh iya aku ingat mas...! Iya..aku ngerti"
Iqbal menghabiskan nasi goreng buatan istrinya.Kemudian ia bergegas berangkat.
Rara menerima panggilan telpon dari nomor baru yaitu Yunita, orang yang baru saja ia bicarakan dengan suaminya.
"Terimakasih ya mbak Yunita sudah membantu saya. Saya senang bisa bergabung dengan mba Yunita dan yang lain . Semoga ke depannya saya bisa lebih banyak belajar."
"Ngomong ngomong Jangan panggil saya mbak dong... Kayaknya usia kita juga Nggak jauh beda. Anak saya saja masih satu usia dua tahun. Biar lebih akrab saja. Mau kan?"
" Iya ..Yun...maaf ya...semoga kita busa menjadi teman baik."
"Tentu saja. Tapi sudah dulu ya...anakku nangis tuh kayaknya. Lain kali kita sambung lagi. Kamu jangan lupa tanggal 31 ya...aku jemput kamu nanti."
"Iya...sekali lagi terimakasih ya yun..."
"Iya sama sama da Rara....!"
Hari ini tanggal 25 Desember. Dimana mana sedang ada perayaan natal. Rara melihat acara tv yang memuat berita tentang perayaan perayaan tersebut. Ia juga menyaksikan anggota kepolisian banyak yang bertugas di gereja gereja besar di kota. Diantara begitu banyaknya para anggota itu ada Iqbal yang siap dengan senjatanya. Dengan gagah ia bertugas untuk mengamankan negara.
Dan selama beberapa hari ini ia pulang malam.Bahkan saat istrinya sudah terlelap. Mereka hanya bertemu di pagi hari. Itu pun hanya saat sarapan. Meski sebenarnya secara diam dism Rara masuk ke dalam kamar suaminya hanya untuk memastikan ia baik baik saja.