A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 44 KENANGAN



Air hujan semakin deras mengguyur bumi. Dan langkah gadis itu semakin lemah. Air mata sudah tumpah ruah menjadi satu dengan derasnya air hujan. Tatapan matanya kosong bagaikan tidak ada lagi cahaya seperti hari hari sebelumnya.


Sudah tidak ada lagi kata yang dapat menggambarkan semua rasa perih dalam hati dan jiwanya. Rasa putus asa sudah mendominasi seluruh isi hatinya. Setiap langkah kedua kakinya tak dapat ia tentukan kemana akan melangkah. Ia hanya berjalan dan terus berjalan tanpa tahu arah dan tujuan.


Di sela ia mencoba menghibur dirinya sendiri, ia dikagetkan dengan sebuah suara seorang laki-laki.


" Ra... berhenti Ra...!"


Rara menghentikan langkahnya dan menoleh pada sumber suara yang sepertinya pernah ia dengar sebelumnya.


Samar samar ia melihat seorang laki-laki membawa payung dan berlari kecil mendekati dirinya. Ketika semakin dekat ia menyadari siapa laki-laki itu. Ia mengingat kejadian dimana laki-laki itu pernah mencoba menyakitinya beberapa waktu yang lalu. Dialah laki-laki yang pernah hampir melecehkan dirinya.


Kakinya mundur selangkah begitu lelaki itu mencoba mendekati dirinya. Ada rasa takut yang masih saja timbul. Namun ia mencoba tenang dan tidak panik. Matanya menatap ke sekeliling. Hatinya menjadi sedikit lebih tenang ketika melihat masih banyak orang yang lalu lalang meski hujan belum sepenuhnya reda.


"Kenapa kamu hujan hujan! Kamu bisa sakit nanti!" kata lelaki itu mencoba mendekati Rara.


Namun Rara kembali melangkah ke belakang.


"Kamu jangan takut Ra...! Aku tidak akan menyakitimu. Aku minta maaf atas segala kesalahanku yang dulu!" katanya lagi seperti tahu apa yang dirasakan oleh gadis itu.


"Mau apa kamu?" tanya Rara sinis.


"Aku antar kamu pulang ya...!"


"Nggak perlu! pergi kamu. Aku tidak perlu bantuan dari orang seperti kamu!"


"Aku tahu aku salah Ra... Tidak seharusnya aku mengatakan semua pada Kinan!"


Rara mencoba mencerna setiap ucapan lelaki bernama Bayu itu. Kemudian ia menyadari sesuatu telah terjadi antara dia dan Kinan.


"O... jadi benar dugaanku! Ternyata kamu bukan hanya laki-laki tidak tahu malu, kamu juga jahat!"


"Karena aku tahu tidak seharusnya Iqbal memperlakukan kamu seperti itu. Kamu berhak bahagia, dan aku yakin hanya denganku kamu akan merasakan semua itu!"


"Dari mana kamu tahu aku tidak bahagia! Aku bahkan lebih bahagia sekarang! Dan aku selalu bahagia dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini! Jadi jangan coba-coba mempermainkan aku!" Rara berkata dengan penuh penekanan.


Kakinya melangkah dan tangannya melambai ketika ada sebuah bus yang lewat. Namun tiba-tiba ia berhenti dan menatap lelaki itu lagi.


"Satu hal lagi! Meskipun aku akan berpisah dengan mas Iqbal, sudah kupastikan aku tidak akan pernah menjadi milikmu! Ingat itu baik-baik!"


Rara berlari kecil masuk ke dalam bus yang sudah menunggunya.


Ada sesuatu yang lebih mengejutkan lagi yang harus ia hadapi. Sesuatu yang sudah ia duga sebelumnya. Namun ia mencoba menghibur dirinya sendiri lagi. Karena ia tahu bahwa jika hal itu adalah sebuah kenyataan. Sebuah kenyataan yang tidak akan pernah bisa ia ubah.


Rara bersandar di kursi bus sambil matanya terpejam. Ia menghela nafas panjang. Berharap akan ada sesuatu yang membuat hati dan pikirannya menjadi lebih tenang.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat sebentar. Ternyata bang Soleh yang menghubungi dirinya.


"Iya bang! Ada apa?"


"Ra...!" Suara bang Soleh terdengar begitu berat, " Ibu Ra...!"


"Nenek? Kenapa dengan nenek!"


"Sesuatu terjadi dengan ibu Ra...! Kamu cepat pulang! "


Seperti ada sebongkah batu yang menghantam hatinya, Rara merasa ada hal yang begitu besar akan terjadi. Bang Soleh sudah mematikan ponselnya. Dengan tidak sabar Rara mencoba menghibur dirinya dengan mengatakan pada dirinya jika semua akan baik-baik saja.


Alangkah terkejutnya Rara ketika ia melihat begitu banyak orang berkerumun di sekitar rumah neneknya. Orang orang itu tampak memandang dirinya dengan tatapan penuh dengan penyesalan. Semua melihat ke arahnya dan hal itu membuat ia merasa ada sesuatu yang terjadi tanpa setahu dirinya.


Di luar masih hujan meski tidak sederas tadi. Namun suasana di dalam rumah seolah lebih dingin dari cuaca di luar. Rara melihat bang Soleh yang duduk dengan air mata berurai bersebelahan dengan istrinya, mbak Dewi. Rara juga melihat seorang wanita yang terbaring memejamkan mata. Dan kedua kakaknya itu tengah menangisi seseorang yang terbaring itu.


Ia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat neneknya yang sudah tidak bernyawa lagi. Dunia seperti berhenti berputar. Ia merasa seperti tidak lagi berpijak di bumi. Pandangannya menjadi gelap dan kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Semua menjadi gelap gulita.


"Ra...! Rara! ... Bangun Ra!"


Rara mencoba membuka matanya perlahan. Ia melihat seorang wanita duduk di sampingnya yang ternyata sudah berada di atas ranjang.


"Mbak Dewi!"


Rara memeluk mbak Dewi. Mereka berdua menangis bersama.


"Apa yang terjadi dengan nenek mbak? Aku tidak bisa melihat nenek pergi secepat itu!"


"Ibu hanya bilang jika kepalanya pusing. Lalu beliau terjatuh dan pingsan. Ketika sampai rumah sakit, nyawa ibu tidak tertolong. Aku minta maaf!" jawab mbak Dewi dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


"Aku yang salah mbak...! Aku sudah terlalu banyak bersalah pada nenek. Aku belum sempat meminta maaf kepada nenek. Tapi kenapa nenek sudah tidak ada lagi. Seharusnya aku tidak pernah pergi meninggalkan nenek sendiri dan menuruti kehendak ku yang bodoh itu."


"Apa maksudnya Ra?"


Rara menceritakan semua tentang kebohongan yang sudah ia lakukan. Ia juga menceritakan jika ia dan suaminya pada akhirnya saling mencintai. Namun semua berakhir ketika kebohongan itu terungkap dan diketahui oleh keluarga suaminya. Ia menceritakan semua tanpa ada satu pun yang terlewat.


Mbak Dewi tentu saja orang baik yang bisa mengerti semua yang sedang dialami olehnya. Ia membiarkan Rara menangis di dalam pelukannya.


Setelah beberapa saat Rara dapat menguasai dirinya dan mereka berdua keluar dari kamar. Seluruh keluarga menyaksikan pemakaman nenek. Rara sudah dapat menerima jika kini neneknya sudah tidak ada lagi. Meskipun air matanya masih sesekali meluncur begitu saja.


Keesokan harinya Rara pamit kepada bang Soleh hendak pergi ke apartemen.


Di apartemen yang sudah berhari-hari tidak ia masuki itu tersimpan kenangan kenangan indah tentang suaminya. Ia melihat semua yang masih sama.


Satu satunya tempat yang ia masuki pertama kali adalah kamar suaminya. Ia merebahkan diri di atas ranjang milik suaminya.


"Mas...apa yang harus aku lakukan sekarang? Katakan mas..? Harus kepada siapa lagi aku bersandar? Nenek telah meninggalkan aku mas... Seharusnya aku bisa pergi darimu dengan baik baik saja seandainya saja nenek masih ada. Tapi kini...aku rasa aku tidak akan bisa hidup lagi setelah kepergian mu. Katakan mas Iqbal, apa yang harus kulakukan?"


Air matanya kembali mengalir. Ia menatap langit langit kamar. Ia memutar kembali semua kenangan dimana laki-laki yang ia cintai itu mengatakan jika sangat mencintainya.Ia juga ingat ketika Iqbal mengatakan jika ia akan menjadi orang pertama yang melindunginya saat ada orang lain yang menyakitinya.


"Ya Allah tolong sadarkan suami hamba dan biarkan dia keselamatan. Aku bersumpah untuk pergi dari kehidupannya jika ia sudah membuka matanya nanti."


Rara mengucapkan doa di sela sela tangisnya.


Kini semua hanya tinggal kenangan. Semua tentang rasa cinta itu tidak mungkin akan kembali lagi. Ia mencoba untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Meskipun untuk melupakannya ia yakin akan membutuhkan waktu seumur hidupnya. Ia telah bertekad untuk segera pergi dari kehidupan Iqbal.


Ia mengemasi seluruh pakaiannya. Ia meletakkan kunci mobil dan motor di atas meja nakas.


Beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Senyum di bibirnya mengembang saat tahu yang menelponnya adalah Lukman.


"Ra...ada kabar gembira buat kamu!"


"Katakan mas Lukman...ada apa?"


"Iqbal sudah sadar tapi belum stabil. Sebaiknya kamu segera ke Jakarta. Nanti aku akan mempertemukan kamu dengannya. Jangan khawatir, aku akan mengatur semua."


Ia ingat semua yang sudah dikatakan oleh ibu mertua tirinya. Ia ingat dan ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya. Ia memang bukan siapa siapa. Dan ia tahu itu. Ia tahu jika yang terbaik adalah melupakan semua kenangan indah tentang suaminya.


Yuk dengerin Memories by Maroon 5


Salam manis 😘