
Rara mengangguk meski ia tidak tahu siapa perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Melihat Rara mengangguk, gadis itu tersenyum begitu bahagia.
"Kakak! Sepertinya aku sudah menemukan obat untuk sakitmu!" pekik gadis itu seraya menarik tangan Rara untuk masuk ke dalam kamar.
Seorang laki-laki terkulai lemah di atas ranjang. Matanya terpejam. Rara ingin segera mendekat dan memeluk laki-laki itu namun ia masih ragu karena ada gadis itu di sana.
"Kakak! Ayo buka matamu! Lihat siapa yang aku bawa!"
Rara masih bingung siapa gadis yang dengan tiba-tiba menarik lengannya dan mendekat ke arah tempat tidur Iqbal.
Tidak ada reaksi dari Iqbal. Laki-laki itu masih memejamkan matanya. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh gadis itu.
"Kakak! Sekali ini saja ... please buka mata kakak! Aku tidak bohong kak!"
Kali ini Iqbal tampak membuka matanya perlahan. Tapi bukannya melihat sosok yang ada di depan matanya, ia justru marah-marah pada gadis itu.
"Berhenti bercanda Dira! Aku tahu kamu bohong!"
Iqbal telah membuka matanya dengan sempurna. Dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sesosok perempuan yang ia puja selamanya. Ia tampak terkejut dengan kedatangan istrinya. Iqbal sedikit salah tingkah. Dengan malu-malu ia menatap istrinya itu dalam-dalam berharap yang dilihatnya bukanlah mimpi.
"Cie...cie ... Ada yang malu-malu nih ye...!" goda gadis yang baru Rara ingat jika dia anak Tante Wina dan om Yuda, namanya Dira.
Iqbal semakin salah tingkah saat Rara memberikan senyuman terindah untuknya.
"Mas Iqbal sakit apa?" tanya Rara sedikit canggung.
"Sakit rindu tuh kak!" sahut Dira lagi.
"Eh anak kecil diem lu!"
"Iya kakakku tersayang. Sepertinya sudah saatnya aku kembali ke kamar. Kayaknya di sini bakal ada gempa! Dari pada kejatuhan atap!" jawab Dira sambil meraih tasnya dari atas meja.
Rara tertawa kecil.
"Eh...kok main pergi aja! Udah kenalan belum sama kakak ipar kamu!"
"Oh iya! Lupa! Kakak ingat kan, aku Dira!" Dira mengulurkan tangannya.
"Aku Rara!"
"Kalau begitu aku tinggal dulu ya kak! Kamarku di sebelah kalau butuh apa-apa jangan sungkan!"
Rara mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Dira kemudian keluar dari kamar itu.
Sementara sepeninggal Dira suasana menjadi semakin canggung. Keduanya menjadi sulit untuk memulai perbincangan. Hingga Iqbal merasa kepalanya yang masih terasa pusing. Ia lalu terduduk dan Rara mencoba meraih tangannya.
"Mas! Mas Iqbal tidak apa-apa kan?"
"Tidak Ra! Aku cuma sedikit pusing."
Tanpa diminta Rara meraih gelas berisi air putih dari atas meja. Ia memberikannya kepada Iqbal. Rara lantas duduk di sampingnya.
"Terimakasih ya!"
"Maaf ya mas! Aku tidak tahu jika mas Iqbal sedang sakit. Aku tidak berani menanyakan kepada siapa pun saat mas Iqbal tidak ada di ruangan itu. Aku pikir mas Iqbal sudah kembali ke Jakarta atau Semarang."
"Apa? Kamu pikir aku akan menyerah! Baru juga berapa hari. Tapi sepertinya kamu yang akan menyerah.!"
"Aku kan sudah bilang..."
"Cukup! cukup! Aku tidak mau mendengar alasan kamu lagi. Itu bukan alasan. Itu cuma akal-akalan kamu saja. Itu bukan kemauan hati kamu. Aku akan membuktikan semua yang aku katakan ini benar!"
"Kalau begitu apa gunanya aku disini?"
Rara bangkit dari duduknya dan hendak melangkah. Namun Iqbal meraih tangannya.
"Ya mau pergi lah mas! Mas Iqbal tidak percaya dengan semua yang aku katakan!"
Iqbal bangun dari duduknya dan berdiri berhadapan mensejajari istrinya. Ia meraih tangan istrinya untuk ia genggam.
"Aku percaya semua yang kamu katakan. Dan sekarang aku mau kamu tetap di sini! Aku mau kamu yang menemani aku. Aku ingin istriku yang menjaga dan merawat aku. Dan kamu tahu, baru melihat kamu saja rasa sakitku mendadak hilang."
Entah mengapa Rara tidak dapat menolak semua permintaan suaminya. Bibirnya tiba-tiba terangkat dan menawarkan senyum yang saat itu juga mampu mengendalikan detak jantung Iqbal.
"Mas Iqbal mau makan? Biar aku pesankan!"
"Aku tidak mau apa-apa! Aku cuma mau kamu!"
"Mas Iqbal harus makan dong! Biar cepat sembuh! Apa mau seperti ini terus!"
"Kamu benar juga! Kalau aku seperti ini terus, gimana bisa meyakinkan kamu untuk kembali kepadaku! Benar kan?"
Rara hanya tersenyum kecil. Sesaat kemudian ada yang mengetuk pintu. Rara membukanya dan ternyata di sana telah berdiri seorang pelayan membawa nampan berisi makanan. Pelayan itu mengatakan jika makanan ini dipesan oleh Dira.
Tanpa basa-basi Rara segera mengambil piring dan memberikan makanan itu kepada suaminya. Iqbal yang masih berbaring menggeleng dan menolak untuk makan.
"Aku mau disuapin sama kamu!" pintanya manja.
"Manja banget sih mas!"
"Aku kan sedang sakit!"
Rara kembali tersenyum. Dan itulah obat dari segala sakit yang diderita oleh Iqbal. Dan akhirnya tanpa banyak bertanya, ia Rara segera menyuapi suaminya perlahan.
Setelah acara makan selesai dan Iqbal meminum obatnya, Rara mengambil ponselnya dan segera menghubungi mbak Dita bahwa hari ini ia tidak bisa kembali ke toko karena suaminya sedang sakit. Akhirnya setelah beberapa hari atasannya itu tahu juga siapa suaminya itu.
Setelah itu Rara menyuruh suaminya untuk istirahat namun Iqbal menolak. Ia tidak mau tidur karena ia hanya mau ngobrol dengan istrinya. Begitulah dia memberikan alasan. Dan benar saja, siang itu mereka menghabiskan waktu dengan banyak bicara. Mulai dari membicarakan sakit yang diderita Iqbal hingga membicarakan tentang nasib mereka kedepannya.
Lama-lama mata Iqbal terpejam juga. Sementara itu Rara yang sedari tadi duduk di kursi dekat dengan ranjang juga sudah mulai mengantuk. Dan entah ada apa dengan dirinya hingga ia juga tertidur dengan kepala di atas ranjang sementara tubuhnya di atas kursi. Keduanya tertidur dengan tangan yang saling mengait satu sama lain.
Rara terbangun tapi ia merasa ada yang aneh. Tubuhnya kini telah berada di atas ranjang dan yang lebih membuatnya tercengang adalah tubuh Iqbal yang ada di sampingnya.
Iqbal masih tertidur pulas dan tangannya melingkar di atas tubuh istrinya. Rara merasa telah terjadi sesuatu hingga tanpa sadar ia mengangkat kepala dan tubuhnya yang sontak membuat Iqbal terbangun.
Rara merasa bingung dan bertanya-tanya. Siapa yang telah membawanya ke atas ranjang. Ia merasa takut karena ia belum pernah tidur seranjang dengan suaminya. Sementara itu Iqbal yang sudah terbangun lantas menyapanya dengan senyum yang mengembang.
"Sudah bangun sayang!"
"Bagaimana aku bisa berada di sini mas?" tanya Rara seraya menurunkan kakinya dan hendak beranjak dari tempat tidur namun dengan sigap Iqbal menarik tubuhnya.
"Hei... kenapa?"
Mata mereka bertemu. Iqbal menyunggingkan senyum. Mencoba untuk tidak menakuti istrinya yang tampak begitu terkejut. Rara hanya bisa diam tidak bergerak. Semua itu tentu saja karena pesona dari senyuman manis suaminya.
"Aku yang memindahkan kamu ke atas. Sepertinya kamu kecapekan dan tertidur dengan pulas. Aku tidak tega melihatnya."
Iqbal bangkit dari tidurnya. Mata keduanya masih bertemu. Ada sesuatu yang membuat Rara tidak bisa berpaling dari tatapan teduh itu. Kini bahkan ia dapat merasakan hembusan nafas suaminya. Tidak ada jarak antara mereka.
"Kenapa? Kamu jangan takut. Kita memang belum pernah tidur seranjang. Tapi kita pasti akan sering melakukan hal itu nanti!" kata Iqbal begitu lirih.
Iqbal menyentuh pipi istrinya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Sebuah perasaan yang sebenarnya tidak pernah mati. Dan Rara kembali terhanyut dengan semua itu. Wajah Iqbal terlihat sangat jelas dan hal itu membuatnya semakin terbang melayang.
Sementara aroma wangi tubuh suaminya juga menghadirkan sebuah perasaan tersendiri. Perasaan yang sama dengan sebelumnya. Perasaan yang sebenarnya selalu ia rindukan.
Dan kini perasaan itu telah lahir kembali. Tidak ada lagi yang bisa menghilangkan semua rasa yang indah itu.
Mereka saling berhadapan dan saling mengeja setiap sentuhan. Ada dorongan dari hati mereka berdua yang membuat keduanya sama-sama terjebak dalam situasi yang sama. Nafas keduanya sama-sama mendesah. Menimbulkan suatu gairah yang menggebu-gebu.
Semakin dekat dan mendekat. Kedua bibir saling bertemu. Sebuah ciuman yang penuh dengan ribuan cinta. Cinta sesungguhnya yang pada akhirnya dapat mereka rasakan lewat sentuhan. Tidak ada lagi yang bisa mereka pikirkan selain bagaimana menikmati rasa itu. Mereka sama-sama menikmatinya.