
Mungkin ciuman pertamanya itu akan berlanjut seandainya tidak terdengar suara ketukan pintu. Rara segera tersadar begitu suara itu terdengar semakin keras.
Pipinya merona merah semerah bunga mawar yang berada di atas meja. Ia tersenyum dengan malu saat Iqbal menyisihkan rambutnya yang panjang ke belakang telinganya. Sebuah perasaan yang lagi-lagi menghipnotis dirinya.
Iqbal tersenyum menampakkan kebahagiaan yang terlihat jelas.
"Aku mencintaimu dan akan selalu begitu!" katanya kemudian.
Rara tidak menjawab namun senyum dan tatapan matanya seolah menjawab semuanya. Iqbal merasa bahwa ia telah mendapatkan lampu hijau untuk melanjutkannya suatu saat nanti.
Suara ketukan pintu semakin keras.
"Biar aku buka mas!" Rara segera beranjak dari atas ranjang dan sedikit merapikan dirinya di depan cermin.
Sesaat kemudian ia segera membuka pintu kamar VIP itu. Saat pintu terbuka muncullah seorang perempuan yang membuat jantungnya terasa sesak secara mendadak. Pikirannya kembali menerawang jauh pada kejadian beberapa bulan lalu saat suaminya sedang berjuang untuk hidup di sebuah rumah sakit. Ia ingat dengan jelas bagaimana perempuan ini bersama mertua tirinya menjauhkan dirinya dari suaminya. Ia ingat bagaimana ia dibiarkan terluka baik fisik maupun mental oleh perempuan ini. Dan kini bahkan ia tidak pernah membayangkan akan bertemu kembali dengan dia.
"Kenapa kau ada di sini?!" tanya Kinan dengan raut wajah tidak suka.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu?" jawab Rara dengan tegas. Sekarang keberaniannya jauh lebih baik ketika menghadapi perempuan ini.
Tanpa menjawab Kinan segera masuk ke dalam kamar dan mendekat ke arah Iqbal yang masih duduk di sebuah sofa. Iqbal terkejut hingga ia terbangun dari duduknya saat Kinan datang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Aku dengar kamu sedang sakit. Apa lukamu baik-baik saja?" jawab Kinan khawatir.
"Aku tidak apa-apa! Aku tidak butuh perhatian darimu! Sudah ada istriku yang menjagaku. Jadi tidak perlu khawatir. Lagipula aku sudah berulang kali bilang, aku tidak membutuhkanmu." jawab Iqbal sinis tanpa menoleh sedikitpun pada Kinan.
"Jadi benar dugaanku. Kau datang kemari hanya untuk mencari keberadaan perempuan itu! Iya kan?"
"Tutup mulutmu! Itu bukan urusanmu!"
"Bagus! Kamu pikir setelah dia tahu apa yang sudah kamu lakukan, dia akan kembali padamu begitu saja. Dan kalian akan hidup bahagia?! Hah? Jawab!"
Rara melihat wajah Iqbal yang terlihat pias. Ia tahu sepertinya ada yang disembunyikan oleh suaminya itu.
"Ada apa mas? Apa yang sudah mas Iqbal lakukan?"
Iqbal tidak menjawab. Ia mendekati Rara dan mencoba menenangkan gadis itu dengan meraih tangannya.
"Jadi kamu belum mengatakan, Iqbal?" sahut Kinan.
"Kinan!" teriak Iqbal.
Sementara Kinan tampak mengukir senyum kemenangan yang penuh kelicikan. Ia mendekati Rara dan Iqbal. Matanya tajam menatap Rara dengan sinis.
"Apa perlu aku yang mengatakan pada istrimu ini! Atau mungkin kamu mau mengatakan sendiri!"
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Rara dengan nada kesal sementara Iqbal masih dalam mode ketakutan dan rasa penuh dengan penyesalan.
"Bagaimana perasaan kamu pada suamimu seandainya kamu tahu bahwa dia adalah orang yang sudah memasukkan ayahmu ke dalam penjara?" kata Kinan dengan jelas yang sontak membuat Rara membulatkan matanya.
"Kinan diam!" teriak Iqbal.
Kinan tersenyum menyeringai dan tidak mempedulikan teriakan Iqbal.
"A...a..apa kamu bilang?"
Tubuh Rara seakan lemas dan kakinya terasa begitu berat. Ia merasa jika kakinya tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Ia tersimpuh setelah berhasil mencerna apa yang sudah Kinan katakan. Air matanya berurai.
Iqbal merasa menyesal dan ia turut bersimpuh di depan gadis itu.
"Sayang... sayang..! Bukan begitu! Itu tidak benar! Aku bisa menjelaskan semua!"
"Semua sudah jelas kan! Seorang menantu memasukkan mertuanya sendiri ke dalam penjara! Apa itu yang dinamakan menantu idaman!" kata Kinan dengan menyilangkan tangannya di depan dadanya.
Karena merasa emosi, Iqbal bangkit dan menatap perempuan itu dengan tatapan tajam.
"Diam kamu! pergi dari sini! Atau akan aku panggil petugas keamanan untuk mengusirmu!" kata Iqbal dan Kinan menyadari jika Iqbal sudah benar-benar marah.
Mendapat tatapan tajam dari Iqbal Kinan segera keluar dari kamar itu. Ia tidak berani menjawab apa pun. Sementara raut wajahnya menampakkan rasa benci pada Rara saat ia melirik sekilas gadis yang masih duduk bersimpuh di atas lantai.
Iqbal kembali duduk bersimpuh di depan istrinya yang masih tersedu dengan air mata yang membanjiri pipi dan juga pakaiannya. Ia tahu ia telah bersalah dengan tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Ia mencoba meraih tangan gadis itu namun Rara segera menepisnya.
"Aku minta maaf sayang! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak pernah tahu jika pria itu adalah ayahmu. Aku bisa menjelaskan semua. Akan aku ceritakan semua padamu! Tapi kumohon berhentilah menangis!"
Rara tidak sanggup mengatakan apapun. Ia hanya merasa benci dengan orang yang baru saja mampu membuat hatinya tersenyum kembali itu.
Rara bangkit tanpa mengatakan apapun. Ia meraih tasnya dari atas meja dan berjalan menuju pintu kamar untuk segera keluar.
Iqbal berulang kali menyebut namanya dan meraih tangannya. Namun gadis itu masih tetap pada pendiriannya.
Saat bersamaan muncul Dira dari dalam kamarnya.Ia merasa terkejut dengan apa yang sudah terjadi.
"Kakak! Kenapa?" tanyanya panik dan mencoba meraih tangan Rara.
Sementara itu Iqbal yang berada di belakang Rara tiba-tiba merasa pusing dan segera meraih tembok untuk berpegangan.
Rara hanya menggeleng ketika Dira bertanya. Kemudian tanpa menoleh kebelakang ia segera mempercepat langkahnya. Menyadari sesuatu terjadi pada saudara laki-lakinya, Dira segera mendekat dan menuntun Iqbal untuk kembali ke kamar.
"Aku akan mengejarnya, Dira! Biarkan aku pergi,!"
"Kamu belum benar-benar sembuh! Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku tidak apa-apa! Aku akan menjelaskan semua padanya!"
"Kakak diam di sini. Aku akan mengejarnya!"
Tanpa bertanya lebih lanjut Dira lantas segera berlari mengejar Rara meskipun ia belum paham apa yang sebenarnya terjadi.
Dira mendapati motor matik yang dinaiki Rara sudah melaju dengan cepat. Entah Rara memang tidak mendengar atau ia tidak peduli padanya, yang jelas ia sama sekali tidak menoleh ketika Dira memanggil namanya. Hal itu membuat Dira semakin mempercepat langkahnya menuju ke arah pos satpam. Di sana sudah berdiri salah satu petugas keamanan di atas motor yang sudah siap melaju. Dira tahu jika ia mengambil mobilnya dari tempat parkir Rara tidak akan terkejar.
"Pak... berhenti pak!" Dira menghentikan bapak-bapak yang akan segera berangkat itu. Tidak mau terlambat ia segera meraih motor matik milik bapak itu tadi.
"Saya pinjam motor ini sebentar ya pak! Bapak tahu siapa saya kan? Saya adik pak Iqbal, atasan bapak. Jadi bapak tidak perlu khawatir!" Dira berkata dengan nafas ngos-ngosan.
"I...iya non!" jawab petugas keamanan tersebut dengan sedikit kaget.
Dira segera meraih motor dan melaju mengejar motor milik Rara.
Beberapa menit melaju dengan kecepatan tinggi akhirnya Dira mendapati motor Rara mengarah ke sebuah taman yang tak jauh dari jalan raya. Tanpa pikir panjang ia segera membelokkan motornya ke arah taman.
Dira memarkir motornya lalu segera mencari keberadaan Rara. Matanya kesana-kemari terus mencari. Hingga dari kejauhan ia melihat seseorang sedang duduk di salah satu bangku taman. Ia yakin bahwa itu adalah Rara, kakak ipar yang baru pagi tadi ia kenal.
Tanpa menyapanya Dira duduk begitu saja di samping Rara. Rara yang sempat terkejut menoleh sesaat. Namun setelah itu matanya kembali menatap sekumpulan bunga-bunga yang ada di sana.
"Kak! Aku minta maaf! Aku sendiri sebenarnya belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Kamu tidak perlu repot-repot mencariku! Aku sendiri jiga tidak tahu apa yang harus lakukan!"
"Maksud kakak apa?"
"Kamu pasti sudah tahu kan siapa yang mas Iqbal masukkan ke dalam penjara itu?" Rara menatap dalam mata Dira.
"Jadi itu masalahnya!"
Setelah itu Rara menceritakan semua yang baru saja terjadi. Tidak ada satupun yang ia tutupi. Entah kenapa gadis itu mampu memberikan semangat untuknya. Itulah sebabnya ia dengan leluasa menceritakan semuanya.
"Aku juga mendengarnya, kak! Tapi yang aku tahu kak Iqbal sama sekali tidak tahu jika beliau adalah ayah kandung kak Rara! Kakak menangkap seorang pencopet di sebuah pasar, setahun lalu. Dan yang dicopet saat itu adalah mama dan aku.!"
Rara terkejut mendengar kebenaran itu.
"Apa?"
"Kira-kira sejak kak Rara pergi itulah baru kami sadar jika orang itu adalah ayah kak Rara. Semua terungkap saat kami, aku dan kak Lukman mencoba mencari tahu dimana kak Rara berada. Pencarian Ki sampai pada seorang pria dalam penjara itu."
Rara mencoba mencerna setiap cerita yang disampaikan oleh Dira. Entah mengapa dalam hatinya tiba-tiba ada rasa sedih yang muncul. Rasa sedih yang merubah pandangan tentang suaminya beberapa saat lalu.
"Ini salah Dira! Ini semakin salah!" katanya tiba tiba.
"Kenapa kak!" Aku dengar jika kasus itu sudah disidangkan dan masa hukuman ayah kak Rara akan secepatnya berakhir. Kak Rara bisa menemuinya jika mau! Aku tahu dimana tempatnya!".
"Bukan itu masalahnya!"
"Lalu?"
"Aku semakin yakin jika aku bukan orang yang tepat untuk kakakmu!"
"Jangan bilang begitu kak!"
"Posisiku semakin jelas , Dira. Sudah jelas jika aku adalah anak seorang narapidana! Bagaimana mungkin seorang napi punya menantu seorang polisi dan seorang jutawan! Semua itu tidak mungkin terjadi!"
Rara bangkit dari duduknya dan pergi menahan air matanya.