A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 36 PULAU BALI 3



Pagi yang indah. Apalagi ini pagi pertama di Pulau Bali sejak mereka datang kemarin siang. Suasana pagi ini begitu segar. Semalam hujan turun meski tidak seberapa deras. Namun cukup membuat pagi ini lebih segar.


Rara sedang sarapan bersama suaminya pagi ini. Iqbal sedang fokus ke arah ponselnya, sedang Rara tengah asyik menikmati turis turis yang lalu lalang di sekitar lobi hotel. Ketika matahari pagi menyinari wajahnya dengan lembut, saat itulah seseorang melihatnya. Seorang laki-laki datang mendekat ke arah meja mereka.


"Rara...!" pekik laki laki itu ketika melihat Rara yang masih fokus menatap jalanan.


"Pak... maafkan saya.!" katanya sambil menganggukkan kepalanya ketika Iqbal menatapnya.


Laki laki yang berseragam pelayan hotel itu tersenyum lantas kembali menatap Rara yang belum bisa mengenalinya.


" Ini aku Ra...Angga!"


Rara mencoba mengingat siapa laki laki itu.


"O...iya aku ingat sekarang! Angga! anaknya Bu Pur, penjaga kantin sekolah! iya kan?"


"Iya bener...Apa kabar kamu?"


Rara bangkit dari duduknya. Ia menjabat tangan Angga. Mereka saling menanyakan kabar. Angga adalah teman sekolah Rara sekaligus anak dari pemilik kantin di sekolahnya.


"Kamu kerja di sini ya?" tanya Rara masih berdiri.


"Iya...! Kamu sendiri ngapain di sini? Jangan bilang kamu liburan...!"


"Hmmm.. Iya Ngga! Oh iya kenalin, ini Mas Iqbal, ...dia suamiku."


Iqbal berdiri. Ia nampak kesal dengan teman istrinya yang tampak sudah sangat akrab dengan istrinya itu. Sementara itu Angga terkejut dan merasa tidak percaya jika orang yang selama ini ia ketahui sebelumnya sebagai bos besar pemilik hotel tempatnya bekerja adalah suami dari teman sekolahnya. Selama ini ia tahu jika Rara adalah seorang gadis sederhana yang memiliki nasib sama dengan dia. Mereka sama sama tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena masalah ekonomi. Oleh karena itu ia masih sulit untuk percaya apa yang terjadi dengan temannya itu kini.


Angga masih tampak belum percaya meskipun Iqbal sendiri sudah memperkenalkan dirinya sendiri sebagai suami Rara. Ia menjadi canggung ketika kembali berbicara dengan Rara. Ia sama sekali tak menyangka jika Rara kini adalah istri dari orang besar.


Mereka tidak bicara banyak. Melihat istrinya begitu bahagia bertemu dengan seorang teman, Iqbal menjadi kurang suka. Ia buru buru mengajak istrinya pergi.


"Angga, aku pergi duluan ya...nanti kita ngobrol lagi. Aku akan mencari kamu lagi nanti."


Angga mengangguk perlahan, meskipun matanya tak lepas dari pandangan suami Rara. Mereka berpisah dan Angga kembali pada pekerjaannya, yaitu karyawan hotel yang bertugas membawakan barang barang para wisatawan yang menginap di sana.


"Mas Iqbal tidak suka ya dengan Angga?" tanya Rara begitu mereka berada di dalam mobil.


Iqbal diam tidak menjawab.


" Kalau mas Iqbal tidak suka aku tidak akan menemui dia lagi. Aku minta maaf mas, dia hanya teman sekolah ku saja. Masak iya kami bertemu di tempat yang jauh seperti ini, terus aku tidak mau menyapanya. Aku bukan orang sombong mas."


"Siapa bilang kamu tidak boleh menyapanya Aku cuma nggak suka saja melihat dia. Sepertinya dia tidak percaya jika kamu itu istriku."


Rara tertawa kecil.


" Mas..mas... bukan cuma Angga saja kali yang nggak percaya kalau kita ini suami istri. Seluruh Indonesia bakalan meragukan status kita seandainya mereka semua tahu siapa aku ini."


"Memangnya kamu kenapa? Jangan jangan kamu bukan perempuan ya?"


Kali ini Rara tertawa begitu lebar.


"Enak saja...aku ini perempuan tulen ya mas."


"Nggak percaya!"


"Ih...mas Iqbal apaan sih! Bercanda Mulu!


"Aku kan belum pernah tahu kamu ini beneran perempuan atau bukan. Ya seharusnya kamu bisa membuktikannya dong!"


Rara diam. Tapi sebenarnya di dalam hati ia merasa sedikit canggung, bagaimana mungkin mereka membicarakan hal beginian di dalam mobil.


"Kenapa? Mikir gimana cara membuktikannya?"


"Oke! mas mau bukti? Akan aku buktikan. Mau sekarang apa nanti malam?" dengan gaya seolah sedang menggoda suaminya, Rara justru membuat suaminya tertawa.


" Tuh kan mas Iqbal nyebelin banget!"


"Nantangin nih ceritanya!"


"Kok jadi kamu sih yang kebelet?"


"Tuh kan mas Iqbal makin nyebelin! Kenapa sih aku selalu kalah kalau berdebat sama kamu mas. Kamu tuh selalu saja bisa menjawab semua yang aku katakan. Dasar nggak peka! Apa apa tuh perempuan nomor satu mas. Jangan buat perempuan dikit dikit ngambek dong!" Rara memalingkan wajahnya ke arah luar. Bibirnya tampak manyun dan hal itu sekali lagi membuat suaminya tertawa terbahak-bahak. Rara tak menoleh sedikitpun meski Iqbal berulang kali memanggilnya dan membujuknya dengan lembut.


"Sudah dong ngambeknya!"


" Nggak mau!"


"Oke deh! Kamu mau apa biar nggak ngambek lagi. Mau makan sesuatu?"


Rara menggeleng.


"Mau belanja?"


Rara masih menggeleng.


"Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf. Aku ini memang bukan cowok yang peka. Aku bodoh. Aku suka bikin perempuan ngambek. Aku nyebelin. Aku selalu mau menang sendiri. Aku suka menomor duakan perempuan. Aku....apa lagi ya...?"


Rara tertawa mendengar kalimat yang disampaikan suaminya. Kemudian Iqbal menoleh ke arah perempuan di sampingnya. Sungguh pemandangan yang indah bagi Iqbal. Ia lagi lagi bahagia melihat dia tertawa. Seperti ada magnet yang menarik perhatiannya. Gadis itu masih tertawa lepas membuat apa yang baru saja terjadi hilang begitu saja. Mereka lupa apa yang terjadi dengan keduanya.


Mobil telah sampai di sebuah tempat. Terdapat sebuah tulisan:


"DREAM MUSEUM ZONE"


Ternyata tempat ini adalah sebuah photo studio indoor yang menampilkan galeri seni lukisan tiga dimensi. Tempat yang penuh dengan lukisan tiga dimensi dan tentunya para pengunjung dapat berfoto-foto dengan ekspresi atau gaya tertentu. Mereka dapat menyesuaikan dengan latar belakang lukisan tiga dimensi.


Di sini terdapat 120 lukisan 3D yang terbagi menjadi 14 kategori. Ada kategori seperti berada di Venesia, yaitu berlatar perahu perahu. Ada seperti saat berada di Mesir dengan latar piramid. Bahkan ada pula latar candi candi seperti saat berada di Indonesia.


Rara mengambil foto sebanyak mungkin dengan kamera ponselnya. Iqbal juga membawa kamera tripod yang ia gunakan untuk berfoto dengan istrinya. Tentu hasilnya akan lebih bagus.


Di sana juga ada para staf yang akan memberikan pelayanan dengan cuma cuma. Mereka dapat membantu atau sekedar menjawab pertanyaan.


Keluar dari tempat itu, mereka kemudian makan siang di sebuah tempat makan sederhana yang menawarkan masakan Jawa. Tentu saja Rara yang memintanya. Semua itu karena kesepakatan mereka saat Iqbal membujuknya agar tidak ngambek lagi tadi.


Pada akhirnya semua yang Rara minta harus dituruti oleh suaminya.


"Sekarang aku mau ke tempat romantis, yang indah yang mengesankan dan tak terlupakan."


"Gampang!"


"Oh ya?"


Iqbal tersenyum kemudian melajukan mobilnya lagi. Tak butuh waktu lama mereka sampai di tempat yang ia janjikan.


Sebuah pantai lagi. Namun ada pura di bibir pantainya yang berkarang. Tempat yang bersih, indah dan tentu saja mengesankan.


" Apa nama tempat ini mas?"


"Tanah Lot. Kita bisa melihat sunset lagi nanti. Sekarang kita lihat ke pura dulu!""


Tanpa minta ijin pada pemiliknya, Iqbal menggandeng tangan istrinya. Ia mengaitkan jari jarinya ke sela jari istrinya. Rara begitu saja menerima setiap apa yang dilakukan suaminya. Ia bahkan merasa sudah terbiasa dengan semua ini. Ia tak mau lagi berpikir terlalu jauh. Baginya kini ia hanya ingin menikmatinya.


Iqbal memakai kacamata hitam yang selalu membuat Rara terkagum kagum. Ia tidak ingin waktu berlalu dengan cepat. Seandainya ia bisa, ia ingin membuat mode slow motion pada adegan ini. Sungguh perasaan yang akan selalu ia kenang sampai kapanpun.


Mereka tiba di sebuah pura. Ada dua pura di tempat ini. Pura ini berada di atas batu karang. Tempatnya sangat indah. Ada banyak orang Bali yang lalu lalang di sini. Mereka berdoa di dalam pura. Selain itu ada juga para wisatawan yang tak mau ketinggalan mengabadikan momen dengan berfoto.


Angin pantai yang semilir membuat suasana yang sebenarnya panas itu menjadi lebih sejuk. Rambut Rara beterbangan di sekitar wajahnya. Dan ia tak menyangka jika sedari tadi suaminya asyik mengamati dirinya. Ia menoleh dan mendapati suaminya yang tersenyum manis. Suaminya yang masih menatapnya itu perlahan meraih rambutnya yang menutupi pandangannya. Rara tercekat. Namun di sisi lain hatinya begitu bahagia. Meski tak pernah ada kata indah yang terucap, namun ia cukup puas dengan semua yang suaminya itu berikan.


Mohon maaf jika salah dalam menggambarkan sesuatu yang ada di Bali. Saya belum pernah pergi ke Bali soalnya.


Cuma mengandalkan browsing.


😘😘😘