
"Mas apa kita harus tidur sekamar?" tanya Rara saat Iqbal membawa barang barangnya ke dalam satu kamar bersama dengan tas ransel miliknya.
" Aku akan tidur di kamar sebelah. Kamu tidur di kamar utama ini. Aku nggak mau jika tiba tiba ada orang berkunjung ke sini mereka lantas curiga melihat barang barang kita nggak ada di tempat yang sama."
" Mas saja yang tidur di kamar utama, aku yang tidur di kamar sebelah. Ini kan rumah mas Iqbal! " kata Rara begitu tahu jika kamar utama ini luasnya kebangetan.
"Aku kan pernah bilang apa yang aku punya akan jadi milik kamu juga. Jadi kamu jangan membantah lagi. Lagian kamar ini tuh jauh lebih luas dari kamar sebelah." jawab Iqbal seraya membuka koper dan hendak mengambil pakaian pakaiannya.
" justru itu mas...aku takut nggak bisa tidur kalau kamarnya seluas ini."
"kamu nih aneh! Kebanyakan perempuan itu suka sama kamar yang luas. Kamu malah nolak. Pokoknya nggak bisa! Ksmu tetap tidur di sini."
Rara mendekat ke arah suaminya lalu meraih koper milik suaminya hendak membantunya.
"Biar aku yang rapikan mas, Mas Iqbal istirahat saja''
" tapi ini semua pakaian kotor. "
"iya aku tahu!"
"taruh saja di keranjang pakaian besok pagi pasti sudah ada yang ngambil."
"Loh kan sekarang sudah ada aku. Ngapain nyuruh orang lain buat nyuciin. Buang buang uang! Kalau cuma nyuci doang sih semua perempuan juga bisa mas."
"Tapi untuk seragam ada perlakuan khusus. Emang bisa?"
"Mas Iqbal tinggal bilang seragam itu musti aku apain."
" Nyucinya jangan pake mesin cuci terus pisahin sama pakaian lainnya. Habis disetrika gantung jangan dilipat."
"sudah? itu saja?" Iqbal mengangguk, " itu sih nggak ada apa apanya. Kalau Mas mau semua pakaian akan aku cuci pake tangan."
Iqbal tersenyum puas, lalu ia bergegas melangkah keluar kamar.
"eh mas...tunggu! " Iqbal menoleh, " mas mau aku masakin apa buat makan malam?"
"Terserah! Tapi aku nggak punya persediaan apa apa di kulkas. Cuma ada telur sama beberapa sayuran. Aku juga nggak makan mi instan jadi aku nggak punya persediaan."
"Tapi beras ada kan?"
Iqbal menggeleng.
"Loh gimana bisa kenyang kalau nggak makan nasi! Mas Iqbal nggak pernah makan nasi ya?" Iqbal hanya tersenyum. Entah kenapa akhir akhir ini ia sering menebarkan senyum manisnya itu pada Rara yang mana membuat gadis itu terus melayang.
Iqbal berlalu. Sementara setelah membereskan semua barang barang Iqbal Rara bergegas membersihkan diri. Kemudian ia menuju dapur, mencari sesuatu di dalam kulkas untuk dimasak. Hanya ada telur dan beberapa sayuran. Akhirnya ia hanya membuat omelet. Menu makan malam yang tidak umum. Tapi karena sudah malam dan cuaca juga sedang tidak bersahabat, mau bagaimana lagi. Makan saja seadanya.
Selesai masak Rara mengetuk pintu kamar suaminya. Tapi tak ada jawaban dari dalam.
Akhirnya Rara memutuskan untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci itu.
Ia mendapati suaminya tengah tertidur pulas. Merasa tak ingin mengganggu, Rara memutuskan untuk tidak membangunkannya. Tapi kemudian ia mendekat begitu tahu jika Iqbal tampak kedinginan karena lupa memakai selimut padahal di luar sedang turun hujan.
Rara memakaikan selimut pada suaminya. Ia melirik wajah natural Iqbal sekilas. Tampak tenang dan teduh. Rara ingin mengakhiri pandangannya pada laki laki itu, namun ia tak sanggup karena ia merasakan kedamaian di sana. Ia terus menikmati wajah itu selama beberapa menit. Ia tersentak saat Iqbal menggerakkan tubuhnya. Rara segera menjauh. Namun ternyata ia kembali tertidur pulas. Rara keluar dari kamar itu dan memilih makan malam sendiri.
Malam itu ia dua kali terbangun dari tidurnya. Ia melihat suaminya, yang mungkin terbangun dan merasa lapar. Namun tak ada yang berubah dari posisi tidur suaminya. Hingga akhirnya ia terlelap sampai subuh datang.
Rara kembali melihat suaminya. Namun sepertinya laki laki itu terlalu capek. Rara lalu memutuskan untuk mencuci pakaian yang semalam ia simpan di keranjang. Ia memilih mencuci semua palaian itu secara manual.
Belum selesai dengan aktivitas paginya, ia dikagetkan oleh suara suaminya.
"Sepagi ini kamu sudah nyuci baju! kamu nggak kedinginan apa?"
"Kenapa nggak pakai mesin cuci? "
" Aku belum terbiasa mas..nanti kapan kapan aku coba. Itu mas di meja makan sudah ada kopi."
"kopi hitam kan?"
Rara mengangguk. Lalu berdiri mengikuti langkah suaminya. Ia duduk di depan suaminya, menemani suaminya menikmati kopinya.
"Mas ntar siang aku mau membeli kebutuhan dapur kita. Aku juga mau beli beras, aku nggak bisa makan kalau nggak ada nasi."
Tanpa menjawab Iqbal beranjak ke kamarnya. Ia kembali dan menyodorkan sebuah kartu ATM pada istrinya itu.
" Kamu kalau belanja pakai ini saja. Kamu boleh beli apapun kebutuhan kamu. Kamu beli juga pakaian buat kamu. Ingat. Ini milik kamu, jadi kamu bebas menggunakannya. Jangan khawatir isinya habis. Setiap bulan secara otomatis isinya akan bertambah." kata Iqbal yang sontak membuat Rara tercengang.
"Kalau mau beli beras mending pake jasa kurir! Nanti perginya naik G*** aja jangan naik ojek online. Pulangnya juga jangan sore sore, ntar kamu kehujanan. Kalau ada apa apa telfon aku."
Seperti seorang ayah yang sedang memberi nasehat pada anak gadisnya, Iqbal berkata pada istrinya. Hal itu membuat Rara merasa bahagia. Ia merasa dikhawatirkan oleh orang yang ia kagumi dan hal itu membawa dampak yang luar biasa pada dirinya. Ia tersenyum dan mengangguk perlahan.
Pagi ini adalah pagi pertama suaminya bekerja kembali. Setelah sarapan hanya dengan sepotong roti, Iqbal bergegas pergi.
Ia memakai seragam kepolisian berwarna coklat itu.Sebelum keluar dari apartemen, Iqbal terlebih dulu memakai kacamata hitamnya. Sebuah perpaduan yang selalu sempurna di mata Rara.
Iqbal telah pergi namun aroma wangi tubuhnya masih ia sisakan untuk Rara nikmati.
Rara melanjutkan aktivitasnya. Setelah semua selesai ia mengganti pakaiannya dan bergegas pergi menunggu mobil yang ia sewa secara online.Mobil pun datang dan Rara pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Ia sebenarnya pernah beberapa kali ke tempat itu dulu sebelum menjadi istri Iqbal. Bukan belanja untuk dirinya sendiri tapi menemani bu Rt yang sering memintanya untuk membantu membawa belanjaannya. Oleh karena itu ia tahu tempat seperti itu.
Selesai belanja Rara hendak kembali ke apartemen. Namun saat hendak masuk ke pintu apartemen ia dikagetkan suara seorang laki laki.
"Maaf permisi!" seorang laki laki berpenampilan keren dengan setelan jas mendekatinya
"Iya...ada yang bisa dibantu?"
" Oh tidak! kenalkan saya Bayu , tetangga Iqbal. Saya baru pulang dari Palembang jadi saya tidak tahu kalau dia telah menikah. Kamu pasti istrinya kan ?"
" iya benar kanalkan saya Rara!" jawab Rara seraya menyambut uluran tangan pria itu.
" ternyata istri Iqbal memang cantik. "
" maksudnya apa ya?"
" Saya senang berkenalan dengan kamu. Saya boleh kan kapan kapan main ke tempat kamu." ujar pria itu lagi. Namun kali ini Rara nampak ketakutan karena pria itu tersenyum menyeringai penuh misteri.
" Maaf! sepertinya saya harus pergi!" katanya kemudian lalu ia bergegas masuk ke dalam apartemen. Ia tak ingin mencari masalah dengan pria itu.
Rara masih ketakutan mengingat sorot mata pria yang aneh itu. Ia mencoba menenangkan diri dengan beranjak ke dapur dan mulai memasak untuk makan malam.
Rara mendengar ponselnya berdering pertanda ada pesan masuk. Ia bergegas membukanya.
'Ra..aku nanti pulang agak terlambat, mungkin habis maghrib baru sampai. Aku dapat pesan suruh ke kafe bentar ada yang harus aku urus'
Rara mengetik balasan untuk suaminya.
' iya mas...aku sudah masak nanti makan di rumah ya...'
Rara tersenyum bahagia. Ia menunggu kepulangan suaminya dengan mengerjakan pekerjaan rumah agar ia tak bosan. Jam dinding menunjuk angka lima lebih, namun ada yang mengetuk pintu. Rara awalnya ragu takut jika yang datang bukan suaminya. Tapi ia mencoba melawan perasaan itu.
Rara membuka pintu dan betapa ia terkejut saat tahu siapa yang datang.