
Bulan Desember baru masuk minggu ke tiga. Sebentar lagi ada perayaan natal dan tahun baru. Tentu saja bagi seorang polisi seperti Iqbal ini merupakan saat saat tersibuknya. Oleh karenanya, atasan Iqbal tidak memberi waktu cuti yang panjang.
Di atas meja sudah ada sebuah amplop berwarna coklat. Rara duduk di samping ranjang merapikan pakaiannya. Iqbal yang baru selesai mandi bergegas mengambil amplop itu. Ia menyodorkannya pada istrinya.
" Ini hadiah buat kamu dari Lukman.! "
" apa ini Mas? "tanya Rara penasaran seraya menerima amplop itu. Lalu ia membukanya.
Ada dua lembar kertas berwarna putih dan biru. Ia membaca sekilas ternyata itu adalah tiket pesawat ke Bali. Rara masih bertanya tanya untuk apa tiket itu. Kemudian ia menemukan selembar kertas lainnya. Ia membacanya lagi. Ia membacanya, ternyata itu kado dari Lukman dan Mia untuk mereka berdua.
" bulan madu?" tanyanya heran, " apa perlu Mas? "
" Aku minta maaf aku nggak bisa ngajak kamu pergi. Atasan aku cuma ngasih cuti 3 hari. Sekarang aku mau ngajak kamu ke Jakarta. Tante dan om nyuruh kita ke sana.Besok kita pulang . Jadi sekarang lebih baik kamu bersiap, nanti siang kita berangkat " jawab Iqbal menjelaskan.
" Terus tiket ini buat spa Mas?! "
" Kalau kamu mau pergi, kamu boleh ajak siapa aja buat pergi sendiri. Nenek mungkin? " jawabnya lagi.
" Apa kata nenek nanti. Ya mending aku juga nggak pergi mas... "
" Yakin kamu nggak apa apa?! "
" ya enggak lah Mas... Lagian aku juga nggak butuh...! lebih baik mas fokus ke kerjaan mas. Mas Lukman juga sudah bilang kalau sebentar lagi pekerjaan mas akan banyak. Aku tidak apa apa mas...!"
Iqbal tersenyum mendengar jawaban istrinya.
" Ya sudah kita sarapan dulu ke bawah, nanti kamu bisa lanjut berkemas." ajaknya kemudian dan Rara bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti suaminya.
Iqbal meraih tangan istrinya yang tentu saja membuat yang empunya tangan terbelalak tak percaya. Ia mengaitkan tangan itu ke lengannya. Sontak Rara merasa canggung.
Kini tangannya sudah melingkar di lengan suaminya. Mereka berjalan beriringan dengan senyum mengembang.
Tak disangka di sepanjang koridor menuju restoran para karyawan menyapa Iqbal, seraya mengangguk pelan. Iqbal membalas dengan senyuman ramah. Bahkan Rara pun juga dapat jatah anggukan dan senyum ramah dari mereka. Rara pun membalas dengan senyum terbaiknya.
Mereka sampai di restoran di lantai dasar. Mereka bergabung dengan penghuni hotel yang lain. Mereka menikmati sarapan mereka, sebelum kembali ke kanar untuk melanjutkan berkemas.
"Mas...kira kira kalau kita mampir ke suatu tempat sebentar apa nanti kita akan terlambat ?"
" kamu mau ke mana ?!"
Iqbal mengangguk lalu tersenyum. Kemudian ia mengemasi barang barangnya dan meteka bergegas pergi kembali ke lantai dasar , ke tempat resepsionis dan mengkonfirmasi jika mereka akan meninggalkan hotel. Setelah itu mereka menuju parkiran hotel.
Di mobil tak ada obrolan berarti. Rara tidak memberi tahu kemana ia mau diantarkan. Ia hanya memberi tahu arah jalannya. Setelah mobil memasuki gang sempit Iqbal tiba tiba teringat jika jalan itu adalah jalan menuju rumah nenek.
"ini bukannya jalan ke rumah nenek ya?!"
" iya mas...tapi kita tidak akan ke sana!"
Iqbal masih bingung. Sementara mobil melaju dengan kecepatan rensah. Hingga sampailah mereka di depan sebuah tempat pemakaman. Rara menyuruh suaminya menghentikan mobil.
" Mas! mas Iqbal tunggu di sini saja. Aku mau ke tempat ibu...sebentar kok mas...!" katanya seraya meraih sebuah hijab dari dalam tas ranselnya. Kemudian ia menoleh sesaat pada suaminya yang masih dibuat bingung. Ia tersenyum lalu turun dari mobil. Namun Iqbal masih bisa melihat raut mukanya yang menahan kesedihan.
Iqbal melihat istrinya menuju ke dalam pemakaman. Namun Iqbal tak melihat air mata yang sudah membanjiri wajah istrinya. Namun ia tahu pasti perasaan gadis itu sekarang.
Rara duduk bersimpuh di depan makam ibunya. Air matanya kini sudah tak bisa ditahannya lagi. Ia mendoakan ibunya agar tenang di alam sana.
" Ibu....maafkan Rara...! Rara tahu ibu sudah bahagia di sana. Rara hanya ingin bilang jika sekarang Rara telah menjadi seorang istri. Rara telah menikah dengan seseorang yang pasti akan ibu suka seandainya ibu ada di sini. Dia orang yang baik bu sesuai dengan menantu idaman ibu dulu...namanya mas Iqbal. Dia seorang polisi. Dia juga tampan bu...sama persis seperti yang dulu sering ibu bilang pada ku. Dulu ibu selalu bilang agar aku mencari suami yang baik mapan dan tampan. Semua keinginan ibu terwujud...dan ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Aku bahagia di sini bu...!" Rara terus berbicara dan sesekali tangannya mengusap air mata di pipinya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang terus mengawasi dan mendengar keluh kesahnya.
" Apapun nanti yang akan terjadi denganku, semua adalah pilihanku bu...ibu tidak usah sedih. Aku akan baik baik saja. Aku pasti bisa melewati semua yang mungkin suatu saat akan ada masanya di hidupku. Yang pasti sekarang... aku bahagia dengan pilihan hidupku bu...jadi ibu tenang ya di sana...semoga Allah memberi ibu tempat yang indah...!"
Seseorang yang sedari tadi mengawasinya perlahan mendekat. Ia lalu duduk berjongkok di sebelah istrinya. Ia membelai puncak kepala gadis itu yang sontak membuat pemiliknya tercekat.
" kamu kok nggak ngenalin aku ke ibu mertuaku sih! kamu ini diam diam jahat ya..."
" Mas... ngapain mas Iqbal di sini?!" tanya Rara dengan air mata yang makin menganak sungai melihat kedatangan suaminya.
Tanpa diberi aba aba Iqbal lantas meraih istrinya untuk ia dekap karena ia tahu isaknya semakin menjadi begitu melihatnya. Sementara merasa ada yang menghiburnya Rara semakin mengeratkan pelukan itu.
" lain kali kalau mau ke sini kamu tinggal bilang aku pasti akan mengantarmu. Sekarang sudah ya...Jangan menangis lagi! Bukankah aku pernah bilang kalau paling benci melihat perempuan menangis!"
Rara merasakan sebuah rasa yang indah. Rasa yang sama seperti yang nenek berikan dulu saat ibunya meninggal. Ia seolah mendapat tempat perlindungan. Meskipun di sisi lain ia juga merasakan sebuah getaran yang sama. Getaran yang ia rasa setiap berada di dekat suaminya ini.
Terima kasih sudah memaca...
salam manis...