
Tante Wina menceritakan banyak hal tentang Iqbal dan keluarganya. Meskipun ketika tante Wina masuk ke keluarga ini, Iqbal sudah lahir tapi ia tahu pasti masa kecil Iqbal yang penuh dengan kesempurnaan seorang anak. Bagaimana tidak di usia yang masih sangat kecil ia harus kehilangan Ibunya. Tapi tante Wina juga menceritakan jika karena hal Itulah pada akhirnya Iqbal memiliki jiwa yang tangguh dari kecil.
Mereka berempat berada di meja makan untuk makan malam. Rara merasa memiliki keluarga baru karena baik om Yuda maupun tante Wina menunjukkan perhatian mereka kepadanya. Mereka seolah memiliki anggota keluarga baru yang harus disambut dengan perayaan. Meskipun sederhana tapi makan malam kali ini begitu istimewa bagi pasangan suami istri yang mengharap kehadiran seorang menantu di keluarganya. Pasalnya satu satunya anak mereka masih kuliah di luar negeri. Namanya Dira, satu satunya anak perempuan om dan tante. Rara dapat melihat foto gadis itu di salah satu sudut dinding.
" Ra... gimana? Iqbal bersikap baik kan sama kamu?!" tanya tante Wina seraya melirik ke arah Iqbal. Rara mengernyitkan dahinya.
" Maksud tante....iqbal itu terkenal dingin dan cuek. Tante penasaran saja, apa setelah kalian menikah sikapnya itu masih sama atau sudah berubah?"
Sebelum menjawab Rara menoleh ke arah suaminya yang juga sedang menatap dirinya.
Rara mengeluarkan senyum kecil sementara Iqbal yang duduk di sampingnya hanya diam sambil terus melanjutkan makannya.
" Sekarang sih...sudah tidak tante, tapi dulu bener banget apa yang tante bilang. Bahkan pertemuan pertama kami saja dia sudah bersikap seperti yang tante katakan... "
"Memang gimana awal kalian ketemu?" tanya tante Wina penasaran.
" Jadi waktu itu saya mau dipalak sama preman tante. Tapi mas Iqbal kemudian datang dan menolong saya. Tapi tante tahu nggak... masak habis nolong seorang cewek ya udah ditinggalin gitu aja...! nggak nyapa nggak pamit ...! Bahkan sama sekali nggak noleh...gimana perasaan tante seandainya tante jadi Rara.! sebel kan !" jawab Rara meyakinkan dengan matanya tajam menatap ke arah suaminya.
Tante Wina dan om Yuda tertawa mendengar ceritanya. Sementara Iqbal mendengus kesal seolah mereka bertiga sedang menertawakan dirinya.
" Tante jangan percaya sama dia...!" ujar Iqbal, " dia itu sebenarnya mengharap lebih sama Iqbal! Ya wajar seorang polisi menyelamatkan seseorang kan tante...?Terus dimana letak salahnya. Kalau nggak si cewek yang ada maunya!" lanjut Iqbal yang membuat istrinya sontak makin terlihat kesal.
" Tuh kan...horang ganteng mah bebas tante...! ngomong apa aja maunya menang sendiri!" jawab Rara.
"nah itu...udah ngaku kan kalau suami kamu ini ganteng...!"
Tante Wina dan om Yuda masih dibuat terbahak dengan perdebatan mereka.
"sudah sudah...kalian kayak anak kecil saja...!" kata om Yuda masih dengan tawanya.
" iya nih...tante makin yakin kalian ini memang jodoh....!" lanjut tante Wina dan mereka tertawa bersama.
Selesai makan malam mereka melanjutkan ngobrol di ruang keluarga. Tante Wina dan om Yuda memberi nasehat kepada kedua pengantin baru itu. Rara dan Iqbal tampak dengan senang hati menerima semua yang kedua orang tua itu sampaikan. Meskipun dalam hati, mereka berpikir tidak akan semudah itu mempraktekkan semua. Apalagi ketika mereka membahas tentang seorang cucu. Rara tertawa geli dalam hati mendengar permintaan yang sama sekali tidak akan bisa mereka wujudkan.
Obrolan yang begitu hangat itu membuat Rara merasa betah berlama lama berada diantara keluarga suaminya. Akan tetapi matanya sudah tidak bisa dikondisikan lagi. Rara memang terbiasa tidur lebih awal karena ia harus bangun lebih pagi ketika masih tinggal bersama neneknya. Ia bangun pagi karena ia harus memasak serta mempersiapkan segala keperluannya dan juga neneknya. Setelah itu ia harus pergi berjualan.
Seperti dirumah ini. Ia bergegas pamit hendak istirahat ke kamar. Namun Iqbal mengatakan jika ia masih ada yang ingin dibicarakan dengan om Yuda. Lalu ia meminta istrinya untuk istirahat terlebih dahulu.
Di dalam kamar yang membuatnya berdecak sore tadi itu Rara merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Spreinya tampak baru diganti dengan motif bunga mawar. Sekali lagi ia mengamati setiap sudut kamar itu. Lalu ia ingat satu hal jika ini bukanlah kamarnya. Jadi ia memilih pindah ke sebuah sofa. Ia mengambil sebuah bantal lalu mencoba mencari selimut di dalam lemari.Ia menemukannya dan segera menuju sofa karena matanya kini terasa semakin tidak tertahankan. Beberapa menit kemudian ia telah sampai ke alam mimpi.
Iqbal masuk ke dalam kamar sekitar jam sebelas malam. Betapa ia terkejut mendapati istrinya tengah tertidur pulas di atas sofa. Ia lalu mendekati gadis itu. Ia tidak tega melihatnya tertidur dengan posisi hampir terjatuh karena ia terlihat begitu lelah. Ia memindahkan istrinya untuk tidur di atas ranjang. Gadis itu sama sekali tidak terbangun. Ia hanya menggeliat pelan lalu kembali tertidur pulas. Iqbal tersenyum tipis melihat istrinya. Kemudian ia naik ke atas sofa dan tidur di sana.
Apa mas Iqbal menukar tempat tidur kami ya? Kenapa? dia tidak seharusnya berbuat seperti itu padaku ...
Rara lalu bangkit dari duduknya. Ia ke kamar mandi lalu pergi ke dapur yang ada di lantai bawah. Di sana sudah ada mbak Sri, asisten di rumah ini. Mbak Sri kaget melihat kedatangan majikan barunya. Tidak seharusnya ia berada di dapur apalagi di jam seperti ini.
" Mbak Sri nggak perlu khawatir, saya sudah terbiasa bangun pagi mbak...! sini saya bantu mbak...!" katanya seraya mendekati mbak Sri yang mengiris sayuran di atas meja dapur.
" Non Rara nggak usah repot repot...saya bisa kok non...nanti nyonya besar akan marah non..." jawab mbak Sri sedikit khawatir.
" Nggak mungkin lah tante marah...lagian kapan lagi saya bantu mbak Sri, ntar siang saya sudah harus pulang loh mbak...!"
" kok nggak nginep lebih lama lagi sih non...masak cuma sehari doang...!"
" iya ...mas Iqbal cutinya cuma sampai besok mbak...saya saja belum pulang ke apartemen sama sekali. Kami berangkat ke sini dari hotel jadi apartemen mas Iqbal pasti masih berantakan."
Mereka asyik ngobrol hingga pagi menjelang. Sinar matahari begitu cerah. Semua yang mereka masak sudah selesai. Rara pamit kepada mbak Sri untuk mandi dan membangunkan suaminya.
Iqbal sudah rapi dengan celana jeans dan kaos santainya saat Rara masuk ke dalam kamar. Aroma wangi parfum maskulin suaminya bembuat pikirannya tenang. Ia menyapa suaminya dengan manis. Lalu ia menuju tas ranselnya mencari baju ganti.
" Kamu dari mana?"tanya Iqbal.
" masak lah mas...ngapain lagi pagi pagi gini!"
"emang kamu bisa masak?"
"mas pikir sebelum ada mbak Dewi siapa coba yang masakin nenek? ya aku lah mas...jangan anggap enteng ya...gini gini kalau cuma masak sih...nggak ada apa apanya buat aku!"
" Kalau gitu nanti kita buktikan rasa masakan kamu !"
" boleh.!" jawabnya seraya melangkah ke kamar mandi.
Mereka turun ke bawah bersama sama. Di meja makan om Yuda dan Tante Wina sudah duduk menunggu mereka. Rara duduk bersebelahan dengan Iqbal. Rara mengambil nasi goreng yang tadi ia masak betsama mbak Sri. Ia mengambil untuk suaminya, om dan tantenya. Terakhir ia mengambil untuk dirinya.
" Kamu ini benar benar menantu idaman ya Ra... !" kata tante Wina saat merasakan nasi goreng buatan Rara yang ternyata enak, " tante nggak nyangka kalau kamu pinter masak! wah ...jelas Iqbal makin gemuk nanti,!"
" Tante bisa saja... Saya bisa masak juga karena nenek yang ngajarin!"
Rara merasa mendapat nilai seratus dalam ujian. Ia merasa bahagia mendengar pujian dari om dan tantenya yang notabene sebagai mertuanya. Iqbal meliriknya dan tersenyum puas padanya.