A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 32 API CEMBURU



Sepulang dari panti asuhan , Rara meminta untuk diantar ke rumah nenek. Ia mengatakan pada Iqbal bahwa sebelum ke Bali ia ingin berpamitan pada nenek. Namun setelah mengiyakan permintaan istrinya, tiba tiba Iqbal mendapat panggilan telfon. Sg a menepikan mobilnya sejenak, kemudian tampak berbicara dengan seseorang. Entah apa yang dibicarakan yang jelas Iqbal tampak menjanjikan sesuatu.


"Mas ada pekerjaan ya? Aku nggak apa apa kok kalau mau ditinggal di rumah nenek. Nanti aku bisa pulang sendiri naik ojek online. Mas urus saja pekerjaan mas." kata Rara begitu suaminya itu selesai dengan panggilannya dan segera melajukan mobilnya kembali.


" Iya sih! tapi bukan kerjaan kok.! Ada temanku dari kepolisian yang sedang merayakan hari jadi di kafeku. Mereka meminta aku untuk untuk datang. Aku nggak enak kalau harus nolak."


"Oh begitu! Ya nggak apa apa mas...! Mas Iqbal pergi saja".


" Iya... Tapi nanti aku jemput kamu. Kamu jangan pulang sendiri." jawabnya penuh rada khawatir pafa istrinya.


Rara hanya tersenyum seraya mengangguk perlahan. Setelah tiba di rumah nenek mereka disambut oleh nenek dan mbak Dewi yang siang itu tengah duduk santai di teras depan.


" Nenek...!" pekik Rara seraya berlari kecil ke arah nenek. Ia menyalami nenek dan mbk Dewi. Begitu pula dengan Iqbal.


"Bang Soleh mana? Emang kalau siang gini nggak pulang ya?" tanya Rara sambil matsnya celingukan mencari sosok abangnya yang kini bekerja di sebuah SPBU.


" Enggak Ra..., ini kan musim liburan jadi nonstop kerjanya." jawab mbak Dewi seraya mempersilakan Rara dan suaminya masuk ke dalam.


"Mas Iqbal langsung pergi nek...aku ditinggal di sini. Nanti dijemput lagi."


"Loh katanya sudah dapat cuti, kok Rara dibawa kesini lagi?"


"Bukan nek... Kebetulan hari ini saya ada acara sama teman. Kami tadi di jalan habis dari suatu tempat, tiba tiba ada teman saya yang ngajak saya keluar. Saya nggak enak mau nolak. Saya sudah terlanjur bilang sama Rara mau ngantar dia ke sini. Jadi Rara minta ditinggal disini, nsnti saya jemput lagi.!"


"Oh..gitu! Kirain ksmu banysk kerjaan lagi."


"Sudah nggak nek! Besok kami juga mau pergi ke Bali. Jadi hari ini kami ke sini sekalian mau pamit."


"Oh ya? bulan madu?" tanya mbak Dewi antusias.


"Iya"


"Bukan!"


Dua orang itu memberi jawaban yang berbeda hampir bersamaan. Iqbal bilang iya, Rara bilang tidak. Nenek dan mbak Dewi mengerutkan dahi.


"Maksudnya iya nek...kita memang mau bulan madu tapi tidak ada niat sebenarnya. Jadi bolehlah kalau dibilang mau bulan madu.." jawab Rara melirik Iqbal yang tertawa lirih cekikikan hampir tak terdengar.


"Ya sudah mas..sana buruan berangkat! Nanti teman teman kamu pada nunggu loh!" ujarnya lagi kemudian seolah olah ingin suaminya segera pergi agar tak banyak ditanya oleh keluarganya.


Merasa mengerti apa yang dihadapi istrinya, Iqbal segera pergi. Ia menuju ke kafe miliknya. Di sana sudah ada beberapa teman temannya yang bertugas di kepolisian. Mereka adalah sekumpulan polisi polisi muda.


Diantara mereka ada seorang wanita cantik berambut pendek. Meski tanpa seragam, semua akan tahu jika ia seorang polisi wanita atau polwan. Wanita itu tersenyum paling manis diantara para polwan lain disana. Mereka saling sapa termasuk perempuan yang tampak tersenyum malu malu begitu Iqbal tiba di sana.


" Bal...Kirana ini kan nggak kamu undang pas kamu nikah. Soalnya waktu itu dia lagi pulang kampung ke Sumatra. Pas kita ngomong kamu sudah nikah meski secara mendadak e...dia nggak percaya. Katanya nggak bakalan percaya kalau belum mengenal istri kamu." kata salah seirang dari mereka smbil asyik menikmati makanan mereka.


"Ben, apaan sih!" jawab perempuan cantik itu yang ternyata bernama Kirana atau akrab disapa Ana.


"Habis ini aku mau jemput dia, kalau mau ikut ayo.... Nanti aku kenalin, jangan khawatir dia baik kok...!" jawab Iqbal.


"Tuh kan! bener! aku bilang juga apa... istrinya Iqbal itu pasti welcome sama siapa saja. Udah sana ikut..." ucap salah seorang lagi.


"Iya ...tinggal kamu saja yang belum pernah kenalan. Dari pada mati penasaran ya...!"


Tanpa babibu lagi, Ana masuk ke dalam mobil Iqbal. Mereka akan menjemput Rara lalu mengantar Ana pulang.


"Mas Iqbal kenapa mendadak menikahnya? Kenapa aku tidak mas beritahu?. Meskipun aku nggak bisa hadir di pernikahan mas kan aku seharusnya tahu. " kata Ana penuh penyesalan seakan akan pernikahan Iqbal adalah sesuatu yang penting baginya.


"Maaf! Aku bukannya mendadak menikah, cuma aku belum sempat mengenalkan calon istriku saja waktu itu."


"Aku rasa aku belum pernah melihatnya bersama mas Iqbal. Pandai sekali mas Iqbal menyembunyikan dia.!"


"Ngomong ngomong, selamat ya mas...semoga mas Iqbal segera diberikan momongan. Aku pasti akan bahagia kalau istri mas Iqbal akan bersikap baik padaku."


" Rara itu baik orangnya. Baik sekali malah. Aku yakin kamu nggak akan kecewa setelah mengenalnya."


Tanpa mereka sadari mobil telah sampai di depan rumah nenek . Rara sudah tampak sudah menunggu suaminya di teras depan bersama nenek dan mbak Dewi. Akan tetapi betapa terkejut dirinya ketika mendapati suaminya membawa perempuan lain. Apalagi perempuan itu tampak cantik tinggi semampai. Yang lebih membuatnya merasa kecil adalah Iqbal yang ternyata tampak begitu akrab dengan perempuan itu.


Seolah ada petir di siang bolong, perasaan Rara saat itu hancur berkeping keping. Perempuan itu memang tidak menampakkan kemesraan dengan suaminya. Namun ada sesuatu dari perempuan itu yang tampak berbeda ketika matanya menatap ke arah


suaminya.


Iqbal memperkenalkan Ana pada istrinya, dan keluarganya. Setelah sedikit berbada basi mereka bertiga akhirnya undur diri. Setelah tadi Ana yang duduk di kursi depan kini tempat itu telah menjadi milik Rara kembali.


Ada getar yang sulit diartikan. Wajah Rara tampak murung seakan sandiwara yang sedang mereka lakonkan sudah berubah menjadi kisah nyata. Hatinya berkecamuk tidak karuan. Ia merasa ketakutan. Takut kehilangan, takut ia segera terbangun dari mimpi mimpinya dan takut jika perempuan itulah yang akan menjdi penggantinya.Semua perasaan itu campur aduk menjadi satu. Namun ia mencoba menunjukkan sikap yang biasa saja seolah dirinya menerima uluran persahabatan dari Ana.


Iqbal dapat melihat sebuah kepiasan di wajah istrinya. Ia melirik Rara sesering yang hatinya mau. Ia ingin segera sampai rumah dan menjelaskan semua yang masih menjadi pertanyaan itu. Ia tahu hati orang yang mulai ia sayangi itu dalam keadaan tidak baik. Namun karena di situ ada Ana, ia tak menanyakan apapun seolah semua dalam keadaan baik.


Setelah mengantar Ana pulang, Iqbal kemudian melajuksn mobilnya kembali. Meskipun Ana memintanya untuk mampir tapi ia tidak mau. Begitu juga dengan Rara. Ia ingin segera pulang dan tak lagi melihat perempuan itu.


Rara masuk ke dalam kamarnya begitu sampai rumah. Bahkan setelah selesai membersihkan diri lalu menghangatkan makan malam, ia tak berkata sedikitpun. Mereka makan malam tanpa obrolan yang berarti.


Ketika Rara hendak bersnjak dari duduknya, Iqbal mencoba menarik tangannya.


"Aku tahu ada yang tidak beres dengan kamu!"


"Aku nggak apa apa mas...! Aku cuma lagi capek saja. Aku mau beres beres buat besok kita ke Bali, habis itu terus istirahat!"


"Hei... mata kamu ada apanya tuh?"


Rara mengusap matanya dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih berada di tangan suaminya.


"Ada apa sih mas?" Rara tampak semakin kebingungan karena melihat suaminya tampak tersenyum senyum sendiri.


"Kayaknya ada aku tuh di mata kamu....!"Iqbal tersenyum puas sementara Rara tampak semakin kesal dan menarik tangan kanannya dari Iqbal dan mencoba belalu namun tak berhasil karena Iqbal menarik tangan itu agar Rara tak berlalu.


Kemudian pada akhirnya tangannya berhasil lepas setelah Iqbal melepasnya. Tapi ada suara tawa Iqbal di akhir pertikaian yang lucu itu. Rara semakin dibuat kesal dan kekesalan istrinya itu justru semakin membuatnya bahagia. Iqbal menyadari satu hal, ada api cemburu di mata istrinya yang membuatnya merasa semakin mengsgumi gadis itu.


**Maaf baru up...


musim liburan ya....refreshing dulu...


Salam manis**