
"Kamu jangan gitu dong sayang! Ayo dong! Ini kan sudah siang! Katanya tadi bangun kesiangan. Kamu nggak mau telat kan?" bujuk Iqbal pada istrinya yang masih tidak mau naik ke dalam mobilnya.
Rara masih terlihat kesal dan tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh suaminya. Ia tetap memilih berjalan meskipun mobil suaminya masih mengikuti langkahnya. Hingga beberapa saat kemudian ponselnya berdering. Ternyata itu dari Sita yang khawatir padanya karena sudah siang namun ia belum juga muncul. Entah karena memang ia sudah kehabisan waktu atau karena kembali terpesona dengan senyum manis suaminya, Rara akhirnya bersedia masuk ke dalam mobil.
Betapa senangnya hati Iqbal melihat istrinya yang tampak kesal namun begitu manis. Bahkan ia tidak mengijinkan istrinya untuk membuka pintu. Ia keluar dari kursi kemudi lalu membukakan pintu di sebelahnya untuk sang istri. Dan seperti seorang putri, Rara merasa menjadi orang istimewa. Dalam hatinya ada perasaan yang sebenarnya begitu menginginkan semua ini dari awal. Namun lagi-lagi karena gengsi yang telah menutup seluruh rasa dalam dirinya.
"Kamu masih tetap manis saat kesal dan marah-marah. Aku makin sayang sama kamu tahu nggak!"
"Mas Iqbal bisa nggak sih nggak usah ngerayu terus kaya gitu"
"Kan kamu sendiri yang mulai!"
"Kok jadi aku?"
"Kalau kamu mau ngikut dikit aja apa yang aku mau, nggak usah dirayu juga kamu udah klepek-klepek!"
"Memang mau sampai kapan mas Iqbal seperti ini?"
"Sampai aku bisa membawamu pulang kembali ke rumah kita."
"Mas Iqbal nggak akan berhasil!"
"Tapi aku yakin dan percaya jika aku akan berhasil. Kamu jangan khawatir, aku masih memiliki 28 hari lagi. Jika hari ini tidak berhasil, mungkin besok, mungkin lusa...Aku akan selalu setia mengunggu kamu!" kata Iqbal masih dengan senyum manisnya.
"Jika sampai 30 hari aku tetap tidak mau bagaimana?"
"Aku akan tetap menunggu, meskipun seribu tahun lamanya." kali ini ada sirat kesedihan di mata Iqbal. Dan Rara tahu akan hal itu.
Mobil terus melaju hingga sampai di tempat kerja Rara. Toko bunga yang sudah dibuka oleh Sita pagi itu. Kemudian gadis itu keluar karena mengira itu mobil mbak Dita. Namun yang ia dapati adalah sahabatnya, Rara yang keluar dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh suaminya.
"Sita!" panggil Iqbal kemudian setelah menutup pintu mobil.
Sita dan Rara menoleh bersamaan.
"Nitip bidadari ku ya! Kalau ada apa-apa, telfon aku!"
Sita terkekeh mendengar permintaan Iqbal. Namun tawanya berhenti saat tahu Rara hampir mau mencubit pinggangnya. Kemudian ia berdecak kesal dan berlalu meninggalkan suami dan sahabatnya yang masih asyik tertawa.
"Kenapa sih kamu nggak ikuti saja kemauan suami kamu itu? Dia suami yang baik loh!" kata Sita memulai obrolan sambil merangkai bunga-bunga di depan mereka.
"Aku nggak tahu sit! Aku sebel tahu nggak sama dia. Kamu tahu nggak dia sudah berani masuk ke tempat kostku. Bahkan dia mengumumkan bahwa kami suami istri dan dia juga akan tinggal bersama denganku."
"Kalau begitu dia tidak main-main dengan janjinya itu! " jawab Sita terheran karena dia tahu jika Iqbal sudah mengucap janji seperti yang sahabatnya katakan kemarin malam di telfon.
"Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?"
"Kita lihat dulu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi kalau menurutku, suami kamu itu bukan laki-laki sembarangan. Jarang ada orang seperti dia. Coba bayangkan, seorang laki-laki normal hidup dengan seseorang perempuan dalam satu rumah tanpa terjadi suatu apapun. Dan hal itu berlangsung selama berbulan-bulan. Apa semua itu belum cukup untuk membuktikan perasaannya?"
"Masalahnya bukan aku meragukan perasaannya. Aku kan sudah bilang aku percaya dan tidak akan meragukan semua yang dia katakan. Tapi kamu tahu sendiri kan aku ini siapa dan dia siapa! Aku tidak mungkin menjadi istrinya jika satupun dari keluarganya tidak ada yang menyukaiku!"
"Dia tidak mempedulikan semua itu, dan kamu tahu itu kan?"
"Iya! Dan kamu pikir aku perempuan egois dan tidak tahu malu. Aku sadar, bahkan sangat sangat sadar siapa aku. Kalau kamu jadi aku, apa bisa kamu hidup diantara keluarga yang terpecah hanya karena keegoisan kamu. Aku tidak mau mas Iqbal terpisah dari keluarganya hanya karena aku."
"Dia kan cuma ibu tiri yang sebenarnya juga tidak pernah disukai oleh suamimu. Apa yang kamu khawatirkan?"
"Aku tidak khawatir dengan wanita itu. Aku hanya tidak bisa melihat Tante Wina dan om Yuda, orang yang begitu baik padaku namun sudah kukecewakan. Mereka berdua sangat membenciku."
Telepon di atas meja nakas mbak Dita tiba-tiba berdering. Rara yang posisinya dekat dengan meja segera mengangkatnya.
"Siapa Ra?" tanya Sita saat telepon sudah mati dan Rara menaruh kembali gagangnya.
"Ada orang pesan bunga. Aku siapkan dulu ya!" Rara segera mengambil pesanan bunga yang minta segera dikirim tersebut.
Setelah selesai menyiapkan bunga bunga yang dipesan, Rara segera menyiapkan motor milik mbak Dita yang selalu ia gunakan untuk mengantarkan bunga pesanan orang.
Rara segera pergi ke tempat yang dikatakan oleh wanita itu. Dan ketika sampai di hotel itu, Rara baru menyadari jika hotel yang dimaksud adalah hotel milik keluarga suaminya. Tiba-tiba ia merasa ragu untuk masuk ke dalamnya.
'Pasti tidak ada yang mengenalku di sini. Lagi pula belum tentu yang memesan adalah pihak hotel. Bisa jadi yang pesan adalah salah satu penghuni kamar di hotel ini.' begitu pikirnya dalam hati.
Kakinya melangkah dengan pasti berharap tidak ada yang mengetahui siapa dirinya. Ia menuju lobi hotel dan bertanya pada seorang resepsionis disana.
"Permisi, saya mengantar pesanan bunga atas nama ibu Sinta."
"Oh iya! Ibu Sinta sudah menunggu. Silahkan masuk ke lorong itu, ada ruangan manager disana, kamu ketuk saja!" jawab resepsionis itu dan Rara segera melangkah ke tempat yang dituju.
Di ruangan itu sudah ada seorang perempuan cantik yang menunggu. Perempuan itu menerima buket buket bunga yang dibawanya.
"Yang ini pesanan bapak direktur utama, kamu antar sendiri ke ruangannya ya!" kata perempuan itu sambil menyerahkan sekuntum mawar merah yang bukan pesanan miliknya melainkan milik atasannya.
"Baik Bu! Dimana ruangannya?"
"Itu disana! Kamu ketuk saja!"
"Baik Bu! Terimakasih!"
Rara melangkah menuju ke ruangan yang ada di sebelah ruangan manager tempat ia pertama masuk. Ia mengetuk pintu perlahan, kemudian ia segera membukanya.
Seseorang tampak sedang duduk di sebuah kursi kebesaran. Tapi laki-laki itu tidak menghadap ke arahnya melainkan ke arah jendela. Rara melangkah perlahan setelah menutup pintu kembali.
"Permisi pak! Saya mengantar pesanan bunga untuk bapak!" tanyanya sedikit ragu-ragu karena ia tahu dengan siapa dia berbicara saat ini.
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia kemudian memutar kursi yang ia duduki dan terlihatlah wajah yang tidak asing lagi bagi Rara.
"Mas Iqbal!" pekik Rara terperanjat.
Iqbal tersenyum penuh semangat. Ia berpenampilan sangat berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya Rara bahkan sudah hapal dengan semua seragam kepolisian yang pernah suaminya itu pakai, kini ia tak melihatnya seperti itu. Iqbal memakai setelan kemeja dan jas berwarna hitam. Benar-benar penampilan yang sempurna.
Rara masih dibuat bingung harus melakukan apa. Meskipun sebenarnya dalam hatinya ia merasa begitu terhipnotis dengan penampilan baru suaminya itu. Satu pemandangan yang lagi-lagi membuatnya melayang. Tapi buru-buru ia tepis perasaan itu.
"Kenapa? Penampilanku aneh ya?" tanya Iqbal saat tahu Rara memandangi dirinya dengan takjub.
Rara tidak menjawab. Tiba-tiba ia ingat jika diantara mereka sedang ada jurang yang memisahkan dan Rara segera menunjukkan bahwa dia sedang kesal. Kemudian ia segera beranjak dari tempatnya berdiri. Namun dengan sigap Iqbal menghentikan langkahnya. Ia menarik tangan gadis itu. Hingga pada akhirnya ia hampir terjatuh dan Iqbal berhasil menangkap pinggangnya.
Tiba-tiba ada sesuatu yang merangkak masuk ke dalam dirinya. Sebuah denyar denyar halus yang perlahan tapi pasti mampu membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Ketika tangan seseorang menyentuh dirinya dan membuat tatapan mata keduanya saling berhubungan. Sesuatu telah terjadi dan sekeras apapun Rara berusaha menolaknya, ia tidak sanggup. Ia terlanjur terlena dengan apa yang sudah suaminya itu lakukan.
"Aku minta maaf! Aku tahu jika hanya dengan cara seperti ini aku bisa bertemu denganmu setiap hari. Aku tahu kamu marah! Aku hanya ingin selalu melihatmu setiap waktu. Apa aku salah?" kata Iqbal begitu lirih bahkan mungkin hanya Rara lah yang sanggup mendengar.
Rara masih diam. Matanya masih terkunci. Ia tidak lagi dapat berpikir harus melakukan apa. Jantungnya masih berdetak kencang. Dan aroma wangi itu mampu membuatnya semakin terbang melayang.
Sesaat kemudian ia tersadar dan melepaskan diri dari pelukan suaminya itu. Ia merapikan dirinya. Dan terlihat Iqbal yang juga tampak seperti baru bangun dari mimpinya. Ternyata sedari tadi keduanya masuk ke dalam alam yang sama.
"Apa yang mas Iqbal lakukan disini?"
"Aku? Selama sebulan ini mungkin aku akan ada di sini. Dari pada tidak ada pekerjaan, lebih baik aku belajar menjadi direktur. Siapa tahu aku akan tertarik nanti."
"Ini pesanan bunga mas Iqbal!" katanya lagi seraya menyerahkan sekuntum mawar merah pada suaminya.
"Itu untukmu!"
Rara bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Tapi dalam hati kecilnya ia merasa bahagia menerima sekuntum mawar merah itu. Ia mencoba menyembunyikan senyumnya. Namun Iqbal tahu jika istrinya itu sedang bahagia.
Terimakasih telah membaca
Salam manis 😘