
Sudah lebih dari dua minggu Sita yang mengantarkan buket-buket bunga dan juga mawar merah pesanan hotel Garuda. Setiap hari ia selalu bertemu dengan Iqbal sang direktur utama di hotel tersebut.
Setiap hari selalu pertanyaan yang sama yang ia lontarkan kepada sahabat istrinya itu. Namun setiap hari jawaban yang ia terima selalu sama. Bahwa Rara belum mau menemui dirinya. Ia selalu menerima bunga mawar merah dari Sita dan menyimpannya di sebuah kotak. Jumlahnya sudah 21 tangkai. Dan itu artinya sudah 21 hari perjuangannya untuk mendapatkan hati istrinya.
Ia termenung menatap kelopak kelopak mawar yang sebagian sudah menghitam. Namun dengan telaten ia meletakkan bunga baru di sebelah bunga yang sudah layu sambil menghitung waktu yang tersisa untuknya. Hatinya tiba-tiba merasa pesimis ketika rasa rindu telah menggerogoti dirinya. Ia menjadi ragu ketika sang kekasih belum ingin menemuinya kembali.
Ia ingat apa yang sudah adiknya katakan padanya hari itu, saat ia kembali setelah mencari istrinya yang tiba-tiba pergi karena mendengar suatu kenyataan yang pahit. Dira mengatakan apa yang sudah disampaikan oleh Rara padanya.
"Kak! Kak Rara tidak marah pada kakak! Justru ia seperti ini karena ia merasa semakin tidak pantas jika harus hidup bersama dengan kakak. Ia bersikeras untuk menghindari kakak. Ia tidak mau jika kak Iqbal menjadi korban. Ia tidak ingin kak Iqbal dijauhi oleh keluarga karena dirinya."
Iqbal hanya diam sambil mengusap wajahnya kasar. Matanya menerawang jauh menatap langit kamar.
"Aku bukan mama kak! Karena aku akan selalu berada di pihakmu apapun yang akan terjadi. Kak Rara adalah istrimu. Dan sampai kapanpun akan begitu."
Iqbal menoleh kearah Dira setelah mendengar gadis itu memberi dukungan padanya. Iqbal menatap dalam ke arah Dira berharap gadis itu tetap membantunya untuk membawa Rara kembali.
"Kak Iqbal tenang ya! Aku akan selalu membantu kakak membawa kak Rara kembali"
"Terimakasih Dira! Kau memang adikku yang terbaik!" jawab Iqbal tersenyum.
Jika mengingat semangat yang Dira berikan hati Iqbal mulai terisi kembali. Ia tersenyum kecil dan kembali menatap tangkai tangkai mawar merah itu.
Dan Dira menjadi orang pertama yang datang menemui Rara di tempat kerjanya keesokan harinya. Rara memang menyambut baik kedatangan Dira. Ia menyuruh Dira masuk dan mengenalkan kepada atasan dan sahabatnya.
Bahkan selama beberapa hari ia selalu datang dan menghabiskan waktu di tempat kerja kakak iparnya. Ia juga tak sungkan datang ke tempat kost Rara setelah dari tempat kerja.
Dan hari ini rutinitas itu tetap Dira lakukan. Datang ke toko bunga, ngobrol dengan kakak iparnya dan sesekali membantu pekerjaannya. Setelah sore mereka berdua pulang bersama naik mobil Dira. Dira mengantarkan Rara pulang ke tempat kostnya.
"Kak! Apa aku masih boleh meminta sesuatu pada kakak!"
"Kalau yang kamu minta sama, aku tidak bisa!"
"Aku tidak ingin apa-apa lagi dari kakak selain meminta kakak untuk berpikir kembali. Apa kakak masih belum bisa memberikan apa yang aku minta?"
"Dira! Kamu boleh menganggap kakak sebagai kakak iparmu selama yang kamu mau. Kamu juga boleh datang kapanpun kepada kakak. Tapi untuk yang satu itu maaf. Kakak akan jadi orang paling jahat di dunia. Dan kamu tidak mau itu terjadi kan?"
"Semua pasti ada jalan keluarnya!"
"Seperti apa? Kamu mau kakak menulikan telinga dan membutakan mata di depan mama kamu. Tante Wina dan om Yuda adalah orang tuamu dan juga mas Iqbal. Bagaimana mungkin aku bisa mengangkat kepala dengan sombong sementara aku seperti sampah di keluarga kalian."
"Kakak bukan sampah!" kata Dira tegas.
"Apalagi julukan yang tepat untukku!"
"Tapi kakak adalah berlian di mata kak Iqbal. Itulah sebabnya aku juga menganggap kakak seperti itu."
"Mana ada berlian yang terlahir dari tumpukan sampah! Aku hanya sampah yang terlihat seperti berlian karena cahaya matahari. Jika malam telah datang, maka aku akan kembali terlihat gelap dan kotor. Itulah aku yang beberapa waktu lalu terlihat bersinar karena ada mas Iqbal yang menerangiku. Sekarang malam telah datang dan Cinderella harus kembali ke tempat asalnya."
"Itu cuma dongeng!"
"Bagiku itu kenyataan!"
Dira menepikan mobil dan menghentikannya di tepi jalan. Tangannya meraih tangan kakak iparnya.
"Kau bukan Cinderella, kau juga bukan sampah! Kau berlian dan aku percaya itu. Kak Iqbal dan aku tidak peduli dari mana kakak berasal. Mau dari tempat sampah atau dari mana pun bagi kami kakak adalah berlian. Meskipun aku baru mengenal kakak belum lama ini, tapi aku tahu jika jiwa kakak adalah jiwa seorang malaikat. Dan aku percaya itu."
Mereka meneteskan air mata dan saling memeluk satu sama lain.
Mobil kembali melaju menuju tempat kost Rara. Rara segera turun begitu telah sampai.
Sesaat sebelum turun ponsel Dira berbunyi tanda ada pesan masuk.
"Kak! Maaf ya, sepertinya aku tidak ikut turun. Mama datang dan aku harus menjemputnya di bandara. Kakak hati-hati ya!"
"Iya! Terimakasih ya sudah mengantarku pulang!"
"Iya kak.!"
Rara segera meraih pintu mobil namun Dira menarik tangannya.
"Kak! Aku janji akan membujuk mama semampuku!"
Rara tersenyum dan segera keluar dari mobil. Setelahnya mobil hitam itu pergi meninggalkan dirinya yang masih berdiri di pinggir jalan raya. Untuk masuk ke tempat kostnya masih beberapa meter lagi.
Belum lagi kakinya melangkah Rara mendengar suara teriakan.
Motor yang membawa tas wanita itu mengarah padanya. Dengan sigap Rara segera mendekat dan mengarahkan tasnya kepada pengemudi motor itu. Sesaat kemudian motor itu terguling hingga kedua orang di atasnya ikut terjatuh.
Rara meraih sepatu yang ia kenakan. Ia memukul-mukul kedua lelaki itu dengan sepatu miliknya. Beberapa saat kemudian muncullah bapak-bapak yang ada di warung mendekati dirinya. Mereka dengan cepat membantu Rara memukul dua penjambret itu hingga mereka tak berkutik.
Rara meraih tas berwarna merah milik wanita yang berteriak itu. Tas itu tampak mahal. Dengan hati hati Rara membawanya dan mencari wanita itu diantara kerumunan orang orang.
Seorang wanita mendekati dirinya karena tahu ia yang telah membawa tas miliknya. Ketika posisi wanita itu semakin dekat terlihat jelas ada seraut wajah yang tidak asing sudah berdiri di depannya. Sama halnya dengan Rara wanita itu tampak kaget dengan gadis yang sudah menolong dirinya itu.
Ia mendekati wanita itu. Namun ada rasa tidak suka yang muncul dari wajah wanita itu.
Rara menyodorkan tas merah itu.
"Ini tas Tante!" katanya pelan.
Wanita yang ternyata adalah Tante Wina itu meraih tasnya tanpa bicara sepatah katapun.
"Tante apa kabar?" tanya Rara ragu.
"Baik! Kamu sendiri bagaimana?"
"Saya baik Tante! Om Yuda baik juga kan?"
Tante Wina kembali diam. Dan beberapa saat kemudian muncullah polisi yang segera membawa penjambret itu pergi. Begitu pula dengan bapak-bapak yang ada di sana. Satu per satu mereka meninggal tempat itu. Kini hanya ada Rara dan Tante Wina disana.
"Tante maaf! Kalau mau Tante bisa mampir dulu di tempat saya! Tempat saya tidak jauh dari sini!" kata Rara lagi memberi tawaran.
"Tidak perlu! Dira akan segera kemari!"
"Baiklah kalau begitu! Akan aku temani Tante di sini!"
Tante Wina hanya diam. Mereka duduk di atas kursi usang di depan sebuah warung tutup. Tidak ada yang mereka bicarakan. Rara terlalu takut pada orang yang begitu membencinya itu. Ia hanya sesekali menatap langit yang malam itu begitu cerah.
"Kamu...! Bagaimana hubunganmu dengan Iqbal!"
Rara menoleh seketika. Ia tidak menyangka wanita itu akan menanyakan hal itu.
"Tante Wina tidak perlu khawatir. Kami akan segera mengakhiri semuanya."
"Jadi benar Iqbal mencari keberadaan kamu sampai kemari! Anak itu memang keras kepala!"
"Tante! Saya minta maaf! Saya benar-benar tidak menyangka mas Iqbal akan mencari saya hingga sejauh ini! Tapi saya berjanji akan menuruti semua yang Tante mau. Semakin kesini semakin saya sadar jika saya memang tidak pantas untuk mas Iqbal."
Tante Wina menatap ke arah Rara. Ia tidak menyangka jika gadis itu akan mengatakan hal tersebut. Dalam hati kecilnya Tante Wina merasa masih menyayangi gadis itu. Tidak ada yang salah dengan Rara. Hanya status sosial yang membedakan dirinya dengan Iqbal. Dan sebenarnya dia tidak pernah mempedulikan hal itu. Namun ia sendiri masih bingung bagaimana sikap yang harus ia ambil untuk gadis itu.
"Saya juga minta maaf!"
Tante Wina terbangun dari lamunannya.
"Soal ayah saya Tante! Saya baru saja mendengar semua yang sudah ayah saya lakukan. Saya tidak pernah tahu semua itu dan mas Iqbal tidak pernah mengatakannya. Dira telah menceritakan semua kepada saya. Dan itu membuat saya semakin yakin untuk menjauhi kehidupan dan keluarga mas Iqbal!"
Tante Wina semakin tercekat mendengar perkataan Rara.
"Jadi kamu sudah mendengar semuanya?"
Rara mengangguk perlahan.
"Bagus!" Tante Wina mengatakan hal yang tidak sesuai dengan isi hatinya.
Rara kembali memandang langit berharap ia mampu menyembunyikan air matanya.
"Dan Dira..., kamu mengenal Dira?!"
Tiba-tiba sosok yang mereka bicarakan muncul begitu saja di depan mereka. Entah dari mana asalnya bahkan suara mobilnya saja tidak terdengar.
"Masak sama kakak ipar sendiri nggak kenal sih ma!"
"Dira!" Tante Wina bangkit dari duduknya dan segera merentangkan tangannya guna memeluk putri tercintanya.
Rara segera bangkit dan mendekat ke arah kedua perempuan itu. Ada perasaan bahagia ketika melihat keduanya berpelukan dengan penuh cinta. Ia rindu ibunya. Air matanya kembali mengalir. Namun buru-buru ia menghapusnya saat mata Dira melihat ke arahnya.
Dira tersenyum kepadanya.