A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 40 ISI HATI



Sebuah hubungan baru saja dimulai. Entah apa nama dari hubungan itu. Yang pasti saat ini benih benih cinta antara mereka tumbuh subur. Bukan lagi tumbuh di satu hati, melainkan kedua hati itu telah sama sama memiliki pondasi yang kuat mempertahankan tumbuhnya rasa itu.


Tiada kata yang terucap memang. Namun sinar mata mereka memancarkan cahaya yang terang benderang mewakili perasaan mereka. Hanya melalui tatap mata dan setiap perhatian mereka berdua menjadi sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


Hari hari berlalu dengan diwarnai sebuah ikatan yang semakin kuat. Setiap detik berlalu dengan senyuman. Setiap hari berlalu dengan perhatian perhatian satu sama lain. Tiada rasa canggung lagi. Pertemuan tiap hari membuat keduanya saling membutuhkan dan saling menguatkan.


Rara selalu bangun pagi dengan senyuman indah mengawali hari. Meski mereka masih tidur terpisah, namun mereka sering menghabiskan waktu bersama sebelum tidur. Dan cerita cerita sebelum tidur itulah yang membuat Rara selalu bangun tidur dengan semangat .


Bulan Pebruari adalah bulan penuh cinta. Banyak pasangan yang menjadikan bulan indah ini sebagai bulan penuh kemesraan. Saling mengungkapkan perasaan. Bahkan memberikan sesuatu yang spesial untuk pasangannya.


Sesuai saran dari Lukman, maka secepatnya Iqbal ingin mengungkap seluruh isi hatinya pada istrinya. Dan waktu yang ditentukan telah tiba.


Hari itu akhir bulan Pebruari. Iqbal bangun pagi seperti biasa. Ia telah merencanakan sesuatu untuk istrinya. Hari ini adalah hari liburnya. Jadi ini adalah kesempatan yang harus ia gunakan sebaik baiknya.


"Mas...! Kenapa sepagi ini kita pergi? Ada sesuatu yang penting ya?" tanya Rara sambil menikmati sarapannya. Karena Iqbal melarang istrinya masak jadilah pagi itu hanya roti yang bisa mereka makan.


"Kita akan pergi ke suatu tempat. Tempat dimana tidak akan pernah bisa kita lupakan seumur hidup kita!" jawab Iqbal.


" Apa ada yang harus kita bicarakan?"


" Tentu!"


Entah kenapa Rara seolah sedang mengharap sesuatu yang penting dalam hidupnya. Namun di sisi lain hatinya mengatakan jika Iqbal ingin memutuskan ikatan diantara mereka. Tapi lagi lagi sorot mata suaminya memberikan tanda jika ia ingin memberikan sebuah kebahagiaan bukan kesedihan.


Mereka berangkat sekitar jam sembilan pagi. Ternyata tempat yang mereka tuju tidaklah jauh dari pusat kota Semarang. Mereka pergi ke kawasan kota Lama.


Kota Lama adalah kawasan yang terdiri dari banyak bangunan Kuno peninggalan jaman kolonial Belanda. Di sini banyak bangunan Kuno seperti benteng, gereja dan rumah rumah kuno. Selain itu terdapat sebuah taman. Di taman tersebut selalu ramai apalagi saat hari libur. Tapi karena hari ini bukan hari libur maka tidak ada aktivitas berarti di sini.


Rara dan suaminya berkeliling taman. Suaminya mengatakan jika hari ini adalah hari untuk mereka berdua. Mereka tidak akan pergi kemana mana. Hanya di sini saja untuk menghabiskan siang. Tapi sekali lagi Iqbal mengatakan jika malam nanti mereka akan ke tempat lain. Tentu saja semua akan dirahasiakan olehnya.


Mereka duduk di bangku taman.


"Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku sampaikan!"


"Soal apa mas?"


" Soal hubungan kita!"


Seperti ada sesuatu yang baru saja membuat hatinya menjadi begitu takut. Rara takut jika hal yang selama ini ia rasakan akan segera berakhir.


"Kamu merasa tidak ketika kita berjauhan rasanya ingin segera bertemu kembali?"


Pertanyaan yang sontak membuat Rara merasa tidak percaya. Mata mereka bertemu di satu titik.


"Aku merasakannya! Dan apa kamu juga merasa jika ketika ada orang lain diantara kita ,hati kamu akan sakit?"


Rara masih diam seribu bahasa.


" Aku merasa seperti itu saat ada yang mencoba mendekati kamu. Dan apa kamu juga bisa merasakan jika ketika kita berdekatan ada getaran yang aku sendiri tak bisa mengartikannya!"


"Aku bisa merasakan semua getaran itu. Bagaimana dengan kamu Ra? Apa yang selama ini kuyakini itu memang benar adanya atau tidak? Bahwa kamu merasakan semua lebih dulu dari pada aku. Katakan Ra?"


"Apa aku sedang bermimpi mas?"


Iqbal menggelengkan kepalanya pelan dan tanpa sadar air mata Rara telah meluncur begitu saja.


"Aku bahkan sangat takut memimpikan hal ini. Aku takut jika mas Iqbal akan segera mengakhiri semua ini. Aku sadar mas siapa aku bagi mas Iqbal. Cepat atau lambat aku akan berlalu dari kehidupan mas Iqbal. Tapi hari ini...?"


Rara menghentikan ucapannya, ia mencoba mengusap air matanya.


" Hari ini...aku mendengar mas Iqbal mengungkapkan perasaan mas Iqbal padaku. Aku benar-benar tidak bermimpi kan mas?"


Iqbal menggelengkan kepalanya lagi. Ia tidak menjawab, masih menunggu Rara melanjutkan kata-katanya.


"Aku harus mengatakan apa lagi mas? Aku juga merasakan semua yang mas Iqbal rasakan jauh sebelum mas Iqbal merasakannya. Aku mengagumi mas Iqbal sejak pertama kita bertemu. Aku selalu dan selalu merasa bergetar tidak karuan ketika melihat mas Iqbal. Aku bahkan masih ingat jika aku selalu terbang setiap bertemu dan mencium aroma tubuh mas Iqbal. Aku selalu terbang...selalu mas...selalu...!" Rara semakin tersedu mengeluarkan air matanya.


Iqbal tertawa mendengar cerita itu. Cerita yang sama sekali tidak ia duga akan ia dengar hari ini.


" Kenapa? kenapa tertawa mas?"


"Aku tidak pernah menduga jika kamu bisa terbang cuma gara gara melihatku dan menghirup aroma tubuh ku? Apa aku seistimewa itu?"


"Jika mas Iqbal jadi aku, aku yakin mas Iqbal akan terbang lebih tinggi dari aku.!"


Iqbal menyentuh pipi istrinya, menghapus air matanya. Kemudian ia menggenggam jemari gadis itu.


" Aku tak perlu menjadi siapapun untuk bisa terbang tinggi! Karena saat ini pun aku sudah terbang jauh lebih tinggi darimu dengan hanya menatap wajahmu saja!"


Entah apa yang membuat suasana menjadi begitu indah. Sepertinya ada berjuta bunga yang turun dari langit menghiasi adegan romantis berlatar senja yang begitu cerah secerah kisah asmara mereka. Keduanya terbuai oleh setiap kata yang terucap dari mulut mereka. Hingga tidak ada satupun celah yang mampu menahan perasaan mereka.


"Rara istriku tercinta! Jadilah istriku yang sebenarnya. Karena tidak akan pernah ada yang bisa membuat seorang Iqbal lebih baik lagi jika bukan karena dirimu!"


Iqbal menyerahkan sekuntum mawar merah yang terlihat masih amat sangat segar. Tidak tahu dari mana ia mendapatkan bunga itu. Tiba tiba saja bunga itu sudah ada di tangan suaminya. Rara menerimanya dengan perasaan yang sama sekali tidak berubah. Masih terharu, masih tak percaya dan tentunya masih dalam mode melow. Bagaimana tidak, air matanya semakin tumpah ruah sejadi jadinya. Tapi tentu saja itu bukan air mata biasa. Ada sesuatu yang jauh lebih indah dibalik derasnya air mata itu.


" Aku tidak ingin bangun dari mimpi indah ini mas.!"


"Ini bukan mimpi sayang! Ini bukan mimpi? Inilah kisah cinta kita yang sebenarnya. Jadilah istriku dan ibu dari anak anakku!"


Iqbal meraih istrinya untuk ia benamkan di dadanya. Rara menikmati aroma tubuh itu lagi. Kali ini ia tidak terbang sendiri. Ia terbang bersama dengan orang yang ia sayangi dan ia cintai.


Cerita cinta Iqbal dan Rara belum selesai ya!


Justru kisah sebenarnya baru akan dimulai.


Sabar ya...


Salam manis😘