A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 62 DUNIA MILIK BERDUA



"Mau langsung pulang atau mau ke tempat lain?" tanya Iqbal dalam mobil.


"Memang kalau aku mau pulang, pulangnya kemana?" tanya Rara menggoda.


"Kamu maunya kemana? Pulang ke hati aku gimana?"


"Boleh! Asal jangan ditinggal pergi lagi. Capek nyarinya mas! Jauh pula!"


"Jauh kemana?"


"Ke dasar hati aku! " Rara menoleh dan menawarkan sebuah senyuman.


Iqbal tertawa renyah.


"Lama lama kamu lebih pintar ngegombal dari pada aku ya!" Iqbal mencubit hidung istrinya, lalu dengan malu-malu Rara kembali tersenyum simpul.


Ketika kedua mata dua insan itu masih berada dalam satu titik, tiba-tiba mobil Iqbal tidak menyadari ada mobil di depan mereka yang berhenti mendadak. Hal itu membuat Iqbal panik dan segera mengerem mobilnya dengan mendadak pula. Untung ia tidak menabrak mobil yang berada di depan mereka. Tapi justru ada sebuah mobil lain di belakang mereka yang juga sudah mengerem mendadak dan sedikit menyenggol body mobil Iqbal bagian belakang. Ketiga mobil itu berhenti bersamaan di tepi jalan.


"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Iqbal Iqbal khawatir dengan kondisi istrinya.


"Aku nggak apa-apa mas!"


Masing-masing pengendara mobil telah keluar dari kursi kemudi. Termasuk Iqbal.


Seorang laki-laki keluar dari mobil pertama. Sedangkan dari mobil kedua keluarlah seorang perempuan yang keluar dengan sedikit terhuyung. Karena naluri kewanitaan Rara segera menghampiri perempuan itu. Rara berlari kecil menuju ke arah perempuan itu.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rara seraya menyentuh tubuh perempuan itu.


Perempuan itu mendongak menatap ke arah Rara. Dan tatapan mata mereka bertemu membuat keduanya sama-sama terkejut menyadari siapa yang ada di depan mereka. Keduanya saling mengenal. Namun ada perasaan aneh yang menjalar dalam diri Rara yang seketika itu juga membuatnya melepaskan tangannya. Rara segera menghindar.


"K.. kamu?" kata perempuan bernama Kinan itu.


Kinan menyentuh kepalanya dan sepertinya sedang menahan rasa sakit. Ia mencoba berdiri meskipun Rara tahu ia sedikit memaksakan dirinya.


"Kamu? Sedang apa berada di kota ini? Masih belum puas dengan semua yang sudah kamu dapatkan dari Tante Wina! Masih betah mendengar semua caciannya! Dasar perempuan tidak tahu malu!" cerca Kinan dengan raut wajah marah.


Rara hanya diam.


"Kamu mau bukti apa lagi? Jelas jelas Iqbal tidak pantas untukmu. Kamu hanya perempuan sampah dan tidak pernah akan bisa berdampingan dengan orang-orang berkelas seperti Iqbal. Seharusnya aku memberikan kaca besar padamu, supaya kamu bisa ngaca dan melihat betapa bodohnya dirimu! " lanjut Kinan bertubi-tubi namun Rara masih diam.


Kinan tersenyum menyeringai.


"Sudah menemukan ayahmu yang napi itu?" Kinan mengatakan hal itu dengan sedikit mengejek, "Apa dia tahu jika anak gadisnya sudah menjual harga dirinya hanya untuk bisa bertahan hidup!"


Rara menundukkan kepalanya mencoba mencerna setiap makian yang sudah diarahkan padanya. Tiba-tiba ada seseorang datang dan menyentuh pundaknya.


"Yang seharusnya berkaca itu kamu! Kamu lebih tidak tahu malu.!"


Rara mendongak dan didapatinya Iqbal sudah berdiri di sampingnya. Rara begitu terkejut saat Iqbal tiba-tiba meraih kepalanya dan ia benamkan ke dalam dadanya. Ia sempat melirik sekilas ke arah Kinan yang juga sedang terkejut.


"Jangan pernah mengganggu istriku lagi!" Iqbal menekan kalimat itu dan seketika membuat Kinan tak bisa menjawab apa-apa lagi dan segera masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi tanpa sepatah katapun.


Iqbal melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi istrinya. Dipandanginya mata istrinya itu dalam-dalam.


"Jangan pernah pedulikan dia! Lihatlah padaku dan hanya padaku! Tidak akan pernah ada orang lain diantara kita. Aku berjanji dan akan aku tepati. Ingat baik-baik, di dunia kita hanya ada kita berdua, tidak ada orang lain yang berhak mencampuri dunia kita. Ingat itu baik-baik! Apapun yang terjadi hanya ada aku, kamu dan ...!" Iqbal tidak melanjutkan kata-katanya dan itu membuat Rara mengernyitkan dahinya.


Iqbal mendekatkan wajahnya ke telinga Rara dan itu membuat Rara dapat merasakan hembusan nafas suaminya.


Seperti ada ribuan kelopak bunga yang bertebaran dimana-mana. Kelopak bunga itu seperti turun begitu saja dari langit. Waktu seakan berhenti dan suara bising kendaraan di sekitar mereka seolah berubah menjadi alunan musik romantis. Hati Rara menjerit menahan kebahagiaan.


Iqbal tersenyum dan kembali menatap wajah istrinya. Ia meraih rambut Rara dan menyelipkan ke samping telinganya. Rasanya seperti seorang bidadari surga yang dimanja oleh sang pangeran. Sekali lagi Rara ingin menjerit karena rasa bahagia.


Rara hanya tersenyum dan kembali membenamkan kepalanya di dada suaminya.


***


Rara kembali ke apartemen dan membereskan semua yang ada di tempat itu. Sama seperti dulu. Namun hari ini ada sebuah perbedaan. Rara merasa menjadi nyonya di rumah ini dengan status yang sebenar benarnya. Ia menjadi begitu bersemangat untuk memulai kehidupan barunya.


Dan hari-hari berlalu dengan sebuah kebahagiaan. Rara menjadi istri Iqbal yang sebenarnya. Ia menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ia menyiapkan segala keperluan suaminya. Mulai dari sarapan hingga seragam kepolisian yang memang sudah ia hapal dari dulu. Tapi tetap saja sekarang semua menjadi lebih indah.


Malam ini Iqbal akan mengajaknya keluar untuk membeli segala keperluan rumah tangga. Dulu Iqbal juga sering melakukan hal itu. Tapi malam ini ada hal istimewa yang akan ia kabarkan untuk suaminya.


Setelah berputar-putar di dalam mall mereka memutuskan untuk makan di sebuah restoran di dalam mall. Restoran dengan menu makanan Jepang sesuai permintaan Rara.


Sebenarnya ada yang aneh dengan permintaan istrinya. Pasalnya Rara sebelumnya tidak menyukai menu makanan Jepang.


"Apa nggak salah?" tanya Iqbal sesaat setelah mereka duduk di atas kursi.


"Apa?"


"Bukannya kamu nggak pernah mau makan makanan seperti ini?" tanyanya lagi sambil melirik ke arah meja yang sudah penuh dengan berbagai hidangan khas Jepang.


"Aku lagi pengen mas...!"


"Iya.. tapi apa perut kamu akan menerima...ntar kalau ada apa-apa gimana?" Iqbal tampak begitu mengkhawatirkan istrinya.


Sementara orang yang sedang duduk di depannya tampak tersenyum kecil seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Iqbal mengernyitkan dahinya. Rara masih tersenyum penuh arti dengan mata tak lepas dari wajah indah suaminya.


"Ada apa? Kok lihat aku sambil senyum-senyum gitu...?"


"Mas Iqbal mau aku beri tahu sesuatu nggak?"


Iqbal yang sedari tadi menggunakan sumpit untuk mencicipi makanannya mendadak menghentikan aksinya. Dengan segera ia menaruh sumpit tersebut di atas meja lalu meraih tangan istrinya dan membelainya lembut. Ia menatap mata istrinya dalam dan menyunggingkan seutas senyum.


"Sepertinya ada yang kamu rahasiakan? Ayo cepat beri tahu aku!"


Rara tersenyum semakin gembira dan penuh semangat. Ia menghela nafas dalam sembari memejamkan matanya. Saat ia membuka matanya kembali bibirnya terbuka seolah siap mengatakan sesuatu yang sudah ditunggu oleh suaminya.


"Aku hamil mas...!" katanya lirih hampir tak terdengar.


Iqbal membuka mulutnya hampir tak percaya. Kemudian ia spontan berdiri dan menghampiri tempat duduk istrinya. Karena aksi Iqbal yang begitu mendadak membuat Rara juga mengangkat tubuhnya. Sedetik kemudian tubuh mungilnya sudah ada dalam pelukan sang suami. Ada rasa bahagia yang tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia hanya merasa tak percaya saat berulang kali Iqbal mengecup puncak kepalanya dan bergantian memeluknya kembali.


"Terimakasih sayang...!" kata Iqbal berulang kali sejalan dengan aksinya memeluk dan mencium puncak kepala istrinya.


Semua orang dalam restoran Jepang itupun menoleh ke arah mereka. Hampir semuanya tersenyum gembira seperti sedang menyaksikan adegan dalam sebuah drama. Mereka tahu jika ada sepasang suami istri yang sedang dalam keadaan bahagia.


Dan seperti itulah akhir dari kisah yang rumit itu. Sebuah akhir membahagiakan yang sudah disiapkan Tuhan di dalam kisah mereka.


Mohon maaf jika akhir cerita sedikit terburu-buru. Mohon maaf juga jika membutuhkan waktu yang lama untuk mengakhiri.


SEKALI LAGI MAAF🙏