A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 38 FESTIVAL



Ketika sebuah perasaan menimbulkan dampak yang sangat indah maka tiada kata yang sanggup menggambarkan isinya. Hanya mereka yang mampu merasakan yang akan dapat menjabarkan semua itu. Dan kalaupun ada yang mampu mungkin hanya membutuhkan hati saja untuk menyimpannya. Bibir akan senantiasa tertutup rapat dan tak bisa leluasa berbicara seperti biasa.


Semua kenangan akan terputar kembali. Kemudian semua kenangan akan menjadi sebuah tempat yang penuh dengan ribuan kupu kupu yang beterbangan. Setiap satu kupu kupu akan mewakili satu momen. Satu adegan dimana hanya ada dua insan yang berbeda namun memiliki jiwa yang sama.


Hingga pada akhirnya semua akan menjadi sesuatu yang indah. Sesuatu yang membuat semua insan di dunia ini merasakan betapa sangat indahnya mencintai dan dicintai. Tak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Tak dapat disentuh namun dapat dinikmati. Itulah hal terbaik dari sebuah cinta. Cinta luar biasa yang membuat manusia menjadi makhluk terhebat sepanjang masa.


"Mas...! Mas Iqbal...Mas... bangun mas!" Rara membangunkan suaminya yang pagi itu terlambat bangun. Padahal waktu libur panjang sudah usai. Dan hari ini adalah hari pertama suaminya itu memulai aktifitasnya di kepolisian.


Rara ragu untuk menyentuh suaminya yang belum mau bangun juga. Ia tak berani takut jika ia akan marah. Tapi sebenarnya bukan itu yang dia takutkan. Sebenarnya dia takut jika dengan menyentuhnya akan membangunkan kembali perasaannya yang setiap hari selalu bertambah itu. Ia takut jika ia tak dapat mengontrol diri dan akhirnya ia kembali merasakan betapa sangat indahnya mencintai seseorang.


Akhirnya ia hanya bisa berulang ulang menyebut nama suaminya. Sehingga pada akhirnya suaminya itu terbangun juga.


"Maaf mas ...aku takut nanti mas Iqbal terlambat.... Jadi aku bangunkan tadi."


"Iya ! Makasih ya Ra!"


"Kalau begitu aku tunggu di meja makan ya mas!"


Iqbal mengangguk pelan seraya turun dari ranjangnya.


Tak lama setelah itu Iqbal muncul dengan wajah segar dan seragam kepolisian yang lengkap. Ia tersenyum cerah secerah mentari pagi ini. Sungguh pemandangan pagi yang membuat Rara terkagum kagum tak berdaya.


"Siang nanti ada festival di sekitar jalan Mawar. Kalau mau kamu boleh pergi melihatnya. Nanti kita ketemu di sana." kata Iqbal sembari mengunyah makanannya.


"Boleh mas?"


" Ya boleh lah! Pergi saja. Perginya naik taksi saja. Nanti pulangnya kita sama sama."


"Naik ojek online boleh nggak? Aku lebih senang naik ojol dari pada naik taksi."


" Apa kamu mau aku belikan motor biar bisa kemana mana. Nanti kalau ke rumah nenek kan nggak perlu nunggu aku."


" Nggak perlu mas! Aku nggak akan kemana mana kok!"


"Atau kamu mau mobil. Biar kayak Yunita, nanti kalau ada undangan Bayangkari nggak perlu numpang dia terus kan. Kamu juga bisa sekali kali ajak keluarga kamu jalan jalan."


"Nggak mas! Aku kan nggak bisa nyetir."


"Coba tanya Yunita sana, apa dari lahir dia sudah mahir menyetir. Semua kan butuh belajar, Ra..."


"Tapi kayaknya kalau mobil nggak deh mas, mending motor aja deh! Hmmm...tapi itu termasuk honor aku nggak? Kalau aku suruh bayar sendiri ya tolong ambilkan dari honor aku ya!"


"Katanya minta rumah"


" Ya.. rumahnya dikecilin aja deh asal honornya cukup buat rumah sama motor. Gimana?"


"Kita urus itu nanti ya! Aku harus berangkat sekarang! Nanti kalau sudah sampai telfon aku ya?" kata Iqbal, kemudian dia mengakhiri makan paginya lalu bergegas pergi.


Siang ini di kota ada sebuah festival yang diadakan anak anak sekolah menengah dalam menyambut tahun baru. Rara berangkat setelah ojek online yang dipesannya datang. Dan ketika tiba di jalan Mawar, seluruh warga kota sudah berkumpul di sana. Sebentar lagi pawai akan dimulai. Rara berdiri di bawah pohon rindang. Tangannya meraih ponsel dari dalam tas selempang miliknya.


Ia mencoba menghubungi suaminya. Namun ponselnya tidak ada jawaban.


Ia melihat serombongan polisi datang dan bertugas mengamankan jalannya acara. Matanya menatap ke arah barisan polisi tersebut. Namun ia tak menemukan orang yang dicarinya. Kemudian ia mencoba menghubungi suaminya lagi. Betapa senangnya ia ketika Iqbal mengangkat panggilan itu.


Iqbal mengatakan jika ia berada di barisan paling belakang. Jadi Rara mencoba mencari jalan untuk kembali ke tempat yang dikatakan oleh Iqbal. Setelah matanya mencari kesana kemari akhirnya ia menemukan suaminya yang berada di seberang jalan sedang mengamankan jalannya acara tersebut.


Rara hanya bisa melihat suaminya bertugas dari kejauhan. Iqbal memang tidak melihat istrinya, tapi sebenarnya ia tahu jika istrinya berada diantara barisan perempuan perempuan yang sedang asyik menikmati pawai.


Tiba tiba saja ada tiga orang perempuan yang begitu saja berdiri di depan Rara. Mereka tampak cekikikan melihat ke arah polisi polisi muda yang sedang bertugas di seberang jalan. Dan diantara barisan polisi itu tentu saja ada suaminya, Iqbal. Ketiga perempuan itu menghalangi pandangan Rara. Sehingga ia tidak lagi bisa melihat suaminya bertugas. Tiba tiba saja hatinya menjadi begitu kesal.


"Tuh ...itu..yang ganteng itu.!" kata salah seorang diantaranya.


"Yang mana?"


" Yang tengah, ya....itu benar! Yang lagi lihat kemari tuh!"


Mendengar obrolan mereka Rara menjadi semakin kesal. Apalagi ketika tahu ternyata yang mereka bicarakan adalah suaminya. Matanya melirik ke arah ketiga perempuan itu dengan raut wajah semakin tidak suka.


Rara semakin dibuat tidak karuan. Selama ini ia tidak tahu jika suaminya memiliki akun yang memamerkan foto foto tersebut. Kenapa orang lain bisa tahu.


"Aku follow kok! Tapi akun itu sudah nggak aktif lagi deh sejak sebulan lalu. Nggak ada foto foto terbaru." kata salah satu perempuan dengan jaket jeans itu.


Mendengar apa yang mereka obrolkan Rara menjadi semakin hilang keseimbangan. Ia tiba tiba saja berubah menjadi perempuan nekat. Ia maju ke depan dan mencoba mencari jalan untuk bisa melihat kembali suaminya.


"Permisi! Tolong kasih jalan ya!"


Ketiga perempuan itu kaget karena tiba-tiba Rara sudah berdiri di sebelah mereka. Pada akhirnya mereka berempat berada di satu barisan yang sama. Sehingga keempatnya dapat dengan jelas melihat ke arah Iqbal.


Rara melambaikan tangan kepada Iqbal. Dan yang membuat dirinya senang adalah Iqbal yang juga melihat ke arahnya. Iqbal melambaikan tangannya juga. Tapi ketiga perempuan di samping Rara justru merasa jika Iqbal melambaikan tangan kepada mereka bertiga.


Iqbal kembali tersenyum ke arah istrinya. Lalu ketiga perempuan itu baru menyadari jika yang sedang disapa bukanlah mereka, tapi perempuan di samping mereka. Ketiganya sontak menoleh ke arah Rara.


"Kamu ngefans juga sama si Iqbal?" tanya salah satu dari mereka.


Rara menggeleng.


"Kok kamu pake acara melambaikan tangan segala! Emang kenal ya?" kata kata salah seorang lagi. Kali ini terlihat lebih kesal.


"Ya jelas kenal lah! Dia itu kan aku kan istrinya.! " jawab Rara begitu percaya diri.


" Apa? Istri?"


"Eh kamu nggak usah bohong ya! Nggak usah bercanda! Emang kita percaya apa?"


"Ya sudah terserah!"


Tanpa mereka sadari ternyata orang yang mereka bicarakan tiba tiba saja sudah ada di hadapan mereka. Rara tersenyum begitu suaminya menghampiri dirinya dan hal itu membuat ketiga perempuan itu membelalakkan mata merasa tak percaya.


" Hai! Kamu sudah lama?" sapa Iqbal.


"Hai mas! Nggak kok mas baru saja sampai. "


"Sorry ya! Kamu nunggu lama pasti ya? Gimana? Acaranya bagus nggak?"


"Keren mas! Milenial jaman sekarang kreatif banget loh mas. Pokoknya salut buat mereka"


"Iya! Aku juga salut sama mereka."


"Ngomong ngomong mas, ternyata di sini tuh banyak banget lih yang ngefans sama mas Iqbal!" kata Rara sambil melirik ke arah tiga perempuan itu.


"Oh ya?"


" Iya, rata rata semuanya cewek! Mas nggak ngerasa ya?"


" Nggak tuh! Kira kira karena apa ya?"


"Ya karena mas Iqbal ganteng lah ! karena apa lagi?"


Iqbal hanya tertawa kecil.


"Oh ya! Di sana ada kafe Seruni, nanti kamu tunggu aku di sana saja ya? Sekarang aku mau kembali bertugas. Nanti kita pulang sama sama !" kata Iqbal kemudian sambil menunjuk sebuah kafe di sebuah sudut jalan.


"Iya mas! Mas Iqbal hati hati ya bertugasnya!"


"Iya! Aku pergi ya! dada...!"


"Da mas Iqbal!"


Tingkah Rara semakin membuat tiga perempuan itu semakin kesal. Mereka sama sekali tidak menyangka jika yang mereka lihat adalah sebuah kenyataan.


" Kenapa? Masih nggak percaya?"


Tanpa menunggu jawaban mereka, Rara segera berlalu.