A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 29 SEBUAH UCAPAN



Tanggal 31 Desember. Tanggal dimana Rara dilahirkan dua puluh satu tahun yang lalu. Pagi ini terasa sangat berbeda. Udara terasa lebih segar dari biasanya. Matahari nampak lebih cerah, secerah perasaan gadis itu.


Tidak pernah ada hal yang spesial di hari kelahirannya ini. Hanya ucapan selamat dari neneknya yang tak pernah terlewatkan. Dan seperti tahun tahun sebelumnya nenek adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Pagi ini nenek menelfon dengan perasaan bahagia. Nenek memintanya datang ke rumah. Namun Rara mengatakan jika ia tidak bisa pergi kemana mana karena Iqbal melarangnya. Apalagi jam sepuluh siang nanti Yunita, teman barunya akan menjemputnya.


Sementara sejak semalam suaminya tidak pulang. Dan pagi ini ia memberi kabar jika ia akan pulang malam nanti saat waktu tugasnya sudah usai.


Dan benar saja, ketika jam belum genap menunjuk angka sepuluh, Yunita sudah ada di apartemen. Rara yang memang sudah rapi dengan seragam kebanggaan Bayangkari segera mengajaknya pergi setelah sedikit berbasa basi. Mereka naik mobil pribadi milik Yunita. Yunita memang wanita karir. Sebelum Gery, suaminya yang juga teman iqbal menikahinya, ia adalah seorang pegawai kantoran. Ia cantik dan berpendidikan. Anaknya satu dan ada mbak yang menjaganya di rumah.


Yunita tampak sudah mahir menyetir. Di dalam mobil, ia memberi tahu banyak hal mengenai Bayangkari kepadanya. Ia bilang bahwa dirinya kini telah resmi masuk anggota Bayangkari. Ia juga menjelaskan jika setiap bulan selalu ada pertemuan rutin di kantor. Jadi ia harus siap jik menerima undangan dari organisasi itu yang biasanya diadakan setiap akhir bulan.


Setelah setengah jam mereka sampai di kantor pertemuan. Disana sudah berkumpul para anggota lain. Mereka semua berseragam warna pink. Rata rata mereka para istri polidi muda. Meski ada juga yang senior. Seperti seorang wanita parubaya yang mendekati Rara dan Yunita. Beliau adalah istri bapak Kapolres yang datang ke pernikahannya beberapa waktu lalu. Beliaulah juga yang saat itu memberikan nampan berisi seragam yang saat ini ia kenakan. Rara memberi salam hormat kepada wanita yang ramah itu.


"Selamat datang di Bayangkari. Semoga kami dapat membimbing kamu dan semoga kamu betah berada diantara kami." kata wanita itu


" Iya bu...terimakasih ,saya mohon bimbingannya. Saya merasa tidak tahu apa apa tentang organisasi ini. Jadi tolong saya ditegur jika ada yang salah dengan yang saya lakukan."


Wanita itu tersenyum begitu sumringah. Kemudian menarik tangan Rara dan memperkenalkan pada anggota yang lain. Semua menyambut Rara dengan senang hati. Semua mengucapkan selamat datang pada Rara. Ia tidak merasa dibedakan di sana. Tidak ada yang menanyakan mengenai pendidikannya. Ia merasa senang berada diantara mereka.


Acara siang itu adalah acara rutin bulanan. Selain itu juga ada acara donasi untuk korban bencana alam yang akhir akhir ini terjadi. Setelah acara selesai, semua anggota membubarkan diri. Termasuk Rara dan Yunita. Mereka pulang bersama.


Hingga sore menjelang tidak ada tanda tanda kepulangan suaminya. Ia mencoba menelfon tapi tidak ada jawaban. Mungkin benar jika ia akan pulang malam nanti. Seperti ada yang hilang saat Iqbal tak ada di sampingnya. Ia merasa ingin cepat cepat melihat wajah suaminya. Ia juga berharap Iqbal akan mengetahui jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia tidak mengharap kado apapun. Ia hanya ingin ucapan selamat dari suaminya.


Ia terus memandangi pintu utama. Berharap seseorang datang dengan seragam polisi dan membawakan sebuah kado untuknya. Mimpi itu terus bersliweran di kepalanya.


Tapi mungkin keinginannya terlalu berlebihan. Hingga akhirnya satu hal yang ia takutkan. Rasa kecewa. Sudah jelas rasa kecewa akan menjadi bagian dari mimpi mimpinya selama ini. Maka ia mencoba mengubur sedikit demi sedikit segala harapan harapan bodoh itu. Ia menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Namun tetap saja ia tak bisa membuat bayangan Iqbal menjauh.


Jam di dinding menunjuk angka delapan malam. Hujan mulai turun. Malam pergantian tahun yang diwarnai oleh guyuran hujan. Rasa dingin menyelimuti tubuhnya. Ia bangkit dari sofa dan pindah ke kamarnya. Namun tiba tiba ia ingin masuk ke kamar suaminya. Kamar yang berada di sebelah kamarnya. Kamar yang lebih sempit dari kamarnya.


Perlahan ia membuka pintu. Ia menyalakan lampu utama. Kini kamar itu menjadi terang benderang hingga terlihat dengan jelas seluruh isi kamar itu. Ia memang sering membuka kamar ini. Tapi itu cuma sekilas karena ia tak pernah melihatnya secara jelas seperti saat ini.


Kakinya semakin masuk melangkah mendekat ke ranjang dengan sprei berwarna biru dengan motif abstrak. Ia duduk di atasnya, memandang ke atas langit langit kamar. Ia baringkan tubuhnya di atas ranjang suaminya. Is menghirup aroma tubuh yang tersisa di sana. Ia hirup dalam dalam. Ia nikmati semua itu. Tapi air matanya tiba tiba menetes.


"Kenapa mas..., kenapa aku ini? Mas Iqbal sudah membuat aku begitu besar mencintai mas...Aku jatuh cinta padamu mas...Tapi aku tidak mau jatuh mas...Aku tahu semua ini hanya akan jadi mimpi buatku. Jangan buat aku semakin mengharap hal yang tidak mungkin ini mas. Aku tahu aku ini tidak pantas buatmu. Aku cuma perempuan yang kamu sewa untuk menjadi istri. Dan itu akan berakhir sewaktu waktu. " Rara memeluk bantal suaminya. Ia benamkan wajahnya ke dalam bantal itu. Ia menangisi nasibnya.


Hingga tanpa sadar matanya sudah begitu saja terpejam. Rara masuk ke alam mimpi. Jauh hingga ia lupa di kamar siapa ia tertidur.


Rara membuka mata perlahan. Lampu kamar masih terang. Ia menangkap sesosok bayangan di depannya. Rara menggosok gosok matanya perlahan. Hingga...


Di sana berdiri seorang laki laki yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sedang tubuh bagian atas dibiarkannya tanpa sehelai kain pun. Pria itu bertelanjang dada dengan tetesan air yang masih tampak segar di sekujur tubuhnya. Dia pun tampak kaget mendengar suara Rara. Ia kebingungan. Namun begitu tahu jika itu suara istrinya, malah jadi terheran.


" Rara? Ngapain kamu di sini?" ucap Iqbal seraya mendekat ke arah istrinya yang masih duduk di atas ranjang.


"Mas Iqbal yang ngapain ganti baju sembarangan di sini."


" Hei...buka mata kamu! Ini kamar siapa?! "


Rara mengangkat bantalnya, tapi ia masih menyembunyikan matanya dari Iqbal. Suaminya itu tertawa melihat istrinya begitu malu menyadari jika itu bukanlah kamarnya.


"maaf mas..aku nungguin mas Iqbal sampe ketiduran. Aku takut tidur sendirian di...kamar yang...luas itu mas. Makanya aku tidur di sini.!" jawab Rara mencari alasan.


"Kemarin malam aku tidak pulang, apa kau juga tidur di sini."


"i..i..iya mas!" masih menutupi wajahnya dengan bantal.


"ya sudah sekarang buka bantal itu."


"Apa? Mas pake baju dulu!"


"Kenapa? seharusnya aku yang malu.Kenapa kau yang menutup wajahmu.?" jawab Iqbal seraya memakai kaos dan celana pendeknya.


Rara membuka mata sesaat kemudian. Iqbal sudah rapi lalu ikut duduk di ranjang di samping istrinya. Rara bangkit dari duduknya.


" Mau kemana?"


"Ke dapur! Mas belum makan kan?"


Rara turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu kamar. Namun tiba tiba Iqbal memanggil namanya. Rara berhenti melangkah. Ia tidak menoleh.


"Selamat ulang tahun! Maaf terlambat. Mungkin di tahun tahun yang akan datang aku akan selalu terlambat mengucapkannya." Kata Iqbal begitu pelan tapi terdengar begitu jelas di telinganya.


Sebuah ucapan yang diucapkan begitu indah oleh seseorang. Ucapan yang tak pernah ia sangka akan keluar dari mulut suaminya. Rara membalikkan tubuhnya. Menatap lelaki yang masih duduk terpaku di atas ranjang. Rara tersenyum bahagia.