A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 54 ADA RINDU



Rara melamunkan kejadian pagi hari saat ia bangun dari tidurnya namun tak mendapati Iqbal berada di tempatnya tidur semalam. Ketika Rara melihat keluar, mobil itu juga tidak ada. Sepertinya pemilik mobil putih itu sudah pergi dari tempat kostnya. Ada perasaan lega namun ada juga rasa kecewa dalam hatinya.


"Ra! Ini!" panggil Sita seraya menyerahkan bunga-bunga yang harus segera ia kirimkan.


"Oh! maaf!" jawabnya sambil meraih buket-buket bunga yang sudah ada di atas meja bersebelahan dengan sekuntum mawar merah. Rara kaget melihat bunga mawar merah itu.


Ia membaca tulisan yang juga berada di sebelahnya.


'Direktur utama hotel Garuda'


Kenapa harus ke sana lagi? Apa harus aku lagi yang mengantarkannya?


"Ra! Tadi mbak Dita pesan kalau setiap hari kita harus mengirimkan bunga yang sama ke hotel Garuda. Karena mbak Dita bilang jika itu adalah awal yang baik saat mbak Dita menjalin kerjasama dengan hotel itu. Masalahnya, mbak Dita baru saja menandatangani kontrak kerjasama dengan hotel itu. Jadi ke depannya, kitalah toko bunga yang akan ditunjuk jika ada sebuah acara di hotel. Kamu mengerti kan?"


"Apa harus setiap hari?"


"Loh! Ya emang harusnya seperti itu. Dan satu lagi nih, setangkai bunga mawar merah itu khusus dipesan oleh bapak direktur utamanya. Jadi kamu harus hati-hati membawanya"


"Memang kamu tidak ingin tahu siapa pak direktur utamanya?"


"Untuk apa? Aku tidak mengenalnya!"


"Kau mengenalnya!"


"Oh ya?" Sita tertawa.


"Direktur utamanya adalah suamiku!" jawab Rara tegas dan itu membuat Sita berhenti dari aktivitasnya merangkai bunga.


Sita masih menatap ke arah Rara dengan tidak percaya.


"Jadi hotel itu adalah hotel milik suamimu yang dulu sering kamu ceritakan itu."


Rara mengangguk.


"Dan apakah kamu bertemu dengannya kemarin?"


Rara kembali mengangguk.


"Kalau begitu sudah tidak perlu lagi kamu meragukan tekatnya. Aku yakin kerja sama antara mbak Dita dan dia itu adalah sebuah kesengajaan. Pasti ulah suamimu itu"


Rara menghembuskan nafas dalam. Tanpa menjawab pertanyaan Sita, ia melangkah keluar dari toko dan melaju dengan motor matik milik atasannya. Ia segera menuju ke hotel Garuda dan menemui direktur utamanya yang juga orang yang paling ia cintai. Meskipun bibirnya tidak pernah mengatakan itu lagi kini.


Ia sudah hapal dimana ia harus memberikan sekuntum mawar merah setelah menyerahkan buket-buket bunga pada seorang wanita yang bernama Bu Sinta.


Tanpa berpikir panjang Rara mengetuk pintu berwarna coklat tua itu. Namun dari dalam tidak ada sahutan sama sekali. Hal itu membuatnya memiliki kekuatan untuk membuka pintu tersebut.


Tidak ada seorangpun di dalam. Rara melangkah mendekat ke arah meja kerja Iqbal. Ia meletakkan bunga yang dibawanya di atas meja. Ia tahu jika seharusnya bunga itu untuknya. Namun ia harus merelakan bunga itu berada di atas meja, karena pemilik sebenarnya belum kelihatan.


Ia menunggu beberapa menit. Berharap Iqbal akan keluar dari kamar mandi atau dari ruangan lain. Namun sepertinya itu sia-sia. Iqbal tidak berada di tempat itu. Rara hendak melangkah pergi, tapi matanya menatap bunga itu lagi. Ia ingin mengambil dan membawanya pulang. Tapi ia urungkan niat itu.


Rara pergi dengan hati kecewa.


Hingga sore datang, ia sama sekali tidak melihat Iqbal. Ia seharusnya senang dengan keadaan tersebut. Namun di sisi hatinya yang lain ada perasaan yang berbeda. Ia tidak pernah mengharapkan hal itu akan terjadi.


Rara memejamkan matanya malam ini. Namun ia sama sekali tidak tidur. Bayangan suaminya masih mengikuti pikirannya. Hingga pagi datang, pikirannya masih memikirkan hal yang sama.


Hari ini kejadian yang sama terulang kembali. Tidak ada Iqbal, tidak ada direktur utama dan juga tidak ada orang yang seharusnya memberikan bunga mawar merah itu padanya. Bunga itu tertata di atas meja berjajar dengan bunga yang kemarin.


Dan pada hari ketiga keadaan tidak berubah. Bunga yang ia bawa masih ia taruh di atas meja. Kini bunga-bunga itu menjadi satu dan berbaris rapi. Rara kembali duduk di sofa dan memperhatikan bunga-bunga yang seharusnya sudah ada di tempat kostnya. Ia tidak tahu kenapa hatinya bisa seyakin itu jika bunga mawar merah itu khusus dipesan Iqbal untuknya.


Rara memikirkan sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin tidak ada seorangpun yang marah apalagi menyuruhnya keluar saat ia keluar masuk ruangan itu.


Rara juga sempat berpikir jika Iqbal benar-benar marah padanya. Namun lagi-lagi hati kecilnya mengatakan hal sebaliknya. Setelah itu Rara memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu. Sesaat matanya menangkap seseorang karyawan berseragam baru keluar dari ruangan Bu Sinta. Rara berniat menanyakan perihal suaminya pada perempuan itu.


"Maaf Mbak!"


"Iya! Ada yang bisa dibantu?"


"Saya adalah petugas yang selalu mengirim bunga-bunga ke hotel ini. Saya juga yang selalu mengirim bunga pesanan pak direktur. Tapi kok akhir-akhir ini pak direktur tidak ada di tempatnya ya?"


"Pak Iqbal?"


"Iya benar! Apa pak Iqbal pulang ke Jakarta atau ke Semarang ya?"


"Kok kamu bisa tahu jika pak Iqbal tinggalnya di Jakarta atau Semarang?" tanya karyawan hotel itu dengan nada curiga.


"Hm... itu...itu... saya pernah baca di artikel sebuah berita! Iya benar! Berita online!"


Rara semakin kesal dibuatnya.


"Yakin kamu mau tahu siapa saya?" tanya Rara dengan nada tak kalah sewot.


"Kamu nih ya dibilangin!"


"Saya ini istrinya direktur utama kamu! Saya istri mas Iqbal!"


Gadis itu tertawa. Sementara Rara semakin kesal. Tapi tawa gadis itu terhenti saat Bu Sinta keluar dari ruangannya karena mendengar ada suara gaduh di luar ruangannya.


"Ada apa ini?"


"Ini bu! Perempuan ini mengaku ngaku sebagai istri pak Iqbal. Apa perlu saya panggil petugas keamanan?"


Bu Sinta melihat ke arah Rara. Tapi wanita itu tidak marah. Ia malah tersenyum ramah dan mengangguk perlahan pada Rara. Rara merasa heran dengan tingkah Bu Sinta. Begitu pula dengan gadis karyawan yang berdiri di samping Bu Sinta.


"Maaf Bu! Maafkan karyawan saya. Dia tidak tahu siapa ibu ini!" kata Bu Sinta.


"Loh memangnya siapa dia Bu?" tanya karyawan itu dengan raut wajah pias.


"Dia Bu Rara, istrinya pak Iqbal!"


Gadis itu terlihat semakin pucat dan segera mendekat ke arah Rara. Rara masih berdiri dalam keadaan bingung. Bagaimana Bu Sinta percaya begitu saja padahal ia tidak pernah bilang siapa dirinya sebenarnya.


"Maaf Bu! Maafkan saya! Saya benar-benar tidak tahu! Maaf...!" kata karyawan hotel itu dengan nada rendah.


Rara tersenyum.


"Tidak apa-apa! Saya seharusnya berterima kasih sama kamu. Karena secara tidak langsung, kamu sudah menjaga suami saya dari orang-orang jahat."


"Iya Bu terimakasih!"


"Iya! Kamu boleh pergi!" jawab Rara.


Gadis itu kemudian pergi dan menemui teman-temannya yang sudah berkumpul di salah satu sudut. Mereka tampak berbisik bisik sambil mata mereka tak lepas dari Rara.


"Maaf Bu Rara! Sebenarnya pak Iqbal sudah mengatakan kepada saya jika gadis yang mengirim bunga setiap hari itu adalah istrinya. Tapi pak Iqbal melarang saya bertanya jika ibu tidak bertanya lebih dulu. Jadi maaf jika selama ini saya tidak menyapa ibu dengan baik"


"Iya Bu Sinta! Saya juga minta maaf. Kami memang sedang ada sedikit masalah. Tapi kemana ya mas Iqbal kok sudah tiga hari ini tidak berada di tempatnya?"


"Oh iya Bu! Maaf. Sebenarnya pak Iqbal sedang sakit!"


"Apa? Sakit?" pekik Rara dengan rasa khawatir yang amat sangat.


"Tidak apa-apa Bu. Kami sudah panggil dokter. Kata dokter pak Iqbal kecapekan saja.!"


Rara semakin panik.


"Sekarang dimana dia?"


"Ada disini Bu! Mari saya antar!"


Rara segera mengikuti langkah Bu Sinta. Dan di sepanjang koridor para karyawan hotel mengangguk perlahan saat bertemu dengan Rara. Rara membalas dengan senyuman terindah.


Sampai di lantai paling atas Bu Sinta menunjukkan kamar yang ditempati oleh suaminya. Setelah itu wanita itu pamit karena ada sesuatu yang harus dikerjakan.


Rara berdiri di depan pintu kamar VIP itu. Ia ragu-ragu untuk mengetuk pintu itu. Namun rasa khawatir dalam hatinya mengalahkan segalanya. Rara segera mengetuk pintu.


Tok tok tok


Beberapa detik kemudian pintu terbuka. Seorang perempuan muda muncul dari dalam. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam hati Rara saat melihat perempuan yang seumuran dengannya itu.


Gadis itu cantik. Rambutnya yang sebahu tergerai begitu saja. Penampilan yang sempurna untuk gadis seusianya.


Sementara gadis itu terus menerus mengamati Rara seolah sedang mengingat sesuatu. Hal yang sama juga terjadi pada Rara. Ia juga merasa pernah melihat gadis itu.


Siapa dia? Kenapa ada disini? Apa aku salah kamar?


Rara masih diam membisu menunggu hatinya yang benar-benar kesal itu mereda. Sementara pikirannya mulai kemana mana. Seorang laki-laki berada sekamar dengan dengan seorang perempuan. Apa ini? Rara diselimuti rasa penasaran sekaligus rasa kesal. Hingga suara gadis itu membuyarkan lamunannya.


"Kamu Rara kan?!"


Terimakasih sudah membaca


Salam manis 😘