A Big Love From A Cool Policeman

A Big Love From A Cool Policeman
BAB 34 PULAU BALI



Rara menunggu suaminya di lobby hotel milik keluarganya. Setelah makan siang di hotel Iqbal memang meninggalkan istrinya sendiri di hotel. Ia sempat ditemani seorang resepsionis hotel yang Iqbal panggil untuk menemaninya. Akan tetapi ketika resepsionis itu ada pekerjaan ia segera meminta ijin pada istri atasannya itu.


Hotel ini adalah salah satu hotel terkenal di Pulau Bali. Hotel mewah berkelas internasional yang memiliki nuansa futuristik dalam desainnya. Hotel yang terletak di kawasan wisata pantai Kuta. Bahkan untuk menuju ke pantai itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.


Iqbal datang dengan mengendarai sebuah motor matik berwarna putih. Motor matik berbodi ramping yang selalu ia impikan untuk bisa memilikinya. Ia tersenyum melihat Iqbal mengintruksikan kepadanya untuk segera naik ke atas motor. Rara keluar hotel dan mendapati suasana Bali yang baru pertama ini ia rasakan. Ia melihat sekeliling, banyak turis turis keluar masuk hotel. Rara memandangi mereka tanpa kedip. Sementara Iqbal tersenyum tipis melihat istrinya yang lagi lagi bertingkah seperti itu.


" Ini motor siapa mas?" tanya Rara kemudian


" Punya pak satpam!"


" Mas pinjam ya?"


"Kenapa? Aku sudah menyuruh dia pulang naik mobil hotel kalau seandainya kita belum pulang nanti."


"Kita mau kemana sih?" tanya Rara masih berdiri di samping motor yang sedari tadi sudah menyala.


" Ke tempat yang akan membuat kita selalu mengingatnya seumur hidup kita." Iqbal tersenyum dan menatap mata istrinya lembut. Tak ingin terjebak Rara segera mengalihkan pandangannya lalu segera naik ke atas boncengan.


Angin kala itu begitu tenang. Waktu sudah hampir menuju sore. Para wisatawan ramai di jalanan. Tentu saja mereka ingin menikmati sunset di pantai Kuta yang konon katanya begitu indah. Rara pernah membacanya di sebuah artikel berita. Banyak orang mengatakan jika pantai ini memiliki nuansa yang berbeda dari pantai lain di Bali.


Beberapa saat kemudian sampailah keduanya di pantai Kuta. Orang orang sudah lalu lalang di sana. Ada wisatawan asing, ada juga yang orang lokal. Mereka sedang menunggu matahari terbenam. Mereka ada yang sedang berjemur ,ada yang main pasir dengan keluarganya, dan ada pula yang masih bermain air laut.


Cuaca yang cerah mendukung kedamaian sore itu. Tak ingin berlama lama mereka segera turun dari motor dan bergabung bersama orang orang itu. Mereka duduk di atas pasir dan berteduh di bawah pohon rindang. Sementara di tepian laut banyak orang orang sedang berselancar. Dan suasana siang menjelang sore itu begitu menakjubkan.


Iqbal meminta ijin pada istrinya untuk pergi sebentar membeli sesuatu. Tak lama kemudian ia kembali dengan dua buah kelapa muda di tangannya.


"Mas...tahu tidak apa yang aku rasakan sekarang?" pertanyaan yang sontak membuat Iqbal berpikir sekaligus merasa senang. Pasalnya pertanyaan itu seakan memberi isyarat jika suasana dingin diantara mereka mulai mencair kembali.


"Hmmm... apa ya? Bahagia sudah pasti. Iya kan? Apa ya? Kok aku jadi bodoh gini ya... kayaknya aku mulai nggak peka lagi deh! Ayo dong cerita, setiap cerita kamu tuh terasa sebuah dongeng bagi anak kecil tahu nggak. Dongeng yang begitu kutunggu agar aku tidur dengan mimpi indah."


"Gombal!"


"Kok gombal?"


" Ah..mas Iqbal nggak asik. Aku udah serius malah digombalin.!"


Iqbal tertawa terbahak-bahak. Ia melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat kesal. Namun sekali lagi ia menyadari satu hal. Raut wajah kesal istrinyalah yang merupakan pemandangan yang paling indah saat ini. Sekali lagi ia menikmati keindahan yang luar biasa itu.


"Kamu tahu nggak Ra.., apa yang selalu aku minta pada Tuhan di setiap doaku?"


"Waktu kecil, aku dan kedua orang tuaku sering berlibur ke sini. Ada banyak kenangan di tempat ini. Yang selalu kuminta dalam dalam doaku adalah aku ingin kembali ke masa itu. Aku ingin mengulang semuanya. Aku ingin bersama mama dan papa. Aku ...aku..." Iqbal tak sanggup melanjutkan kata katanya. Ia menundukkan kepalanya. Lalu mengusap kepalanya perlahan.


"Mas...!" Rara mendekati suaminya dan dengan spontan ia menarik kepala suaminya ke dalam pelukannya. Sama persis seperti yang suaminya lakukan saat ia membutuhkan sandaran dulu. Ia usap kepala suaminya itu, memberi dukungan dan kekuatan padanya. Iqbal tampak membalas pelukan itu. Ia mengeratkan pelukan yang diberikan istrinya.


"Aku ingin sekali melihat mereka kembali. Apalagi memperkenalkan istriku pada mereka. Aku yakin mereka pasti bahagia seandainya mereka dapat melihatmu." Iqbal melepaskan pelukan istrinya.


"Mas...! Mereka di sana sudah bahagia, mas! Aku yakin jika mereka tahu mas Iqbal sedih seperti ini mereka justru akan terluka juga. Mas Iqbal adalah seorang laki-laki yang tangguh. Apapun yang akan terjadi tetaplah menjadi seperti itu. Karena mereka ingin mas Iqbal tetap kuat dan tegar menghadapi semua ini. Kita sama mas. Aku selalu berusaha agar aku tetap kuat. Dan mas Iqbal juga harus berusaha agar kita sama sama kuat."


"Apa kita akan saling menguatkan?"


"Tentu!" jawaban yang tegas itu keluar dari mulut Rara secara spontan.


" Kalau begitu berjanjilah apapun yang akan menimpa kita, selamanya kita akan saling menguatkan !"


Seperti ada sesuatu yang menghantam hatinya, Rara bagaikan sebuah batu dan diam seribu bahasa tatkala suaminya meminta sebuah janji padanya. Janji yang akan kembali membawa dirinya ke dalam jurang yang dalam. Namun entah apa yang sebenarnya diinginkan hatinya. Ia sendiri tak tahu. Ketika hatinya mencoba untuk bilang tidak hatinya justru mengatakan sebaliknya. Ia mengangguk perlahan.


Mata mereka bertemu dan hal itu kembali menyeretnya ke dalam kebimbangan. Rara merasa jika ia tak sanggup lagi membohongi dirinya meski sudah berbagai cara ia gunakan untuk menutupi seluruh perasaan hatinya.


Ia merasa telah kalah. Ia tak sanggup melihat tajamnya mata suaminya.


"Sekarang ceritakan apa yang sedang ada di hatimu."


"Aku tidak akan menceritakan sesuatu yang membuat kita bersedih ,mas. Aku hanya ingin bilang jika hari ini aku sangat bahagia sekali. Aku merasa seperti berada di tempat yang begitu indah dan mengagumkan. Tentu saja semua keindahan itu karena ada..." Rara menghentikan kalimatnya begitu menyadari bahwa Iqbal sudah menyentuh tangan kanannya. Dan matanya yang semula menatap langit berganti menatap suaminya.


Iqbal tersenyum begitu manis.


"Ada siapa? aku?"


Sementara mata mereka masih mengeja setiap kata dari dalam hati, orang orang berteriak kegirangan karena suasana yang tiba tiba saja sudah menjadi gelap dan matahari sudah tenggelam.


" Karena ada sunset mas! Ayo...!"


Rar menarik tangan suaminya mendekat ke laut yang landai. Pasir putih yang semula terlihat jelas kini samar samar telah mulai menjadi buram karena suasana semakin gelap. Namun langit di ufuk barat terang benderang oleh sisa sisa sinar matahari. Semua tampak terkagum kagum dengan fenomena itu.


Semua mengambil gambar sunset indah itu, termasuk Rara dan suaminya. Keduanya mengeluarkan ponsel masing masing. Mereka bergantian ber-selfie dengan bermacam macam gaya. Rara tak hentinya menyunggingkan senyuman. Ia sesekali menceburkan kakinya ke air laut yang ombaknya tak begitu besar sore itu.