
Rara menutup ponselnya secara sepihak. Meskipun Lukman masih ingin mengatakan banyak hal padanya. Tapi Rara tidak mau jika semua itu akan membuat dirinya tidak bisa lagi menahan perasaannya.
Seperti mendapatkan sebuah kekuatan baru, Rara meninggalkan apartemen yang sudah memberikan begitu banyak kenangan indah itu. Ia melangkah dengan pasti berharap akan ada kebahagiaan setelah semua keputusannya.
Sebelum kakinya keluar. ponselnya berdering. Ada sebuah pesan dari Lukman. Ia membaca pesan tersebut yang berisi sebuah foto suaminya yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Sementara di bawahnya terdapat sebuah tulisan.
' Ra...apa kamu tega melihat suami kamu seperti itu.
Jangan pernah membuat keputusan yang salah'
Tanpa pikir panjang Rara kembali masuk ke dalam apartemen dan duduk di atas sofa. Ia mencoba menghubungi Lukman. Hatinya tiba-tiba merasa seperti berubah haluan begitu melihat foto suaminya itu.
"Mas Lukman! Aku minta maaf!"
"Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa membiarkan sesuatu terjadi pada suamimu."
" Aku harus apa mas..?"
"Kamu harus ke Jakarta sekarang."
"Aku ingin mengatakan satu hal pada mas Lukman!"
"Apa?"
"Nenek meninggal dunia mas...!"jawab Rara dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Apa? Kamu nggak bohong kan ?"
Dengan perasaan penuh penyesalan Lukman menanyakan perihal kematian nenek pada Rara. Ia mencoba memberikan semangat untuknya.
"Kenapa tidak menghubungi aku?"
"Aku tidak mau mas Lukman meninggalkan mas Iqbal sendiri. Karena hanya mas Lukman yang saat ini aku butuhkan. Dan aku minta maaf mungkin aku akan ke Jakarta lusa mas.. setelah acara tujuh hari meninggalnya nenek."
"Iya Ra.. aku mengerti. Aku akan menunggumu. Kamu jaga diri ya...! Jangan telat makan, nanti Iqbal akan marah. Aku janji kalau dokter sudah memperbolehkan Iqbal bicara aku akan menyuruhnya bicara denganmu."
"Iya mas terimakasih banyak!"
Rara mengakhiri panggilan dengan mata yang tak lepas dari pengaruh kesedihan hatinya. Ia masih menangis meski ia sudah mencoba untuk menahannya. Ia semakin meluruhkan seluruh isi hatinya pada air mata itu tatkala ia ingat saat suaminya menyatakan cinta padanya.
'Rara istriku tercinta... jadilah istriku yang sebenarnya karena tidak ada yang bisa membuat seorang Iqbal menjadi lebih baik lagi jika bukan karena dirimu'
"Mas... apa kedudukan ku masih sama hari ini? Apa sebenarnya aku pantas untuk semua yang mas Iqbal berikan?" Rara bicara sendiri sambil mengamati foto-foto mereka ketika liburan. Sebuah hubungan yang ia rasakan seperti sebuah mimpi. Dan mungkin saat ini adalah waktu untuk bangun dari mimpi mimpi indah itu.
Di luar baru saja turun hujan. Sebuah mobil berhenti di depan rumah nenek. Hari ini acara tujuh hari meninggalnya nenek. Rara tidak tahu mobil siapa itu. Yang jelas mobil itu masuk ke halaman rumah nenek.
Pintu mobil terbuka dan dari sana keluarlah dua orang perempuan. Rara terkejut karena ia mengenal keduanya. Mama Henny dan Tante Wina. Mereka turun dari mobil dan berjalan dengan sedikit terpaksa karena jalanan di halaman rumah sedikit becek.
"Mama! Tante!" sapa Rara dan tanpa menjawab keduanya masuk ke dalam rumah.
Mereka masuk ke dalam rumah. Sepertinya ada yang hendak mereka sampaikan. Mereka menampakkan raut wajah yang tidak suka. Rara hanya tersenyum kecil seraya mempersilahkan keduanya duduk.
"Saya dengar nenek kamu meninggal! Makanya kami berdua datang kemari." kata Tante Wina.
"Sakit apa nenekmu?" tanya mama Henny seolah hanya berbasa-basi.
"Tante turut berdukacita!"
Kemudian Tante Wina mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
" Ini buat kamu ! Dan Tante harap kamu tidak perlu datang ke Jakarta. Setelah Iqbal membaik Tante dan om Yuda akan mengurus perpisahan kalian!" jawab Tante Wina seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.
Seperti ada rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang tidak pernah ia ingin rasakan. Tapi rasa sakit itu kini seperti menjadi sesuatu yang terus menerus menyayat hatinya. Ia menitikkan air mata mencoba menahannya. Namun rasa sakit itu terlalu menguasai hatinya.
Rara hanya bisa diam membisu. Bibirnya terkunci rapat. Ia tak sanggup mengatakan apa apa. Pikirannya kini justru memutar setiap apa yang ia sudah lalui bersama Iqbal. Akankah semua itu akan benar-benar berakhir. Air mata itu terus mengalir membuat tangannya yang sedari tadi ia letakkan di pangkuannya menjadi basah. Ia mendongak ke atas, berharap agar air mata itu tidak semakin bertambah deras.
"Tante tidak pernah bisa terima jika apa yang sudah kalian lakukan itu adalah suatu kebohongan besar! Tante harap kamu akhiri semua! Tante tidak akan kasar padamu jika kamu mau menuruti semua keinginan Tante!" lanjut Tante Wina.
"Satu lagi Ra! Kamu jangan coba-coba membujuk Iqbal agar ia mau mengasihani kamu. Kamu cuma perempuan sewaan yang sudah habis masanya. Iqbal tidak mungkin mengasihani kamu. Karena kami semua sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi!" kata mama Henny dengan nada menohok yang membuat Rara semakin terpojok.
Rara masih diam.
"Tante sebenarnya suka sama kamu. Seandainya saja kamu benar benar sebaik yang Tante pikir dan semua kebohongan itu tidak pernah ada, mungkin Tante masih bisa terima jika keluarga kamu bukan keluarga berada. Tapi sekarang Tante sadar jika semua yang telah kamu lakukan adalah demi uang."
"Ambil saja semua yang telah Iqbal berikan padamu! Semua adalah hakmu karena itu adalah imbalan untukmu! Dan mulai sekarang kamu dan Iqbal sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bukan lagi istri Iqbal, sekalipun itu hanya pura-pura!" lanjut mama Henny lagi masih dengan nada kasarnya.
Rara mencoba menghapus air matanya. Ia mencoba sekuat mungkin mendengar semua yang telah kedua orang itu katakan. Meskipun hatinya bagai diiris iris pisau tajam . Ia menghela nafas dalam. Ia mencoba menghibur dirinya dengan berkali-kali mengatakan pada dirinya jika semua akan baik-baik saja.
"Iya Tante! mama! Rara tahu kok siapa Rara! Dan Rara tidak mungkin masuk ke dalam kehidupan mas Iqbal lagi. Rara sadar Rara hanya orang sewaan yang dibayar mas Iqbal untuk berpura-pura menjadi istrinya. Dan selama ini Rara sudah mendapatkan imbalan yang lebih dari cukup. Jadi Rara rasa Rara tidak membutuhkan apa-apa lagi dari mas Iqbal. Rara juga tidak butuh ini." jawab Rara seraya mengembalikan amplop coklat yang masih ada di atas meja.
Keduanya hanya diam dan tampak bingung dengan ucapan gadis itu.
"Saya akan pergi dari kehidupan mas Iqbal! Saya menyerahkan sepenuhnya apa pun yang kalian lakukan untuk mengurus perpisahan kami. "
"Bagus! Ayo Wina kita pulang!"jawab mama Henny seraya bangkit dan mengambil amplop coklat itu kembali.
"Iya mbak!" jawab Tante Wina dan mereka berdua segera melangkah keluar.
Rara melihat mereka pergi.
Seperginya mereka Rara semakin tak bisa menguasai dirinya. Ia menjatuhkan dirinya di depan pintu rumahnya. Ia merasa tak bisa lagi berdiri dan menopang tubuhnya. Ia menangis sejadinya dan hal itu membuat mbak Dewi dan bang Soleh keluar dan mencoba membangunkan dirinya.
Rara bangkit dan memeluk mbak Dewi. Dan kali ini ia sadar jika hanya memiliki dua orang itulah untuk menyandarkan kepalanya saat ia terluka seperti ini. Ia mengingat neneknya. Ia menyadari jika ia belum sempat mengatakan semua kebohongan yang sudah ia lakukan pada neneknya. Dan itulah penyesalan yang mendalam yan ia rasakan saat ini. Ia merasa begitu bersalah telah membuat neneknya percaya dengan semua yang sudah ia lakukan.
Ia menyesal karena telah mengorbankan harga dirinya hanya demi cinta buta yang tidak akan mungkin pernah ia dapatkan.
Ia terus menerus menangisi nasibnya dan rasa sesalnya yang mungkin tidak akan pernah berujung.
Pada akhirnya Rara menyadari jika ia dan Iqbal tidak akan pernah bisa bersatu. Ia sangat sadar siapa dirinya dan siapa Iqbal.
Ia membuat keputusan yang tepat untuk mendapatkan sebuah kekuatan.
Ia harus pergi dari kehidupan Iqbal untuk selamanya.
Terimakasih telah membaca
salam manis 😘