
Eva
Setelah pergi dari rumah sakit hari sudah mulai gelap aku termenung menatap totebag dipangkuanku, aku harus segera kembali ke apartemen masih banyak pekerjaan menungguku tapi tubuh ini terasa sangat berat untuk bergerak, pikiranku selalu melayang kembali ke pernyataan Jun Ho berputar-putar didalam kepalaku.
Bis berhenti didekat sebuah mall besar di pinggir jalan kakiku melangkah turun padahal tinggal tiga kali pemberhentian sudah sampai apartemen tapi perasaanku tidak ingin cepat-cepat kembali kesana.
Salju mulai turun saat aku sudah turun dari bis wajahku menatap langit malam yang dihiasi titik-titik putih, angin berhembus menerbangkan rambut panjangku. Aku sengaja hanya menggunakan sweater mengira semuanya akan berjalan dengan lancar dan segera kembali ke apartemen karena itu kini badanku merinding kedinginan lenganku memeluk tubuhku sendiri seraya berjalan masuk kedalam mall.
Tidak sedikit pasang mata memperhatikanku kakiku melangkah tidak peduli masuk kedalam salah satu toko membeli satu jaket hitam dan sebuah syal, berjalan mencari makanan hangat. Setelah memesan dan memakannya habis aku membuka totebag kecil itu bermacam-macam jenis vitamin ada disana bibirku tersenyum kecil mengambil vitamin c lalu memakannya.
Menyusuri mall entah apa yang aku lihat dan aku rasakan aku tidak bisa mengartikannya, kakiku terhenti didepan balkon lantai dua melihat sekitar sebentar lalu memutuskan untuk kembali ke apartemen.
Terdengar teriakan banyak wanita dari arah belakang saat aku membalikkan badan tubuh berotot yang keras itu menabrak tubuhku kencang,aku berusaha untuk menyeimbangkan tubuh tapi karena pikiran yang tidak fokus membuat tubuhku kesulitan menerima perintah otakku alhasil punggungku menabrak pembatas balkon sepinggang itu totebag terlempar keluar pembatas bersama diriku yang terbalik keluar pembatas.
Teriakan dan jeritan pengunjung mall memenuhi udara menghantam telingaku membuat otakku kembali sadar. Dengan cepat tangan kananku terulur meraih pembatas balkon kaki kiriku meraih ujung pegangan totebag.
"Tolong dia!." Seru pengunjung.
"Panggil keamanan!." Teriak pengunjung lainnya.
Dan masih banyak teriakkan-teriakkan yang lain,sebelum ada yang sadar dan mendokumentasikan momen itu badanku berayun-ayun lalu dengan hentakkan keras aku melempar totebag bersamaan dengan tubuhku keatas dibantu dengan kekuatan tangan kanan sebagai tumpuan.Badanku berhasil mendarat dengan mulus didepan pelaku yang membuatku menjadi pusat perhatian totebag terjatuh diantara aku dan si pelaku dengan santai tanganku menangkapnya.
Mataku perlahan naik menatap dingin si pelaku wajahnya yang tertutup masker hitam membuat aku tidak bisa melihat ekspresinya sekarang tapi bola mata itu bergerak-gerak ketakutan tubuhnya membeku.
Dasar arogan,apa dia tidak sadar hampir membunuhku, dan membuat keributan ini, tidak ada ucapan maaf hah?!, batinku.
"Nona!." Teriak suara yang aku kenal.
Beberapa orang berlari menghampiriku.
"Apa anda tidak apa-apa?." Tanya Ronggo dengan raut wajahnya yang sangat khawatir.
"Awas! keamanan disini!." Teriak seseorang jauh disana sedang berusaha menerobos kerumunan.
"Maafkan saya nona, ini kesalahan saya." Ronggo dan tiga orang lainnya membungkuk sembilan puluh derajat.
"Berdiri kalian, urus security itu aku tidak mau kejadian ini tersebar. Aku tunggu di apartemen." Setelah mengatakan itu aku melirik sebentar si pelaku yang masih tidak bergerak ditempatnya aku mendengus kesal dan pergi secepatnya dari sana.
Setelah berhasil keluar dari mall yang menyebalkan itu aku memutuskan berjalan-jalan sebentar, banyak toko-toko berjejer udara dingin tidak menghentikan orang-orang untuk keluar terbukti betapa ramainya jalanan malam ini.
Suara alunan musik terdengar cukup keras aku melihat ada kerumunan tidak jauh dari sana karena sedikit penasaran aku menghampiri kerumunan itu.
Penonton kebanyakan anak-anak muda mereka sangat antusias menikmati pertunjukan ditengah lingkaran itu. Beberapa orang sedang menghentakkan kaki mereka berputar dan meliuk-liuk mengikuti dentuman musik, suara tepuk tangan dan teriakkan memenuhi kerumunan. Seorang gadis dan anak laki-laki berjalan ketengah lingkaran mereka mulai bernyanyi, melodi ceria mengalun melengkapi suara duo itu.
Entah sudah berapa lama aku berdiri disana, dari satu lagu berganti ke lagu lainnya dari satu pertunjukkan berganti ke pertunjukkan lainnya. Dari melodi ceria sampai melodi sedih sudah mereka putar.
Bahkan pertunjukkan mengagumkan seperti ini hingga melodi-melodi indah yang mereka mainkan tidak bisa menggerakkan hatiku. Apa yang sedang aku rasakan? apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku selama ini? semua ini seperti labirin membingungkan, bahkan saat aku berdiri didalam keramaian pun hatiku terasa hampa.
Aku beranjak pergi dari sana berjalan menuju halte bis.
Apa ada tempat didunia ini untuk diriku?, batinku dalam hati.
Sesampainya di apartemen Ronggo sudah menunggu didepan pintu. Setelah Ronggo melaporkan semuanya beres sesuai keinginanku, aku pergi membersihkan diri lalu berbaring diatas kasur menatap langit-langit apartemen, suara Jun Ho kembali terngiang ditelinga.
Mungkinkah aku bukan anak ayah dan ibu? bukankah itu mungkin saja, jika ayah adalah ayah kandungku dia tidak mungkin dengan teganya mengambil masa anak-anak dan masa remajaku dengan segudang privat dan kursus tanpa henti membuatku menjadi boneka yang dia inginkan bukankah itu tidak akan dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya. Ibu? aku seharusnya menyadari ini lebih awal, tidak mungkin ada ibu yang tidak ingin disentuh oleh anaknya bukan, apakah aku anak haram? tapi Jun Ho tidak menemukan ciri-ciri itu selama terapi hipnotis. Semua ini lebih masuk akal jika aku adalah anak pungut dan anak laki-laki itu adalah anak kandung mereka. EGA... who are you?.
Malam itu pikiranku berputar-putar sampai jam dua dini setelah itu kegelapan merenggut kesadaranku.
Didalam mobil yang melaju kencang tanganku sibuk memeriksa dokumen kumpulan saham yang ayah tanam dibeberapa tempat salah satunya tempat yang sedang ku tuju.
"Maaf non." Ronggo yang duduk disamping kemudi membuka suara.
"Hm."
"Non Eva tidak apa-apa?." Tanya nya.
"Hm."
"Non tidak pernah bangun kesiangan tapi hari ini," Ronggo menggantung kalimatnya.
"Non benar tidak apa-apa?." Ronggo melirikku sedikit.
"Hm, cuman kelelahan." Ronggo terlihat sedikit ragu tapi dia memilih untuk diam.
Mobil berhenti didepan sebuah gedung, pengawal membukakan pintu penumpang. Dengan sepatu boots warna peach jeans warna hitam dan atasan hoodie pink oversize tidak lupa sebuah ipad dengan casing warna hitam ditangan, aku dan Ronggo masuk kedalam gedung itu.
"Selamat pagi, kami salah satu pemegang saham." Ronggo berbicara dengan security.
"Ne, silahkan masuk. Harap ke meja resepsionis lebih dulu."
"Baik terima kasih." Ronggo berjalan didepan. Aku memutuskan untuk membawa Ronggo selama sisa hariku dinegeri gingseng ini.
Setelah urusan dengan resepsionis selesai kami masuk kedalam lift menuju lantai empat. Tempat ini lumayan sempit untuk sebuah agensi, membuatku berpikir kenapa ayah mau menanam saham diagensi seperti ini? apa mereka memiliki daya jual tinggi?, aku tidak tertarik dengan hal yang berhubungan dengan entertainment aku juga tidak terlalu tertarik dengan seni, ada sebuah buku yang menuliskan bahwa seni itu berwarna tapi yang aku lihat dan rasakan hanya satu warna abu-abu bagaimana bisa buku itu mengatakan berbagai warna?.
Kami memasuki sebuah ruangan dengan meja bundar ditengahnya dengan beberapa kursi, bahkan ruangan meeting mereka juga sempit. Sudah ada beberapa orang disana kami saling menyapa satu sama lain, tidak membutuhkan waktu lama untuk mataku menyusuri setiap inci ruangan, aku bukan perempuan sendiri disana ada seorang wanita dengan rambut pendek sebahu, sisanya sudah jelas mereka semua laki-laki tapi anehnya mereka terlihat masih muda dan pria paruh baya paling tua mungkin berusia empat puluhan tahun bukankah untuk sebuah agensi mereka cukup muda.
Seorang laki-laki sedikit berisi memasuki ruangan dengan senyum yang merekah. Duduk di ujung kursi berlawanan denganku.
"Selamat pagi semuanya. Hari ini sangat cerah bukan, kalau begitu mari kita mulai." Suaranya sedikit berat. Ceo Kim Jong Gu membagikan kertas berisi laporan tahunan itu sendiri? aku sedikit heran akan hal itu.
"Sudah menerima semuanya? silahkan dicek."
Ruangan itu hening, mataku dengan lincah menyusuri setiap baris laporan. Apa ini? laporan keuangannya membuatku shock, keuntungan yang sangat sedikit dibanding dengan saham-saham ditempat lain, apa yang dipikirkan ayah sampai mau menanam saham disini? dan yang membuatku lebih shock adalah nama-nama pemegang saham. Kenapa nama Ayumi tertulis disana?. Mataku bergetar mengerjap beberapa kali mungkin aku salah lihat tapi nama itu tidak berubah.
Ayumi tidak pernah ikut andil dalam bisnis ayah apa pun bentuknya aku tahu dan aku yakin akan hal itu.
"Baiklah saya kira semuanya sudah selesai membaca laporan kami, dan sekarang kami akan membahas tentang perencanaan kedepannya."Kim Jong Gu menatap kami satu persatu dengan lembut.
Apa dia benar seorang ceo?, batinku.
"Sajangnim, rencana untuk tahun depan disini tertulis akan memfokuskan pasar musik amerika bukankah itu sangat rawan kita gagal?." Tanya salah satu pemegang saham.
"Kenapa tidak dicoba, kita percaya dengan musik yang kita buat itu saja sudah menjadi alasan yang kuat untuk kita mencoba tantangan yang lebih tinggi." Kata Jong Gu yakin dan tidak tertinggal senyum dibibirnya.
"Tapi kenyataannya di korea saja musik agensi kita kurang populer." Sanggah pemegang saham lainnya.
"Itu benar tapi bukan berarti musik kita buruk. Anda bisa lihat grafik di halaman lima." Sontak kami membuka halaman yang diminta.
"Bukankah grafik musik kita selalu naik, agensi memang baru punya satu grup dan satu grafik grup ini tidak pernah turun, apakah anda tidak terpikirkan grup ini punya peluang besar dengan musiknya?."
"Apakah agensi bekerja sama dengan musisi amerika?." Tanyaku.
"Tidak." Jawab Jong Gu.
"Mungkin dengan musisi terkenal?." Nada suaraku yang datar membuat beberapa orang terlihat tidak nyaman.
"Tidak juga, musisi kami seratus persen orang agensi dan anggota grup juga ikut andil dalam pembuatan lagu." Apakah dia bercanda?, batinku.
"Dan kalian yakin ingin masuk kedalam pasar musik amerika?." Tanyaku dingin.
"Nona Ay-." Kalimat Jong Gu dipotong oleh wanita rambut pendek.
"Apa anda lebih tahu tentang musik lebih dari pada kami?." Tanya wanita itu dengan suara tenang seraya menatap kearahku.
Berani memotong kalimat ceo, melemparkan pertanyaan sinis kepada pemilik saham, dan menatap mataku langsung wooow dia bukan wanita sembarangan. Aku mengeluarkan smirk. Baru pertama kali aku bertemu wanita tangguh seperti dia, ini menarik, batinku.
"Tidak."
"Alasan apa anda meragukkan musisi kami?." Udara ruangan meeting mulai dingin hanya karena dua wanita diruangan itu yang saling bertukar pertanyaan.
"Kemungkinan seperti apa yang anda maksud?." Suaranya agak meninggi.
"Karena anda memaksaku untuk mengatakannya apa boleh buat, kemungkinan untuk gagal. Padahal aku sudah menahan untuk tidak mengatakannya." Sontak bola mata wanita itu melebar.
"Jika anda meragukkan kami kenapa tidak mencabut saham anda saja dan pindah ke agensi yang lebih anda percaya." Harga diri yang tinggi, batinku.
"Mungkin itu ide yang bagus, saya akan memikirkannya." Kim Jong Gu menarik nafas panjang.
"Maafkan karyawan kami, dia adalah salah satu produser di agensi, bagi kami para musisi musik adalah nadi kami jadi kami sangat sensitif tentang musik kami." Kata Jong Gu menenangkan.
"Maafkan saya juga." Kataku sedikit menunduk.
"Bisakah anda tidak mencabut saham anda?." Beberapa orang menatapku khawatir, bagaimana tidak Ayumi adalah salah satu investor besar di agensi setelah Kim Jong Gu.
"Orang tua saya lah pemilik saham saya tidak punya hak untuk memutuskan sendiri." Jong Gu mengangguk.
"Jadi, dengan informasi yang ada bagaimana cara anda membawa musik ini kedalam pasar amerika?." Tanyaku lagi.
"Kami sebenarnya tidak mempunyai cara khusus," Alisku terangkat tidak mengerti jalan pikiran ceo didepanku ini.
"Kami hanya percaya dengan musik kami dan membuatnya sesempurna mungkin, untuk pasar amerika kami akan mengeluarkan musik ini pertama kali disana."
"Itu yang anda sebut fokus ke pasar musik amerika?." Tanyaku tidak percaya.
"Bukankah ini pertama kalinya anda ikut meeting bersama kami nona Ayumi?." Deg. Siapa yang Ayumi!, batinku geram.
"Maaf saya putrinya." Mungkin, batinku melanjutkan. Jong Gu terdiam sesaat.
"Saya akan menunjukkan kepada nona muda nanti, setelahnya silahkan nona mengambil keputusan." Jong Gu dengan senyumnya melanjutkan meeting.
Dua jam yang dibutuhkan sampai meeting selesai, aku masih tidak bisa membaca jalan pikiran ceo satu ini, dia aneh. Semua orang keluar dari ruangan sempit itu.
"Maaf nona muda boleh tahu nama anda?." Tanya Jong Gu yang berjalan disampingku.
"Eva imnida." Jawabku seraya membungkuk sopan.
"Anda terlihat masih muda sekali." Jong Gu tertawa.
"Berapa usiamu?."
"Lima belas tahun." Jong Gu menghentikkan langkahnya.
"Pantas saja wajahmu terlihat masih seperti bayi." Aku menaikkan satu alisku, bayi?.
"Tapi sangat luar biasa anak lima belas tahun bisa ikut meeting besar seperti ini, ibu Ayumi pasti sangat bangga memiliki putri seperti Eva si." Bangga heh?, batinku kesal.
"Sajangnim juga masih terlihat muda." Aku mengalihkan pembicaraa, Jong Gu menggaruk belakang kepalanya dan tertawa.
"Kau bisa saja, umurku sudah tiga puluh sembilan tahun lo." Jawabnya.
Jong Gu tiga puluh sembilan tahun sesuai dengan wajah dan tubuhnya sedangkan Jun Ho tiga puluh tujuh tahun selisih hanya tiga tahun tapi wajah dan tubuhnya yang tidak pernah menua benar-benar membuatku takut.
"Kita mau kemana sajangnim?." Tanyaku, sejak tadi Ronggo berjalan di belakang kami.
"Aku ingin mengantarmu keliling gedung ini." Aku hanya bisa mengangguk, semoga saja tidak lama.
"Ah, kita sudah sampai. Ini adalah ruangan latihan grup kita, ayo masuk." Saat Jong Gu membuka pintu terdengar suara dering ponsel dari saku jeansku.
"Maaf saya minta waktunya sebentar, sajangnim silahkan masuk duluan nanti saya menyusul." Jong Gu mengangguk.
"Om tolong wakilkan aku dulu." Pintaku.
"Baik non." Ronggo ikut masuk kedalam ruangan itu. Aku sedikit menepi lalu mengangkat telepon.
"Hallo."
"Yak! gadis nakal, kau tidak apa-apa?." Aku menjauhkan ponsel dari telinga.
"Bisakah kau tidak berteriak?, memangnya aku kenapa?." Tanyaku balik.
"Aku dengar kau hampir jatuh dari balkon mall." Suara Jun Ho terdengar khawatir.
"Siapa yang memberitahumu?."
"Ish, jawab aku gadis nakal." Aku menarik nafas panjang.
"Apa kau kira sebuah pembatas bisa membunuhku?."
"Kau tidak apa-apa?."
"Hm."
"Syukurlah, aku sangat kaget tadi malam Ronggo si menelponku dan menceritakkan kejadian itu."
"Ronggo si?, dia tidak akan repot-repot menelponmu hanya untuk menceritakan itu?."
"Kau benar, dia menanyakan tentang konseling kita." Sudah aku duga.
"Lalu?."
"Tentu saja aku berbohong." Aku mengangguk yang sudah pasti Jun Ho tidak bisa melihatnya.
"Aku hanya ingin menanyakan itu, gadis nakal! sejak tadi malam ponselmu tidak bisa dihubungi membuatku ingin menjewer pipimu itu." Protes Jun Ho.
"Aku menelantarkan ponselku yang mati."
"Yak! kau, benar-benar gadis nakal."
"Jun Ho si." Panggilku pelan, aku ingin memberitahunya bahwa aku mungkin bukanlah anak ayah dan ibu.
"Hm?." Suara beratnya terdengar lembut.
"Terima kasih, aku masih harus bekerja." Mungkin lain kali saja aku memberitahunya, batinku.
"Uhm, jaga kesehatan dan lebih berhati-hatilah jangan ceroboh lagi."
Panggilan terputus, aku menarik nafas penjang lalu memasukkan ponsel kedalam saku jeans meraih gagang pintu membukanya pelan.
Di balik pintu terdapat kaca besar menjulang dari sisi atap sampai lantai memanjang dari ujung ke ujung, sepertinya kaca itu belum terlalu tua tapi kenapa terlihat begitu lusuh? itulah pemandangan pertama kali yang tertangkap oleh mataku.
Aku menutup pintu pelan membungkuk sembilan puluh derajat kepada para penghuni ruangan itu. Lagi, ruangan ini juga tidak kalah sempit, dengan adanya dua buah sound system satu komputer dan beberapa mic yang tergeletak disebuah kotak ada juga tiga kursi ditambah lagi tiga belas penghuni termasuk aku Ronggo dan Jong Gu.
Diluar sana salju sedang turun berbeda dengan ruangan ini yang terasa sangat panas bahkan ac dingin pun sudah dinyalakan. Mereka balas membungkuk.
"Perkenalkan dia adalah wakil dari salah satu investor kita." Ucap Jong Gu didepan mereka yang sudah berkumpul.
"Eva imnida." Ucapku seraya membungkuk sedikit.
"Eva si mereka adalah grup yang kita bicarakan di meeting tadi, bukankah kalian juga harus memperkenalkan diri?." Mereka langsung sibuk merapihkan barisan membuatku agak bingung, mereka sedang ngapain?, batinku. Mataku menyapu mereka satu persatu karena badan mereka yang terlalu tinggi membuatku mendongak untuk bisa melihat dengan jelas.
Mereka ada tujuh dan tiga orang lainnya mungkin pelatih mereka, sampai tatapanku berhenti disalah satu dari mereka. Mata kami bertemu.
DEG!
"Kau?!."
Suaraku yang keras menghentikan gerakan mereka,Jong Gu sontak menatapku.