
Baju panjang berwarna hitam dan juga celana panjang dengan warna yang sama itu melekat ditubuh Eva, Eva berjalan menuju pintu hitam disamping pintu laboratoriumnya, lima detik alat scan yang terletak di tengah pintu telah memindai retina Eva pintu bergeser menampakan ruangan yang lebih luas dari laboratorium dengan berbagai macam benda. Di dalam ruangan rahasia Eva ada dua ruangan lainnya laboratorium dan bengkel, dua pintu ruangan itu tidak dilengkapi daun pintu untuk memasukinya harus dengan menscan mata Eva, Eva selalu berhati-hati jika suatu saat ruangan rahasianya diketahui mereka tidak akan mudah memasukinya dan tidak membiarkan mereka bertindak sesuka hati.
Mata Eva menyapu ruangan itu lalu ia melakukan stretching (peregangan).
"Ok, persiapan sudah selesai. Ayo kita mulai." Ucap Eva bersemangat.
Eva menjentikkan jarinya sebuah layar komputer berukuran besar otomatis menyala. Eva mulai menekan beberapa tombol on di beberapa tempat, sebuah podium kecil bundar dengan sebuah corong dilangit-langit atap menggantung menghadap kebawah menyala, beberapa mesin juga menyala otomatis.
"Selamat siang Eva." Sebuah suara menyapa Eva.
"Buka file kostum ini Je." Perintah Eva kepada robot komputer buatannya. Tidak hanya Eva yang bisa membuat sebuah komputer berbicara dan mengerti perintah orang bukankah dijaman sekarang ponsel-ponsel canggih juga memiliki aplikasi yang membuat ponsel mereka mengerti perintah pemiliknya tanpa menyentuh ponsel itu sendiri. Perbedaannya adalah Eva membuatnya sesuai keinginan Eva dan milik Eva juga berbeda dengan yang diluaran sana.
"File terbuka." Seru suara Je si komputer.
Eva naik ke podium kecil bundar.
"Cek perlengkapan dan keamanan." Ucap Eva.
"Baik."
Sebuah scan berwarna putih berbentuk bundar itu muncul dari bawah kaki Eva dan mengambang naik ke atas.
Ting!
Suara mesin podium, sinar putih berubah hijau, Eva melangkah turun menghampiri Je komputer.
"Perlengkapan penyimpanan ok, keamanan ok." Lapor Je komputer.
"Hari ini aku mau membuat benda yang sedikit menarik." Setelah mengatakan itu Eva memakai kaca mata pelindung meraih berbagai peralatan untuk merakit, ia berkutat dengan kabel dan peralatan-peralatannya, ruang rahasia Eva kedap suara jadi tidak akan ada yang mendengar suara-suara bising dari alat yang digunakan Eva.
Tidak terasa hari sudah malam saat Eva selesai melakukan hobinya, ia merapihkan peralatan lalu mengambil benda bulat hitam seperti kelereng meletakkannya ditengan podium.
"Je aktifkan tabung." Ucap Eva seraya mengambil buku catatanya dan sebuah bolpoin.
"Baik."
Dddrrrrtttt.
Tabung kaca yang sangat tebal itu keluar dari pinggir podium menjulang keatas sampai masuk kedalam sela-sela corong.
"Hantam bolanya je."
"Laksanakan." Sebuah tangan robot dengan bentuk tangan manusia turun dari bagian tengah corong menggenggam lalu dengan cepat menghantam bola kecil hitam dengan keras.
Boom!
Asap hitam mengepul memenuhi tabung, meskipun ada ledakan keras yang menimbulkan getaran hebat tabung itu akan kuat menahannya bola mata Eva mengamati semua proses dengan teliti memeriksa hasil uji coba benda terbarunya. Mencatat dengan cepat lalu melihat spesifikasi bola kecil hitam dari komputer biasa disebelah Je komputer.
"Ini sempurna, tapi warna asapnya terlalu kuno." Gumam Eva. Memikirkan beberapa cara untuk memperbaikinya tidak lupa menuliskan di buku catatan, beberapa menit kemudian Eva menutup bukunya.
"Je turunkan tabungnya."
"Baik."
Perlahan tabung kaca bergerak turun setelah dirasa sudah selesai Eva menaiki tiga tangga podium.
"Je bersihkan kostum." Perintah Eva.
"Baik."
Tiba-tiba tabung kaca mulai naik kembali mengurung Eva didalam. Wooossshh.. angin cukup kencang keluar dari atas menghantam tubuh Eva berputar-putar dengan cepat mengelilingi tubuh gadis itu, setelah satu menit angin tersedot kembali keatas masuk kedalam corong bersama noda-noda hitam yang terangkat dari baju Eva.
Eva tidak percaya dengan cerita sihir menurutnya semua bisa saja terjadi dengan hukum ilmiah, seperti alatnya tadi dan saat mengaktifkan Je dengan satu jentikan jari karena dilengkapi sensor suara bukan dengan mantra sihir.
Semua angin beserta noda hitam sudah masuk kedalam corong tabung kaca pun perlahan turun kebawah. Eva melirik bajunya sudah kembali bersih seperti pertama ia pakai. Didalam tabung tadi Eva mencuci baju dengan angin tentu saja bukan murni angin biyasa Eva sudah melakukan beratus-ratus percobaan untuk membuat alat itu. Kaki Eva melangkah turun berjalan menuju deretan tombol-tombol on off menekan semua tombol off lalu melangkah keluar kembali kedepan tabung untuk mengganti kostumnya dengan piama tadi pagi. Dimeja yang menempel di sisi tembok Eva menatap sebuah foto, orang itu sedang tersenyum.
"Aku akan menjadi ilmuan sepertimu." Lirih Eva.
Senen pagi sma tunas jaya ramai seperti biasa Eva berjalan dilorong menuju kelas, banyak siswa-siswi berdiri dan bercanda di pinggir lorong mengusik gendang telinga Eva.
"Awas!." Seru seseorang dari belakang Eva.
Tepat saat orang itu berteriak seorang murid laki-laki terdorong kebelakang oleh lengan temannya hampir menabrak tubuh bagian depan Eva dengan cekatan Eva mundur satu langkah untuk memberi jeda lalu memiringkan tubuhnya seraya menarik tangan kanan kebelakang tubuh.
Bruk!
"Argh!."
"Aduh."
Alhasil dua murid laki-laki itu saling menabrakkan kepala mereka.
"Maaf kak, aku nggak sengaja." Kata laki-laki yang hampir menabrak Eva seraya memegang belakang kepalanya yang sakit.
"Nggak apa-apa, aku juga salah maju terlalu jauh." Kata laki-laki yang berteriak kepada Eva tadi tersenyum mengelus dahinya yang berubah merah ia menoleh menatap Eva yang berdiri dengan wajah datarnya.
"Kalau begitu aku duluan kak." Kata laki-laki yang hampir menabrak Eva meninggalkan tempat kejadian menyusul teman-temannya.
"Niatnya aku mau narik kamu biar ngga ketabrak loh, eh malah aku yang kena." Ucap Dimas masih mengelus dahinya.
"Kamu ngga apa-apa?." Tanya nya lagi, Eva mengabaikan Dimas dan berlalu meninggalkannya, Dimas mengejar Eva berjalan disamping gadis itu.
"Kenapa absen lima hari?." Beberapa anak yang berpapasan dengan mereka kaget tidak percaya. Eva tidak menjawab Dimas.
"Aku dengar kamu ijin?." Kasak-kusuk anak-anak membicarakan mereka tertangkap telinga Eva.
"Sepi tau nggak, di sekolah nggak ada kamu." Pagi-pagi udah ketemu orang gila, mana ada sekolahan sepi nggak ada aku, batin Eva.
"Nggak denger anak-anak ngegibahin kamu." Oh, batin Eva mengejek. Drrtt drrtt Eva mengangkat teleponnya.
"Hm." Dimas melirik gadis disebelahnya sedang berbicara dengan orang diseberang sana.
"Sudah sampai di sekolah?."
"Hm."
"Mulai hari ini waktu privat dan kursus ditambah." Ucap Daren.
"Hm."
"Sudah waktunya, ayah akan menghubungimu lagi."
"Hm." Tuutt tuuut.
"Pak Daren?." Tanya Dimas. Eva sudah dekat dengan kelasnya dia ingin segera lepas dari Dimas.
"Kelasmu sudah kelihatan, sampai jumpa nanti siang." Ucap Dimas tersenyum lebar kepada Eva lalu membalikkan badannya pergi.
Didalam kelas Eva menaruh buku pelajaran pertamanya di atas meja meletakkan kepalanya disana, tadi malam Eva bermimpi buruk membuatnya sulit untuk tidur lagi, mimpi yang sama. Kasak-kusuk dikelas terdengar saling bersautan biasanya hanya Dinda yang berisik tapi sekarang seluruh kelas membuat kegaduhan ditelinga Eva. Tidak lama bel masuk berbunyi pelajaran pun dimulai.
Teeett.. Teeettt...
Para murid keluar untuk mengisi perut mereka yang kosong tidak terkecuali Eva yang sedang menunggu waktu untuk menyeberang.
"Waahh, banyak sekali sepeda motor yang lewat." Suara ini, geram Eva dalam hati.
"Kalau begini terus nggak ada habisnya." Dimas melangkah mengangkat tangan kanannya kesamping merentangkan lima jarinya kepada pengendara dan tangan kirinya meraih tangan Eva namun naas Eva sudah menjauhkan tangannya lebih dulu. Tanpa Eva ketahui Dimas tersenyum kecil, tetap melangkah kedepan Dimas merentangkan kedua tangannya kesamping dibelakangnya Eva mengikuti langkah Dimas
Dia sudah gila, batin Eva melihat kelakuan Dimas. Mereka berhasil menyeberang dengan selamat Dimas melambatkan langkahnya agar sejajar dengan Eva.
"Mana ucapan terima kasihnya?." Dimas melirik Eva. Gadis disampinya tidak merespon sama sekali sampai mereka sudah duduk dimeja cafe dan memesan makanan mulut Eva tetap bungkam. Dimas tidak kehabisan akal untuk membuat adik kelasnya membuka mulut.
"Lihat besok ada diskon minuman disini, coba makanannya juga diskon aku bakal seneng banget." Ucap Dimas semangat menunjuk daftar menu, wajah Eva menoleh kesamping melihat pemandangan di luar cafe.
"Kenapa kamu selalu pesan pasta dan lemon tea?."
"Nggak mau coba yang lain?."
"Banyak menu yang enak-enak loh." Dimas bagaikan bicara dengan patung hidup.
"Eh, ada brosur menu baru buat minggu depan. Kelihatannya enak deh." Mata Dimas fokus menatap brosur.
"Cupcake tiga rasa, pilih yang mana ya?." Eva menoleh menatap cowok dihadapannya sedang fokus melihat brosur ditangan.
"Apa masalahmu denganku?." Eva bertanya datar ia sudah kesal.
"Kangen." Jawab singkat Dimas masih fokus dengan brosur, perlahan wajahnya terangkat membalas tatapan datar Eva.
"Aku kangen kamu." Ucap Dimas menatap dalam manik biru Eva.
"Gila." Jawab Eva seraya membuang wajahnya, Dimas yang mendapat jawaban dari Eva tersenyum bahagia. Pesanan mereka datang.
"Dimas beneran sudah jadian sama tuh kulkas?." Tanya siswa 1.
"Eh, bukannya Dimas ditolak ya?." Sahut siswi 1.
"Lah terus kenapa mereka bisa makan berdua?." Tanya siswa 2.
"Pake guna-guna mungkin." Srobot siswa 3.
Plak.
"Ngawur lo, mana ada." Siswa 1 memukul pelan punggung siswa 3.
"Yee, kan bisa aja." Siswa 3 melirik meja dua sejoli itu.
"Itu bisa terjadi." Ucap siswi 2.
"Lah lo kok ikutan." Siswi 1 menatap siswi 2.
"Coba kalian pikir, mahluk dari kutub itu sangat anti deket sama orang lain. Gue pernah lihat dia di perpus berdiri diujung rak, gue pikir dia lagi nyoba jadi satpam perpus tapi setelah ada rak yang kosong dia jalan ke rak itu terus nyari-nyari buku nggak lama ada anak lain yang datengin rak itu juga dia langsung ninggalin rak gitu aja nggak jadi ngambil buku." Jelas siswi 2.
"Beneran lo?." Tanya siswa 2.
"Apa untungnya gue bohong." Yang lain mengangguk paham.
"Gue pernah nyoba deketin dia waktu tes akhir semester kemarin." Ucap siswa 3.
"Kok bisa?." Tanya siswa 2.
"Kan kelas dua belas duduk sama kelas sepuluh gimana sih lo." Jawab siswi 1.
"Terus lo satu bangku sama tuh kulkas?." Siswa 1 menatap siswa 3 menganggukan kepalanya pelan.
"Terus gimana?." Tanya siswi 2.
"Baru tiga puluh menit tes dimulai dia sudah diam dengan soal yang kebuka pandangannya lurus kedepan, gue kira itu kesempatan gue buat ngajarin dia sekaligus pdkt." Teman-temannya menatap penasaran dengan cerita siswa 3.
"Gue bilang gini ke dia, dek mau kakak bantuin?."
"Terus dia jawab apa?." Tanya siswa 2 tidak sabar.
"Dia nggak jawab gue tapi nyodorin lembar jawabannya yang sudah terisi semua." Sontak mereka tertawa terbahak-bahak.
"Sok pinter sih lo." Ledek siswa 1.
"Gue kira dia lagi ngelamun mikirin lembar jawabannya yang bolong-bolong makanya gue nawarin bantuan." Sewot siswa 3.
"Jurus apa yang dipake Dimas ya?." Lirih siswa 2.
"Semar mesem mungkin hahaha." Tawa mereka bersama.
"Jangan ngawur lo, kualat." Srobot siswi 1.
Mereka masih sibuk membicarakan dua sejoli yang sudah meninggalkan cafe.
Drrrtt drrrttt.
Eva berhenti meraih ponsel dari saku rok, Dimas juga ikut berhenti disamping Eva.
"Hm."
"Kita berhasil. Kita menang tender amerika." Ucap Daren.
"Selamat."
"Kerja bagus." Lagi, hanya itu, batin Eva.
"Hm."
"Ayah tidak tahu akan pulang kapan, lakukan semua privat dan kursus nya."
"Hm."
"Mm ayah hampir lupa, untuk produk terbaru di china tiga bulan kedepan kau yang tangani."
"Hm." Lirih Eva. Aku tidak punya pilihan jawaban lain, batin Eva.
"Bagus, ayah meeting dulu." Daren memutus telepon, Eva memasukkan ponselnya menarik nafas pelan.
"Apa yang selalu kalian bicarakan disetiap panggilan?." Tanya Dimas mengikuti langkah Eva, tidak ada jawaban.
"Kenapa pak Daren sering sekali menelponmu?." Tanya Dimas lagi.
"Kamu tidak keberatan untuk itu?."
Telinga Eva panas mendengar ocehan Dimas ia berlari tanpa aba-aba menyebrang jalanan meninggalkan Dimas di seberang jalan.
"Eva! tunggu!." Teriak Dimas tapi Eva tetap berlari secepat mungkin.
Bel pulang berbunyi lima belas menit yang lalu, Eva melangkah keluar kelas bola matanya menangkap sesuatu yang tidak ingin dia lihat. Dimas berdiri menyender ditembok cowok itu menunduk memainkan ponselnya merasa yang ditunggu sudah keluar Dimas mendongakkan kepalanya tersenyum lebar.
"Ayok pulang." Ucapnya tanpa dosa.
Dia gila benar-benar gila, siapa juga yang mau pulang bareng dia, batin Eva.
Sebelum Eva berjalan melewati Dimas cowok itu sudah mensejajarkan langkahnya.
"Va." Panggil Dimas tanpa mendapat jawaban.
"Dua hari lagi ada latihan tanding basket disekolah, kamu mau nggak nonton pertandingannya?." Dimas melirik Eva, mulut Eva terbuka membuat jantung Dimas berdegub gugup.
Dia mau jawab, dia mau jawab, batin Dimas.
"Geser, jangan dekat-dekat." Dooong! (suara gong) Dimas terdiam, saat dia sadar Eva hampir sampai digerbang dengan kecepatan tinggi Dimas berlari menyusul Eva.
"Va! hati-hati." Dengan senyuman lebarnya Dimas melambaikan tangan kepada Eva yang hendak masuk kedalam mobil. Setelah mobil Eva tidak terlihat Dimas berjalan kembali ke parkiran motor.
Didalam mobil Ronggo bertanya kepada Eva tentang Dimas.
"Dia hanya pengganggu." Jawab Eva singkat. Melihat raut wajah majikannya yang tidak suka meyakinkan Roggo bahwa Dimas benar-benar telah mengganggu majikannya.
"Perlu saya bereskan nona?." Tanya Ronggo.
"Tidak perlu, abaikan saja." Eva melihat jadwalnya yang dikirim Daren kemarin.
"Baik."
Beberapa menit kemudian Eva merasakan Ronggo sedang gelisah ia seperti ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Om Ronggo." Tegur Eva datar.
"Maaf nona." Ronggo membungkuk sedikit.
"Katakan." Eva menatap Ronggo dari balik kursi.
"Nyonya sedang marah besar dirumah non, perlukah kelas privatnya dilakukan ditempat lain?." Ucap Ronggo sedikit takut karena majikannya ini sangat sensitif dengan ibunya.
"Tidak usah, cukup ditaman belakang saja."
"Baik non."
"Om, kenapa ibu marah?." Tanya Eva, ternyata ibunya pulang kerumah padahal saat Eva pulang dari korea sampai tadi pagi ibunya tidak ada dirumah.
"Nyonya mendengar kalau tuan Daren menang tender di amerika karena banyak yang diurus tuan tidak tahu kapan akan pulang." Jelas Ronggo.
"Hanya karena itu?."
"Iya nona."
Tidak lama Eva sudah sampai dirumah bak istana itu kakinya melangkah memasuki ruang tengah, pemandangan yang tersaji membuat Eva berhenti.
Neraka, lirih Eva dalam hati.
Segala jenis benda berserakan dilantai, pecahan-pecahan segala benda menutup seluruh jalan, ada titik-titik darah melengkapi pemandangan itu.
"Non Eva." Fitri tiba-tiba berdiri di belakang Eva.
"Darah siapa?." Tanya Eva.