Yuki

Yuki
Bab 1



"Hei..!."


"Apa?! Fathur tuh bakalan pilih aku, kakak nggak usah ngarep deh." Teriak siswi kelas X itu, mendengar jawaban dari juniornya siswi senior tingkat akhir naik pitam.


"Hei..! junior ngga tahu diri. Tutup mulut lo, Fathur bakal mikir seribu kali buat milih cewek model kaya lo!." Sergah si senior seraya berkacak pinggang dan menatap tajam manik juniornya, junior kelas X yang notabene masih anak baru itu tidak mau kalah dia balik menatap tajam seniornya menantang.


Sedangkan tidak sedikit siswa-siswi berkerumun mengelilingi lapangan depan sekolah, menonton drama gratis dipagi hari.


Cowok yang diperebutkan mematung diantara kedua cewek yang sedari tadi sibuk beradu mulut memperebutkan dirinya, si cowok berusaha menenangkan senior dan teman satu angkatannya.


"Sudah-sudah berhenti ini dilihatin banyak orang lebih baik kita masuk ke kelas masing-masing." Tutur Fathur menetralkan keterkejutannya dengan susah payah menahan rasa malu.


"Tidak!. Kamu harus pilih salah satu diantara kita berdua!." Jawab siswi kelas X.


"Oh, lo memang ngga pantes jadi pacar Fathur belum jadian saja sudah berani membentaknya." Senyum mengejek terukir diwajah senior tingkat akhir yang manis itu membuat si cewek juniornya mencemgkeram kuat sisi rok abu-abu menahan emosi.


"Kalau kalian masih bertengkar aku mau pergi dulu, permisi." Fathur yang ingin cepat pergi dari TKP segera membalikkan badannya. Tapi naas kedua cewek itu tidak membiarkannya begitu saja.


"Berhenti!." Jerit kedua siswi itu kompak yang membuat Fathur menghentikan niatnya, mengambil nafas pelan dan menghembuskannya frustasi.


"Baik, berarti kalian juga harus berhenti melakukan ini semua." Fathur melihat kembali kedua siswi itu yang tidak bergeser sedikit pun, kedua bola mata mereka saling menatap tajam satu sama lain sejak tadi.


"Diam!." Seru senior junior itu kompak, teriakkan kedua kali yang dia dapat dipagi hari membuat Fathur menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


Dilain sisi pengawal dengan sigap membuka pintu mobil penumpang, dengan perlahan, rasa malas yang menggelayuti seorang gadis menuntunnya keluar dari dalam mobil.


Hebat, jalan satu-satu nya menuju kelas tertutup sempurna oleh lautan manusia, batin gadis itu.


"Non biar saya yang membubarkan mereka." Pengawal membungkuk 45 derajat.


"Tidak perlu." Tandas gadis itu.


"Om pulang saja aku bisa masuk sendiri." Eva mencangklek tas hitamnya.


"Tapi non," protes Ronggo si pengawal.


"Aku sudah selamat sampai tujuan om pulang saja." Tanpa mendengar jawaban dari Ronggo Eva melangkah pergi


Ronggo dan Eva sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga, tapi kenapa Eva tidak memperlakukan Ronggo seperti pengawal-pengawalnya yang lain?, alasannya begitu simpel bahwa Ronggo telah menjaganya selama delapan tahun terakhir bukan!lebih tepatnya mengawal Eva dengan baik dan sabar karena itu Eva memutuskan untuk memanggilnya om Ronggo.


Langkah Eva berhenti dibelakang cowok yang sedang asik melihat tontonan ditengah lapangan yang menjadi sumber kemacetan manusia.


"Fathur. Pilih aku atau bocah ini?." Sembari menunjuk tepat didepan wajah juniornya.


"Aduh, begini kak.."


"Pilih salah satu!." Keduanya memotong kalimat Fathur serempak, Fathur kembali menggaruk belakang kepalanya lagi.


Dasar konyol, batin Eva.


Eva dengan malas menggeser orang-orang yang berdiri menghalangi jalannya.


"Fathur pilih salah satu!." Teriak si junior.


Lagu sugar dari maroon 5 mengalun keras dari ponsel Eva, menghentikan aksinya menggeser lautan manusia itu tepat di tengah-tengah lingkaran diantara kedua siswi yang menjadi tontonan.


Eva meraih ponsel dari dalam saku rok abu-abunya dan menempelkan benda pipih itu ditelinga.


"Ya." Lirih Eva.


"Kamu sudah sampai?." Suara pria paruh baya dari seberang.


"Hm..." Semua pasang mata tertuju kepada Eva.


"Sepulang sekolah jangan keluyuran."


"Hm."


"Kamu mendengarku?"


"Ya."


"Bagus, ayah mau bekerja dulu, sekolah yang bener."


"Hm.." Tuut... tuuut sambungan terputus.


Eva memasukkan ponselnya kedalam saku rok, terdengar bisik-bisik disana-sini dan terlihat kedua siswi yang berdiri di sebelah kanan kirinya tidak senang karena Eva merusak momen mereka.


Bodo amat, batin Eva.


Eva tidak menghiraukan semua tatapan orang-orang, dia berjalan melewati cowok yang berdiri didepannya yang sedari tadi bergeming ditempat.


Orang-orang didepan Eva bergeser memberinya jalan.


Baguslah aku tidak usah repot-repot menerobos mereka, batin Eva.


Teeet... teeett... teeett.


Bel berbunyi, dibelakang Eva siswa-siswi berhamburan masuk kedalam kelas masing-masing.


Eva duduk dibangkunya, barisan paling belakang tepatnya dipojok kanan barisan meja guru. Letak strategis untuk tidur.


Hari pertama masuk sekolah setelah libur semester satu kemarin.


Para guru hanya memberikan tugas kepada murid-muridnya yang harus dikumpulkan pada akhir pelajaran.


Pak Didik memberikan tugas bahasa inggris yang berjumlah lima halaman LKS itu dan meninggalkan kelas setelahnya.


Dengan cepat Eva mengerjakan tugasnya agar dia bisa segera tidur. Tadi malam Eva telah mengerjakan proposal untuk meeting dua hari lagi dan meneliti keuangan perusahaan ayahnya sampai jam tiga pagi tadi.


Dinda teman sebangkunya sedang sibuk menggosip dengan kedua temannya.


"Gila, Reyna berani banget nantangin kak Sofia." Kedua temannya yang duduk dimeja depan mengangguk-angguk antusias.


"Sebenarnya aku juga berani tuh sama senior sok kecantikan itu demi dapetin Fathur." Ucap Dinda menggebu-gebu.


Dasar tukang gosip, apanya sih yang bagus dari cowok itu, siapa tadi namanya? ah.. bodo amat, batin Eva.


Eva menutup bukunya menjadikan buku sebagai bantal.


"Fathur tuh beda, baru kelas satu sudah buat rebutan saja, iiihh sudah pinter, bla..bla..bla.."


Dinda masih mengoceh tak karuan suaranya yang melengking membuat Eva sulit untuk tidur. Dengan gerakan pelan Eva menegakkan duduknya dan menatap tajam kepada teman sebangkunya itu spontan Dinda langsung mengunci mulutnya. Melihat itu Eva kembali ke posisi awalnya untuk tidur.


Waktu istirahat siang Eva ditemani dengan jus lemon dan sepiring pasta yang tersedia di cafe depan sekolah. Setiap istirahat siang Eva selalu datang ke cafe langganannya ini, selama Eva sekolah sejak sekolah dasar sampai menengah dia tidak pernah sekalipun mengunjungi tempat yang bernama kantin. Tidak hanya Eva yang datang ke cafe depan sekolah beberapa anak juga sering mengunjungi cafe itu diwaktu istirahat.


Dering ponsel menghentikan kegiatannya menikmati makan siang. Tanpa melihat siapa orang yang telah mengganggunya dari layar ponsel Eva sudah tahu pelakunya.


"Ya."


"Sudah makan?" Suara yang setiap empat jam sekali selalu menelphonnya ya siapa lagi kalau bukan ayahnya.


"Hm.."


"Nanti malam ayah akan pulang." Eva menatap gelas jus lemon dan mengaduk-aduknya.


"Hm."


"Kamu ingin dibawakan sesuatu?."


"Tidak."


"Baiklah, mungkin akan terlalu malam sampai rumah."


"Hm."


"Bagaimana dengan proposal dan pengecekkan keuangan perusahaan?." Sudah aku duga, batin Eva.


"Sudah selesai, akan aku letakan diruang kerja ayah nanti."


"Baik, sekarang ayah ada meeting terakhir. Sampai jumpa besok."


"Hm." Tuut.. tuutt.. tuutt. Eva menyeruput jus lemonnya dan segera kembali ke sekolah.


Teeett.. teeett... Bel pulang berbunyi, setelah lima belas menit menunggu dan sekolah terlihat agak sepi Eva baru meninggalkan sekolah rutinitasnya sejak kelas lima sekolah dasar. Didepan gerbang dua pengawalnya sudah berdiri menunggu. Ronggo yang melihat majikannya segera membuka pintu belakang mobil.


Didalam mobil Eva membuka laptopnya mengecek harga saham salah satu perusahaan ayahnya.


"Om jadwal hari ini apa?." Tanya Eva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Ronggo yang duduk disebelah kemudi melirik sekilas majikannya.


"Hari ini, jam pertama biologi dan jam kedua ada matematika." Ronggo melihat Eva sedikit mengangguk.


"Nanti malam batalkan latihan." Eva menutup laptopnya.


"Baik non." Jawab Ronggo.


Sesampainya di rumah Eva mengganti baju seragamnya dan menemui guru privatnya. Wanita berusia empat puluh tahunan itu memberikan berbagai soal setingkat mahasiswa kepada Eva yang diselesaikannya dengan cepat.


"Baik ibu akan mengeceknya dulu." Wanita paruh baya itu mengoreksi jawaban-jawaban Eva murid jeniusnya yang belum pernah ia temui sebelumnya.


"Seperti biasa, nilai sempurna. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa ibu ajarkan kepadamu." Kata wanita paruh baya itu seraya tersenyum lembut kepada Eva.


"Itu artinya pekerjaan ibu berakhir hari ini." Eva mengatakan kalimat tajam itu dengan wajah datar. Wanita paruh baya hanya tersenyum lembut baginya sudah biasa mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut muridnya yang satu ini dan dia tidak pernah sekali pun memasukkannya kedalam hati bukan takut karena dia anak dari pengusaha besar tapi karena sifat keibuannya yang membuatnya memaklumi semua sifat dingin dan acuh muridnya.


"Sepertinya begitu, yaah bakal ada banyak waktu luang setelah mengajar di kampus nanti." Jawab wanita paruh baya sedikit tidak rela untuk berpisah dengan murid jeniusnya.


"Om Ronggo." Panggil Eva, Ronggo yang berdiri tidak jauh dari sana segera menghampiri majikannya.


"Siapkan uang untuk membayar ibu Rini, hari ini hari terakhirnya. Dan berikan hadiah perpisahan untuknya." Ronggo terkejut mendengarnya bukankah masih satu tahun lagi bu Rini mengajar majikannya kenapa sekarang tiba-tiba berhenti?.


"Terima kasih untuk ilmunya selama ini." Setelah mengucapkan itu Eva meninggalkan ruang tengah.


Diruang tengah Ronggo memberikan amplop coklat kepada bu Rini.


"Atas nama non Eva saya meminta maaf kepada ibu."Rini menerima amplop dari tangan Ronggo.


"Meminta maaf untuk apa pak?." Ronggo menatap Rini bingung.


"Bukankah non Eva telah menyakiti ibu makanya ibu berhenti mengajar?." Tanya Ronggo.


"Bapak salah paham, Eva tidak menyakiti saya. Memang sudah tidak ada yang bisa saya ajarkan kepadanya, materi soal setingkat universitas saja Eva kerjakan dengan mudah saya tidak pernah bertemu murid sejenius Eva." Bu Rini tersenyum bangga. Ronggo mengangguk setuju.


"Saya selalu berdoa semoga hatinya yang dingin bisa berubah, dia anak yang baik pak dibalik sikap dan tutur katanya yang pedas." Kata bu Rini menatap kearah perginya Eva tadi.


"Saya senang ibu berpikir seperti itu, oh iya ini hadiah perpisahan dari non Eva." Ronggo memberikan kotak hitam elegan kepada bu Rini yang diterimanya dengan ragu.


"Terima kasih untuk kerja kerasnya selama ini bu Rini, semoga ibu tidak lupa dengan perjanjian awal kita untuk tidak membocorkan apa yang ibu lihat dan ibu ketahui dirumah ini." Ucap Ronggo pelan dan tegas.


"Sama-sama pak, saya tidak akan mengatakan apa pun." Bu Rini meyakinkan Ronggo bahwa dirinya pasti akan menepati perjanjian.


"Saya permisi." Setelah itu bu Rini pergi meninggalkan rumah megah itu.


Tidak lama setelah kepergian bu Rini Eva kembali ke ruang tengah, sudah ada laki-laki berumur sekitar dua puluh tujuh tahunan yang sudah menunggunya, guru privat Eva selanjutnya.


***


19:20 Eva sedang duduk di depan meja kerja ayahnya. Jari-jari panjang Eva bergerak diatas laptopnya dan sesekali mencoret-coret dokumen disebelah kiri gadis itu. Otaknya fokus bekerja.


Tok.. Tok.. Tok... Terdengar ketukan pintu di belakang Eva.


"Saya masuk non." Ucap Ronggo meminta izin.


"Hm." Jawab Eva masih fokus dengan pekerjaannya. Ronggo menghampiri Eva dan meletakkan setumpuk dokumen disebelah kanan Eva.


"Ini dokumen proyek di Amerika dan dokumen perusahaan di China yang non minta." Lapor Ronggo.


"Hm." Ronggo menatap majikan mudanya yang sedang sibuk itu.


"Apa yang ingin kamu katakan? cepat katakan lah aku sedang sibuk." Ucap Eva tanpa melirik sedikit pun Ronggo. Hal ini sering membuat Ronggo terkejut tapi itu dulu karena majikan mudanya ini mudah menyadari jika ada keganjilan disekitarnya.


"Maaf non, apa ini alasan non Eva membatalkan latihan malam ini?." Tanya Ronggo, latihan khusus setiap malam yang rutin majikannya lakukan dan hampir tidak pernah absen itu malam ini ia batalkan dan memilih berkutat dengan dokumen-dokumen membingungkan yang seharusnya tidak bisa dipahami oleh anak seusianya.


"Hm, aku harus memberantas tikus-tikus yang menggelapkan uang perusahaan sampai ke akar-akarnya malam ini juga. Agar besok bisa langsung dieksekusi Ayah." Tangan kiri Eva membalik kertas dokumen dengan cepat.


"Tapi kenapa non Eva juga meminta dokumen proyek di Amerika dan perusahaan di China?." Tanya Ronggo bingung, bukankah tuan hanya meminta non Eva mengerjakan proposal perusahaan di singapura dan mengecek keuangan saja, batin Ronggo.


"Apa sebenarnya yang ingin om tanyakan." Kata Eva datar.


"Tidak biasanya non Eva melakukannya tanpa diminta tuan bukankah non Eva juga sudah sangat sibuk dengan jadwal-jadwal privat dan kursus non apakah ini tidak terlalu memberatkan tubuh non?." Ronggo akhirnya mengutarakan pikirannya.


"Dua tahun lalu saat aku ikut rapat pemilik saham di Korea banyak tikus-tikus yang lolos dari hukuman karena kurangnya bukti membuatku marah, semenjak itu aku belajar IT selama satu tahun setengah agar aku bisa menangkap para tikus-tikus itu dari jarak jauh." Eva berhenti dari kegiatannya menutup dokumen yang penuh coretan tinta mirah itu dan menatap Ronggo.


"Proyek di Amerika sangat penting untuk ayah, aku tidak ingin ayah kalah tender. Dan perusahaan diChina harus ada pembaharuan untuk meningkatkan nilai saham perusahaan." Eva memisahkan dokumen yang Ronggo tumpuk tadi.


"Jadi aku harus mengerjakan ini, sekarang atau nanti hasilnya juga sama ayah pasti memintaku melakukannya."


Ada rasa kagum yang besar di hati Ronggo kepada majikan jenius mudanya tapi juga rasa sedih yang sama besarnya. Majikannya selalu sendiri dia tidak punya waktu untuk mencari teman bahkan hanya sekedar menghabiskan waktu untuk bermain selayaknya remaja diluar sana. Jadwal privat setiap hari yang diberikan tuan besar, membantu mengurus perusahaan belum lagi luka hatinya yang dalam.


"Om tidak perlu iba kepadaku, karena ayah lebih menyedihkan. Dia pemilik perusahaan tapi jadwal ayah tidak pernah habis, memikirkannya saja membuatku mual." Eva mulai membolak-balik dokumen.


Nona mudanya ini hanya akan banyak bicara jika bersangkutan dengan pekerjaan. Ronggo tersenyum mendengar jawaban-jawaban dari nona mudanya, membungkuk sebentar Ronggo meninggalkan ruang kerja dan kembali dengan membawa secangkir lemon hangat meletakkannya dimeja.


"Saya ada di luar pintu kalau ada sesuatu yang non perlukan panggil saya." Yang dijawab gumaman oleh Eva.


***


Sinar mentari pagi menerobos masuk kedalam kamar membuat Eva mengernyitkan mata.


"Non air panasnya sudah siap." Lapor Fitri pelayan khusus Eva.


"Non mau sarapan dibawah atau dikamar?." Eva beranjak dari ranjang.


"Kamar." Eva masuk kedalam kamar mandi.


Eva sudah selesai mandi lalu memakai seragam sekenanya, Fitri sudah menaruh nampan sarapan dinakas.


"Selamat sarapan non." Fitri berdiri disebelah meja belajar yang dibelakangnya adalah pintu kamar rahasia, hanya Eva yang tahu.


Eva menyisir rambut hitam panjangnya dan menyanggul sekenanya, Eva menggunakan tusuk konde yang simpel untuk menyangga rambutnya.


"Ayo sarapan." Fitri terperangah kaget mendengar ajakan majikannya.


"Kenapa? kamu harus mau." Paksa Eva, Eva menepuk tempat tidur diseberangnya sambil menatap Fitri.


"Temani aku makan." Fitri tersenyum dan duduk didepan Eva.


"Kamu juga harus makan." Eva memberikan satu potong ayam gorengnya kepada Fitri. Yang diterimanya ragu-ragu.


"Non.."​ Panggil Fitri pelan.


"Hm."


"Saya sudah lama ingin menanyakan ini kepada non Eva."


"Tanyakan saja."


"Apa non Eva disekolah tidak punya teman?."


Gerakan Eva langsung terhenti dengan sendok yang masih ada didalam mulutnya.


"Maafkan saya non maaf, bukan maksud saya untuk ikut campur." Fitri salah tingkah, tangannya bergerak-gerak tak beraturan di udara.


"Tidak." Fitri langsung terdiam.


"Tidak ada." Eva melanjutkan sarapannya. Entah keberanian datang dari mana membuat Fitri berani menatap dalam majikannya sekarang.


"Kenapa?." Tanya Fitri bingung. Eva menarik nafas panjang.


"Siapa juga yang mau berteman dengan cewek yang selalu dikawal orang-orang berbadan besar dan seram-seram."


"Oo, saya selalu penasaran kenapa tidak ada teman non Eva yang datang kerumah." Eva menghabiskan sarapannya dan menengguk habis susu coklatnya.


"Ayah selalu mengatur jadwalku setiap hari, empat jam sekali pasti ayah akan meneleponku. Menyebalkan, jadi aku tidak punya waktu untuk itu."


"Tuan melakukan itu pasti ada alasannya, menurut saya non terlalu tertutup dengan lingkungan disekitar non Eva."


Bodo, kedua orang tuaku juga tidak pernah memikirikan aku dan tidak perlu susah payah merawatku tinggal menyewa body guart dan pembantu untuk mengurusku, selesai. Batin Eva.


"Kamu sudah berapa lama bekerja disini, tiga bulan?." Tanya Eva.


"Lima bulan non."


"Kamu yang paling lama bertahan menjadi pelayan khususku."


"Benarkah non?." Tanya Fitri kaget.


"Yang paling lama bertahan sebelum kamu hanya satu bulan. Kenapa kamu mau bertahan dirumah seperti neraka ini?." Eva menatap Fitri menuntut jawaban.


Fitri tersenyum.


"Saya bertahan disini karena non Eva." Eva menatapnya tak mengerti.


"Non Eva sepertinya membutuhkan seseorang untuk berkeluh kesah, non Eva tuh seperti bidadari turun dari kayangan. Sudah jenius, cantik," Eva tertawa melihat tingkah Fitri yang tidak mau diam.


"tuh kan suaranya merdu lagi." Sembari menunjuk Eva dengan bibir yang dimajukan, tawa Eva pecah sudah sangat lama Eva tidak tertawa selepas ini.


"Menurut saya ya non, non coba berubah mulai berteman dan mulai tersenyum terus tuh rambutnya jangan awut-awutan kayak gitu ditata sedikit pasti bagus deh." Hanya Fitri pelayan Eva yang berani berbicara kepadanya seperti itu.


Aku tidak bisa mba. Hidupku hanya ada kegelapan, batin Eva.


"Sudah siang, aku harus berangkat." Ucap Eva datar, Eva membuka pintu kamarnya.


"Baru saja non Eva mau bercerita eeh sudah berubah serem lagi." Eva hanya tersenyum tipis mendengarnya dari balik pintu.


Langkah Eva terhenti ditengah-tengah anak tangga. Pemandangan didepannya sudah biasa terjadi, itu juga yang membuat hati Eva sakit.


"Diam!." Sentak Daren kepada istrinya Ayumi.


"Apa?! kamu menyuruhku diam. Memang kamu anggap aku ini apa?."


Diruang tamu ayah dan ibu Eva mulai bertengkar lagi.


"Kau ini. Istri tidak tahu diri!." Daren menatap Ayumi penuh amarah.


"Tidak tahu diri kamu bilang. Aku hanya merindukan putraku dan aku tidak sanggup dirumah ini karena aku pasti melihat anak itu semakin membuatku merindukannya!."


Praang! Daren membanting vas bunga, Ayumi terduduk lemas disofa dan mulai menangis.


"Aku sudah bilang lupakan anak itu!." Fitri tiba-tiba sudah berdiri di belakang Eva.


"Jika waktu bisa diulang kembali." Lirih Ayumi.