Yuki

Yuki
Bonus chapter 1



"Non rambutnya mbok Is sisirin ya biar tambah rapih." Sudah hampir dua minggu Eva tidak ada perubahan.


"Non sudah selesai makannya, sini mbok Is bawa ke bawah." Mbok Is mengambil nampan dari hadapan Eva. Mbok Is meneteskan air matanya melihat keadaan majikan mudanya yang hanya mengikuti apa pun yang orang lain katakan dengan sorot mata kosong.


"Mbok." Arga menepuk pundak mbok Is dari belakang menganggukan kepala sekilas, mbok Is menghapus air matanya dengan kasar lalu membungkuk hormat meninggalkan kamar. Arga beranjak duduk disebelah Eva menatap gadis itu dari samping.


"Kamu lelah tidak di kamar terus?." Mau dilihat dari mana pun Eva tetap terlihat cantik, hanya saja ada yang kurang dari dirinya itulah yang dipikirkan oleh Arga sekarang.


"Tidak mau keluar nih?." Seperti biasa tidak ada respon dari gadis itu.


"Turun yuk, kita duduk-duduk ditaman." Arga menarik tangan Eva dengan lembut menuntun gadis itu menuruni tangga. Arga tersenyum senang akhirnya usaha yang ke empat puluh lima kalinya berhasil, Eva mau ikut dengannya.


Arga ingin membawa Eva keluar menikmati suasana baru mungkin hal itu bisa membuat Eva lebih baik itulah yang diyakini Arga namun keputusannya berujung sesuatu yang buruk.


Eva tiba-tiba terdiam ditengah-tengah tangga tidak bergerak, Arga menatap bingung gadis itu. Eva menangis dalam diam, lagi.


Para pelayan terkejut melihat majikan mudanya keluar dari sangkarnya, mereka merasa senang saling memandang satu sama lain namun hanya bertahan beberapa detik karena air mata majikan mudanya turun dengan deras lalu tiba-tiba. Eva menyentakkan tangannya dari Arga, gadis itu menuruni tangga perlahan berjalan menuju halaman belakang, Arga yang terkejut hanya melihat Eva dari kejauhan.


Mbok Is sangat bahagia melihat majikannya berjalan dengan keinginannya sendiri tanpa perintah dari orang lain. Mbok Is mengikuti Eva dari belakang untuk berjaga-jaga, wanita tua itu masih khawatir dengan keadaan Eva.


Mbok Is kira Eva berjalan menuju paviliun seperti yang biasa gadis itu lakukan namun sebelum menyebrangi halaman belakang Eva berbelok ke kiri menuju gudang belakang. Mbok Is bertanya-tanya didalam kepalanya kenapa majikannya masuk kedalam gudang yang tabu bagi majikannya itu?.


Eva keluar dari dalam gudang sambil menyeret sebuah tongkat bisboll besi, berjalan kembali kedalam rumah melewati mbok Is dan Arga yang berdiri di ruang tengah.


"Eva kamu mau ngapain dengan benda itu?." Arga mengikuti Eva dari belakang.


"Non, non Eva mau kemana?." Tanya mbok Is yang terlihat ketakutan.


Tidak ada respon dari Eva, gadis itu terus menangis dengan wajah datar berjalan menyeret tongkat bisboll. Arga melihat genggaman tangan Eva pada tongkat semakin erat, gadis itu berhenti disamping piano menatap benda itu cukup lama.


Jahat! kamu tega membohongiku, kamu tega meninggalkan aku dan memilih pergi dengan iblis itu. Kamu tega ga. Hari itu aku sudah selesai membuatnya, aku berniat memberikannya kepadamu setelah pulang sekolah tapi !, kenapa kamu pergi dengan iblis itu!. Aku membuatnya siang malam berharap kamu cepat sembuh dan iblis itu tidak akan bisa memisahkan kita, tapi semua itu percuma karena kamu tetap pergi, kamu tetap pergi!. Dan iblis itu benar-benar menabraku... Hahaha, dia sangat membenciku ga, sampai dia ingin membunuhku. Jahat! kamu jahat ga!!!, jerit Eva didalam hati dan pikirannya.


Eva menendang kursi piano dengan sangat keras sampai menabrak vas bunga besar yang ada disisi lain piano menimbulkan bunyi pecahan.


DAARRR!!!.


Para pelayan menjerit kaget, Eva mengayunkan tongkat bisboll dengan kedua tangannya menghantam piano secara membabi buta menumpahkan semua perasaan yang berkecambuk didalam dirinya. Piano berwarna putih itu mengingatkan Eva tentang kenangan manisnya bersama Ega yang membuat Eva mengamuk sekarang.


"Aaaarrrggghhh!!." Jerit Eva terus menghantamkan tongkat bisboll menghancurkan piano sebanyak-banyaknya, dengan air mata yang terus mengalir dari kedua mata gadis itu.


Pembohong!. Pembohong!. Pembohong!. Jerit Eva dalam hati menghancurkan piano didepannya.


Arga mengendap-endap mendekati Eva namun nihil, gerakan acak dan membabi buta dari Eva membuat usaha Arga tidak berhasil. Eva menghantam, menendang, dan menginjak piano yang sudah rusak itu, dengan lompatan besar Arga menangkap Eva dari belakang dan merampas tongkat bisboll dari tangan gadis itu.


"Lepaskan va!." Seru Arga, tongkat bisboll raib dari tangan Eva begitu juga dengan lengan Arga yang melingkar dipinggangnya terlepas. Eva melihat ada vas besar tidak jauh dari sana ia menghampiri vas bunga tersebut memegangnya lalu mengangkat vas tinggi-tinggi.


"Non jangan non, bahaya non." Jerit mbok Is. Arga yang baru menyadari keberadaan Eva setelah ia mengamankan tongkat bisboll pun sangat terkejut, Arga berlari menghampiri Eva tapi ia terlambat, dengan sekuat tenaga Eva melempar vas besar itu ke arah piano yang sudah hampir hancur seluruhnya.


Ddaaarrr!!. Pecahan Vas berhamburan kesegala arah.


Tidak berhenti disitu Eva mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan ia berlari cepat setelah melihat guci berukuran sangat besar lalu mengangkatnya, manik Eva terkunci pada piano. Tangan kekar Arga mencoba merebut paksa guci dari tangan Eva.


"Va! berhenti." Eva menatap tajam Arga penuh amarah.


"Va. Kamu lihat pianonya sudah hancur, kamu masih belum puas?." Arga menunjuk piano yang sudah hancur dengan masih berusaha merebut guci dari tangan Eva. Eva menendang perut Arga menjauhkan pria itu dari dirinya, mbok Is berlari secepat yang dia bisa memeluk Eva dari samping.


"Non sudah non." Ucap mbok Is disela tangisnya, Eva tidak menghiraukan ucapan orang-orang disekitarnya Eva melempar guci di tangannya membuat suara pecahan yang lebih keras.


"Aaarrggghhh!!." Jerit Eva.


Eva dengan mudah melepaskan pelukkan mbok Is di tubuhnya dan berjalan meghampiri guci yang lain namun Arga dengan sigap menghentikan langkah Eva pria itu mencekeram kedua pundak Eva dari depan, menatap dalam manik biru Eva.


"Berhenti, pianonya sudah hancur." Eva mencoba melepaskan tangan Arga.


Grep.


Dari belakang mbok Is memeluk majikan mudanya membantu Arga menghentikan Eva.


"Non sudah ya." Lirih mbok Is dalam isak tangisnya namun Eva seperti tidak bisa mendengar suara mereka ia meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Bola mata Eva terus mengalirkan air mata.


PLAK!.


Bola mata Arga dan mbok Is hampir saja melompat keluar dari tempatnya. Eva terdiam gadis itu berhenti memberontak. Perlahan Arga dan mbok Is menoleh kesamping melihat si pelaku yang berani menampar gadis itu.


"Bodoh." Ucap Fathur datar membuat semua orang yang berada disana menatapnya tidak percaya.


"Bukan cuman kamu yang dibohongi." Lanjut Fathur menatap gadis yang mengisi hatinya dalam keadaan sangat memprihatinkan.


"Apa yang sedang aku lihat ini?, ini lebih buruk dari kepompong raksasa satu bulan yang lalu." Fathur mengambil tiga langkah ke depan tepat didepan wajah Eva yang masih menunduk karena tamparannya tadi.


"Rasa kecewaku memang tidak sebanyak rasa kecewamu, aku juga tidak tahu seberapa besar rasa sakit yang kamu rasakan .., tapi, apa kamu benar-benar membencinya?." Eva diam tidak bergerak, Arga menepuk pundak Fathur cukup keras sedikit mencengkeramnya.


"Aku tahu kamu adalah teman Ega dan Eva tapi bung, kamu terlalu lancang telah menamparnya." Geram Arga.


"Sebesar itu rasa kecewamu? sampai kamu tega membuatnya kesakitan." Ucap Fathur mengabaikan Arga disampingnya.


"Setelah aku melihat keadaanmu, tidak bisa aku bayangkan betapa kesakitannya dia." Fathur terus menatap Eva yang menunduk.


Arga menggertakan giginya menahan emosi. Tangan Arga yang berada dipundak Fathur semakin terbenam hendak menarik laki-laki itu keluar namun terhenti karena perlahan Eva mengangkat kepalanya menengadah keatas, tepat ke manik hitam Fathur. Ini pertama kalinya Eva menatap mata orang lain setelah kepergian saudara kembarnya.


Eva menatap Fathur dengan sorot mata sayu, lama mereka diam berdiri saling menatap, begitu juga dengan para pelayan, pengawal, juga Arga yang melihat mereka. Eva menggerakan kakinya maju kedepan sedikit demi sedikit maniknya tidak lepas dari manik Fathur. Kedua lengan Eva terulur kedepan membuat Arga melepaskan cengkeraman tangannya dipundak Fathur dan mundur beberapa langkah. Kaki Eva masih melangkah pelan kedepan, lengannya melingkar, wajahnya sedikit menunduk melepas kontak mata mereka, Eva membenamkan wajahnya didada bidang Fathur tubuhnya bergetar hebat.


"Aku tahu kamu bukan gadis yang lemah." Ucap Fathur seraya mengelus lembut belakang kepala Eva.


Kedua tangan Eva naik ke punggung Fathur mencengkeram kuat baju belakang laki-laki itu semakin membenamkan wajahnya didada Fathur.


"Hmmm hiks .. Hmhmm hiks hiks..." Isakkan tangis Eva keluar untuk pertama kalinya teredam didada Fathur. Gadis itu menangis kencang.


"Hiks ... Hiikkss ... Hikks..." Fathur melingkarkan kedua lengan kokohnya memeluk tubuh Eva ia tidak sanggup melihat Eva menangis seperti itu.


Kedua remaja itu saling memeluk erat, Fathur berusaha mengalirkan perasaan aman kepada Eva sedangkan gadis itu secara tidak sadar mencari tempat yang nyaman untuknya menumpahkan semua rasa sakitnya. Sudah dua puluh menit Eva menangis didalam pelukkan Fathur perlahan pelukkannya mengendur tubuhnya terkulai lemah.


"Eva?!." Fathur melirik kebawah melihat kepala Eva terkulai, tubuhnya semakin merosot kebawah dengan cekatan Fathur melingkarkan satu tangannya ke paha Eva mengangkat gadis itu, berjalan cepat menghindari serpihan-serpihan guci dan kayu-kayu runcing dari piano yang hancur menaiki tangga menuju kamar Eva.


"Mbok Is tolong panggilkan dokter." Seru Arga kepada mbok Is.


"Dan kalian tolong bereskan ini." Perintah Arga kepada para pelayan yang lain untuk membersihkan kekacauan yang telah Eva buat. Arga segera menyusul Fathur ke lantai dua masuk kedalam kamar Eva.


Arga melihat Fathur duduk ditepi ranjang menatap lembut Eva yang terbaring dengan selimut menutupi tubuhnya. Arga berjalan mendekati Fathur menatapnya penuh selidik.


"Apa yang kamu maksud dengan Eva yang telah membuatnya kesakitan?." Tanya Arga tenang.


"Entahlah." Jawab Fathur ia tidak ingin menjelaskan kepada orang lain tentang rahasia sahabatnya.


"Siapa yang kamu maksud dia?." Tanya Arga lagi.


"Ega? atau, ibu Ayumi?." Arga dibuat sedikit kesal oleh remaja yang tetap menatap kliennya tanpa memperdulikan dirinya yang sedang bertanya.


"Entahlah, hanya Eva yang tahu?." Apa?, apakah dia sedang mempermainkanku, batin Arga kesal.


"Aku akan segera kembali." Kata Arga beranjak keluar meniggalkan kamar Eva.


Fathur mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Eva yang habis ia tampar namun Fathur mengurungkan niatnya.


"Maaf, aku harus melakukannya untuk menyadarkanmu. Apakah terasa sakit?, aku menamparmu sangat pelan, mungkin cukup pelan." Ucap Fathur meneliti pipi Eva takut ada bekas tamparan atau memar.


Fathur tidak mendapat kabar apa pun setelah keributan didepan sekolah, pagi itu ia memutuskan ijin tidak berangkat ke sekolah dengan bantuan kakaknya dan pergi menjenguk Eva. Setibanya dirumah sahabatnya Fathur sangat terkejut melihat Eva mengamuk tidak bisa dihentikan, Fathur sudah sering patah hati karena Eva tapi melihat keadaan Eva yang kacau seperti itu terasa lebih sakit sampai ia juga menangis melihatnya.


Eva mengerang dalam pingsannya, dahinya mengerut dan mengeluarkan keringat dingin Fathur segera menepuk-nepuk pelan tangan Eva seperti yang pernah Ega katakan kepadanya agar Eva cepat tidur atau merasa tenang. Fathur mulai panik melihat tidak ada perubahan dari Eva.


"Tidak apa-apa, kamu tidak sendiri." Lirih Fathur terus menepuk lembut tangan Eva. Tiba-tiba Eva membuka lebar matanya dan meraup udara banyak-banyak.


"Eva." Panggil Fathur lirih mengelap keringat didahi Eva dengan tangannya. Manik Eva bergerak menatap Fathur.


Uhuk!.


"Eva!." Jerit Fathur kaget. Darah segar keluar dari mulut Eva.


"Nngghhh ..." Lenguh Eva mencengkeram kepalanya meringkuk kesakitan. Fathur segera berteriak meminta bantuan.


"Kenapa bisa seperti ini?." Fathur berusaha menenangkan Eva yang kini meringkuk berguling mengerang kesakitan, darah kembali keluar, kini dari kedua hidung Eva.


"Eva! tenanglah." Fathur sangat panik meraup tubuh Eva kedalam pelukkannya ia tidak sabar menunggu Arga atau pelayan yang lain datang.


"Kenapa lama sekali." Geram Fathur seraya mengelap darah dihidung Eva.


"Jangan mencengkeramnya terlalu keras kamu menyakiti dirimu sendiri." Fathur berusaha menahan tangan Eva yang mencengkeram rambutnya sangat kuat.


"Aaarrgghh." Lirih Eva.


BRAK!.


Pintu dibuka dengan kasar Fathur segera menoleh hendak berteriak kepada Arga karena terlalu lama datang tapi ia malah melihat orang lain yang menerjang masuk.


"Nngghhh!." Erangan kesakitan Eva membuat Fathur tersadar. Eva menggeliat didalam pelukkan Fathur.


Uhukk!.


Darah kembali keluar dari mulut Eva, orang itu berjalan cepat kearah Fathur menyingkirkannya mengambil alih tubuh Eva membaringkan gadis itu. Gerakan orang itu sangat cepat dan terarah membuka tasnya yang berisi berbagai alat medis dan obat-obatan, tangannya menarik salah satu tangan Eva menyuntikan obat penenang dengan gerakan profesional. Fathur berdiri tertegun dengan keahlian orang itu.


Eva perlahan berhenti meronta kesakitan nafasnya masih tidak beraturan, dengan cekatan orang itu membersihkan darah yang mengotori pipi, leher, dan baju Eva dibantu dengan pelayan yang segera masuk mengganti selimut, bantal dan baju Eva. Fathur dan orang itu menoleh kearah lain melindungi privasi Eva.


Setelah pelayan selesai melakukan tugasnya orang itu mulai memeriksa Eva. Dari apa yang dilihat Fathur pakaian orang itu tidak seperti seorang dokter lebih seperti orang berpergian tapi apa yang dilakukan orang itu adalah tindakan seorang dokter.


Eva melirik kesamping melihat seseorang sedang memeriksanya sambil menangis. Eva mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk bisa berbicara.


"Jun - Ho shi." Lirih Eva dengan suara seraknya. Orang itu alias Jun Ho mengeluarkan air matanya semakin deras terus memeriksa Eva tanpa melirik sedikit pun gadis lemah didepannya.


"Yak, gadis nakal. Lihat, apa yang terjadi denganmu." Ucap Jun Ho menyumpal hidung Eva yang terus mengeluarkan darah.