
Eva menghampiri Fathur menyodorkan tangan kanannya.
"Kunci montor?." Fathur terkejut, tiba-tiba Eva sudah berdiri disampingnya.
"Ini, kamu mau ngapain?." Eva berjalan menuju parkiran dan menemukan sepeda motor yang sudah ia hafal.
"Bodoh ya nyetir lah, cepat aku tidak punya banyak waktu." Fathur hanya pasrah mengikuti keinginan Eva. Diluar dugaan Fathur, Eva dengan lihainya membawa motor dengan kecepatan tinggi menghindari jalan berlubang dan melewati beberapa pengemudi yang lain. Jantung tenanglah, ucap Fathur dalam hati kedua tangannya ia masukkan kedalam saku jaket. Bukan karena takut akan kecepatan Eva membawa motor tapi karena aroma tubuh gadis itu yang terbawa oleh angin menyeruak masuk kedalam hidung Fathur yang duduk tepat dibelakangnya.
***
Eva sudah berdiri diruang tamu sederhana yang dihujani pelukan dan pertanyaan bertubi-tubi dari penghuni rumah itu.
"Ibu, Eva baik-baik saja sehat walafiat." Tante Dila melepas pelukkannya.
"Ibu sangat khawatir sama kamu."
"Dani juga." Pak Dani tidak mau kalah. Eva tersenyum mendengarnya, senang.
"Terima kasih." Tante Dila langsung menarik Eva ke dapur.
"Ceritanya sudah dulu sekarang kita makan malam bareng." Eva tidak menolak ajakan tante Dila, ia merindukan masakan orang yang dipanggilnya ibu itu. Setelah mereka berempat menghabiskan makan malam Fathur mulai membuka suaranya.
"Ada apa kamu menghubungiku?." Nada bicaranya ketus, sikap Fathur juga mulai berubah setelah pulang dari pasar malam.
"Yang benar adalah aku menghubungi ponsel pak Dani tapi yang mengangkat kamu." Eva menatap tajam Fathur, cowok itu membuang wajahnya acuh tak acuh.
"Sudah-sudah ada apa sih dengan kalian berdua?." Tanya pak Dani.
"Tidak apa-apa."
"Tidak apa-apa." Jawab Eva dan Fathur bersama-sama.
"Nah loh sekarang jadi kompak begini." Fathur bergeming ditempatnya. Eva hanya mengedikan bahu tidak peduli.
"Dani sudah jangan ledek mereka, Eva kamu sudah pulang kerumah nak?." Eva menggeleng pelan.
"Lalu?." Tanya tante Dila hati-hati.
"Eva mencari sesuatu dirumah ini, Eva harus cepat."
"Dirumah ini, apa?." Pak Dani bingung.
"Samurai." Jawab Eva.
"Samurai? kami tidak mempunyai samurai dirumah ini, betulkan bu?." Tante Dila mengangguk.
"Seharusnya ada disini, kakek bilang sahabatnya yang menyimpannya. Aku diberi peta dan petanya menunjuk ke rumah ini." Eva mengeluarkan peta berwarna biru lalu membukanya diatas meja.
"Benar peta ini mengarah ke rumah kita." Fathur berpikir sejenak.
"Ibu, apakah ayah dulu punya teman seorang mafia jepang?." Eva menatap Fathur ingin protes tapi yang ditatap biasa saja tidak menghiraukannya.
"Tidak, tapi kalau ilmuan geografi dari jepang dulu ada." Eva mengangguk mantap.
"Nama ilmuan itu siapa bu?." Tante Dila berusaha mengingat-ingat kembali.
"Ha-c-hi-bara sensei, ayah Fathur selalu menganggapnya seorang guru meskipun orang itu keberatan dipanggil seperti itu tapi ayah Fathur tetap memanggilnya sensei." Eva berpikir keras.
"Hachibara adalah nama kakek jika peta ini mengarah kesini berarti tidak salah lagi."
Hening. Eva berpikir lagi. Disurat itu tertulis samurai kecil? bukankah samurai itu panjang, kemungkinan-kemungkinan yang ada... tunggu dulu!, pikir Eva menemukan sesuatu.
"Ibu apakah ayah Fathur menyimpan benda tajam yang mirip dengan samurai? atau bisa seperti pisau dan sejenisnya?." Tante Dila mengingat-ingat kembali.
"Sepertinya ada, sebentar ibu ambilkan."
Pak Dani menatap Eva penuh selidik.
"Eva maaf tapi apa hubungannya ayah kami dengan kakekmu?." Eva menggeleng pelan.
"Jangan-jangan penyebab ayah meninggal karena kakekmu juga." Tuduh Fathur. Eva menatap Fathur dingin, gadis itu mengeluarkan aura yang sama saat berbicara dengan Jun Ho di apartmennya sebelum kembali ke indonesia.
"Fathur. Hati-hati kalau ngomong, ayah murni meninggal karena kecelakaan, kakak disana saat itu." Eva nggak habis pikir bisa-bisanya Fathur menuduh kakeknya seperti itu. Eva membuang muka dengan kasar.
Memang benar banyak korban karena masalah ini tapi Eva yakin ayah Fathur tidak termasuk didalamnya. Tiba-tiba tante Dila sudah duduk dikursinya dengan sebuah peti kecil.
"Kok jadi tegang begini?." Tante Dila menatap mereka bergantian.
"Ini pisaunya ada didalam." Tante Dila menyodorkan peti itu kepada Eva.
Peti didepan Eva berwarna biru laut dengan dua gambar aneh dikedua sisinya. Tidak ada lubang kunci ataupun tempat untuk menaruh gembok tapi peti itu terkunci.
"Bagaimana ibu tahu kalau ada pisau didalam sini sedangkan petinya terkunci?." Jari Eva menelusuri peti.
"Dulu ayah Fathur memberi pesan kepada ibu, katanya didalam peti ini adalah sebuah pisau yang berharga bila nanti ada yang mencarinya dengan membawa nama Hachibara sensei berikanlah peti ini kepada orang itu."
Eva menautkan kedua alis. Tangannya membalik peti, ada sebuah tulisan kecil terukir dibawah peti. Eva mengamati dengan seksama.
"Ketika pemangsa terpanggil sang sayap bersatu kunci misteri terbuka."
Apa lagi kali ini, kakek senang sekali membuat orang pusing, batin eva menghempaskan punggungnya ke kursi.
Pak Dani mengambil peti mulai mengamatinya Fathur mencondongan tubuhnya kearah pak Dani ikut mengamati peti itu tidak mau ketinggalan.
"Inikan burung hantu tapi kenapa terpisah dengan sayapnya?." Fathur menunjuk ukiran dipermukaan peti.
"Dan pesan ini menunjukkan cara untuk membukanya." Pak Dani berpikir sebentar.
"Yang membuat peti ini sangat jenius." Ujar pak Dani Eva hanya memutar bola matanya, kalau itu sih aku juga tahu, batin Eva.
"Apa mungkin cara membukanya dengan suara? karena disini tertulis ketika pemangsa terpanggil. Kita kalau memanggil seseorang menggunakan suara kita kan, masalahnya adalah siapa yang harus dipanggil sebagai pemangsa itu?." Saran Fathur.
Tumben tuh anak pinter, batin Eva.
"Cobalah." Pak Dani menyodorkan peti kearah Eva. Eva mengikuti saran Fathur, mereka bertiga menunggu memperhatikan.
"Hachibara." Terdengar suara tut dari peti biru laut itu.
"Yang lain." Pinta pak Dani.
"Hachibara kou." Peti kembali berbunyi tut.
"Lusi." Tut.
"Ayumi." Bibir Eva bergetar saat menyebut nama ibunya seakan hal tabu bagi Eva, peti itu kembali berbunyi tut nyaring.
"Daren?." Tut.
"Daren Augustav Ayhner." Tut.
"Daren Ayumi." Tut.
"Shejin grup." Eva mulai menyebut nama perusahaan-perusahaan kakeknya. Tut.
"Sky Blue grup." Tut.
"H grup." Tut.
"Snow D." Tut.
"Neverland grup." Tut.
"Fuji grup." Tut.
"Dee A B grup." Tut.
Eva mulai kesal karena setiap nama yang ia ucapkan tidak ada satu pun yang berhasil.
"Yakuza." Tut.
"Mafia." Tut.
"Owl." Tut.
"Eegaa..!." Ucap Eva kesal. Tut!. Eva mengacak-acak peti geram, bagaimana bisa kakeknya membuat sandi yang sulit seperti ini ditambah tidak ada ide sedikit pun yang muncul dari kepala Eva membuat Eva sedikit kelepasan.
"Sabar va." Suara tante Dila yang lembut menenangkan Eva. Eva mengerucutkan bibirnya kesal.
"Siapa lagi tuh Ega, cowokmu yang lain." Fathur tersenyum mengejek. Eva melemparkan tatapan tajam kepada Fathur. Apa-apa an nih anak benar-benar membuat aku kesal, batin Eva.
"Bukan urusanmu." Jawab Eva dingin.
"Sudah kalian kenapa sih?." Tanya tante Dila. Eva melirik jam tangannya, waktunya hampir habis.
"Ibu Eva harus pergi sekarang." Pamit Eva bangkit dari duduknya.
"Kamu mau kemana lagi va?." Tanya pak Dani.
"Aku harus merebut kembali apa yang telah dirampas dariku." Tante Dila menatap Eva curiga.
"Kamu tidak sendirian kan?." Tanyanya penuh selidik.
"Sayangnya aku harus pergi sendiri agar tidak ada korban yang jatuh, lagi." Kalimat Eva menohok Fathur hingga cowok itu menatap Eva.
"Kamu sudah merencanakan ini?." Sergah pak Dani.
"Iya, aku sudah mempersiapkan segalanya." Jawab Eva.
"Merebut apa? dari siapa?" pak Dani merasa khawatir. Eva tidak menjawab pertanyaan pak Dani.
"Ibu terima kasih sudah menjaga peti ini, pak guru terima kasih sudah mau menolongku dari hujan lebat dulu. Eva sangat berterima kasih kepada keluarga ini karena sudah mau menolongku yang bukan siapa-siapa kalian. Maafkan Eva sudah banyak merepotkan dan menyusahkan kalian semua. Sekali lagi terima kasih." Kata-kata yang diucapkan Eva sebelum pergi bagaikan kalimat perpisahan karena Eva sendiri tidak tahu apakah ia akan selamat nantinya.
Tante Dila menatap Eva sedih, air matanya jatuh perlahan turun ke pipi, Eva menghapus air mata tante Dila lembut dengan jari telunjuknya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Jangan menangis karena Eva bu." Tante Dila meraih tangan Eva meletakkannya didekat jantung wanita itu.
"Tinggalah." Lirih tante Dila, aku memang tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi tapi aku merasakan hal buruk tentang ini, kamu gadis baik kamu sudah aku anggap sebagai putri kecilku Eva, batin tante Dila. Air mata Eva pun tidak bisa dibendung kala mendengar permintaan wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu, Eva hanya bisa menggeleng pelan lalu Dila menarik tubuh ramping Eva kedalam pelukkannya.
"Apa yang harus ibu lakukan agar kamu tetap tinggal?." Kata tante Dila dalam isakkan.
"Doakan untuk keselamatanku bu." Eva membenamkan wajahnya dalam pelukkan tante Dila.
"Ibu akan mendoakan keselamatanmu selalu, kamu akan kembali ibu yakin itu nak." Pak Dani ikut trenyuh melihat pemandangan itu. Tidak disangka Fathur ikut meneteskan air matanya.
"Eva sayang ibu, kau ibuku..." Tante Dila mengangguk pelan, mereka berdua kembali menangis.
"Ibu sudahlah..." Suara pak Dani mengakhiri pelukan kedua perempuan itu. Eva menghapus air matanya yang masih tersisa.
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?." Tanya pak Dani, Eva menghela nafas berat.
"Biarkan saja mereka menganggapku kabur dari rumah."
"Aku akan pergi sekarang. Terima kasih untuk semuanya." Lanjut Eva.
***
Mobil sedan hitam berhenti tepat didepan Eva. Pintu penumpang terbuka dengan cepat Eva masuk kedalam mobil pintu segera tertutup setelah Eva sudah duduk di bangku belakang, Eva melirik Lusi disampingnya.
"Nenek membawa semuanya?." Lusi tersenyum seraya menunjuk jok belakang, Eva menoleh kebelakang mendapati barang yang dia butuhkan berada disana.
"Terima kasih nek, nenek tunggu disini sebentar Eva segera kembali."
Eva meraih bungkusan hitam diatas ransel hitam di jok belakang itu lalu pergi ke toilet terdekat. Tidak butuh waktu lama Eva sudah kembali masuk ke dalam mobil. Lusi menatap cucunya dari atas sampai bawah. Eva mengganti pakaiannya dengan kostum rancangan dia sendiri. Baju dan celana hitam yang memudahkan untuk semua pergerakan serta terdapat saku tersembunyi dimana-mana kostum yang sama saat dipakai di bengkel rahasianya. Eva menutupi bagian atas dengan jaket hitam pula. Perlahan mobil melaju pergi.
Subuh-subuh Eva sudah siap naik ke kapal besar dibelakangnya. Lusi menatap cucunya khawatir dan ada sedikit perasaan tidak rela. Sebenarnya Lusi sangat keberatan melepas cucunya pergi tapi Lusi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah cucunya itu.
"Eva, kamu belum terlambat untuk berubah pikiran." Lusi berdiri dibibir dermaga bersama sepuluh pengawalnya yang berdiri di belakang wanita tua itu.
"Tidak nek apa pun yang akan terjadi Eva tetap akan pergi, doain yang terbaik untuk Eva semoga Eva kembali dengan selamat dan jika Eva tidak kembali tolong pecat beberapa orang yang bekerja dirumah, mereka sudah Eva tandai di komputer kamar Eva di rumah nenek." Lusi memeluk cucunya erat.
"Tetap rahasiakan kepergian Eva nek biarkan ayah dan ibu menganggap Eva kabur dari rumah, jaga diri nenek baik-baik, aku pasti akan membawanya pulang." Ucap Eva penuh keyakinan.
Kapal feri mulai bergerak menjauhi pelabuhan. Lusi hanya bisa pasrah melihat cucunya pergi menyongsong bahaya. Butiran bening turun dari matanya.
"Apakah ini terakhir kalinya aku bisa melihat cucuku?." Lusi bertanya kepada dirinya sendiri.
***
Matahari berada di atas kepala saat kapal feri sampai di pelabuhan yang dituju. Eva berjalan berdesakkan dengan para penumpang yang lain. Dari pelabuhan Eva menaiki bus menuju tujuannya, hampir 3 jam bus bergerak akhirnya bus berhenti didaerah terpencil. Orang-orang didalam bus menatap Eva aneh, melihat gadis remaja dengan jaket hitam dan ransel hitam turun dari bus.
"Permisi pak." Eva menghampiri kumpulan orang-orang didekat halte.
"Iya, ojek dek?." Tawar pria paruh baya.
"Iya pak." Segera pria paruh baya itu menyalakan sepeda motornya.
"Mau kemana dek?." Tanya pria paruh baya.
"Lurus saja pak, didekat sini apakah ada laut?." Tanya Eva setelah duduk di jok belakang.
"Ada dek, lima belas kilometer dari sini."
"Antarkan saya ke laut itu pak." Pinta Eva.
"Baik dek."
Perjalanan dari halte menuju laut tidaklah mulus jalanan yang buruk dan juga tidak rata membuat perjalanan Eva sedikit memakan waktu lebih lama. Hari sudah sore saat Eva sampai dilaut. Dilaut berdiri dermaga kecil yang cukup ramai, para nelayan berbondong-bondong kembali ke hilir. Bola mata Eva mencari seseorang yang mungkin memiliki sesuatu yang ia butuhkan.
"Permisi pak, saya membutuhkan kapal itu. Bolehkah saya menyewanya?." Eva berbicara dengan nelayan yang sedang memandu kru nya seraya menunjuk kapal yang ia maksud.
"Oh itu dek? itu bukan punya saya. Tunggu sebentar, saya panggilkan pemiliknya." Eva mengangguk sekilas. Tidak lama nelayan itu kembali bersama seorang kakek tua.
"Ini kek gadis kecil yang ingin menyewa jetmu." Kakek itu menatap Eva dari atas sampai bawah.
"Sore kek, saya sangat membutuhkan kapal kakek bolehkah saya menyewanya?." Kakek itu tetap diam.
"Kek saya sudah tidak punya banyak waktu, hari sudah hampir gelap." Kata Eva datar.
"Apa kamu bisa mengemudikannya?." Akhirnya kakek itu membuka mulutnya setelah keheningan yang cukup lama.
"Tentu saja." Srobot Eva.
"Baiklah kamu boleh menyewanya." Akhirnya, batin eva.
"Terima kasih kek, ini uangnya." Eva memberikan setumpuk uang kepada kakek tua itu.
"Ini terlalu banyak nak." Kakek tua itu hendak mengembalikan uang yang diberikan oleh Eva.
"Tidak apa-apa terima saja kek, saya harus pergi sekarang." Kakek menahan tangan Eva saat gadis itu berbalik hendak pergi.
"Kalau begitu bawa ini." Kakek memberikan kantong berisi buah-buahan dan sebotol air mineral.
"Tidak usah kek, ini punya kakek." Tolak Eva.
"Bawalah." Kakek itu menyodorkan dengan paksa, karena tidak ingin membuang waktu lebih lama Eva akhirnya menerima kantong itu.
"Terima kasih, saya pergi dulu." Eva berlari menuju kapal.
"Kemana tujuanmu nak?!." Seru kakek dari belakang.
"Ke pulau seberang!" seru Eva menaiki kapal.
"Disana kamu tidak akan menemukan apa pun nak!." Teriak si kakek tua.
Eva menyalakan jet boat seraya melambai ke arah si kakek. Membawa jet boat pergi menjauhi dermaga. Laut sore memancarkan keindahan yang belum pernah Eva lihat sebelumnya dengan kecepatan tinggi jet boat membawa Eva ke pulau yang jauh didepannya. Gadis berusia lima belas tahun itu dengan tekad kuat menghapus semua rasa ragu dan rasa khawatirnya.
Bagaimana kalau kakek itu mengatakan yang sebenarnya jika dipulau itu tidak ada apa pun, pulau terpencil dengan berbagai macam hewan penghuninya, Eva tidak pernah belajar menghadapi hewan buas di alam liar dia harus sangat berhati-hati.
Matahari kini telah menyembunyikan dirinya sesaat sebelum Eva sampai di pinggiran pulau dengan penerangan yang sangat minim dari alat hasil eksperimennya Eva mencari tempat yang strategis untuk melindungi jet boatnya agar tidak terlihat. Setelah dirasa aman Eva membawa tas ranselnya memasuki hutan di pulau itu.