
"Aku sudah bilang lupakan anak itu!." Fitri tiba-tiba sudah berdiri di belakang Eva.
"Jika waktu bisa diulang kembali." Lirih Ayumi.
Daren mengangkat tangannya hendak menampar Ayumi.
"Ayah ..! Eva berangkat." Daren menatap Eva penuh kesedihan dan menurunkan tangannya.
Eva menatap Ayumi ibunya yang tidak sedikit pun membalas tatapan Eva.
Eva membuang muka dan berjalan secepat yang dia bisa pergi meninggalkan ruangan itu. Dibelakangnya Daren mulai memarahi Ayumi lagi.
"Non tunggu non," om Ronggo sudah membukakan pintu mobil.
"Non Eva tunggu non." Teriak Fitri berlari mengejar majikannya. Eva berhenti disamping pintu mobil memberikan waktu untuk pelayan khususnya.
"Non Eva dengar Fitri, non adalah gadis baik, non jangan mikirin yang tidak-tidak disekolah, semuanya akan baik-baik saja ok!?." Fitri menyatukan jempol dan telunjuknya.
Eva tidak menjawab dan langsung masuk kedalam mobil.
Mobil mulai melaju meninggalkan rumah bagaikan neraka itu. Air mata yang sedari tadi Eva bendung mulai berjatuhan.
Kau salah mba Fitri, aku bukan gadis baik dan kenyataannya semua tidak baik-baik saja. Ibu tidak pernah menyayangiku dan ayah selalu mengaturku. Ibu tidak pulang kerumah gara-gara aku, mereka bertengkar selama bertahun-tahun karena aku. Apakah didunia ini ada tempat untukku?, batin Eva. Matanya menerawang jauh keluar jendela mobil.
Mobil berhenti tepat didepan Sma Tunas Jaya disinilah salah satu tempat yang jauh dari pertengkaran yang menyesakkan dada. Eva menarik nafas panjang menghapus air matanya dan mulai turun dari mobil.
Salah satu pelajaran hari ini adalah fisika oleh bu Nur yang terkenal killer, semua murid tidak berani mencari gara-gara dengan guru satu ini.
Bu Nur dengan lihai menjelaskan hukum fisika, jari-jarinya dengan cepat menulis beberapa ringkasan dipapan putih.
Pikiran Eva masing ada jauh disuatu tempat.
Siapa sebenarnya putra yang disebut ibu tadi?kenapa ayah menyuruh ibu untuk melupakannya, apakah ada hubungannya denganku? tapi baru kali ini aku mendengar mereka bertengkar menyebut seorang putra dari sekian ribu pertengkaran mereka.
Biasanya ayah marah karena ibu pulang larut malam, ibu yang sering tidak pulang, dan ibu yang tidak pernah mengurusku sama sekali. Ibu juga marah kepada ayah yang tidak pernah memperhatikannya, ayah yang memikirkan diri sendiri dan mementingkan pekerjaan kantornya dari pada keluarganya sendiri, batin Eva.
Tidak terasa satu butir air mata turun dari sudut mata Eva.
Eva memandangi halaman belakang sekolah dari kaca jendela kelas, dihalaman itu berdirilah pohon besar yang sangat rimbun jika ada orang bersembunyi dibalik pohon itu pasti tidak akan terlihat pikir Eva.
Daunnya sangat lebat, rantingnya bercabang kesegala arah. Apakah didunia ini ada tempat untukku?, batin Eva dalam hati.
"Eva! sudah puas kamu memandangi kaca itu?!." Lamuanan Eva dibuyarkan oleh suara petir bu Nur.
Dengan enggan Eva berpaling dari pohon itu dan menatap bu Nur.
"Mana catatanmu?." Bu Nur yang sudah curiga dari awal menghampiri meja Eva.
Bu Nur tambah geram setelah melihat meja Eva yang bersih dari segala macam bentuk alat tulis. Bu Nur mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Maju kedepan. Jelaskan dari awal sampai akhir apa yang ibu terangkan tadi!."
Dinda gemetaran melihat bu Nur yang sedang murka disebelah mejanya.
Eva mendorong kursinya kebelakang dengan malas berjalan melewati Dinda dan bu Nur.
Semua mata tertuju kepadanya. Didepan papan tulis Eva mulai menjelaskan segala ***** bengek hukum fisika yang diperintahkan bu Nur.
"Sekian penjelasan dari saya ada yang mau bertanya?." Sunyi.
"Tidak, terima kasih." Eva menjawab sendiri pertanyaannya.
Kelas masih sunyi, semua orang sedang mencerna apa yang telah terjadi, suara bu Nur lah yang memecah kesunyian.
"Baiklah kamu boleh duduk kembali tapi ingat Eva, jangan ulangi lagi. Kalau tidak ibu akan memanggil orang tuamu ke sekolah." Ancam bu Nur.
Mungkin itu yang diharapkan Eva. Dengan santai Eva kembali ke tempat duduknya.
Fathur
Mataku sedari tadi sibuk melirik bangku diseberang sana tepat disamping tembok kursi nomor dua dari belakang. Bu Nur masih menjelaskan hukum fisika, anak-anak mendengarkan dan mencatat sekenanya karena penjelasan bu Nur yang super cepat.
Raut muka semua murid dikelas ditekuk frustasi melihat catatan mereka yang bolong-bolong. Saat semua murid sibuk berkutat dengan catatan masing-masing suara bu Nur mengagetkan mereka dan spontan semua murid disana bergeming ditempat.
"Eva! sudah puas kamu memandangi kaca itu?!." Teriak tertahan bu Nur.
Semua orang mencari apa yang dimaksud oleh bu Nur.
Eva dengan gaya khasnya berpaling dari apa yang dilihatnya dan menatap bu Nur kosong.
"Mana catatanmu?." Bu Nur dengan langkah cepat menghampiri meja Eva. Bu Nur tambah marah ketika apa yang dia cari tidak ada disana, meja itu kosong, bersih dari benda apa pun.
Banyak siswa yang geleng-geleng mellihat kelakuan Eva. Belum pernah ada yang membuat guru killer disekolah ini marah besar seperti sekarang.
Daguku kusandarkan ditangan, melihat raut mukanya yang tanpa ekspresi.
"Maju kedepan. Jelaskan dari awal sampai akhir apa yang ibu terangkan tadi!."
Anak-anak tegang melihat kemurkaan bu Nur, berbeda dengan anak-anak yang lain aku malah mencemaskan Eva.
Apakah dia bisa melakukannya? aku sedari tadi meliriknya sedang menatap kebun belakang sekolah dan jika Eva tidak bisa menjelaskan yang diminta bu Nur 1000% bu Nur akan bertambah murka.
Anak-anak berbisik-bisik. Menurut mereka Eva tidak akan bisa menjelaskan didepan bahkan ada yang sampai taruhan.
"Gue jamin dia nggak akan bisa." Yakin Dody.
"Nggak, gue yakin Eva bisa melakukannya dengan mudah." Timpal Heru.
"Bodoh, bagaimana dia bisa, dari tadi dia kan sibuk melamun." Protes Dody.
"Kalau dia bisa lo harus traktir gue makan dikantin tapi kalau dia nggak bisa sebaliknya gimana?." Heru mengulurkan tangan yang disambut oleh Dody menandakan dia setuju.
"Ok!."
Aku tersenyum mendengar taruhan mereka.
Eva mengambil spidol hitam dan mulai menjelaskan. Suara merdunya yang jarang terdengar mengalun diseantero kelas, penjelasannya jauh lebih baik dan lebih rinci dari bu Nur.
Selama ini aku heran bagaimana bisa ada siswa yang jarang mencatat, jarang membawa buku, bahkan tidak jarang buku yang dibawanya di gunakan sebagai bantalan untuk tidur.
Pekerjaanya disekolah hanya tidur, melamun, tidak perduli dengan lingkungan sekitarnya.
Dia menarik diri dari yang namanya sosialisasi. Tidak pernah berbicara dengan orang lain kecuali jika itu dibutuhkan. Setiap hari dia menyanggul rambut hitamnya dan terpampanglah leher putih jenjang yang menggoda iman, kulitnya yang seputih salju menarik banyak perhatian, hidung mancung dan warna matanya yang tidak banyak orang miliki, akan tambah sempurna jika dia tersenyum tapi sayang senyum itu bagaikan mimpi disiang bolong.
Eva Augustin Ahyner, gadis bermata biru langit. Anak semata wayang dari Drs.Daren Augustin Ahyner pengusaha besar dan tersohor di negeri ini.
Dia mempunyai segalanya tetapi penampilannya jauh dari kesan orang kaya. Dia gadis sederhana yang setiap hari dikawal oleh orang berbadan besar-besar. Sebenarnya banyak cowok yang diam-diam menaruh hati kepadanya tetapi mereka berpikir dua kali untuk mendekati mahluk dingin itu.
Empat tahun sudah aku satu kelas dengannya. Sejak smp sampai sekarang dan aku sangat yakin dia pasti tidak tahu menahu tentangku.
Apa lagi kejadian dipagi itu. Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, keributan ditengah lapangan depan yang membuatku pusing plus malu setengah mati.
Dengan gayanya yang khas dia berjalan ditengah keributan itu dan berhenti tepat didepanku megangkat ponselnya yang tiba-tiba berdering membuat semua mata tertuju kepadanya.
Saat itu lah pertama kalinya aku melihat wajahnya dalam jarak yang sangat dekat dengan hanya satu langkah lebar aku akan bisa menyentuhnya.Aku bisa melihat matanya, mata berwarna biru langit indah itu tapi penuh kepedihan. Tidak ada cahaya disana, redup, kosong.
Ingin sekali aku memeluknya dan mengatakan 'menangislah aku ada disini' tapi itu tidak mungkin. Dia menyimpan kembali ponselnya dan berjalan acuh melewatiku tanpa melirik sedikit pun aku yang berdiri disana.
"Sekian penjelasan dari saya ada yang bertanya?. Tidak, terima kasih." Aku tersenyum geli mendengarnya.
******
Bel istirahat berbunyi anak-anak berbondong-bondong meninggalkan kelas tepat saat itu tiba-tiba segerombolan senior kelas XII masuk kedalam kelas.
"Hey kamu yang ada disana!." Teriak senior populer disekolah, Dimas wakil ketua basket sma tunas jaya. Semua mata mengikuti arah pandang Dimas.
"Apa kamu mendengarku?.. Eva Augustin Ahyner?.
Eva yang mendengar namanya disebut berpaling dari pemandangan diluar jendela lalu menatap Dimas malas. Dimas tersenyum menang.
"Baiklah, dengarkan semuanya aku Dimas Purnama menyatakan menyukai gadis bernama Eva Augustin Ayhner. Eva mau nggak kamu jadi pacarku?." Ucap Dimas lantang. Kelas X-1 itu hening, Eva membuang mukanya acuh dan kembali menatap keluar jendela. Membuat orang didalam kelas melongo bingung.
"PPffftt Dim lo dicuekin tuh." Kata salah satu cowok yang berada digerombolan.
Dimas berjalan mendekati bangku Eva.
"Permisi, maukah kamu keluar sebentar dari bangkumu?." Kata Dimas sopan kepada Dinda.
Dinda dengan cepat berdiri membuat Dimas tersenyum. Ketika Dinda akan melangkah keluar dari bangku tangan kirinya ditahan oleh Eva.
"Duduk." Dimas yang mendapat respon seperti itu dari Eva langsung meraih tangan kanan Dinda.
"Aduuh bagaimana ini?." Gumam Dinda, Eva tidak bergerak sedikit pun pandangannya tetap lurus keluar jendela.
"Tolong keluar sebentar." Dimas dengan sabarnya menunggu Dinda dengan senyum yang masih terukir dibibirnya. Dinda menatap Dimas dan Eva bergantian. Hening beberapa menit hingga Eva mengalihkan pandangannya dan menatap mata Dimas.
"Apa maumu?." Anak-anak didalam kelas dengan khidmat menonton setiap adegan-adegan mereka dan jauh dilubuk hatiku tidak menyukai adegan ini. Dengan gerakan cepat Dimas menarik Dinda hingga tangan Dinda terbebas dari genggaman Eva.
"Maaf." Ucap Dimas setelah berhasil menarik Dinda keluar dari bangkunya. Tanpa aba-aba Dimas meraih tangan Eva dan menariknya pergi.
Suara tepuk tangan bergemuruh didalam kelas, senyum kemenangan menghiasi wajah Dimas.
Baru tiga langkah mereka berjalan Eva menyusul langkah Dimas mensejajarkan langkahnya dan dengan keras menginjak kaki kiri Dimas.
"Aargh!." Sontak Dimas melepaskan genggaman tangannya dari Eva.
"Berani sekali kau menyentuhku." Eva menatap Dimas tidak suka.
Anak-anak berceloteh, ini tontonan menarik bagi mereka. Jarang-jarang mahluk dingin itu membuka mulutnya kepada orang lain.
"Ikut aku." Dimas meraih tangan Eva tapi dengan cepat Eva sudah menghindar.
"Kau pikir sedang berbicara dengan siapa." Kata Eva dingin. Dimas menarik nafas sebentar lalu menegakkan punggungnya.
"Kamu mendengarku tadi bukan?." Ucap Dimas lembut seraya menatap Eva, tidak ada jawaban dari Eva Dimas melanjutkan ucapannya.
"Apa jawabanmu?."
"Tidak." Jawab Eva dingin, penonton kecewa, tapi aku tersenyum bahagia.
"Sudah ku duga." Kata Dimas. Eva meraih ponselnya dari dalam saku menempelkannya ditelinga lalu berjalan meninggalkan kelas dengan gaya khasnya.
***
Gadis dingin itu berdiri dipinggir jalan hendak menyeberang.
"Laporan dan keuangan yang kamu kerjakan sudah ayah lihat." Suara dari seberang sana, langkah Eva memasuki cafe yang disambut dengan ramah oleh pelayan disana.
"Hm." Eva duduk ditempat favoritnya dan memesan menu yang biasa ia pesan.
"Ayah juga sudah melihat dokumen penggelapan, penyalah gunaan dana dan karyawan yang bermain dibelakang ayah, kerja bagus Eva." Tidak ada kata terima kasih, apa itu pujian? tapi seperti itu lah yang selalu dilakukan oleh ayah dan anak itu.
"Hm."
"Ayah akan mengirimkan beberapa biodata karyawan pilihan ayah yang akan mendapat kenaikan jabatan untuk menggantikan posisi yang kosong karena ayah sudah memecat mereka semua yang terlibat."
"Hm."
"Kamu tentukan posisi-posisi yang cocok untuk mereka."
"Hm."
"Nanti malam ayah mengadakan acara makan malam untuk karyawan pilihan, kamu harus ikut untuk lebih selektif memilih."
"Hm."
"Akan sedikit ramai karena mereka membawa keluarga."
"Hm."
"Sudah dulu ayah masih harus membereskan kekacauan ini."
"Hm." Tuut.. tuutt sambungan terputus. Eva meletakkan ponselnya dimeja dan mulai memakan makanannya yang ia pesan tadi.
Eva
Didalam rumah besar ini seperti biasa sunyi hanya beberapa pelayan yang sesekali lewat.
"Non sudah pulang." Fitri muncul dari arah dapur tersenyum menghampiriku.
"Ibu?." Tanyaku, Fitri hanya tersenyum hendak meraih tasku. Aku tahan tangannya menunggu jawaban.
"Ibu sedang tidur dikamarnya non." Jelas Fitri.
"Non Eva tidak tanya tuan dimana?." Sambil berdiri tanganku melepas sepatu dan kaos kaki membiarkannya teronggok dilantai.
"Ayah masih dikantor dia ada meeting, aku tahu semua jadwal ayah." Fitri mengangguk paham.
Kakiku berjalan menghampiri kamar ibu, tanganku menggenggam daun pintu mendorongnya pelan.
"Non jangan, nyonya sedang istirahat nanti nyonya bangun non." Lirih Fitri.
"Sssttt." Kuletakkan telunjuk dibibir menyuruh Fitri untuk diam.
Aku melangkah menghampiri ranjang ibu pelan,berhati-hati agar tidak menimbulkan suara.
Aku duduk bersimpuh dilantai disebelah ranjang menatap wajah orang yang aku panggil ibu itu.
Tidurnya tidak tenang sesekali dia mengigau memanggil nama kakek. Ada lingkaran hitam dibawah matanya.
Ingin rasanya aku memeluk ibu menenangkannya tapi itu hal yang tidak mungkin terjadi. Dari sudut mata bengkak itu mengalir sedikit demi sedikit cairan bening.
Eva... Eva... sini nak. Ibu mengigau memanggil namaku? benarkah! sudut bibirku terangkat membentuk senyum tapi aku salah!! senyum itu sirna.
Ibu bukan memanggil Eva melainkan Ega.
Ega... Ega... sini nak main sama ibu yuk...
Rasa sakit dan kecewa menyelimutiku. Dalam tidur dan tangisnya nama Ega lah yang keluar dari bibir itu.
Ibu, siapa Ega? kenapa ibu lebih memilih memanggil namanya dari pada namaku? aku anak ibu kan, Eva anak ibu kan? anak ibu!batinku dalam hati.
Seketika tangisku pecah, cepat-cepat aku gigit bibir bawahku menahan isak tangis agar ibu tidak terbangun. Diambang pintu Fitri juga menangis melihat dan mendengar apa yang terjadi dengan majikan mudanya, membungkam mulutnya dengan kedua tangan agar tidak menimbulkan suara melihat pemandangan menyedihkan itu.
Kedua tanganku mencengkeram rok abu-abu menahan gemetar tubuh. Mataku tidak sedikit pun berpaling dari wajah ibu. Entah sudah berapa lama aku duduk disana hingga air mataku mengering.
Sekarang ibu sudah tidak mengigau lagi, aku ingin sekali memegang tangannya walaupun hanya sebentar.
Dulu aku pernah mencoba melakukannya dulu sekali saat aku dibangku kelas enam sekolah dasar dan hasilnya ibu marah besar kepadaku.
Semenjak kejadian itu aku tidak pernah berani menyentuhnya lagi, ibu juga menyuruhku menjaga jarak dengannya.
Hanya dalam keadaan seperti ini aku bisa duduk dekat dengan ibu sambil memandang wajahnya.Jarang-jarang ibu tidur dirumah,jadi kalau ada kesempatan aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Tiba-tiba ada tangan kasar menyentuh pundakku pelan, aku melihat kesamping untuk melihat si pelaku. Fitri berbicara dengan bahasa tubuhnya menyuruhku agar mengikutinya keluar.
Aku mengangguk pelan takut ibu bangun dan mendapatiku duduk disana.
Saat aku hendak berdiri kedua kakiku kram. Aku menunjuk-nunjuk kakiku kepada Fitri 'kram' ucapku tanpa suara. Fitri menyuruhku naik ke punggungnya. Aku menggelengkan kepala, badanku terlalu berat untuknya.
Ibu berguling diranjangnya, aku takut ibu bangun jadi mau tidak mau aku harus naik ke punggung Fitri sambil menahan kakiku yang sakit.
Fitri menutup pintu kamar pelan sekali. Tiba-tiba Ronggo datang, dengan entengnya dia mencomotku dari punggung Fitri.
"Kenapa ini?. Ronggo masih kaget dan bingung.
"Non Eva kakinya kram karena terlalu lama duduk disamping ranjang nyonya." Terang Fitri.
"Non Eva melakukannya lagi?." Aku hanya diam tidak menjawab.
"Berapa lama?."
"Sekitar tiga jam, ayo kita bawa non Eva ke kamarnya dulu sebelum nyonya bangun." Ajak Fitri.